Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sultan Dari Nol

Sultan Dari Nol

awal wael | Bersambung
Jumlah kata
107.1K
Popular
569
Subscribe
178
Novel / Sultan Dari Nol
Sultan Dari Nol

Sultan Dari Nol

awal wael| Bersambung
Jumlah Kata
107.1K
Popular
569
Subscribe
178
Sinopsis
FantasiIsekaiSistem
Bimo Santoso, seorang pemuda sederhana yang hidupnya serba kekurangan. Sehari-harinya bekerja keras mengayuh motor tua sebagai ojol di tengah panasnya kota Jakarta, namun penghasilannya tak pernah cukup untuk menebus kebutuhan hidup dan biaya berobat ibunya. Hidupnya penuh dengan hinaan, pandangan sebelah mata, dan rasa putus asa akan nasib. Namun, segalanya berubah dalam sekejap ketika sebuah suara misterius terdengar di kepalanya: [SISTEM TAHTA KAYA RAYA TELAH AKTIF!] Dengan kedatangan sistem ini, dunia Bimo berbalik 180 derajat. Uang? Ia punya tak terbatas. Aset? Ia bisa membeli satu gedung hanya dalam hitungan detik. Mobil mewah, rumah megah, teknologi canggih, semua ada di ujung jari. Tapi bukan hanya soal foya-foya, Bimo harus menggunakan kekayaan ini untuk membangun kerajaan bisnis, mengangkat derajat ekonomi lokal, membantu sesama, dan membalas budi kepada orang-orang yang baik padanya, serta membalas rasa malu kepada mereka yang pernah meremehkannya. Ikuti perjalanan epik Bimo dari seorang anak pinggiran rel kereta api, bertransformasi menjadi Sultan Terkaya dan Paling Disegani di Seluruh Nusantara!
Bab 1

Matahari siang itu bersinar dengan sangat terik, seolah ingin membakar seluruh permukaan aspal jalanan di ibu kota Jakarta. Suhu udara yang mencapai hampir 35 derajat celcius membuat udara terasa panas dan pengap, membuat siapa saja yang berada di luar ruangan akan merasa gerah dan cepat lelah.

Di pinggir jalan raya yang padat oleh kendaraan, di bawah teriknya sinar matahari, duduklah seorang pemuda bernama Bimo Santoso.

Bimo adalah seorang pengemudi ojek online. Usianya baru menginjak 22 tahun, namun wajahnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya karena lelahnya bekerja dan kerasnya kehidupan kota besar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun terlihat kekar karena sering beraktivitas fisik. Kulitnya sawo matang, khas anak negeri, dan keringat terus menerus bercucuran membasahi dahi serta punggungnya, membuat kaos oblong berwarna putih yang ia kenakan menjadi basah kuyup dan meninggalkan bekas noda garam.

Ia duduk di atas motor bututnya, sebuah motor bebek keluaran tahun tua yang catnya sudah banyak yang mengelupas dan suaranya sudah tidak sehalus motor-motor baru. Bimo menghela napas panjang, lalu mengusap keringat di dahinya menggunakan lengan baju.

"Ah, sialan... panas banget hari ini," gerutunya pelan, namun suaranya terdengar penuh kepasrahan.

Ia menyalakan layar HP-nya, sebuah smartphone tipe lama yang layarnya sudah retak di sana-sini akibat pernah jatuh beberapa kali dan tidak punya uang untuk menggantinya. Ia membuka aplikasi pesanannya, berharap ada orderan yang masuk. Namun, sudah hampir satu jam ia menunggu di titik yang dianggap ramai, notifikasi orderan sama sekali tidak muncul.

Bahkan yang lebih menyedihkan, notifikasi yang muncul justru dari aplikasi perbankan yang memberitahukan bahwa saldonya tinggal sedikit.

"Saldo Anda Rp 12.450. Mohon segera isi ulang."

Membaca tulisan itu, dada Bimo terasa sesak. Uang segitu tidak cukup bahkan untuk membeli bensin full tank, apalagi untuk makan siang yang layak.

"Padahal ibu di rumah butuh obat untuk nyeri sendinya," gumam Bimo pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Sampah... aku ini anak yang tidak berguna. Sudah dewasa tapi belum bisa membahagiakan orang tua."

