

Langit di Dimensi Celestial selalu terlihat sempurna. Tidak ada awan gelap, tidak ada badai, dan tidak ada malam. Hanya ada cahaya keemasan yang hangat dan abadi. Di tempat ini, segala sesuatu bergerak dalam harmoni yang pasti. Bintang-bintang mengorbit pada jalurnya, dan aliran energi suci mengalir tanpa henti.
Di tengah hamparan cahaya itu, berdirilah sebuah kuil kristal raksasa. Itu adalah pusat dari segala aturan. Di sana, Kaelen duduk di atas singgasananya. Dia adalah Dewa Ketertiban. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi, seperti patung marmer yang dipahat dengan sangat teliti. Tugasnya hanya satu, memastikan seluruh alam semesta berjalan sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan sejak awal waktu.
Bagi Kaelen, kedamaian hanya bisa dicapai melalui kendali mutlak. Tanpa aturan, semuanya akan hancur.
Namun, keheningan abadi di kuil itu tiba-tiba pecah. Sebuah suara retakan yang sangat keras menggema ke segala penjuru. Kaelen membuka matanya perlahan. Dia melihat ke arah pintu gerbang utama kuil. Pilar-pilar kristal yang kokoh mulai retak. Dari celah-celah retakan itu, muncul asap hitam keunguan yang pekat.
Asap itu bukan sekadar kabut biasa. Itu adalah energi Void, sebuah kekuatan kotor yang merusak apa pun yang disentuhnya.
Pintu gerbang kuil hancur berantakan. Pecahan kristalnya terlempar ke udara sebelum akhirnya meleleh menjadi abu. Dari balik asap hitam itu, melangkah maju sesosok pria dengan senyum mengejek. Pria itu memakai zirah perak yang ternoda oleh noda kegelapan.
Dia adalah Silas. Saudara Kaelen. Sang Dewa Kekacauan.
"Kau terlihat sangat bosan, Kaelen," sapa Silas dengan nada santai, seolah dia hanya sedang berkunjung untuk minum teh. Namun, setiap langkah kakinya meninggalkan jejak api hitam yang membakar lantai suci kuil.
Kaelen berdiri dari singgasananya. Cahaya putih bersinar di sekeliling tubuhnya, mencoba menahan energi jahat yang dibawa oleh saudaranya.
"Kau melanggar batasmu, Silas," kata Kaelen. Suaranya datar, tanpa emosi, namun menggetarkan ruangan itu. "Kembalilah ke wilayahmu sebelum aku menghukummu."
Silas tertawa keras. Tawa itu terdengar menyakitkan di telinga, seperti suara besi yang digesekkan. "Menghukumku? Kau terlalu sombong dengan aturan-aturan bodohmu ini. Semesta ini tidak butuh ketertiban yang membosankan. Semesta butuh kebebasan. Semesta butuh kekacauan untuk bisa berkembang!"
Silas mengangkat tangannya. Tiba-tiba, dari bayang-bayang di sudut ruangan, belasan dewa penjaga yang seharusnya setia pada Kaelen melangkah keluar. Mata mereka tidak lagi bercahaya emas, melainkan bersinar ungu gelap. Mereka telah dikhianati dan dicuci otaknya oleh energi Void milik Silas.
Kaelen menyipitkan matanya. Dia tidak merasa takut, karena dewa tidak mengenal rasa takut. Namun, ada rasa kecewa yang mendalam di dalam batinnya. Dia tidak menyangka pasukannya sendiri akan berpaling darinya.
"Ketertibanmu adalah penjara, Kaelen," ucap Silas sambil menarik sebuah pedang panjang yang terbuat dari bayangan murni. "Dan hari ini, aku akan menghancurkan penjara itu."
Silas melesat maju dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa. Kaelen memanggil pedang cahayanya sendiri. Kedua senjata dewa itu berbenturan, menghasilkan gelombang kejut yang meruntuhkan atap kuil.
Pertarungan mereka sangat cepat dan ganas. Cahaya putih dan bayangan hitam saling menabrak, menghancurkan segala sesuatu di sekeliling mereka. Kaelen sangat kuat, namun dia harus menghadapi belasan dewa penjaga yang menyerangnya dari segala arah sekaligus.
Konsentrasi Kaelen terpecah. Saat dia mengayunkan pedangnya untuk menebas dua penjaga pengkhianat, Silas melihat celah.
