
- Jumlah kata
- 133.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 22
Sinopsis
Darma seorang Pengendali Aether, Namun kekuatanya di segel oleh ibunya sendiri-sang Legenda penguasa Aether. Darma harus berjuang menerima Ejekan dari teman di Akademi dan perlahan ia belajar mengendalikan Aether untuk menjadi penguasa di Negri Nusantara. Namun mencapai mimpi itu tidak semudah harapan. Ia harus melewati berbagai macam rintangan untuk menjadi penguasa Aether, Pengendali Elemen mutlak.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Anak Tanpa Elemen
Langit belum sepenuhnya lahir saat Darma membuka mata.
Bukan karena suara, karena asrama akademi di kaki Gunung Tartum ini sunyi seperti kuburan di jam segini. Bukan karena mimpi buruk juga, karena sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kekosongan.
Darma bangun karena sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, seperti ada denyut samar di belakang kepalanya, sebuah panggilan tanpa suara.
Ia duduk di ranjang kayu yang terasa semakin sempit setiap tahun. Usia tujuh belas tahun, tubuhnya kurus tapi tidak lemah. Rambut hitamnya berantakan, tak sempat disisir karena cermin kamar asramanya pecah sejak tiga bulan lalu dipecahkan oleh kakak kelas yang kesal karena Darma "menghalangi jalan" meski ia sudah minggir.
Darma mengucek mata. Kamar ini miliknya sendiri. Bukan hak istimewa, melainkan hukuman tersembunyi. Karena siapa yang mau sekamar dengan anak tak berbakat? Selama tujuh tahun di akademi ini, tak satu pun teman yang bertahan lebih dari satu semester bersamanya.
Terakhir, seorang anak dari faksi Aquarion pindah kamar setelah seminggu, mengeluh "udaranya bau gagal."
Ia berdiri, kaki telanjang menyentuh lantai batu yang dingin. Seragam akademi tergantung di paku dinding. Jubah hitam panjang dengan bordir perak bergambar Gunung Tartum, dilapisi rompi kulit tipis.
Darma mengenakannya perlahan, jemarinya terbiasa dengan kancing yang sudah mulai longgar. Di dadanya tak ada lencana elemen. tanda paling memalukan yang bisa dimiliki seorang siswa.
Siswa lain menyematkan lencana api, air, tanah, atau angin sesuai bakat mereka.
Darma hanya memiliki kain hitam polos.
Saat ia meraih ikat pinggangnya, pandangannya sempat tertumbuk pada dinding di belakang ranjang.
Ada ukiran kecil di sana, tak lebih besar dari telapak tangan anak kecil, tersembunyi di balik bayangan lemari kayu. Simbol aneh berbentuk pusaran dengan lima cabang.
Darma sudah ribuan kali melihatnya tanpa benar-benar melihat. Tapi pagi ini, untuk sekian detik, ia merasa ukiran itu bersinar.
Samar. Hampir tak kasat mata. Seperti cahaya bulan yang tersaring kabut.
Darma mengedip. Cahaya itu hilang.
"Mulai sering berkhayal," gumamnya serak. Suara satu-satunya yang memecah keheningan kamar.
Lorong akademi di pagi hari dingin menusuk tulang. Gunung Tartum memang terkenal dengan embunnya yang tebal, bahkan saat musim kemarau sekalipun. Darma melangkah cepat menuju aula makan, menghindari kelompok-kelompok kecil yang mulai berhamburan dari asrama lain.
Mereka selalu melenggang berkelompok. Tiga atau empat orang, terkadang lebih, dengan lencana elemen yang sama biasanya. Faksi Ignisia (Api) berjalan dengan dada sedikit membusung, seragam mereka dihiasi aksen merah marun.
Faksi Gultra (Tanah) terlihat lebih kasar, jubah mereka pendek dan sepatu tebal berlumpur.
Aquarion (Air) anggun dengan rambut panjang yang bahkan anak laki-laki pun tak malu menjaganya rapi nan indah.
Dan Tiro (Angin) yang paling sulit ditebak, berjalan ringan seperti tak pernah menyentuh lantai.
Darma tidak masuk ke kelompok mana pun.
Ia bukan anggota faksi mana pun.
Di Nusvanta, dunia yang terbagi menjadi empat kekuatan besar, menjadi tidak berafiliasi berarti menjadi tidak ada.
