

"Mas, Mas... bangun, Mas. Sudah sampai di pemberhentian terakhir."
Neo Arkananta tersentak. Kelopak matanya yang terasa seberat timah terbuka perlahan, menyingkap pandangan yang kabur oleh sisa-sisa kantuk dan rasa sakit yang berdenyut di balik pelipisnya. Di depannya, seorang pria paruh baya dengan topi lusuh menatapnya prihatin. Sopir bus itu seolah sedang melihat sesosok mayat yang entah bagaimana masih bisa bernapas.
"Sudah sampai?" tanya Neo, suaranya parau, nyaris seperti gesekan amplas di atas kayu kering.
"Tirta Hening, Mas. Benar ini tujuannya? Di sini tidak ada apa-apa kecuali kabut dan hutan," sopir itu menjawab sambil menyeka kaca depan bus yang berembun.
Neo berusaha menegakkan punggungnya. Suara gemeretak dari tulang belakangnya terdengar mengerikan di telinganya sendiri. "Ya. Benar. Ini tempatnya."
"Mas sakit? Wajah Mas pucat sekali. Mau saya antar sampai ke bawah sana? Ada pangkalan ojek biasanya, tapi jam segini mungkin sudah kosong."
Neo menggeleng perlahan, mencoba mencari pegangan pada sandaran kursi untuk berdiri. "Tidak perlu. Saya bisa jalan sendiri. Terima kasih."
"Tapi ini sudah hampir gelap, Mas. Kabutnya tebal sekali. Mas tidak bawa tas? Cuma kantong plastik itu saja?"
"Hanya ini yang saya butuhkan," sahut Neo singkat. Ia mencengkeram kantong plastik berisi tumpukan botol obat yang beradu pelan, menimbulkan bunyi gemerincing yang ganjil.
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati, Mas. Di sini hutannya masih angker. Jangan melamun kalau jalan sendirian," pesan sopir itu dengan nada sangsi.
Neo melangkah turun dari pintu bus yang berdecit nyaring. Begitu kakinya menyentuh tanah yang lembap, udara dingin pegunungan langsung menyergap, menusuk hingga ke sumsum tulangnya yang rapuh. Bus tua itu kemudian menderu, meninggalkan kepulan asap hitam yang segera tertelan oleh kepekatan kabut.
Neo kini sendirian. Di tengah jalan setapak yang dikepung oleh pepohonan raksasa yang tampak seperti raksasa diam.
"Selamat datang di neraka pribadimu, Neo," gumamnya pada diri sendiri. Ia terbatuk hebat, memaksa tubuhnya membungkuk. Rasa hangat yang amis mulai terasa di tenggorokannya. Ia menyeka bibirnya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak merah gelap di sana.
Sialan, batinnya. Bahkan paru-paruku pun sudah menyerah.
Ia mulai berjalan, menyeret kakinya yang terasa seperti bongkahan beton. Setiap langkah adalah peperangan melawan gravitasi. Peta tua yang ia simpan di saku jaketnya sudah lecek, tapi ia ingat arahnya. Di ujung jalan ini, melewati lereng yang curam, ada sebuah gubuk tua milik mendiang kakeknya. Tempat yang seharusnya sudah lama ia kunjungi, andai saja ambisinya tidak membutakannya selama bertahun-tahun.
"Kau lihat ini, Bram?" Neo bicara pada kekosongan, membayangkan wajah pria yang telah mengkhianatinya, merampas perusahaannya, dan membiarkannya membusuk dengan penyakit langka ini. "Aku berakhir di sini. Di tempat sampah dunia. Kau pasti tertawa puas sekarang, kan?"
Langkahnya terhenti sejenak ketika rasa nyeri yang tajam menghunjam dadanya. Ia bersandar pada batang pohon yang berlumut, mencoba mengatur napasnya yang pendek-pendek.
"Jangan sekarang... belum sekarang," bisiknya memohon pada tubuhnya sendiri. "Tunggu sampai aku sampai di gubuk itu. Jangan buat aku mati di tengah jalan seperti anjing kurap."
Sesosok bayangan bergerak di balik semak-semak, membuat Neo menoleh dengan waspada. "Siapa itu? Siapa di sana?"
Hanya keheningan yang menjawab. Angin gunung bersiul di antara celah dahan, terdengar seperti tawa ejekan yang jauh. Neo kembali melangkah, melewati jalanan yang semakin menanjak. Medan pegunungan Tirta Hening seolah menolak kehadirannya. Akar-akar pohon yang menyembul dari tanah berkali-kali nyaris membuatnya terjungkal.
