

Hujan sore itu turun seolah-olah langit Jakarta sedang menumpahkan seluruh kemarahannya. Di trotoar jalanan yang becek menuju gerbang kampus, Aris berlari terseok-seok. Cowok itu memakai jaket parasut yang sudah mulai luntur warnanya, melindungi tas ransel berisi buku-buku perpustakaan agar tidak basah.
Aris bukan siapa-siapa. Di kampus ini, dia cuma dianggap sebagai pelengkap absen. Badannya kurus, bahunya bungkuk karena terlalu sering menunduk, dan wajahnya tertutup kacamata dengan lensa tebal yang sering melorot karena keringat. Dia berasal dari keluarga biasa di kampung, kuliah di Jakarta dengan beasiswa yang pas-pasan. Karena itu juga, dia sering jadi sasaran empuk buat orang-orang yang merasa punya kasta lebih tinggi.
"Woi, Aris! Berhenti dulu dong, jangan buru-buru!"
Suara itu bikin jantung Aris mencelat. Itu suara Galang. Pemimpin geng motor Black Cobra yang paling ditakuti. Bukan karena mereka hebat, tapi karena Galang adalah anak dari salah satu donatur besar di kampus ini. Dia punya uang, punya koneksi, dan punya sifat bajingan yang mendarah daging.
Aris mencoba mempercepat langkahnya, tapi nasib sial memang sudah menunggu di depan mata. Tiga motor sport dengan suara knalpot yang memekakkan telinga langsung memotong jalannya, membentuk layaknya pagar besi yang mengurung Aris di tengah guyuran hujan.
"Mau ke mana, Cupu? Buru-buru banget, mau nemuin selingkuhan?" Galang turun dari motornya, membuka helm full-face hitamnya dengan gaya angkuh. Rambutnya yang dicat pirang sebagian nampak basah, tapi senyum meremehkannya tetap terlihat jelas.
"Galang, aku... aku mau pulang. Besok ada tugas yang harus dikumpul," jawab Aris pelan, suaranya gemetar karena dingin dan rasa takut.
"Oh, tugas ya? Tugas dari siapa? Dari Sarah, asisten dosen yang cantik itu?" Galang tertawa, diikuti teman-temannya yang lain. "Eh, lo denger ya. Lo itu sampah. Nggak pantes nyebut nama Sarah, apalagi mimpi bisa dapetin Citra."
Saat Galang menyembut nama Citra, hati Aris makin terasa perih. Baru tadi siang dia ditolak habis-habisan di depan kantin. Citra, cewek populer yang jadi primadona fakultas ekonomi, cuma menatapnya jijik saat Aris mencoba memberikan cokelat sebagai tanda syukur karena sudah dibantu meminjam buku.
"Aris, denger ya. Gue emang baik ke semua orang, tapi bukan berarti gue mau sama cowok modelan kayak lo. Dekil, miskin, dan nggak punya masa depan. Cokelat ini... cocoknya di tempat sampah," begitu kata Citra tadi siang sambil membuang cokelat itu ke bak sampah di depan mata Aris.
"Sini tas lo!" Galang menarik paksa ransel Aris.
"Jangan, Lang! Itu buku perpustakaan, nanti rusak kalau basah!" Aris mencoba mempertahankan tasnya, tapi satu pukulan mentah dari Galang mendarat di perutnya.
BUGH!
Aris tersungkur. Rasa mual langsung menyerang perutnya. Dia terbatuk-batuk di atas aspal yang tergenang air keruh. Ranselnya kini sudah pindah ke tangan Galang. Tanpa ampun, Galang membuka resletingnya dan menumpahkan semua isinya ke genangan air lumpur di pinggir jalan.
"Oopss, tumpah. Sori ya, gue nggak sengaja," ucap Galang tanpa rasa bersalah sama sekali. Dia kemudian menginjak kacamata Aris yang terjatuh sampai retak. "Inget posisi lo, Aris. Lo itu cuma keset kaki di sini. Yuk guys, cabut! Bau sampah di sini!"
Geng Black Cobra melesat pergi, meninggalkan Aris yang masih meringkuk kesakitan di tengah hujan. Dia merangkak, mencoba mengumpulkan buku-bukunya yang sudah basah kuyup dan kotor terkena lumpur. Air matanya menetes, bercampur dengan air hujan yang membasahi pipinya.
"Kenapa... kenapa dunia jahat banget sama gue?" bisiknya lirih.
Belum sempat dia berdiri tegak, dari arah gang sempit di dekat kampus, terdengar suara gonggongan yang mengerikan. Seekor anjing liar berukuran besar dengan bulu hitam legam dan mata yang nampak merah seperti sedang kesurupan berlari kencang ke arahnya. Anjing itu nampak sangat kelaparan dan beringas.
Aris panik. Dalam kondisi kacamata retak dan badan lemas, dia dipaksa lari lagi. Dia masuk ke area belakang kampus yang berbatasan dengan hutan kota—sebuah area yang jarang dilewati mahasiswa karena medannya yang curam dan banyak cerita mistisnya.
Dia terus berlari, mengabaikan duri-duri semak yang mengoyak jaket dan kulitnya. Anjing itu makin dekat, suara geramannya terdengar tepat di belakang telinganya.
