Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bukan CEO Dadakan

Bukan CEO Dadakan

Kang Muhamad Wisnu | Bersambung
Jumlah kata
56.1K
Popular
151
Subscribe
37
Novel / Bukan CEO Dadakan
Bukan CEO Dadakan

Bukan CEO Dadakan

Kang Muhamad Wisnu| Bersambung
Jumlah Kata
56.1K
Popular
151
Subscribe
37
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeMiliarderPria MiskinZero To Hero
‎Rangga adalah pria sederhana yang tumbuh dari keluarga menengah ke bawah. Sejak neneknya meninggal dunia yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia miliki, Rangga harus menjalani hidup seorang diri. Tentang kedua orang tuanya, ia hanya mengetahui dari cerita sang nenek bahwa mereka telah tiada sejak lama. ‎ ‎Meski hidup dalam keterbatasan, Rangga tidak pernah menyerah pada keadaan. Dengan tekad yang kuat, ia berjuang menempuh pendidikan hingga berhasil meraih gelar sarjana. Setiap hari, ia berkeliling menjajakan es potong untuk menyambung hidup sekaligus membiayai kuliahnya, sebuah perjuangan yang ditempuh dengan keringat dan keteguhan hati. ‎ ‎Di balik kerasnya perjuangan itu, Rangga berniat untuk mempersunting Fira, teman kuliahnya yang telah lama ia cintai dalam diam. ‎ ‎Sayangnya, jalan menuju kebahagiaan tidak semudah yang ia bayangkan. Pratama, ayah Fira, menentang keras hubungan mereka. Baginya, Rangga hanyalah pria biasa yang tidak pantas mendampingi putrinya. Belum lagi, Rangga harus berhadapan dengan Mahardika yang merupakan putra seorang pengusaha nomor satu yang juga menginginkan Fira sebagai pendamping hidupnya. ‎ ‎Di tengah segala keraguan dan penolakan, Rangga memilih untuk tidak menyerah. Ia bertekad membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari keberanian bermimpi dan ketekunan untuk mewujudkannya. Berbekal usaha kecilnya, bisnis es potong, Rangga mulai menapaki jalan panjang menuju perubahan nasib. ‎ ‎Akankah Rangga mampu membalikkan keadaan dan meraih kesuksesan? ‎Mampukah ia membuktikan bahwa cinta dan kerja keras lebih berharga daripada status dan kekayaan? ‎ ‎Semua kisah perjuangan, cinta, dan tekad itu terangkum dalam novel “Bukan CEO Dadakan.” ‎
Bab 1 Mau Makan Apa Kalau Menikah Dengannya

‎Ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi Rangga, ia lulus kuliah dengan predikat cumlaude dengan hasil jeri payahnya sendiri. Selain kuliah, ia juga berjualan es potong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya perkuliahan.

‎Setelah acara wisuda selesai, Rangga nampak langsung menghampiri seorang perempuan bernama Fira yang merupakan teman sekelasnya.

‎Dengan langkah yang agak ragu, Rangga memberanikan diri untuk menghampirinya.

‎"Fira... ." panggil Rangga, suaranya jelas sekali menunjukkan keraguannya.

‎Fira yang sedang mengobrol bersama teman-temannya langsung menoleh. "Iya, ada apa?"

‎"Aku... ." Rangga meremas jemari nya sendiri untuk menghilangkan rasa gugup. "Aku... ma-mau... ."

‎Fira mengeryitkan dahinya, belum mengerti apa yang dimaksud oleh Rangga.

‎"Mau apa, Rangga?" tanya Fira.

‎Detak jantung Rangga berdetak lebih kencang dari sebelumnya, lisannya seolah terkunci dan ia sendiri bingung harus memulai dari mana untuk menyampaikan maksudnya.

‎Untuk menghilangkan gugup, Rangga menarik nafasnya sejenak. Kemudian, ia menghembuskan nya secara perlahan.

‎"Aku akan melamar kamu nanti sore," ucap Rangga akhirnya, ia mengatakan nya dengan satu tarikan nafas.

‎Fira tersenyum, entah kenapa sangat senang sekali mendengar Rangga mengucapkan niatnya itu. Fira sendiri bingung dengan rasanya terhadap Rangga, entah sekedar kagum atau justru ia benar-benar menyukai pria itu.

‎"Serius?" tanya Fira lagi, sekedar untuk memastikan kalau ia tidak sedang bercanda.

‎Rangga tersenyum, kemudian ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

‎Hati Fira seolah berbunga-bunga, senyuman langsung terlukiskan secara otomatis dalam raut wajahnya. "Iya, kamu nanti dateng aj-"

‎"Papa gak setuju!" belum selesai Fira berbicara, suaranya langsung terpotong dengan suara ayahnya yang cukup tegas.

‎Seketika, Fira dan Rangga langsung menoleh ke arah sumber suara.

‎Rangga langsung menunduk hormat kepada sosok yang cukup dihormati itu.

‎"Om," sapa Rangga.

‎"Papa apa-apaan, sih?"

‎Tuan Pratama, ayahnya Fira yang merupakan CEO Pratama Grup itu langsung menarik lengan putrinya.

‎"Ayo, kita pulang sekarang!" Pratama langsung membawa pergi putrinya tanpa menghiraukan Rangga sama sekali.

‎Rangga terus menatap kepergian Fira bersama ayahnya itu, hatinya seolah hancur seketika ketika mendengar penolakan dari Pratama.

‎"Papa gak setuju kalau kamu menikah dengan orang susah kayak dia. Mau makan apa nanti?"

Degh!

‎Ucapan Pratama kepada putrinya itu terdengar langsung oleh Rangga. Rasanya bagai dihantam ombak dan hatinya remuk dalam hitungan detik.

‎Rangga tersenyum sambil pandangannya terus menatap ke arah Fira. Jelas sekali kalau itu bukan senyuman yang ikhlas, itu senyuman yang dipaksakan sambil menahan rasa perih.

‎"Semoga kamu bahagia ya, Fir," batin Rangga.

‎Langkah kaki Pratama dan Fira semakin menjauh, Rangga langsung mengalihkan pandangannya ke lain arah karena tak kuat lagi untuk melihat perempuan yang selama ini ia cintai. Rasa cinta yang selama ini ia tahan dan akan diungkapkan dalam satu waktu yang dianggap pas, tapi hal itu runtuh dalam sekejap dan hanya kekecewaan yang kini ia dapatkan.

‎"Woy! Rangga!" panggil seseorang sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Rangga.

‎"Eh, iya, ada apa?" Rangga tersadar dari lamunannya.

‎Ternyata itu Leo, sahabat dekatnya yang sedari tadi terus memanggil nama Rangga.

‎Leo mendengus kecil. "Lagi ngelamunin apaan sih, Ga?"

‎Rangga tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Hehe.. gak ada, kok. Gue cuma ngantuk doang."

‎"Ah, alasan doang lo mah, Ga. Udah jelas banget lo lagi ngelamun tadi," ucap Leo tak percaya dengan alasan Rangga.

‎"Udah jangan ngomong terus, mending lo sekarang ikut gue." Rangga langsung menarik paksa lengan Leo.

‎"Eh... lo mau bawa gue kemana, Ga?"

‎"Udah, ikut aja."

‎Leo terpaksa mengalah, ia mengikuti Rangga yang entah mau kemana.

‎Langkah kaki Rangga semakin cepat, Leo yang tak biasa berjalan seperti itu jadi agak repot mengikuti Rangga.

‎"Santai dong, bro! Mau kemana sih sebenernya?" protes Leo.

‎Rangga tak menjawab, ia juga tak melambatkan langkah kakinya.

‎Hingga kemudian ia berhenti di depan gerbang kampus.

‎"Nah, mending lo lihat itu tuh." ucap Rangga sambil menunjuk ke arah tihang listrik.

‎Leo melirik ke arah yang ditunjuk Rangga, ia menyipitkan kedua matanya. "Maksud lo gue harus ngobrol sama tihang listrik."

‎"Duh, kacau!" Rangga menepuk jidatnya. "Maksud gue lihat tuh, ada poster lowongan kerja di perusahaan Nirwana Grup."

‎Seketika Leo tertawa kecil. "Bener banget Lo bilang, ini kesempatan besar buat kita, bro."

‎Rangga mengangguk. "Itu maksud gue, mending kita ngelamar kerja di sana aja. Kebetulan Nirwana Grup lagi buka lowongan buat fresh graduate kayak kita."

‎"Iya, bener banget, Ga. Hahaha... ." Leo kini menyilangkan kedua tangannya di dada. "Tapi... ada satu hal yang lo harus tahu, Ga. Kayaknya ini saatnya gue bongkar semuanya."

‎Rangga langsung fokus mendengarkan Leo, ia penasaran dengan apa yang akan di bongkar oleh Leo. Apa mungkin ada kaitannya dengan Fira?.

‎"Apaan?" tanya Rangga.

‎Leo menatap mata Rangga. "Gue itu sebenernya... ."

‎Ucapan Leo terhenti, ia memang sengaja membuat Rangga semakin penasaran dengan arah pembicaraannya.

‎"Sebenarnya apa, Le?" tanya Rangga yang semakin penasaran.

‎"Gue itu sebenernya CEO yang sedang menyamar, Ga."

‎Pandangan Rangga langsung berubah, kini ia tatapan berubah menjadi tajam. "Le... ternyata berani lo ya bikin gue penasaran."

‎"Hehehe... ." Leo tertawa kecil. "Eh, itu si Fira kok senyum-senyum ke arah lo ya, Ga."

‎Rangga langsung mengalihkan pandangannya, tapi ia tidak menemukan Fira sama sekali seperti apa yang dikatakan oleh Leo barusan.

‎"Fira? Mana, Le?" pandangan Rangga menyusuri setiap sudut di tempat itu, namun benar-benar tidak ada Fira sama sekali.

‎"Le?" tak mendapatkan jawaban dari Leo, Rangga mencoba memanggilnya sekali lagi.

‎Namun tetap sama, tidak ada suara Leo sama sekali.

‎Tak mendapatkan jawaban dari Leo, Rangga kembali menoleh.

‎"Wah, awas ya lo, Le!" ternyata Leo sudah pergi jauh dari Rangga, dia menertawakan Rangga dari jarak yang sudah jauh itu.

‎"Satu kosong, Ga. Hahaha... ," ejek Leo dari kejauhan.

‎"Awas Lo, Le! Gue balas nanti."

‎***

‎"Pah! Kenapa ditarik kayak gini, sih?" tangan Fira masih di tarik oleh Pratama.

‎Tepat di depan mobilnya, Pratama berhenti dan melepaskan tangan Fira.

‎"Nanti sore, kamu akan dilamar sama anaknya temen papa. Kalau kamu sampai bisa menikah dengan dia, perusahaan keluarga kita bisa berkembang pesat," ucap Pratama.

‎Fira sedikit terkejut, bagaimana bisa Pratama menjodohkan dia dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai, apalagi ia belum mengenal pria itu.

‎"Gak mau! Fira gak mau nikah sama pilihan papa itu." Fira langsung masuk ke dalam mobilnya.

‎Pratama menggelengkan kepalanya, kemudian ia menghembuskan nafasnya. "Kamu memang susah banget diatur, persis kayak mamah kamu."

‎Pratama pun masuk ke dalam mobil.

‎Tanpa berbicara apa pun lagi kepada Fira, ia langsung menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan hotel yang digunakan untuk wisuda kampus itu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca