

"Cepat sedikit, Damian! Tamu-tamuku tidak bisa menunggu segelas sampanye hanya karena langkahmu yang lamban seperti siput!"
Suara Edward menggelegar, memotong alunan musik klasik di ballroom hotel bintang lima itu. Damian, yang mengenakan kemeja putih murah yang sudah agak menguning di bagian kerah, hanya menunduk. Ia mengeratkan pegangannya pada nampan perak berisi deretan gelas kristal.
"Maaf, Tuan Edward. Segera," bisik Damian pelan.
"Maaf? Kata-kata itu sudah basi, sampah!" Nyonya Wijaya, ibu mertua Damian, melangkah maju dengan gaun sutra ungu yang berkilau di bawah lampu gantung kristal. Matanya menatap Damian dengan kebencian murni. "Lihat dirimu! Di hari ulang tahun suamiku, kamu malah memalukan keluarga dengan penampilan gembelmu ini. Kalau bukan karena belas kasihan Sarah, kamu sudah membusuk di jalanan!"
Damian melirik Sarah, istrinya. Wanita itu berdiri tak jauh dari sana, mengenakan gaun merah yang anggun. Namun, Sarah hanya memalingkan wajah. Ia menatap ke arah lain, seolah-olah suaminya adalah noda yang tak sengaja tumpah di atas karpet mahal.
"Ibu, sudahlah. Ini acara publik," gumam Sarah tanpa sedikit pun nada pembelaan.
"Acara publik justru waktu yang tepat untuk menunjukkan di mana tempat sampah seharusnya berada!" Edward tertawa, suaranya menarik perhatian para konglomerat yang hadir. Ia sengaja melangkah mendekati Damian, lalu dengan gerakan yang tampak tidak disengaja, ia menyenggol lengan Damian.
Prang!
Nampan itu terjatuh. Gelas-gelas kristal pecah berkeping-keping. Cairan sampanye yang mahal memercik ke sepatu kulit buaya milik Edward dan gaun para tamu di dekatnya. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan, sebelum kemudian bisik-bisik penghinaan mulai terdengar.
"Dasar tidak berguna!" bentak Tuan Wijaya, ayah mertua Damian, yang baru saja muncul. Wajahnya merah padam karena malu. "Kamu menghancurkan momen pentingku, Damian!"
"Saya minta maaf, Tuan. Biar saya bersihkan," Damian berlutut, mencoba memunguti pecahan kaca dengan tangan kosong.
"Jangan sentuh dengan tangan kotormu!" Edward tiba-tiba mengangkat gelas anggur merah di tangannya. Dengan senyum miring, ia menyiramkan isinya tepat ke atas kepala Damian.
Cairan merah pekat itu mengalir dari rambut Damian, membasahi wajahnya, dan menetes ke kemeja putihnya yang malang. Damian tertegun. Rasa dingin dari anggur itu tidak sebanding dengan rasa panas yang membakar dadanya.
"Ups, tanganku licin," ejek Edward sambil meletakkan gelas kosongnya ke lantai. "Lihat, sekarang kamu terlihat lebih pantas. Merah seperti anjing yang berdarah."
Gelak tawa pecah di seluruh ballroom. Para elit kota itu menonton seolah-olah ini adalah pertunjukan komedi terbaik tahun ini.
"Edward, itu keterlaluan," Sarah akhirnya bersuara, langkahnya maju satu tindak, tapi matanya masih dipenuhi keraguan.
"Keterlaluan? Sarah, aku hanya membantu pria ini menyadari posisinya," Edward merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah buku cek. Ia menuliskan sesuatu dengan cepat, menyobek kertas itu, lalu melemparkannya ke wajah Damian yang masih berlutut.
"Itu satu miliar," ujar Edward dingin. "Ambil uang itu, tanda tangani surat cerai yang sudah disiapkan pengacara keluarga Wijaya, dan pergilah dari kehidupan Sarah. Pria seperti dia tidak butuh cinta, Sarah. Dia hanya butuh uang untuk makan, bukan?"
Damian menatap kertas cek yang melayang jatuh di dekat pecahan kaca. Matanya yang semula redup kini mulai berkilat. Di telinganya, suara tawa para tamu seolah menjadi latar belakang yang jauh.
"Ambil saja, Damian," sahut Nyonya Wijaya sambil melipat tangan di dada. "Satu miliar adalah jumlah yang tidak akan pernah kamu lihat seumur hidupmu, bahkan jika kamu bekerja menjadi pelayan selama sepuluh reinkarnasi."