Dengan gerakan licik, Silas menusukkan pedang bayangannya tepat ke punggung Kaelen. Pedang itu menembus dada Sang Dewa Ketertiban. Energi hitam langsung mengalir masuk, meracuni inti cahayanya.
Kaelen terdiam. Tubuhnya kaku. Cahaya di sekelilingnya mulai meredup. Ini adalah rasa sakit pertama yang pernah dialaminya sejak awal penciptaan.
Silas mendekatkan wajahnya ke telinga Kaelen. "Waktumu sudah habis, Saudaraku. Pergilah ke dunia bawah yang sangat kau benci. Aku akan mengambil alih semuanya."
Silas menendang tubuh Kaelen dengan keras. Kuil itu memudar. Kaelen merasakan dirinya ditarik oleh gaya gravitasi yang luar biasa kuat. Dia jatuh. Terus jatuh melewati dimensi yang tak terhitung jumlahnya. Cahayanya semakin pudar. Kekuatannya menguap. Ingatannya mulai kabur.
Semuanya menjadi gelap gulita.
***
Suara pertama yang didengar Kaelen adalah bunyi mesin.
Tit. Tit. Tit.
Bunyi itu sangat teratur. Mengganggu, namun anehnya menenangkan. Lalu, bau menyengat masuk ke hidungnya. Bau bahan kimia dan obat-obatan.
Kaelen mencoba menggerakkan jarinya. Terasa sangat berat. Seolah ada beban berton-ton yang menekan tangannya. Dia mencoba membuka mata. Kelopak matanya terasa lengket dan perih. Ketika matanya akhirnya terbuka, cahaya lampu putih di langit-langit langsung menusuk penglihatannya.
Dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri.
Hal pertama yang dia sadari adalah rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Kepalanya berdenyut keras. Dadanya terasa sesak setiap kali dia menarik napas.
Di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdetak dengan ritme yang cepat. Deg-deg. Deg-deg.
Kaelen kebingungan. Dewa tidak memiliki jantung. Dewa tidak perlu bernapas. Dewa tidak merasa pusing.
Dia mengangkat tangannya perlahan. Itu bukan tangan yang terbuat dari cahaya murni. Itu adalah tangan manusia. Berkulit pucat, dengan pembuluh darah yang terlihat di balik kulitnya. Ada jarum infus yang menancap di punggung tangannya, terhubung dengan selang plastik bening.
"Anda sudah sadar, Tuan Valerius."
Sebuah suara wanita yang lembut namun tegas terdengar dari sebelah kirinya. Kaelen menoleh dengan susah payah.
Di samping ranjang rumah sakit yang mewah itu, berdiri seorang wanita muda. Dia memiliki rambut perak pendek yang dipotong rapi, mengenakan setelan jas hitam yang sangat profesional. Wajahnya cantik, namun ekspresinya datar. Matanya menatap Kaelen dengan tatapan yang tajam.
Kaelen menatap mata wanita itu. Meskipun tubuh wanita itu adalah manusia, Kaelen bisa melihat percikan energi cahaya di dalam jiwanya. Itu adalah energi dari dimensinya.
"Lyra?" suara Kaelen keluar serak dan pelan. Tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir.
Wanita itu sedikit menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan. "Benar, Tuanku. Ini aku. Aku menggunakan sisa kekuatanku untuk mengikuti jiwamu yang jatuh ke dunia fana ini. Aku mengambil wujud manusia agar bisa melayanimu."
Kaelen mencoba duduk. Rasa nyeri langsung menyerang perut dan kepalanya. Lyra dengan cepat melangkah maju dan membantunya bersandar pada bantal.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Kaelen. Dia menyentuh wajahnya sendiri. Terasa hangat. Ini adalah tubuh fisik. Daging dan darah yang rapuh.
Lyra berdiri kembali dengan tegak. "Anda dikhianati oleh Silas. Inti kekuatan Anda hancur. Tubuh dewa Anda musnah. Namun, jiwa Anda berhasil melarikan diri ke dunia manusia. Anda masuk ke dalam tubuh seorang manusia yang kebetulan baru saja meninggal pada detik yang sama ketika Anda jatuh."
Kaelen mengerutkan kening. Pikirannya sebagai dewa yang sangat logis mulai memproses informasi ini dengan cepat. "Manusia ini... siapa dia?"
"Namanya sama dengan Anda, Tuanku. Kaelen Valerius," jawab Lyra sambil menyerahkan sebuah tablet kaca transparan yang bercahaya. "Dia adalah pewaris tunggal dan CEO dari Valerius Zenith, sebuah perusahaan teknologi terbesar di kota ini. Dia baru saja dibunuh dengan racun saraf oleh orang dalam perusahaannya sendiri. Saat jiwanya pergi, jiwa Anda masuk dan menghidupkan kembali tubuhnya."
Kaelen melihat pantulan wajahnya di layar tablet yang mati. Wajah seorang pria muda, mungkin berusia akhir dua puluhan. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan matanya berwarna biru es yang tajam. Wajah yang tampan, namun terlihat sangat kelelahan.
"Di mana kita sekarang?" tanya Kaelen lagi.
Lyra berjalan menuju dinding kamar dan menekan sebuah tombol. Dinding besi di hadapan mereka tiba-tiba bergeser terbuka, menampilkan jendela kaca yang sangat besar.
Kaelen menahan napas saat melihat pemandangan di luar sana.
Di balik kaca itu, terbentang sebuah kota yang sangat luas dan tidak masuk akal. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, menembus awan. Jalanan raya tidak berada di tanah, melainkan melayang di udara, terbuat dari jalur cahaya biru di mana kendaraan terbang berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi.
Di tengah kota, ada pulau-pulau kecil yang melayang di angkasa, ditopang oleh energi biru yang bersinar terang.
"Selamat datang di Kota Luminais, Tuanku," kata Lyra. "Sebuah kota yang dibangun di atas teknologi yang mereka sebut Aether-Core. Manusia di dunia ini telah menemukan cara untuk mengubah energi spiritual menjadi kode digital. Mereka menyebutnya Aetherics."
Kaelen menatap takjub sekaligus curiga. Teknologi ini terlalu canggih untuk ukuran manusia biasa. Energi biru yang menopang pulau-pulau melayang itu terasa sangat akrab.
"Ada hal lain yang perlu Anda ketahui," lanjut Lyra. Nada suaranya menjadi lebih serius. Dia menunjuk ke arah gedung tertinggi di pusat kota yang bentuknya seperti jarum hitam raksasa.
Di puncak gedung itu, terpampang logo merah menyala yang sangat besar. Logo itu bertuliskan: VANE INDUSTRIES.
"Silas juga turun ke dunia ini," kata Lyra. "Dia tidak kehilangan kekuatannya seperti Anda. Dia mengambil wujud seorang manusia bernama Silas Vane. Dia sekarang adalah musuh bisnis terbesar perusahaan Anda. Dan aku yakin, dia yang mendalangi peracunan tubuh manusia Anda ini."
Kaelen menatap tajam logo merah tersebut. Udara di sekitarnya mendadak terasa dingin. Walaupun tubuhnya sekarang hanyalah manusia biasa yang lemah dan penuh luka, aura ketertiban dan otoritas dari jiwanya masih tersisa.
Dia sadar sekarang. Perang antara Ketertiban dan Kekacauan belum berakhir. Hanya medan pertempurannya saja yang berubah.
Silas ingin menghancurkan dunia ini menggunakan teknologi yang disalahgunakan. Jika Silas berhasil, bukan hanya Dimensi Celestial yang hancur, tapi seluruh alam semesta akan jatuh ke dalam kegelapan.
Kaelen mencabut jarum infus dari punggung tangannya dengan paksa. Sedikit darah mengalir, tapi dia mengabaikannya. Rasa sakit ini hanyalah ilusi kecil yang harus dia biasakan.
Dia menurunkan kakinya ke lantai yang dingin dan berdiri tegak. Meskipun tubuhnya gemetar karena lemah, matanya menyala dengan tekad yang baru.
"Jika Silas ingin bermain sebagai manusia di kota ini," kata Kaelen dengan suara dingin, "maka aku akan menghancurkannya di permainannya sendiri."
Lyra menunduk hormat. "Apa perintah pertama Anda, Direktur Valerius?"
Kaelen menatap pantulan dirinya di jendela kaca. Dia merapikan piyama rumah sakitnya seolah itu adalah jubah kebesaran dewanya.
"Siapkan pakaianku, Lyra. Kita akan pergi ke kantor. Ada banyak pengkhianat yang harus aku pecat, dan sebuah perusahaan yang harus aku selamatkan."