"Kenapa tempat ini begitu jauh?" keluhnya dengan napas tersengal. "Apa kau juga membenciku, Tirta Hening? Apa kau merasa aku mengotori kesucianmu dengan penyakitku ini?"
Ia terus berjalan hingga akhirnya, di balik selimut kabut yang sedikit menipis, ia melihat siluet bangunan kayu yang merana. Gubuk itu berdiri miring, atap rumbianya sudah banyak yang hilang, dan dinding papannya telah menghitam dimakan usia dan kelembapan.
"Akhirnya," bisik Neo.
Ia mencapai halaman gubuk yang dipenuhi semak berduri. Langkahnya membawanya menuju sebuah tebing kecil yang berada tepat di samping gubuk, sebuah jurang yang dasarnya tidak terlihat, tertutup oleh awan putih yang berputar-putar.
Neo berhenti di tepian jurang. Ia menatap kantong plastik di tangannya. Botol-botol kimia itu—obat-obatan eksperimental dari Bio-Genesis yang selama ini hanya memperpanjang penderitaannya tanpa pernah menyembuhkannya.
"Untuk apa aku terus melakukan ini?" tanya Neo pada angin.
Ia mengambil satu botol berisi pil berwarna oranye terang. Saras pasti akan marah kalau melihat ini, pikirnya sekilas. Dia yang memberikan obat-obat ini. Dia yang bilang aku punya harapan.
"Harapan itu bohong, Saras," teriak Neo tiba-tiba, suaranya memantul di dinding-dinding lembah. "Harapan itu cuma cara mereka untuk terus membedahku seperti tikus laboratorium!"
Dengan gerakan penuh amarah, ia melempar botol itu ke dalam jurang.
Plung.
Bunyinya nyaris tak terdengar.
Neo mengambil botol berikutnya. "Ini untuk semua suntikan yang membuatku tidak bisa tidur!" Ia melemparnya lagi.
"Ini untuk semua uang yang kalian peras dariku!" Lemparan kedua lebih jauh.
"Dan ini... ini untuk hidupku yang kalian hancurkan!" Neo menjerit, melemparkan seluruh kantong plastik itu sekaligus. Ia melihat plastik itu melayang, berputar-putar di udara sebelum akhirnya ditelan oleh kabut abadi di bawah sana.
Keheningan kembali meraja. Neo jatuh berlutut di tanah yang dingin. Ia merasa kosong. Benar-benar kosong. Tanpa obat-obatan itu, ia tahu umurnya mungkin tidak akan lewat dari satu minggu. Tapi setidaknya, ia akan mati sebagai manusia, bukan sebagai subjek uji coba nomor 404.
"Selesai sudah," gumamnya, memejamkan mata. "Aku siap. Ambil saja nyawaku sekarang. Aku sudah lelah melawan."
Namun, kematian tidak datang secepat itu. Yang datang justru adalah serangan nyeri yang lebih hebat dari sebelumnya. Neo mengerang, berguling di tanah sambil mencengkeram perutnya. Rasanya seolah ada ribuan jarum panas yang menusuk saraf-sarafnya secara bersamaan.
"Argh! Sialan! Cepatlah sedikit!" teriaknya sambil merintih.
Di tengah kesakitannya, telinganya menangkap sesuatu. Sebuah suara yang tidak biasa. Bukan suara angin, bukan pula suara serangga malam.
Neo...
Neo tersentak. Ia membuka mata, menatap sekeliling dengan liar. "Siapa? Siapa yang memanggil?"
Neo Arkananta...
Suara itu terdengar seperti gemericik air yang jernih, namun memiliki resonansi yang menggetarkan tulang telinganya. Suara itu berasal dari arah bawah, dari balik rimbunnya hutan di belakang gubuk.
"Aku pasti sudah gila," bisik Neo. "Aku berhalusinasi. Efek putus obat, pasti itu."
Ia mencoba bangkit, menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk merangkak menuju gubuk. Ia ingin tidur. Ia ingin semuanya berakhir di atas dipan tua yang mungkin masih ada di dalam sana. Namun, suara itu kembali terdengar, lebih jelas, lebih menuntut.
Ke mari... anak manusia yang terluka...
Neo berhenti merangkak. Ia menoleh ke arah sumber suara. Di antara pepohonan yang gelap, ia melihat kilatan cahaya yang sangat tipis. Bukan cahaya kuning lampu, melainkan pendaran biru pucat yang seolah menari di antara kabut.
