
- Jumlah kata
- 9.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 8
Sinopsis
Bagi dunia, dia adalah penguasa saham tertinggi. Bagi Jessi, dia hanyalah penjara. Meski Jessi terang-terangan mencintai pria lain dan menghina harga dirinya, Kevin memilih bertahan dalam kesabaran yang tak masuk akal. Di balik kemegahan mansiun yang dingin, Kevin membuktikan bahwa cara menaklukkan hati yang keras bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan ketulusan yang tak bertepi.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Mansion di kawasan elit Jakarta Selatan itu berdiri angkuh di bawah guyuran hujan sisa badai sore tadi. Lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit setinggi tujuh meter memantulkan cahaya keemasan yang megah, namun atmosfer di dalamnya terasa lebih dingin daripada suhu pendingin ruangan yang disetel pada 18 derajat Celsius. Bagi siapa pun yang melihat dari luar, mansiun ini adalah simbol keberhasilan mutlak. Bagi Kevin, ini adalah medan tempur yang sunyi.
Kevin baru saja melangkah masuk. Jas charcoal dari bahan wol Italia yang melekat di tubuh tegapnya tampak sedikit lembap di bagian bahu. Ia baru saja menutup kesepakatan akuisisi yang akan membuat namanya semakin kokoh sebagai pemegang saham terbesar di negeri ini. Namun, tak ada gairah kemenangan di wajahnya. Mata elangnya yang biasanya tajam saat menatap grafik bursa, kini melunak saat menatap tangga pualam.
Di ruang tengah, suara tawa yang manja memecah keheningan. Jessi duduk bersandar di sofa beludru, kakinya yang jenjang disilangkan dengan santai. Di tangannya, sebuah ponsel pintar menampilkan wajah seorang pria yang sedang tersenyum lebar kekasih yang hubungannya tidak pernah direstui oleh keluarga besar Jessi.
"Iya, Sayang. Aku juga kangen banget. Tenang saja, si 'patung' itu belum pulang. Kalaupun dia ada, dia nggak akan berani melarangku," ujar Jessi, sengaja mengeraskan suaranya saat menyadari kehadiran Kevin di ambang pintu.
Kevin berhenti melangkah. Ia mendengar setiap kata, setiap hinaan yang disematkan padanya. 'Patung'. Itulah julukan yang Jessi berikan karena kesabarannya yang tak bergeming. Kevin tidak membalas. Ia hanya memberikan tas kerjanya kepada kepala pelayan yang mendekat dengan kepala tertunduk, lalu berjalan perlahan menuju meja makan yang letaknya tak jauh dari ruang tengah.
"Kamu sudah makan, Jessi?" tanya Kevin lembut. Suaranya rendah dan berwibawa, namun mengandung ketulusan yang anehnya justru memicu kemarahan Jessi.
Jessi mematikan panggilan teleponnya dengan kasar. Ia berdiri, menatap Kevin dengan tatapan penuh kebencian.
"Nggak usah sok peduli, Kevin. Mau aku makan, mau aku mati kelaparan, itu bukan urusanmu. Kenapa kamu nggak langsung masuk ke ruang kerjamu saja seperti biasa? Atau lebih baik lagi, jangan pulang sekalian."
Kevin menarik napas panjang. Ia berjalan mendekati Jessi, menjaga jarak yang aman agar tidak membuat istrinya merasa terancam.
"Ada martabak manis kesukaanmu di meja depan. Aku mampir sebentar tadi. Pelayan akan menyiapkannya untukmu."
Prang!
Jessi menyambar sebuah vas bunga kecil dari nakas di dekatnya dan membantingnya tepat di depan kaki Kevin. Pecahan keramik putih itu berhamburan, beberapa fragmen kecil mengenai ujung sepatu kulit Kevin yang mengkilap. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan tersentak, namun tak ada yang berani bergerak.
"Aku nggak butuh martabak! Aku nggak butuh berlian yang kamu kasih minggu lalu! Aku cuma butuh kamu pergi dari hidupku!" teriak Jessi, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
"Kamu pikir dengan jadi orang terkaya di Indonesia, kamu bisa beli hatiku? Kamu cuma pria asing yang dipaksakan masuk ke kamarku oleh orang tuaku!"