Hidup Bimo memang tidak mudah. Ayahnya sudah meninggal sejak ia kecil, menyisakan ia dan ibunya yang hidup serba kekurangan. Mereka tinggal di sebuah kontrakan sempit berdinding papan di pinggiran rel kereta api. Setiap kali ada kereta lewat, rumah mereka bergetar hebat.

Di lingkungan itu, hidup mereka sering diremehkan. Tetangga sering memandang sebelah mata, sering berbisik-bisik bahwa Bimo tidak akan pernah sukses, bahwa nasibnya akan sama seperti ayahnya yang miskin sampai mati.

Bimo mencoba bekerja keras, siang malam tidak pernah istirahat, namun sekeras apa pun ia berjuang, rasanya dinding kemiskinan itu terlalu tinggi untuk ditembus. Uang yang didapat hanya cukup untuk makan seadanya dan membayar listrik.

"Ya Tuhan... kalau Engkau ada, tolonglah aku sekali ini saja. Aku tidak minta jadi orang paling kaya, aku cuma ingin ibuku sehat dan kami tidak perlu lagi makan mie instan tiga kali sehari," doanya dalam hati, dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Ia merasa sangat lelah. Lelah secara fisik, dan lebih lelah lagi secara batin. Rasanya ingin menyerah, namun ia sadar ia tidak punya hak untuk menyerah karena masih ada ibunya yang harus diurus.

Tiba-tiba, saat Bimo sedang menunduk memegangi lututnya, kepalanya terasa pusing mendadak. Pandangannya menjadi gelap sejenak, telinganya berdenging keras, dan rasanya seperti ada jutaan jarum yang menusuk-nusuk di dalam otaknya.

"Aduh... pusing sekali," keluhnya, memegang kepala dengan kedua tangan.

DING!

Suara itu terdengar sangat jelas, bukan dari luar, melainkan langsung terdengar di dalam kepalanya. Suaranya jernih, tegas, dan terdengar sangat modern, seperti suara asisten virtual namun lebih nyata.

[SISTEM TAHTA KAYA RAYA SEDANG DIINISIASI...]

[Mendeteksi gelombang otak pengguna... Berhasil!]

[Menginstal data dasar... 10%... 30%... 70%... 100%!]

[INSTALASI SELESAI. SELAMAT DATANG, TUAN BIMO!]

Bimo terbelalak kaget. Ia langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke kiri dan ke kanan dengan panik.

"Hah?! Siapa?! Siapa yang bicara?!" serunya keras.

Jalanan di depannya sepi, tidak ada orang lain selain dirinya. Kendaraan lewat jauh di depannya, tidak mungkin ada orang yang berbicara dengannya.

[Jangan mencari secara fisik, Tuan. Saya berada di dalam pikiran Anda. Saya adalah Sistem Tahta Kaya Raya, asisten pribadi yang ditugaskan untuk membantu Tuan mencapai kekayaan tertinggi di dunia ini.]

Layar transparan berwarna biru keemasan tiba-tiba muncul melayang di udara tepat di depan wajah Bimo. Tulisan-tulisan itu bergerak-gerak seperti di film-film sains fiksi yang pernah ia tonton di warnet.

Bimo mengucek matanya berkali-kali, berpikir bahwa ini adalah halusinasi karena ia kelaparan dan kelelahan.

"Gila... aku pasti gila. Mana mungkin ada hal beginian. Sistem? Kaya raya? Mimpi apa aku semalam?" bicaranya sendiri.

[Tuan tidak bermimpi, dan Tuan tidak gila. Ini adalah kenyataan. Tuan telah terpilih secara acak oleh alam semesta untuk menjadi penerima sistem ini.]

[MISI PERTAMA: VERIFIKASI LOYALITAS DAN KEPANTASAN.]

[DESKRIPSI: Buktikan bahwa Tuan layak memegang kekuasaan ini.]

[HADIAH: SALDO AWAL RP 1.000.000.000,- (SATU MILYAR RUPIAH).]

Saat membaca tulisan Satu Miliar Rupiah, jantung Bimo seakan berhenti berdetak selama satu detik. Wajahnya memerah, napasnya menjadi tersengal-sengal.

"Satu... satu miliar?" suaranya parau. Angka itu adalah angka yang sangat luar biasa besar baginya. Itu uang yang tidak pernah ia bayangkan akan ia miliki seumur hidupnya. "Jangan bercanda ya... kalau ini beneran, aku rela melakukan apa saja!"