"Apa itu?" gumamnya tak percaya.
Rasa ingin tahunya, sisa-sisa insting penjelajah yang dulu pernah membawanya keliling dunia, tiba-tiba berdenyut kembali di dadanya yang sesak. Ia memaksakan diri untuk berdiri, bersandar pada dinding gubuk yang rapuh.
"Siapa di sana?" teriaknya lagi, kali ini lebih berani meskipun tubuhnya gemetar hebat. "Kalau kau malaikat maut, datanglah! Jangan bersembunyi!"
Tidak ada jawaban verbal, namun pendaran biru itu semakin terang. Suara gemericik air yang tadinya halus kini berubah menjadi gemuruh yang menenangkan. Suara air terjun. Neo teringat cerita kakeknya tentang Tirta Hening Mata Air Keheningan yang konon bisa mendengar jeritan jiwa yang paling dalam.
"Tirta Hening," bisik Neo dengan bibir yang bergetar.
Ia melangkah menjauhi gubuk, menuju ke arah hutan yang lebih gelap. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk telapak kakinya, namun ia tidak peduli. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang memanggilnya. Sesuatu yang terasa seperti... pulang.
"Aku akan mati di sana," pikirnya. "Di dalam air itu. Itu jauh lebih baik daripada mati di dalam gubuk busuk ini."
Ia terus berjalan, menembus semak belukar yang mencabik jaketnya. Kabut di sekitarnya tiba-tiba terasa hangat, seolah-olah ia sedang berjalan masuk ke dalam pelukan seseorang. Nyeri di tubuhnya tidak hilang, tapi entah kenapa, ia tidak lagi merasa takut.
Neo...
"Aku datang," sahutnya pelan, air mata mulai mengalir di pipinya yang cekung. "Aku datang. Tolong... hentikan semua ini."
Langkah Neo terhenti di bibir sebuah kolam alami yang dikelilingi oleh bebatuan besar yang berkilau karena lumut basah. Di depannya, sebuah air terjun kecil jatuh dengan anggun, menciptakan uap yang berpendar biru di bawah cahaya bulan yang samar.
Pemandangan itu begitu indah hingga Neo merasa sesak napas karena alasan yang berbeda. Ia merasa kecil, tidak berarti, namun sekaligus merasa diperhatikan.
"Indah sekali," bisiknya.
Tiba-tiba, permukaan air kolam itu bergetar. Sebuah pusaran kecil muncul di tengahnya, dan suara itu kembali terdengar, kali ini bukan di telinganya, melainkan langsung di dalam kepalanya.
Kau telah membuang racunmu, Neo. Sekarang, bersihkan jiwamu.
Neo melangkah maju, kakinya menyentuh air kolam yang ternyata tidak dingin. Air itu terasa hangat, seperti darah yang mengalir di nadinya. Ia terus berjalan hingga air mencapai pinggangnya.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Neo pada kehampaan yang bercahaya.
Hanya satu hal... terimalah.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa meledak dari pusat dadanya. Neo berteriak, namun suaranya tertelan oleh suara air terjun. Tubuhnya ambruk ke dalam air. Ia tenggelam, membiarkan cairan hangat itu memenuhi paru-parunya yang rusak.
Di dalam kegelapan air, ia melihat ribuan partikel cahaya biru mulai masuk ke dalam kulitnya, menembus pori-porinya, dan menempel pada sel-selnya yang sekarat.
Sakit! pikirnya dalam keputusasaan yang gelap. Ini lebih sakit dari kematian!
Saat ia merasa kesadarannya mulai meredup, sebuah penglihatan melintas. Ia melihat dirinya sendiri, namun bukan sebagai pria pesakitan. Ia melihat sosok yang bersinar, berdiri di tengah badai, dengan tangan yang mampu menjahit kembali kehidupan yang sobek.
Lalu, sebuah suara asing, berat dan penuh otoritas, bergema dari kedalaman air terjun.
"Arkananta telah kembali."
Neo tersentak di bawah air, matanya terbuka lebar. Di dalam pupil matanya yang hitam, sebuah kilatan biru elektrik muncul untuk pertama kalinya. Ia tidak lagi berjuang untuk bernapas. Ia hanya... ada.
Dan di kejauhan, di atas gubuk tua yang ia tinggalkan, seekor burung hantu berseru, seolah menandai lahirnya sesuatu yang seharusnya sudah lama mati.