Damian perlahan berdiri. Ia tidak mengambil cek itu. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh anggur merah dengan punggung tangan. Gerakannya pelan, sangat tenang, hingga entah mengapa, tawa di ruangan itu perlahan mereda. Ada sesuatu yang berbeda dari aura pria yang selama ini mereka injak-injak.
"Satu miliar?" Damian akhirnya bersuara. Suaranya rendah, tidak bergetar, namun memiliki resonansi yang membuat bulu kuduk Edward berdiri.
"Kenapa? Kurang?" Edward mendengus, mencoba menutupi kegugupannya yang tiba-tiba muncul. "Sebutkan hargamu, pecundang. Berapa harga harga dirimu yang murah itu?"
Damian menatap Edward lurus ke mata. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Damian tidak menurunkan pandangannya.
"Harga diriku?" Damian tersenyum tipis. Sebuah senyum yang terlihat sangat asing di wajahnya yang biasanya kuyu. "Edward, bahkan jika kamu menjual seluruh grup properti milik keluargamu, kamu tidak akan sanggup membeli satu detik pun dari waktu yang kuhabiskan untuk bersabar di tempat ini."
"Apa katamu?!" Tuan Wijaya berteriak. "Berani-beraninya kamu bicara begitu!"
Damian beralih menatap Sarah. "Sarah, apakah ini juga keinginanmu? Satu miliar untuk mengakhiri semuanya?"
Sarah menunduk, jemarinya meremas kain gaunnya. "Keluargaku sedang dalam kesulitan, Damian. Edward bisa membantu kami. Kamu... kamu hanya membuat segalanya lebih sulit."
Damian mengangguk pelan. Rasa sakit yang tajam menusuk jantungnya, tapi anehnya, itu adalah rasa sakit terakhir yang ia rasakan untuk wanita ini. Ikatan emosional yang menahannya selama bertahun-tahun seolah putus begitu saja.
"Aku mengerti," ucap Damian.
Ia melangkah melewati Edward, bahunya menabrak bahu pria itu dengan kekuatan yang membuat Edward terhuyung ke samping. Damian berjalan menuju pintu keluar ballroom tanpa menoleh lagi.
"Hei! Mau ke mana kamu?! Cek itu! Ambil gembel!" teriak Nyonya Wijaya.
Damian tidak berhenti. Ia terus berjalan melintasi lobi hotel yang mewah, mengabaikan tatapan aneh dari para staf hotel yang melihat kondisinya yang basah kuyup dan berbau alkohol. Saat ia mencapai pintu kaca besar di depan, hujan deras langsung menyambutnya.
Petir menyambar, menerangi langit malam yang pekat. Damian melangkah keluar, membiarkan air hujan membasuh sisa-sisa anggur merah dan hinaan yang menempel di tubuhnya. Dinginnya air hujan terasa menyegarkan, seolah mencuci bersih identitas lamanya yang penuh kepatuhan.
Ia merogoh saku celananya yang basah, mengeluarkan sebuah ponsel tua yang layarnya sudah retak. Dengan jemari yang mantap, ia menekan sebuah nomor yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia sentuh.
Hanya butuh satu nada sambung sebelum suara bariton di ujung sana menjawab dengan nada penuh hormat yang luar biasa.
"Tuan Muda? Apakah itu Anda?"
Damian berdiri di tengah hujan, matanya menatap lampu-lampu kota dari kejauhan. Tatapannya yang dulu kusam kini berubah tajam, sedingin es, dan sedalam samudra.
"Ini aku," kata Damian datar.
"Segala puji bagi Tuhan! Kami telah menunggu hari ini selama tiga tahun, Tuan Muda! Perintah Anda?"
Damian menarik napas panjang, menghirup aroma tanah dan hujan. "Aktifkan Dragon Link. Kumpulkan semua aset operasional di kota ini. Aku ingin setiap orang yang tertawa malam ini belajar satu hal."
"Apa itu, Tuan Muda?"
"Bahwa tahta yang mereka banggakan..." Damian menjeda kalimatnya, matanya berkilat saat petir kembali menyambar di atas kepalanya. "...hanyalah kotoran bagiku."
Damian menutup teleponnya. Ia tidak lagi membungkuk. Bahunya tegak, langkahnya mantap. Di belakangnya, kemegahan pesta Keluarga Wijaya masih berlangsung, namun mereka tidak sadar bahwa dalam hitungan jam, dunia yang mereka kenal akan runtuh berkeping-keping di bawah kaki pria yang baru saja mereka usir.
Ia terus berjalan menembus badai, bayangannya memanjang di bawah lampu jalan, terlihat seperti naga raksasa yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya yang melelahkan. Malam ini adalah akhir dari Damian si pecundang, dan awal dari kemurkaan sang Sultan.