Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Supeno, kembang desa tampan

Supeno, kembang desa tampan

iyani | Bersambung
Jumlah kata
54.4K
Popular
449
Subscribe
152
Novel / Supeno, kembang desa tampan
Supeno, kembang desa tampan

Supeno, kembang desa tampan

iyani| Bersambung
Jumlah Kata
54.4K
Popular
449
Subscribe
152
Sinopsis
18+FantasiIsekaiDunia GaibMisteriSpiritual
Supeno tampan sejak dini. Usia remaja banyak digandrungi para cewe. Supeno tau pesonanya tapi tak memanfaatkan untuk hal buruk, sebelum akhirnya bertemu Melani yang membuat hatinya jatuh cinta. Cinta pandang pertama. Melani tak nampak tertarik. membuat Supeno makin penasaran. Dia sangat ingin mengenal lebih jauh, sampai akhirnya Supeno mengetahui suatu hal yang membuatnya kaget.
Bab 1 halo aku Supeno

Supeno Dwi Angkoro, tumbuh di desa pelosok Jawa Tengah. Aku tinggal bersama kakek dan nenek yang sudah sepuh tapi masih sehat. Setiap hari bekerja dikebun dekat rumahnya.

Supeno tak sekolah, aku hanya membantu kakek dan nenek setiap hari. Mengurus kebun dan ternak ayam dan kambing.

Katanya aku cerdas dan rajin. Tetapi aku merasa kesepian karena jarang bermain bersama teman sebaya. Jarak rumah tetangga berjauhan. Hanya sesekali ikut kakek ke pasar dan melihat banyak anak-anak disana tapi kakek melarangku membaur karena tak begitu mengenal.

Aku selalu menuruti kata kakek, aku sayang kakek dan nenek yang telah merawatku. Aku tak tau keberadaan ayah ibu. Kakek bilang mereka kekota untuk bekerja tapi sampai aku remaja belum pernah sekalipun bertemu ayah dan ibunya.

Supeno penasaran tapi kakek dan nenek tak pernah memberi tahu. Kakek dan nenek hanya diam atau mengalihkan pembicaraan jika aku menyinggung tentang siapa orang tuaku.

Tapi aku beberapa kali bermimpi hal yang sama, aku seperti jalan-jalan di kota yang asing, kota itu ramai penduduk. Bangunan tinggi-tinggi dari bebatuan. Kemudian bermain seperti diistana. Dengan pohon berdaun warna warni. Aku berlari-larian di taman itu bersama seorang perempuan yang aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Kemudian ada suara laki-laki memanggil namaku. Aku mau menoleh tapi terbangun, selalu seperti itu. Mimpi itu selesai kalo ada suara laki-laki yang memanggil.

***

Susanti adalah teman ku satu-satunya. Kita berteman sejak kecil. Aku bertemu saat tersesat dihutan.

Kami seumuran. Awalnya Susanti muncul sesekali, kadang hanya mengintip atau mengikutiku dari kejauhan. Lama-lama akrab dan bermain bersama.

Supeno tak pernah menceritakan tentang Susanti kesiapapun. Keberadaannya sudah cukup menemani. Aku khawatir kalau kakek tahu, kakek akan melarang ku berteman.

Supeno ingin tinggal dipadat penduduk dan hidup membaur agar ramai dan tak sepi, saling membantu dan bahagia. Tapi kata kakek hidup bersosial penuh konflik. Tidak mudah.

Tapi aku ingin saat dewasa nanti meninggalkan desa sepi itu ke kampung atau kota yang ramai penduduknya. Sepertinya akan menyenangkan.

Aku membayangkan itu dari cerita Susanti. Susanti sering pergi ke desa-desa dan menceritakan pengalamannya pada ku. Cerita Susanti saat dipasar, menonton acara di balai desa, menghadiri rumah hajatan, mengikuti acara tradisi budaya setempat dll.

Sejak saat itu aku sering kabur, curi-curi waktu dan pergi bersama Susanti kepasar. Aku sangat senang warga berkerumun dan menyapaku, sepertinya mereka tahu aku cucu kakek.

Awalnya aku bingung kenapa orang-orang terpana melihat ku, kata Susanti aku tampan. Mereka terpukau dengan ketampananku. Aku menyadari pesonaku. Aku memang tampan. Aku ingin menikahi gadis tercantik di desa agar bisa keluar dari rumah kakek dan nenek sehingga aku bebas tak terkucil di pelosok.

