Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Buku Misterius Yang Kusam

Buku Misterius Yang Kusam

Rivyn | Bersambung
Jumlah kata
44.7K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Buku Misterius Yang Kusam
Buku Misterius Yang Kusam

Buku Misterius Yang Kusam

Rivyn| Bersambung
Jumlah Kata
44.7K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahDunia GaibPria MiskinCinta Sekolah
Surya yang sering dibully dan ditolak cintanya tetapi setelah menemukan buku misteriusmulai ada perubahan pada diri surya...
BAB 1 :Dunia Yang tidak Adil

Matahari pagi bersinar terang, menyelinap masuk melalui celah-celah daun pohon trembesi yang rindang di halaman depan SMA Harapan Bangsa. Cahaya keemasan itu menari-nari di atas aspal yang mulai memanas, menerangi debu-debu halus yang beterbangan di udara.

Seharusnya, cahaya itu membawa semangat baru bagi para siswa yang berjalan memasuki gerbang sekolah, membawa harapan dan mimpi untuk masa depan yang cerah. Namun bagi Surya, cahaya itu terasa seperti sorotan lampu sorot yang kejam, yang menyoroti segala kekurangan, keburukan, dan kemiskinan yang melekat pada dirinya.

Surya melangkah pelan dengan kepala menunduk sedalam-dalamnya. Matanya yang sayu dan lelah sibuk menatap ujung sepatu sneakers butut yang ia pakai. Sol sepatu itu sudah mulai terkelupas di bagian tumit, meninggalkan jejak yang aneh setiap kali ia menginjak tanah. Talinya sudah diganti beberapa kali dengan tali yang warnanya tidak senada, dan bagian kulitnya sudah retak-retak menua.

Itu adalah sepatu warisan dari kakak tetangganya, yang sudah dipakai bertahun-tahun, bahkan mungkin sudah melewati masa pakainya, sebelum akhirnya diberikan kepada Surya karena dianggap sudah tidak layak pakai lagi. Namun bagi Surya, sepatu itu adalah harta paling berharga yang ia miliki selain nyawanya sendiri.

"Ah, lihat deh si Si Kucel datang." Suara cempreng seorang siswi bernama Sisi terdengar jelas di telinga Surya, disusul tawa renyah yang menusuk hati seperti jarum tajam. Sisi berdiri bersama teman-temannya, tangannya menutup hidung seolah mencium bau yang sangat menyengat, matanya menyipit menatap Surya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan jijik yang sangat dipamerkan. "Sepatunya kok kayak kapal pecah gitu sih? Bau nggak sih? Awas jangan kena baju gue dong, jijik ah. Baru aja gue setrika rapi-rapi."

Surya memaksakan langkahnya semakin cepat. Bahunya menegang kaku, ia berusaha mengecilkan eksistensinya, membungkuk sedikit seolah ingin menghilang ditelan bumi agar tidak ada yang melihatnya. Ia tidak berani menoleh, tidak berani membalas. Ia tahu betul, jika ia menoleh sekalipun, yang akan ia temui hanyalah tatapan sinis, mata yang melirik jijik, dan senyum yang penuh penghinaan.

Dunia di sekolah ini terbagi dua, seperti langit dan bumi. Di atas sana, ada mereka yang cantik, ganteng, kaya raya, memakai seragam yang licin dan wangi, berjalan dengan kepala tegak dan dihormati semua orang. Dan di bawah sana, jauh di dasar lumpur, ada dirinya. Surya, si anak miskin, si culun, si sampah masyarakat yang tidak berguna.

Surya masuk ke dalam kelas XII IPS 1. Ruangan yang cukup luas dengan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk menerangi debu-debu yang beterbangan. Namun bagi Surya, kelas ini terasa seperti penjara yang sempit dan menyesakkan dada. Ia berjalan menyusuri lorong di antara bangku-bangku kayu yang sudah tua.

Setiap kali ia lewat di depan meja siswa lain, ia bisa merasakan bagaimana mereka menarik tas mereka atau merapikan seragam mereka dengan gerakan refleks yang cepat, seolah-olah takut tersentuh oleh baju lusuh yang Surya pakai, seolah-olah kemiskinan Surya itu adalah sebuah penyakit menular yang menjijikkan.

Baju seragam Surya memang sudah memudar warnanya, dari putih bersih menjadi kekuningan dan abu-abu karena sering dicuci dengan air sungai dan sabut kelapa. Ukurannya juga sedikit kekecilan di bagian lengan serta badan, karena itu juga seragam warisan yang sudah dijahit ulang beberapa kali. Ia tidak punya uang untuk membeli yang baru.

Orang tuanya hanya buruh tani yang penghasilannya pas-pasan, cukup untuk makan sehari-hari dengan lauk seadanya, dan membayar uang sekolah yang sering kali tertunggak berbulan-bulan. Mimpi untuk memiliki barang baru atau seragam baru hanyalah angan-angan yang mustahil baginya.

"Minggir lo sampah! Nggak liat jalan apa?!"

Sebuah tangan kuat dan kasar mendorong bahu Surya dengan keras hingga ia tersungkur hampir jatuh. Badannya terbentur meja, membuat kursi berdecit keras. Buku-buku yang ia pegang dengan erat berhamburan keluar jatuh ke lantai yang kotor, halaman-halamannya terbuka tak beraturan.

Surya mendongak perlahan, debu-debu menempel di pipinya. Di depannya berdiri Rio, ketua geng sekolah, anak orang kaya yang wajahnya selalu dipenuhi rasa sombong dan arogansi. Rio berdiri dengan kaki terbuka lebar, satu tangannya memegang pinggang, matanya menyipit menatap Surya dengan tatapan merendahkan yang sangat menyakitkan.

Sudut bibirnya terangkat sinis, seolah melihat benda paling menjijikkan di dunia. Di belakang Rio ada tiga orang anak buahnya yang tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk bahu Rio seolah apa yang barusan dilakukan Rio adalah hal paling keren dan hebat.

"Ma-maaf Rio... aku nggak sengaja," jawab Surya terbata-bata, suaranya kecil dan gemetar hebat. Tangannya gemas memungut buku-bukunya satu per satu dengan gerakan cepat dan panik, takut ditendang lagi oleh Rio.

"Maaf doang?!" Rio menendang sebuah buku catatan milik Surya hingga meluncur jauh ke depan kelas, suaranya keras menimbulkan gema. "Lo tuh bawa sial tau nggak sih?! Tiada hari tanpa liat muka lo yang menyedihkan ini. Dasar anak miskin, mending sekolahnya berhenti aja, bantu orang tua ngarit di sawah sana! Ngapain nyusahin di sini? Buat malu kelas aja lo ada!"

Tawa para siswa meledak memenuhi ruangan. "Hahaha bener tuh! Mending pulang aja Sur! Ngapain sih sekolah!"

Surya menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam karena malu. Pipi dan telinganya terasa panas membara. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, hangat dan perih, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan setetes pun di depan umum. Ia menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, berusaha menahan isakan tangisnya. Ia sudah terbiasa dengan perlakuan ini.

Sudah bertahun-tahun ia menelan pil pahit ini setiap hari. Rasa sakit itu sudah membekas menjadi luka yang menganga di dalam hatinya, namun ia harus tetap tersenyum pahit dan bertahan.

Akhirnya Surya sampai di bangkunya yang berada di pojok paling belakang, dekat tempat sampah. Tempat yang paling sepi, tempat di mana ia bisa bersembunyi dari dunia yang kejam ini. Ia duduk dengan gerakan lemas, memeluk lututnya sebentar, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu karena marah dan juga takut.

'Kenapa Tuhan ciptain aku begini?' batin Surya merintih, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa jawaban.

'Kenapa orang lain bisa bahagia, punya baju bagus, sepatu bagus, disayang banyak orang... sementara aku cuma sampah yang bisa diinjak-injak seenaknya? Apa salahku? Apa dosaku besar sekali sampai aku dihukum seperti ini?'

Rasa iri dan dendam mulai tumbuh subur di hatinya yang terluka. Jari-jarinya mengerat mencengkeram celananya. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap ke arah meja depan, di mana duduk seorang gadis yang sangat cantik jelita, Rina.

Rina adalah ketua geng cewek, paling populer, paling kaya, dan... adalah cinta pertama serta satu-satunya cinta Surya sejak kelas satu SMA. Rina sedang tertawa lebar bersama teman-temannya, wajahnya berseri-seri, rambutnya terurai indah.

Surya menyukai Rina bukan karena hartanya, tapi karena senyumnya yang dulu pernah terlihat tulus saat mereka kecil.

Tapi sekarang, Rina bahkan tidak sudi menoleh ke arahnya. Bahkan saat Rio menghinanya tadi, Surya melihat Rina ikut tertawa, menutup mulutnya dengan tangan sambil matanya menatap ke arah sini dengan tatapan mengejek.

Hati Surya terasa diremas-remas sakit.

"Dasar dunia yang gak adil..." gumam Surya pelan, kepalan tangannya mengerat kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangan, meninggalkan bekas merah yang perih. "Suatu hari nanti... aku janji... aku bakal bikin kalian semua menyesal. Aku bakal tunjukkin kalau aku bukan sampah selamanya..."

Lanjut membaca
Lanjut membaca