Faksi Gultra menguasai dataran timur dengan kota-kota benteng mereka yang kokoh. Aquarion berkuasa atas selat dan delta di selatan, kaya akan jalur perdagangan. Ignisia mendominasi pegunungan barat dengan mesin-mesin perang bertenaga lava. Dan Tiro menguasai langit utara dengan armada balon dan layar raksasa mereka.
Mereka saling bersinggungan. Damai hari ini, perang besok. Semua berlomba menjadi yang terkuat.
Dan di tengah semua itu, berdiri Akademi Gunung Tartum. Netral. Tak memihak faksi mana pun. Namun ditakuti oleh semua.
Karena di akademi inilah, dua puluh tahun lalu, seorang wanita menguasai lima elemen sekaligus.
Maheswari. Iblis Aether. Penguasa yang hampir menghancurkan keseimbangan dunia.
Darma tidak pernah tahu bahwa wanita itu adalah ibunya. Baginya, nama itu hanyalah hantu dalam catatan sejarah yang membuat gurunya gemetar saat mengajarkannya.
Kelas praktik elemen tanah berlangsung di halaman belakang akademi, sebuah lapangan bebatuan yang disebut "Arena Grit".
Darma berdiri di barisan paling belakang, posisi yang sudah menjadi haknya semenjak tahun pertama.
Guru Kencana, pria tua berotot dengan lengan penuh bekas luka bakar (hadiah dari perang antar faksi dua dekade lalu), berdiri di depan dengan kedua tangan bersilang. Lencana Gultra di dadanya bersinar coklat gelap.
"Hari ini kalian akan mengangkat batu seberat sepuluh gantang," suaranya bergema tanpa perlu berteriak. "Bukan dengan otot. Dengan tanah itu sendiri. Rasakan nadi bumi di telapak kaki kalian, lalu tarik."
Para siswa di depan Darma mulai membungkuk, tangan menyentuh tanah. Satu per satu, batu-batu besar bergerak. Ada yang terangkat dengan anggun, ada yang bergeser dengan bunyi gemeretak yang mengerikan.
Beberapa siswa dari Gultra langsung berhasil, itu wajar. Tapi seorang anak Ignisia juga berhasil, menunjukkan bahwa bakat bisa lintas faksi meski biasanya tak serumit itu.
Darma adalah siswa terakhir. Selalu terakhir.
Ia berlutut. Telapak tangan menyentuh kerikil tajam. Menutup mata. Mencoba merasakan seperti yang diajarkan guru-gurunya ribuan kali.
Nadi bumi. Detak dunia. Arus elemen.
Tidak ada.
Seperti biasa, tidak ada apa-apa. Hanya dinginnya batu, hanya sakit di lututnya, hanya suara angin yang mengejek.
"Darma." Suara Guru Kencana datar.
"Tunjukkan."
Darma membuka mata. Batu di depannya, batu kecil sebesar kepalan tangan anak umur lima tahun—tak bergeming.
Ia mendorong. Ia memohon dalam hati. Ia membayangkan tangannya penuh cahaya seperti yang dilakukan siswa lain.
Batu itu diam. Acuh tak acuh.
Tawa pecah di belakangnya. Bukan tawa ramah.
"Pantesan gak punya faksi," bisik seseorang cukup keras untuk didengar semua orang.
"Elemen aja gak punya."
"Yatim piatu miskin," tambah yang lain.
"Orang tuanya mungkin malu, makanya cabut."
Darma menggigit bibir bagian dalam. Rasanya seperti biasa—asin darah yang sudah tak asing lagi.
Guru Kencana menghela napas. Bukan napas kecewa, melainkan napas lelah karena sudah terlalu sering melihat pemandangan ini.
"Kembali ke barisan, Darma. Nilai E. Lagi."
Lagi. Selalu lagi.
Darma berdiri. Debu menempel di jubah hitamnya, membuatnya tampak lebih kusam. Ia berjalan melewati teman-teman sekelasnya yang masih tertawa.
Matanya menatap lurus ke depan, tak mau memberikan kepuasan pada mereka untuk melihatnya menangis.
Ia sudah tak menangis lagi sejak umur dua belas tahun.
Istirahat siang.
Darma duduk sendirian di bawah pohon trembesi di ujung barat akademi, dekat tebing yang menghadap ke jurang. Tempat ini adalah satu-satunya sudut yang tak pernah dikunjungi siapa pun.
Bukan karena lokasinya buruk, pemandangannya justru indah. Lembah di bawah Gunung Tartum membentang hijau dengan sungai berkelok seperti ular perak.
Di kejauhan, empat menara faksi terlihat samar, menara hitam Gultra, menara biru Aquarion, menara merah Ignisia, dan menara putih Tiro.
Empat penguasa Nusvanta. Empat elemen. Saling mengawasi seperti laba-laba di jaring masing-masing.
Dan di gunung ini, akademi mereka—lembaga netral yang konon didirikan oleh Aliansi Kuno setelah Perang Aether—berdiri sebagai pengingat bahwa pernah ada yang lebih kuat dari mereka semua.
Darma menggigit roti isinya yang sudah mulai basi. Bekalnya hanya itu, karena uang bulanannya selalu paling sedikit—beasiswa untuk yatim piatu tak berbakat memang tak sebesar bakat penuh.
"Darma."
Ia mendongak. Seorang pemuda dengan jubah bercorak api berdiri di depannya, dikawal dua orang lain dengan muka sama angkuhnya. Lencana Ignisia di dada mereka bersinar menyala-nyala, tanda kemampuan level tinggi.
Bram adalah senior tahun ketiga, pengendali api dengan reputasi brutal. Tubuhnya kekar, rambutnya dicukur pendek, dan matanya selalu menyipit seperti mencari mangsa.
Ia adalah keponakan salah satu komandan faksi Ignisia, sehingga merasa berhak memperlakukan siapa pun di akademi ini seperti sampah, terutama yang tak berbakat.
"Lagi makan sendirian seperti tikus?" Bram menyeringai. "Cocok."
Darma tak menjawab. Ia melanjutkan mengunyah, lambat, berharap mereka cepat bosan.
Tapi Bram bukan tipe yang cepat bosan.
"Kalian tahu," Bram berkata pada pengawalnya, "akademi ini katanya dulu punya legenda. Pengendali Aether. Bisa kuasai lima elemen. Tapi lihat sekarang, kita dapat sampah yang nggak bisa kuasai satu pun."
Darah Darma memanas. Tangannya mengepal di pangkuan, tapi ia tetap diam.
Bram mendekat. Ia menginjak roti yang jatuh dari tangan Darma—sengaja atau tidak, Darma tak yakin. Tapi yang pasti, suara remukan roti itu terdengar sangat keras di telinganya.
"Kurasa akademi ini sudah mulai menerima siapa saja," Bram melanjutkan. "Yatim piatu tak berguna. Mending kau jadi pelayan akademi aja, Darma. Cuci piring, pel lantai, bersihkan jamban. Itu kapasitasmu."
Tawa kedua pengawalnya terdengar seperti lolongan serigala.
Darma akhirnya mendongak. Matanya beradu dengan mata Bram. Untuk beberapa detik, sunyi. Darma ingin bicara. Ingin membantah. Tapi di tenggorokannya, sesuatu yang berat—bukan ketakutan, melainkan kesadaran.
Ia sadar bahwa ia tak punya kekuatan untuk melawan. Sadar bahwa ia akan kalah. Sadar bahwa ia hanya akan membuat keadaan lebih buruk jika membuka mulut.
Jadi ia hanya menatap.
Dan itu—tatapan tenang tanpa rasa takut—justru yang paling membuat Bram marah.
"Kurang ajar kau." Bram mengangkat tangan, telapaknya mulai mengeluarkan uap panas.
"Mau kugosok wajah polosmu sampai lupa wajah orang tua—"
"Bram."
Satu suara. Lembut. Tapi otoritasnya mutlak seperti batu jatuh ke kolam sunyi.
Bram membeku. Dari balik pohon, seorang wanita berdiri. Jubahnya putih keperakan, melambai lemah meski tak ada angin.
Rambut panjangnya hitam pekat dengan satu helai putih di sisi kiri—seperti bekas sambaran petir yang membeku. Matanya teduh tapi menusuk, seperti belati disimpan di balik sutra.
Laras. Kepala akademi bagian kurikulum. Pengendali angin terkuat di Nusvanta.
"Tidak ada praktik elemen di luar arena," suara Laras tak berubah. "Kembali ke asrama atau kukirim kau ke ruang disiplin."
Bram menggertakkan gigi, tapi mundur. Semua orang tahu—Laras tidak hanya kuat, tapi juga kejam terhadap pelanggar aturan. Bersama kakaknya, Kobar, mereka berdua bisa mengobrak-abrik empat faksi jika mereka mau.
Bram melempar Darma satu tatapan "belum selesai", lalu pergi dengan pengawalnya yang mendadak penurut.
Darma menghela napas lega. Ia menunduk. "Terima kasih, Bibi Laras."
Laras tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di samping Darma—sebuah keintiman yang tak pernah ditunjukkannya di depan umum. Jubah putihnya menyentuh tanah berlumut tanpa ragu.
"Darma," ucapnya pelan. Matanya menatap lembah di bawah, menghindari tatapan Darma. "Maafkan aku tak bisa lebih sering melindungimu."
Darma menggeleng pelan. Ia tak pernah menuntut perlindungan. Ia sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa Bibi Laras dan Paman Kobar terlalu sibuk menjaga reputasi netralitas akademi untuk secara terang-terangan membelanya.
"Kenapa aku tidak bisa mengendalikan elemen, Bibi?" Darma bertanya. Bukan untuk pertama kalinya. Tapi entah kenapa, pagi ini ia merasa perlu bertanya lagi.
Laras terdiam lama. Angin berembus, memainkan ujung jubahnya seperti mengajak berdansa.
"Belum waktunya kau tahu jawabannya," kata Laras akhirnya. "Tapi percayalah padaku. Dan pada pamanmu. Ada alasan mengapa kau seperti ini. Sebuah alasan yang suatu hari nanti akan kau pahami."
"Dan alasan itu menyakitkan?"
Laras menoleh. Untuk sedetik, Darma melihat sesuatu di matanya—bukan sekadar simpati, melainkan rasa bersalah. Lalu wanita itu tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata.
"Semua alasan yang penting selalu menyakitkan, Darma."
Di menara timur akademi, di ruangan yang hanya bisa dimasuki dua orang di seluruh dunia, Kobar berdiri di depan jendela kaca patri. Jubah hitamnya berhiaskan bordiran api merah-oranye yang tampak hidup, bergerak-gerak samar seperti benar-benar terbakar.
Tubuhnya tegap, wajahnya keras dengan jenggot tipis yang sudah mulai beruban. Ia adalah kakak Laras, dan pengendali api yang konon bisa melelehkan batu hanya dengan tatapan.
Dari jendelanya, ia bisa melihat seluruh lapangan akademi. Termasuk dua titik kecil di bawah pohon trembesi: adiknya dan keponakannya.
"Kau terlalu lunak padanya, Lar," gumam Kobar tanpa menoleh. Seolah ia tahu Laras akan mendengarnya meski dari jarak sejauh itu. Memang ia tahu—angin adalah mata dan telinga adiknya.
Di belakangnya, pintu terbuka. Laras masuk.
"Dia anak-nya, Kak," kata Laras datar. "Satu-satunya yang tersisa darinya."
Kobar membalikkan badan. Matanya menyala—bukan kiasan. Benar-benar menyala oranye.
"Karena itulah kita harus hati-hati. Segelnya mulai melemah. Aku bisa merasakannya tadi pagi. Getaran kecil di fondasi gunung."
Laras menghela napas. Ia berjalan ke sisi kakaknya, ikut menatap jendela ke arah pohon trembesi. Darma sudah tak terlihat. Mungkin sudah kembali ke asrama.
"Kita tidak bisa melindunginya selamanya," ucap Laras pelan.
"Kita tidak akan perlu melakukannya selamanya," jawab Kobar. "Cukup sampai dia cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri."
"Dan jika dia tidak pernah cukup kuat?"
Kobar diam. Api di matanya padam, berganti dengan sesuatu yang lebih berat—ketakutan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, bahkan adiknya sendiri.
"Maka biarlah dunia ini yang harus dilindungi darinya."
Laras menutup mata. Angin di ruangan itu berhenti sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Gunung Tartum terasa sunyi bukan karena damai, melainkan karena menahan napas.
Menunggu apa yang akan lahir dari anak laki-laki di bawah pohon trembesi itu.
Daftar bab
100 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
100 bab