Supeno ini sangat tampan, paling tampan di kampungnya. Tubuhnya tinggi kekar berkulit sawo matang, rambut panjang sebahu. Tapi kakek dan nenek tak begitu suka hal yang mengundang perhatian banyak orang. Makanya sering melarang Supeno main keluar. Setiap hari menyuruhnya berkebun, mencari kayu atau dedaunan untuk pakan kambing.

Hanya sesekali ke pasar ikut mengangkut kayu atau buah hasil kebun untuk dijual seperti kelapa, durian, pisang,mangga dll.

Nenek mengurus ayam dan sayuran dipekarangan. Untuk kita makan sehari-hari. Tapi aku tak boleh ambil telur ayam tanpa seijin nenek, atau nenek akan marah.

Rumah kakek dan nenek rumah panggung dari kayu, tak begitu tinggi sekitar setengah meter saja, ada dua kamar untuk Supeno dan kamar kakek nenek. Mereka masak dengan kayu bakar, penerangan dengan obor belum masang listrik. Walaupun didesa banyak yang sudah pakai listrik. Kamar mandi terpisah dari rumah. Dekat kandang kambing dibelakang. Tapi Supeno lebih sering mandi di sungai tak jauh dari rumah, airnya sangat sejuk dan jernih, air pegunungan murni dari mata air.

Ada pohon beringin besar dekat sungai itu, ada sumber air dibawahnya, kakek buat sumur kecil agar air tertampung dan mengambilnya untuk kebutuhan masak sehari-hari.

Tapi kakek melarangku ke pohon beringin itu. Kata kakek angker. Tapi memang sangat gelap, rimbun dan besar seperti raksasa.

Setiap hari sepi, apalagi malam hari hanya suara jangkrik atau kodok. Untuk turun kedesa sekitar dua puluh menitan jalan kaki, kepasar lebih jauh lagi. Rumah kakek dan nenek ini berada di pegunungan yang tenang, sejuk, masih hijau banyak pohon tinggi-tinggi. Pemandangan sangat indah. Saat malam hanya diterangi cahaya bulan tapi bisa terlihat cahaya pedesaan dibawah sana, kelap kelip lampu terlihat kecil seperti kunang-kunang.

Waktu kecil aku nyaman, ku kira semua orang hidup seperti itu. Tapi sejak sering main kedesa sama Susanti aku tahu kehidupan lain yg berbeda. Ternyata anak seusiaku sekolah, belajar dan bermain bersama.

Tapi aku tak marah pada kakek, aku bersyukur sudah dirawatnya sejauh ini, tak berniat menuntut apapun sama kakek nenek. Tak ingin merepotkan mereka yang semakin menua.

***

Diam-diam aku sering datang ke sebuah sanggar tari. Disana para gadis belajar tari, sinden dan berbagai alat gamelan. Akuingin juga belajar tari dan gamelan tapi pasti kakek tak mengijinkannya.

Aku belajar diam-diam.

Suatu hari ada pementasan tari budaya di desa sebelah. Aku datang menonton tak disangka aku bertemu seorang gadis yang membuatku jatuh cinta. Melani namanya. Anak dukun paling terkenal dikampungnya.

Melani memang sangat cantik dan pandai menari. Tubuhnya langsing, kulit putih, rambut panjang sepinggang lurus hitam kelam. Sangat cantik meski tanpa riasan.

Aku yang beranjak dewasa mulai jatuh cinta. Aku mencari tahu tentang, Melani walau hanya berani melihat dari kejauhan, belum pernah bertegur sapa. Melani pun belum mengenalku. Aku sedang mengumpulkan keberanian untuk menyapa suatu saat, berharap ada kesempatan untuk berkenalan.

Ternyata banyak laki-laki tertarik dengan Melani, segala usia tua maupun muda. Dia punya banyak penggemar. Tapi mereka segan karena keluarga Melani cukup terpandang, apalagi ayahnya dukun yang dihormati. Tak akan mudah bagiku Didesa itu dukun masih sangat dihormati. Apalagi kalau bisa menyembuhkan sakit orang-orang. Pasiennya bisa datang dari berbagai kota, orang-orang kaya bermobil yang kalau sembuh atau keinginan terkabul bisa membayar dengan mahal jasa ayah Melani ini. Dan akan datang lagi nantinya.

Selain dukun ayah Melani juga pedagang beras yang cukup kaya. Membeli dari para petani dan menjualnya kekota. Melani anak satu-satunya dikeluarga itu. Hidupnya mewah dibandingkan anak-anak sekitar yang ekonomi warga bergantung dari hasil kebun.

Melani kalau pergi ditemani pelayannya kadang satu orang kadang dua orang. Makin tak berani aku menyapanya. Dia beneran seperti putri kerajaan. Sedangkan aku anak lugu dari pelosok pegunungan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca