

Di sebuah jalan sepi, suasana begitu gelap, dan malam sudah cukup larut.
Di sana, ada tiga orang laki-laki dan satu perempuan.
Dua laki-laki lainnya terlihat begitu mabuk, berteriak marah pada laki-laki satunya, mereka sedang berkelahi, satu lawan dua.
Laki-laki itu bergerak dengan gesit, menghindari serangan kedua laki-laki itu.
Lalu menggunakan momentum mereka sendiri untuk membanting mereka satu persatu ke tanah.
Mungkin karena mereka sedang mabuk, mereka langsung tidak sadarkan diri setelah menerima bantingan tersebut.
"Hya!, apakah mereka mati?." Wanita itu berteriak dengan terkejut saat melihat kedua laki-laki itu tidak bangun lagi.
Laki-laki yang membanting mereka juga menjadi panik, tapi tetap bersikap tenang di permukaan, mendekati kedua laki-laki itu untuk memeriksanya.
Laki-laki itu memeriksa denyut nadi mereka, dan mendapati bahwa mereka masih hidup.
Ketakutan yang menggantung di hatinya langsung lenyap begitu saja setelah dia tahu mereka hanya pingsan.
"Tidak apa-apa, mereka tidak mati, hanya pingsan." Kata laki-laki itu cukup keras, agar wanita yang panik itu bisa mendengarnya.
"Ahh, syukurlah, jika tidak, kita akan dihukum karena pembunuhan." Wanita itu menghela napas lega, mengelus dadanya.
"Iya, kamu tidak apa-apa kan?, lebih baik jangan keluar malam seorang diri!." Laki-laki itu bertanya keadaan wanita itu, dan juga memberikan nasihat padanya, saat dia mengambil ransel besarnya dan untuk pergi.
"Aku tidak apa-apa, saya tahu, hanya saja malam ini..." Wanita itu berkata dengan nada yang sedikit rumit, tidak yakin apakah akan mengatakannya atau tidak.
"Tidak perlu menjelaskan, kita juga tidak saling mengenal, hati-hati dalam perjalanan pulang." Kata laki-laki itu saat dia memunggungi wanita itu dan melangkah pergi.
"Hei, tunggu, aku belum berterima kasih padamu karena telah menolongku." Wanita itu dengan terburu-buru mengejar laki-laki itu.
"Tidak perlu, aku hanya tidak bisa melihat mereka melakukan kejahatan begitu saja." Laki-laki itu menoleh ke belakang dan berkata.
"Tidak, meksipun begitu, kamu tetap menyelamatkan aku." Wanita itu bersikeras untuk membalas budi pada orang yang telah menyelamatkan dirinya dari dua orang mabuk tadi.
"Itu..." Laki-laki itu menjadi ragu dengan keteguhan wanita itu untuk membalas budi.
Sebelum dia bisa mengatakan apapun lebih lanjut, wanita itu telah mengajukan pertanyaan lain padanya.
"Kamu mau pergi ke mana dengan membawa ransel yang begitu besar?." Wanita itu bertanya dengan sedikit penasaran.
Lagipula tidak ada orang normal yang akan membawa ransel yang begitu besar di malam hari, dan itu berjalan kaki pula.
"Ugh, ini... Aku baru saja di berhentikan dari pekerjaanku, sedangkan uang gajiku sudah aku kirimkan ke kampung, jadi aku tidak memiliki uang untuk mencari tempat tinggal baru." Karena wanita itu telah bertanya, dan ketegasannya untuk membalas budi padanya, dia ingin mengambil kesempatan ini untuk meminta bantuan padanya.
Lagipula situasinya benar-benar buruk, tanpa uang di kota besar, sulit untuk bertahan hidup bagi dia yang hanya orang kampung.
Untuk mendapatkan pekerjaan baru, itu membutuhkan waktu, tidak begitu mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang baik di kota dengan situasi saat ini, apalagi dia hanya tamatan SMK.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak datang ke tempatku?, aku memiliki apartemen kecil, meskipun semua kamar sudah penuh, masih ada gudang yang bisa kamu gunakan, bagiamana?." Mendengar penjelasan laki-laki itu, mata wanita itu berbinar, langsung mengundang laki-laki itu untuk tinggal di apartemen miliknya.
"Itu..." Laki-laki itu terlihat sedikit ragu.
"Tidak perlu ragu, kamu tidak memiliki tujuan saat ini kan?." Kata wanita itu melihat keraguan laki-laki itu.
"Ugh." Mendengar perkataan wanita itu, jantungnya seperti tertusuk anak panah, dan dia merasa bahwa dia tidak bisa menolak kesediaan wanita itu untuk membalas budi padanya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menerimanya, kebaikan anda." Kata laki-laki itu pada wanita yang telah ia selamatkan sebelumnya.
"Iya, jangan kaku begitu, namamu, Melinda, siapa namamu?." Wanita itu tersenyum lembut, dan memperkenalkan dirinya pada laki-laki itu.
"Uh, iya, namaku Satrio Putro, panggil saja aku Satrio." Balas laki-laki itu, mengatakan namanya pada wanita itu yang namanya adalah Melinda.
"Satrio Putro, nama yang bagus, salam kenal ya." Melinda mengucapkan nama Satrio, wajahnya tersenyum lembut.
...
Apartemen Indah Lestari.
Sebuh apartemen yang cukup tua yang berada di dekat kampus.
Di salah satu kamar, lantai empat.
Satrio dan Melinda saling bercumbu.
Satrio bertindak seperti binatang buas yang tidak bisa mengendalikan nafsu seksualnya.
Menekan Melinda di bawah tubuhnya dan menggenjotnya dengan beringas.
"Ahn, ahh, ahn ahh ahn ahh." Melinda mendesah, air mata mengalir di sudut matanya, tapi ekspresinya begitu bahagia.
Kenapa semua itu bisa terjadi.
Itu karena Satrio yang diajak untuk tinggal di rumahnya malam ini, sebelum besok pindah ke gudang yang tidak digunakan, melihat Malinda yang hanya memakai handuk setelah mandi.
Satrio yang melihat tubuh seksinya, dan menghirup aroma wangi tubuhnya setelah mandi, nafsunya meningkat.
Dia tidak bisa menahan diri untuk bertindak, langsung memeluk Melinda secara kasar dan menciumnya.
Melinda ingin melawan, tapi kekuatannya tidak cukup untuk melawan Satrio yang bekas pekerja bangunan.
Karena ciuman itu, Melinda yang sudah lama tidak mendapatkan belaian seorang pria.
Dengan perlahan mulai menikmati dan menginginkan hal itu, yang sudah lama tidak ia rasakan.
Satrio mendorongnya ke kamar tidur, melepaskan handuk yang menutupi Melinda, dia menurunkan celana dengan cepat dan menggesekkan batang kemaluannya ke kemaluan Melinda.
Setelah beberapa kali gesekan, dia menemukan lubang yang tepat, dan mendorongnya masuk dalam sekali jalan.
"Ahh." Melinda mendesah, menikmati perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan setelah dia melahirkan anak pertamanya, lima belas tahun yang lalu.
Stamina Satrio yang muda begitu melimpah, menggejot tubuh Melinda dengan begitu liar dan kiat.
Setiap sodokan sampai ke bagian terdalam kemaluannya.
Dia menikmati perasaan itu.
Setelah Satrio mengeluarkan cairan cinta miliknya di dalam kemaluan Melinda untuk kedua kalinya, kesadaran kembali, tidak lagi ditutupi oleh nafsu seksualnya.
Begitu dia sadar, dia langsung bersujud di depan Melinda dan meminta maaf.
"Melinda, saya sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud melakukannya.
Tapi saya sepertinya tidak bisa menahan nafsuku saat melihat tubuhmu.
Saya sungguh menyesal, saya tidak berharap kamu akan memaafkan aku begitu saja.
Bahkan jika kamu menyerahkan saya ke polisi, aku akan menerimanya."
Itulah yang dikatakan oleh Satrio setelah mengetahui apa yanh telah ia lakukan pada Melinda yang telah mau berbaik hati memberikan tempat tinggal padanya.
Melinda bangkit, tangannya menyentuh kemaluannya, atau lebih tepatnya mengusap cairan cinta milik Satrio yang mengalir di kemaluannya.
"Tidak apa-apa, sebelum aku merasa sedikit marah, tapi sekarang, aku tidak lagi marah." Kata Melinda dengan lembut.
Satrio mengangkat kepalanya, merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Melinda.
"Aku sudah lama tidak melakukan hal ini, aku pikir aku tidak lagi tertarik dengan hubungan seksual, tapi setelah kamu melakukannya, aku ingin kamu untuk melakukannya lagi dengan ku.
Bangunlah dan genjot aku lagi." Melinda memberikan pengantar singkat dan lalu meminta Satrio untuk menggenjot dirinya lagi, dan dia membuka lebar-lebar lubang kemaluannya agar dilihat oleh Satrio.
Gulp.
Satrio menelan ludah, lalu dia bangkit dan langsung memasukkan batang kemaluannya lagi ke dalam kemaluan Melinda sesuai dengan permintaan dari Melinda.
"Ahn, ahh, iya seperti itu." Mendengar perkataan itu, Satrio bergerak lebih kuat lagi, memuaskan keinginan Melinda.