Kevin diam. Ia menatap pecahan vas di lantai, lalu perlahan ia berlutut. Tanpa memanggil pelayan, tangannya yang terbiasa menandatangani cek bernilai miliaran rupiah itu mulai memunguti potongan keramik yang tajam satu per satu.
"Jangan lakukan itu, Tuan," bisik salah satu pelayan dengan cemas, hendak membantu.
"Tidak apa-apa. Biarkan saya saja," jawab Kevin tenang.
Jessi terpaku melihat pemandangan itu. Pria yang ditakuti oleh para CEO di luar sana, kini sedang berlutut di bawah kakinya, memunguti sampah yang ia buat. Rasa bersalah sempat terlintas sekejap di hati Jessi, namun ego dan rasa cintanya yang membara pada pria lain segera memadamkannya.
"Kamu menyedihkan, Kevin," desis Jessi. Ia berbalik dan berlari menaiki tangga menuju kamar utama mereka.
Kamar utama itu sangat luas, didominasi warna sampanye dan abu-abu gelap. Sebuah ranjang emperor-size berdiri di tengah, menjadi saksi bisu dari pernikahan yang hampa. Di atas kasur itu, sebuah pembatas telah dibuat secara permanen oleh Jessi: deretan bantal guling yang disusun memanjang tepat di tengah, membagi kasur menjadi dua wilayah yang tak boleh saling melanggar.
Kevin masuk ke kamar setelah membersihkan diri di kamar mandi tamu. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos rumahan yang santai, namun auranya tetap terasa kuat. Ia melihat Jessi sudah berbaring di sisi kiri, membelakanginya, masih dengan ponsel di tangan.
Jessi sedang mengetik pesan singkat, senyum kecil menghiasi bibirnya senyum yang tak pernah ia berikan pada Kevin.
Kevin menghela napas pelan, lalu naik ke sisi kanan kasur. Ia sangat berhati-hati agar tidak menggerakkan bantal pembatas itu. Saat ia hendak mematikan lampu nakas di sisinya, Jessi tiba-tiba berbalik.
"Kalau besok pagi aku pergi menemui dia, jangan coba-coba menyuruh sopir mengikutiku," ancam Jessi.
"Dan jangan berani-berani menyentuh bantal pembatas ini saat aku tidur. Kalau sampai aku bangun dan kamu melewati garis ini, aku akan tidur di hotel mulai besok."
Kevin memutar tubuhnya sedikit, menatap langit-langit kamar yang tinggi. "Aku tidak pernah berniat membatasi ruangmu, Jessi. Aku hanya ingin memastikan kamu aman. Di luar sana banyak media yang mengincarmu karena statusmu sebagai istriku. Aku hanya tidak ingin namamu tercoreng."
"Istri?" Jessi tertawa sinis.
"Aku hanya tawanan yang memakai cincin darimu. Jangan pernah merasa memiliki aku, Kevin."
"Aku tidak memilikimu, Jessi," gumam Kevin, suaranya hampir menyerupai bisikan sebelum ia memejamkan mata.
"Aku hanya sedang menjagamu sampai kamu menyadari bahwa rumah ini adalah tempatmu pulang."
Hening kembali menyelimuti ruangan. Jessi tetap terjaga, mendengarkan deru napas teratur Kevin yang ada di sampingnya namun terasa sejauh benua. Ia menatap punggung suaminya punggung yang tampak begitu kokoh namun entah kenapa terlihat sangat kesepian malam ini.
Jessi membenci kesabaran itu. Ia lebih suka jika Kevin membalas bentakannya, membentaknya balik, atau bahkan mengusirnya. Karena dengan begitu, ia punya alasan untuk benar-benar membenci pria ini.
Tapi kesabaran Kevin... ketenangan Kevin... itu adalah jenis siksaan yang berbeda bagi Jessi. Sebuah siksaan yang perlahan mulai mengusik nuraninya, meskipun ia berusaha keras untuk mengabaikannya demi cinta masa lalunya yang masih bertahta.
Di luar, hujan semakin deras, seolah ikut menangisi dinding transparan yang semakin tinggi di antara dua orang yang terikat dalam satu ranjang tersebut.
Daftar bab
9 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








