

Aspal jalanan Jakarta yang panas seolah menyerap seluruh semangat yang tersisa di tubuh Satria Bima. Hari ini sudah yang ke-sekian kalinya pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu pulang dengan tangan hampa. Wajahnya yang biasanya ceria kini tertutup kabut keputusasaan. Ransel berisi berkas-berkas lamaran kerja yang dulu selalu dia bawa dengan penuh harap, kini terasa begitu berat dan menyakitkan.
Lulusan Sarjana Ekonomi Bisnis dari salah satu universitas ternama di Jawa Tengah ini mengira gelar yang dia pegang akan menjadi kunci emas membuka pintu rezeki. Namun, realita ibu kota jauh lebih kejam.
Selama enam bulan terakhir, puluhan surat lamaran telah dia kirimkan, ratusan email telah dia unggah, dan belasan kali dia datang untuk wawancara. Namun, jawabannya selalu sama yaitu "Maaf, kami butuh yang berpengalaman," atau "Mohon tunggu kabar selanjutnya," yang tak pernah datang.
Satria berhenti di sebuah warteg sederhana di pinggir jalan kawasan Slipi. Perutnya keroncongan, tapi dompetnya menuntut dia untuk hemat. Dia memesan sepiring nasi rames dengan lauk seadanya.
Di meja kayu yang agak lengket itu, tergeletak sebuah koran bekas yang ditinggalkan oleh pengunjung sebelumnya. Karena bosan dan ingin mengalihkan pikiran dari beban hidup, Satria mengambil koran itu dan mulai membolak-balik halamannya dengan malas.
Matanya yang tadinya sayu tiba-tiba membelalak. Bukan di halaman lowongan kerja untuk staf kantor atau manajemen, melainkan di sudut halaman belakang, sebuah iklan kecil menarik perhatiannya.
DIBUTUHKAN SEGERA
PEKERJA SERABUTAN / ASISTEN RUMAH TANGGA
Syarat:
- Pria, usia maksimal 30 tahun
- Sehat jasmani dan rohani
- Mampu membaca, menulis, dan berhitung dengan baik
- Bisa mengendarai kendaraan bermotor (Motor) dan Mobil
- Jujur, rajin, dan bertanggung jawab
Kirim lamaran atau hubungi:
0812-xxxx-xxxx
Karmila Wijayanti
Satria mengerjapkan matanya berkali-kali. Itu saja? Tidak ada syarat minimal D3, tidak ada syarat pengalaman, tidak ada tes psikologi yang rumit. Hanya bisa baca tulis, berhitung, dan bisa menyetir.
"Ya ampun ... ini jawaban doaku kali, ya? Wah, moga-moga belum ada yang isi lowongan ini deh!" gumamnya pelan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena antusiasme yang tak terduga, Satria merogoh saku celananya mengambil ponselnya. Dia mengecek kelengkapan dirinya. SIM C? Ada. SIM A? Oh, beruntung sekali! Saat kuliah dulu ayahnya memaksakan dia mengambil SIM A dengan alasan siapa tahu nanti berguna. Saat itu Satria merasa tak perlu, tapi sekarang dia bersyukur setengah mati.
Tanpa menunggu makan siangnya habis, Satria langsung menekan nomor yang tertera. Panggilan tersambung dengan cepat.
"Halo, selamat siang. Ini dengan Ibu Karmila Wijayanti? Saya lihat iklan lowongan di koran, saya berminat sekali, Bu!" suara Satria terdengar bergetar, mencoba terdengar profesional meski jantungnya berdebar kencang.
Di seberang sana, suara wanita terdengar jelas dan lembut. "Iya betul. Kalau memang sanggup kerja keras dan punya SIM A dan C, kamu bisa langsung datang sekarang juga ke alamat yang kukirim, Mas."
Wanita itu menyebutkan sebuah alamat di kawasan elit Jakarta Selatan. Hati Satria mencelos sedikit mendengar lokasinya, tapi rasa putus asa lebih besar daripada rasa takutnya.
"Siap Bu! Saya segera berangkat!" tukas Satria.
Setengah jam kemudian, Satria berdiri mematung di depan sebuah gerbang besi hitam yang tingginya mencapai dua meter. Pagar itu mengelilingi sebuah rumah bergaya modern minimalis yang sangat luas dan megah. Taman yang terawat rapi dan lampu-lampu taman yang estetik memperlihatkan betapa tingginya status sosial pemilik rumah ini.
Dengan langkah ragu dan baju kemeja yang sudah agak kusut karena seharian berjalan, Satria menekan bel. Tidak lama kemudian gerbang terbuka otomatis. Dia masuk dan dipersilakan duduk di ruang tamu yang luasnya seluas rumah orang biasa.
"Kamu Satria ya?" sapa wanita muda itu.
Suara itu membuat Satria tersentak dan langsung berdiri tegak. Di hadapannya berdiri seorang perempuan seumuran dengannya mungkin, atau baru beberapa tahun lebih tua.
Wanita itu mengenakan setelan olahraga ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh yang sangat atletis dan seksi. Rambutnya diikat rapi ekor kuda, badannya tinggi semampai, wajahnya cantik alami tanpa riasan berlebih, dengan tatapan mata yang tajam nan anggun. Itu adalah Karmila Wijayanti.
Satria sampai lupa cara bernapas. Mulutnya sedikit terbuka, dia terpaku menatap bos barunya itu. Cantiknya bukan main, batinnya berteriak. Dia membayangkan majikannya adalah seorang ibu-ibu paruh baya, ternyata gadis muda yang mempesona.
"Duduklah," kata Karmila lembut, lalu duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua.
Saat Satria duduk, matanya secara otomatis melirik ke arah belakang tempat duduk Karmila. Ada sebuah etalase kaca yang sangat lebar dan panjang. Isinya? Bukan piala biasa. Deretan medali berkilauan, ada emas, perak, hingga perunggu. Selain itu berjajar piala-piala besar dengan pita warna-warni tertata rapi.
Kejuaraan Tenis Nasional Juara 1 Tunggal Putri.
Satria menggeleng tak percaya. Wanita ini bukan hanya cantik dan kaya, tapi juga seorang atlet tenis berprestasi! Rasa kagum bercampur gugup makin melanda dirinya.
"Siapa tadi namamu? Dan dari mana asal kamu?" tanya Karmila memecah keheningan, matanya meneliti pemuda di hadapannya yang terlihat sopan dan bersih.
"S-Satria, Bu. Satria Bima," jawabnya terbata-bata. "Saya berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah, Bu. Baru pindah ke Jakarta sekitar setahun lalu."
"Oh, orang Banyumas ya. Bagus, orang sana terkenal rajin dan jujur," komentar Karmila santai. "Tapi lihat dari cara kamu bicara dan duduk, kamu bukan orang sembarangan. Kamu lulusan apa sebenarnya?"
Pertanyaan itu membuat wajah Satria memerah padam. Dia menunduk malu, memainkan ujung celana kainnya.
"Sebenarnya ... saya lulusan S1 Ekonomi Bisnis, Bu," jawabnya pelan, nyaris tak terdengar. "Tapi saya akui, di Jakarta ini susah sekali cari kerja kalau tidak punya 'orang dalam' atau koneksi. Surat lamaran saya ditolak terus. Saya butuh pekerjaan apa saja asal halal, Bu. Saya tidak mau terus membebani orang tua."
Suasana hening sejenak. Karmila menatap pemuda itu dengan pandangan yang sulit diterka. Dia bisa melihat ketulusan dan juga kekecewaan di mata hitam itu.
Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang membuat wajahnya makin bersinar.
"Nah, justru karena kamu sarjana, saya malah senang. Berarti kamu pasti pintar berhitung dan mengurus barang-barang, lebih pintar dari yang saya harapkan," kata Karmila menenangkan. "Jangan berkecil hati, Satria. Gelar itu simpan saja dulu. Di sini, yang saya butuh adalah kerja keras dan kejujuran."
Karmila menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu menyebutkan angka yang membuat jantung Satria hampir copot.
"Gajinya delapan juta rupiah sebulan. Belum termasuk makan dan tempat tinggal kalau kamu butuh. Itu sudah di atas UMR Jakarta, bahkan lebih tinggi dari gaji staff entry level di beberapa kantor."
"Hahh ... delapan juta?!" Satria menelan ludah susah payah. Matanya membelalak tak percaya. Angka itu jauh di luar ekspektasinya yang paling tinggi sekalipun.
"Iya," Karmila mengangguk mantap. "Syaratnya cuma satu, kamu kerja yang rajin, teliti, dan yang paling penting ... jujur. Bisa kamu pegang janji itu?"
Satria langsung mengangguk cepat, semangatnya yang mati suri kini kembali berkobar lebih hebat dari sebelumnya.
"Bisa, Bu! Pasti bisa! Satria janji akan kerja sekuat tenaga! Terima kasih, Bu Karmila! Terima kasih banyak!" serunya dengan penuh semangat.
Di ruang tamu mewah itu, di bawah tatapan wanita cantik juara tenis nasional itu, nasib Satria Bima seolah berbalik arah seratus delapan puluh derajat. Perjuangannya mencari nafkah baru saja dimulai, dan dia tidak tahu bahwa pekerjaan 'serabutan' ini akan membawanya masuk ke dalam kehidupan yang jauh lebih berwarna daripada sekadar duduk di balik meja kantor.