
KAMU YANG AKU PERTAHANKAN
elias li|Bersambung
- Jumlah kata
- 666
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 666
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
(Elisa) Eli, cintamu terlalu bisu—sedingin salju, namun dirimu selalu menjadi perisaiku. (Eli) Elisa, kamu memilih untuk bertahan… dan kini aku tahu, aku harus menjadi lelaki yang pantas untuk terus kamu perjuangkan. (Richie) Aku hanya mampu melihat dari jauh… karena apa yang kalian miliki terlalu utuh untuk aku hancurkan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Di balik diam
Aku sering mendengar orang berkata…
cinta itu harus terlihat.
Harus diucapkan.
Harus ditunjukkan.
Harus bisa dirasakan oleh semua orang.
Tapi mereka tidak pernah hidup dalam hidupku.
Pagi itu sama seperti biasanya.
Eli sudah bangun lebih dulu. Seperti biasa.
Tanpa banyak suara, dia bergerak di dapur—membuat kopi, menyiapkan sarapan sederhana. Tidak mewah, tapi cukup.
Aku berdiri di ambang pintu dapur, menyandarkan bahu pada dinding, memperhatikannya diam-diam.
Gerakannya tenang. Teratur.
Seperti seseorang yang sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri… tanpa perlu banyak kata.
“Kamu bangun pagi lagi,” ucapku pelan.
Dia hanya menoleh sekilas, lalu mengangguk.
“Seperti biasa.”
Singkat. Sederhana. Seperti dirinya.
Aku tersenyum kecil.
Orang lain mungkin akan merasa hampa dengan jawaban seperti itu.
Tapi aku… sudah lama belajar memahami bahasa diamnya.
Di atas meja, secangkir kopi sudah tersedia.
Uap tipis masih naik perlahan.
Aku menghampiri, mengangkat cangkir itu, lalu menyeruput sedikit.
Manisnya pas.
Selalu pas.
Dia tidak pernah bertanya bagaimana aku suka kopi.
Tapi dia tidak pernah salah.
Dan entah kenapa… hal kecil seperti itu selalu membuat hatiku tenang.
Eli tidak banyak bicara.
Sejak awal aku mengenalnya… dia memang seperti itu.
Bahkan waktu aku yang lebih dulu mengungkapkan perasaanku, dia hanya diam cukup lama sebelum akhirnya berkata,
“Kalau kamu yakin… aku tidak akan setengah hati.”
Tidak ada kata manis.
Tidak ada janji berlebihan.
Tapi aku tetap memilihnya.
Dan sampai sekarang… aku tidak pernah menyesal.
“Eli itu dingin, ya?”
Suara Sara sore itu masih terngiang di kepalaku.
Kami duduk di sebuah kafe kecil, suasana ramai tapi entah kenapa pertanyaannya terasa begitu jelas.
“Kamu baik-baik saja, Lisa? Aku lihat dia seperti… tidak menunjukkan apa-apa.”
Aku hanya tertawa kecil waktu itu.
Bukan karena pertanyaannya lucu.
Tapi karena aku sudah terlalu sering mendengar hal yang sama.
Dari orang yang berbeda.
Dengan nada yang hampir serupa.
Aku mengaduk minumanku perlahan, lalu menjawab santai,
“Aku baik-baik saja.”
Sara mengerutkan dahi. “Serius?”
Aku mengangguk. “Serius.”
Dan memang aku baik-baik saja.
Orang luar selalu melihat apa yang ingin mereka lihat.
Mereka melihat Eli yang tidak banyak bicara.
Tidak pandai merayu.
Tidak romantis.
Mereka tidak melihat…
Cara dia selalu memastikan aku sampai rumah dengan selamat, bahkan saat aku bilang tidak perlu dijemput.
Cara dia diam-diam memperhatikan ketika aku mulai lelah, lalu mengambil alih hal-hal kecil tanpa diminta.
Cara dia… selalu ada, bahkan ketika aku tidak menyadarinya.
Malam itu, kami makan bersama seperti biasa.
Tidak banyak percakapan.
Tidak ada drama.
Hanya suara sendok dan piring… dan kehadiran yang terasa cukup.
“Aku pulang terlambat besok,” kata Eli tiba-tiba.
Aku mengangkat wajah sedikit. “Kerja?”
“Hmm.”
Aku mengangguk. “Jangan lupa makan.”
Dia tidak menjawab.
Hanya menatapku sebentar… lalu kembali makan.
Tapi aku tahu dia dengar.
Setelah selesai, aku berdiri untuk membereskan meja.
Namun sebelum aku sempat melangkah jauh, tangannya bergerak lebih dulu—menarik kursiku sedikit ke dalam, agar tidak mengganggu jalan.
Gerakan kecil. Refleks.
Seperti kebiasaan.
Aku menoleh ke arahnya.
Dia sudah kembali duduk, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Aku tersenyum.
Hal-hal seperti itu… mungkin tidak berarti bagi orang lain.
Tapi bagiku… itu Eli.
Kadang aku berpikir…
jika aku bukan aku,
jika aku orang lain…
mungkin aku juga akan salah paham padanya.
Mungkin aku juga akan mengira—
dia tidak cukup mencintaiku.
Tapi aku mengenalnya.
Dan aku tahu…
cintanya tidak pernah kurang.
Hanya caranya yang berbeda.
Malam semakin larut.
Aku sudah berbaring di tempat tidur ketika Eli masuk ke kamar.
Dia tidak langsung berbaring.
Hanya berdiri sejenak, memastikan jendela sudah tertutup rapat.
Selimutku ditarik sedikit, diperbaiki dengan rapi.
Aku pura-pura tidak sadar.
Lalu dia akhirnya berbaring di sebelahku.
Tidak memeluk.
Tidak berkata apa-apa.
Tapi jaraknya cukup dekat… untuk membuatku tahu dia ada.
Selalu ada.
Aku pernah mencintainya dengan berani.
Aku yang lebih dulu mengaku.
Aku yang memilihnya… tanpa ragu.
Dan sampai hari ini,
aku masih memilihnya.
Di luar sana, mungkin banyak yang datang dan pergi.
Mungkin ada yang lebih pandai berkata-kata.
Lebih pandai menunjukkan rasa.
Tapi aku tidak pernah goyah.
Karena aku tahu…
apa yang aku miliki sekarang bukan sesuatu yang semua orang mengerti.
Tidak semua cinta harus terlihat untuk menjadi nyata.
Dan cinta kami…
tidak pernah lemah—
meski sering kali diam.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