"Tolong! Siapa aja tolong!" teriak Aris, tapi suaranya hilang ditelan suara petir.
Sampai di satu titik, kaki Aris menginjak tanah yang rapuh karena erosi hujan. Tanah itu amblas. Aris kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terjun bebas ke bawah.
Gubrak! Bakk! Bukkk!
Tubuh Aris berguling-guling menabrak dahan pohon dan batu. Dia jatuh cukup dalam ke sebuah lembah tersembunyi yang tertutup kabut tebal meskipun hujan deras. Aris mendarat dengan keras di atas hamparan lumut basah. Kepalanya terasa berputar. Tulang-tulangnya terasa patah, dan napasnya sesak.
Dia tergeletak diam, memandangi langit yang mulai gelap. Dia pikir, mungkin inilah akhirnya. Mati di lembah sepi, sendirian, tanpa ada yang peduli.
Namun, saat matanya hampir terpejam, sebuah kilatan cahaya berwarna hitam pekat tapi nampak berkilau menarik perhatiannya. Cahaya itu berasal dari sebuah sela-sela akar pohon tua yang sangat besar, tepat di depan wajahnya.
Aris mengulurkan tangannya yang gemetar karena luka. Di sana, setengah tertimbun tanah, ada sebuah gelang. Bentuknya sederhana, terbuat dari semacam logam hitam yang tidak memantulkan cahaya lampu, tapi nampak sangat elegan. Ada ukiran-ukiran halus yang kalau diperhatikan baik-baik nampak seperti aliran urat nadi yang hidup.
Entah kenapa, ada dorongan kuat di dalam batin Aris untuk menyentuh benda itu. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan dingin gelang tersebut, rasa sakit di tubuhnya mendadak hilang dalam sekejap.
Seperti terhipnotis, Aris mengambil gelang itu dan memasukkannya ke pergelangan tangan kirinya.
KLIK.
Gelang itu langsung mengerut, ukurannya menyesuaikan secara otomatis sampai pas melingkar di tangannya. Seketika itu juga, Aris merasa sebuah sengatan listrik yang sangat dahsyat menghantam jantungnya.
"AAAAAKKKHHHH!"
Aris memegangi dadanya. Tubuhnya melengkung, matanya melotot, dan pembuluh darah di sekujur tubuhnya menonjol berwarna biru gelap. Dia merasa seperti ada ribuan jarum panas yang masuk ke pori-porinya. Energi yang sangat besar tiba-tiba meledak di dalam dirinya.
Hujan yang tadinya membasahi tubuhnya seolah-olah menguap sebelum menyentuh kulit Aris. Suhu tubuhnya naik drastis. Dia merasa otaknya dipaksa melihat gambaran-gambaran masa lalu yang sangat kuno—peperangan, dewa-dewa, dan wanita-wanita cantik yang berlutut di bawah kaki seorang pria.
Luka-luka di lututnya menutup sendiri. Otot-otot lengannya yang tadi kurus kini mulai mengencang secara alami. Pandangannya yang tadinya buram menjadi sangat tajam, bahkan dia bisa melihat serangga kecil yang hinggap di daun dalam kegelapan malam.
Setelah beberapa saat, rasa sakit itu mereda, digantikan oleh rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Aris berdiri perlahan. Dia merasa ringan, tapi juga sangat kuat.
Dia menatap gelang di tangannya. Benda itu kini nampak lebih gelap, dan seolah-olah sudah menyatu dengan tulang dan dagingnya.
Aris memperhatikan setiap detail gelang itu. Terdapat ukiran kecil bertulisan: Atma Hitam.
Tiba-tiba, suasana lembah yang tadinya sepi menjadi sangat mencekam. Kabut di sekeliling Aris berputar membentuk pusaran, dan sebuah suara berat, dalam, dan terdengar sangat berwibawa bergema langsung di dalam tengkorak kepalanya. Suara itu bukan seperti suara manusia, tapi sesuatu yang jauh lebih besar dan bergema.
"Kau telah memilih jalan ini, Anak Manusia..."
Aris terdiam membeku. Bulu kuduknya meremang.
"Atma Hitam telah bangkit. Namun, ingatlah... kekuatan ini butuh bayaran. Mulai saat ini, kau butuh energi murni untuk tetap hidup."
"Energi... energi apa?" tanya Aris dengan suara yang sudah berubah menjadi lebih berat dan tenang.
Suara itu tertawa kecil.
"Energi dari jiwa-jiwa yang cantik. Energi dari wanita-wanita yang kau taklukkan. Jika kau berhenti, Atma Hitam ini akan memakan jiwamu sendiri sebagai gantinya."
Aris menelan ludah. Dia belum sepenuhnya paham apa yang terjadi, tapi satu hal yang pasti: hidupnya yang menyedihkan sebagai mahasiswa culun telah berakhir di lembah ini. Saat ini, dia bukan lagi mangsa. Dia adalah pemangsa.
Suara itu kembali bergema sebelum akhirnya hilang bersama angin, "Bersiaplah, Aris. Energi pertamamu sudah sangat dekat. Kau butuh energi murni untuk tetap hidup, atau mati bersama warisan dewa ini."