[KONFIRMASI DITERIMA. PROSES TRANSFER SEDANG DILAKUKAN...]

[TRANSFER BERHASIL. SILAHKAN CEK REKENING ANDA.]

Dengan tangan yang gemetar hebat, bahkan jari-jarinya terasa kaku, Bimo kembali membuka aplikasi mobile banking di HP-nya yang layarnya retak itu. Tangannya dingin, keringat dingin mulai keluar. Ia takut berharap, takut kalau ternyata ini hanya ilusi.

Layar aplikasi terbuka. Ia memasukkan kode PIN dengan jari yang salah ketik beberapa kali karena terlalu gugup.

Akhirnya, halaman utama terbuka.

Di sana, di kolom saldo, tertulis angka yang membuat dunia Bimo seakan berhenti berputar.

SALDO: Rp 1.000.012.450,00

Bimo menghitung pelan-pelan, memastikan jumlah angka nolnya benar.

Satu... titik... nol... nol... nol...

1 Miliar!

Ditambah sisa saldo lamanya 12 ribu, jadi totalnya lebih dari satu miliar!

BRAKK!

HP itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tangki motor, untungnya tidak pecah. Bimo menatap kosong ke depan, matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka namun tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru dan syok yang luar biasa.

"Ya Tuhan... ini nyata... ini benar-benar nyata..." isaknya pelan.

Ia mengecek mutasi rekening. Tertera jelas: TRANSFER IN - SISTEM TAHTA KAYA RAYA - RP 1.000.000.000.

Uang itu ada di sana. Legal. Bisa ditransfer, bisa ditarik, bisa digunakan untuk belanja apa saja.

Rasa lelah, rasa lapar, rasa panas, semuanya hilang seketika. Yang ada sekarang hanyalah perasaan euforia yang luar biasa. Seakan beban berat yang selama ini dipikulnya lenyap begitu saja.

[Selamat, Tuan Bimo! Mulai hari ini, kehidupan Tuan akan berubah 180 derajat. Uang tidak akan pernah menjadi masalah lagi bagi Tuan.]

[TUGAS BARU TELAH MUNCUL:]

[1. Isi bensin motor sampai penuh.]

[2. Makan makanan yang enak dan bergizi.]

[3. Ganti HP Tuan yang sudah rusak itu dengan yang terbaru dan termahal.]

[4. Beli obat terbaik untuk Ibu Tuan.]

[Tunjukkan pada dunia, bahwa anak kampung pun bisa menjadi Raja!]

Bimo mengusap air matanya kasar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskan nya dengan kuat. Tatapan matanya berubah. Jika tadi matanya terlihat lesu dan penuh ketakutan, sekarang matanya bersinar penuh semangat, percaya diri, dan wibawa.

Ia menyalakan mesin motornya. Brekk... brekk... Suara mesin itu terdengar seperti musik terindah yang pernah ia dengar.

"Oke Sistem... Terima kasih. Mulai hari ini, Bimo Santoso tidak akan pernah sama lagi," ucapnya tegas.

Ia langsung menancap gas menuju SPBU terdekat. Sampai di pom bensin, ia berhenti di depan pom pertamax.

"Mbak, isi full ya! Full tank!" teriak Bimo dengan suara lantang dan percaya diri.

Petugas SPBU itu sedikit terkejut melihat pengendara motor tua tapi memesan bensin paling mahal dan minta diisi penuh. Namun ia tetap menurut.

Saat membayar, kasir menyebutkan nominalnya hampir seratus ribu rupiah. Dulu, Bimo akan mengernyitkan dahi dan berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang segitu. Tapi sekarang?

Bimo hanya tersenyum santai sambil mengarahkan QR code.

"Pembayaran Berhasil"

Notifikasi itu muncul di layar. Saldo berkurang, tapi masih tertulis ratusan juta yang tersisa.

"Terima kasih!" pamit Bimo.

Ia pergi meninggalkan SPBU dengan perasaan yang berbeda. Angin yang menerpa wajahnya terasa sejuk, bukan lagi panas menyengat. Jalanan Jakarta yang macet pun terlihat indah baginya sekarang.

Perjalanan seorang anak kampung dari nol menuju menjadi Sultan terhebat di Nusantara baru saja dimulai. Dan ini baru bab pertama dari ribuan petualangan yang menantinya!

Lanjut membaca
Lanjut membaca