
Pewaris Terbuang Jadi Murid Guru Sakti
Jhonpethuk|Bersambung
- Jumlah kata
- 96.6K
- Popular
- 2.1K
- Subscribe
- 227
- Jumlah kata
- 96.6K
- Popular
- 2.1K
- Subscribe
- 227
Sinopsis
Tujuh tahun lalu, Bumi Pradana kehilangan kedua orang tua dan terpaksa hidup di bawah belas kasihan keluarga tirinya. Saat usianya genap tujuh belas tahun, warisan besar sang ayah membuat tiga saudara tirinya berubah menjadi monster. Mereka menghanyutkan Bumi ke sungai deras demi merebut seluruh hartanya. Untungnya mereka gagal—Bumi belum mati. Karena itu, saat dia kembali, giliran mereka yang akan kehilangan segalanya!
Ulasan
1 ulasan
dhidot
3/9/26 07:06
jhonsengklek, bc synopsisnya jadi keingetan si sengklek metropolitan 🤣🤣...btw cakep jhonlanjut kita gabung disini 😎👍👍
Bab 1. Rahasia Di Ujung Ajal.
Suara sirine ambulans dan deru hujan deras yang mengguyur ibu kota Jakarta malam itu seolah menjadi latar dari takdir kelam yang baru saja dimulai.
Di dalam ruang ICU yang dingin dan mencekam, aroma antiseptik beradu tajam dengan bau amis darah. Pak Kenandra terbaring lemah dengan berbagai selang menancap di tubuhnya.
Kecelakaan maut di jalan tol beberapa jam lalu telah merenggut nyawa Bu Zahira, istri rahasianya, atau istri mudanya yang dinikahi secara sah tanpa sepengetahuan istri pertamanya, yakni Bu Listiana seketika di lokasi kejadian. Kini, Pak Kenandra tengah terkoma, mungkin menunggu giliran nyawanya yang berada di ujung tanduk.
Beberapa jam setelah tragedi kecelakaan tersebut, polisi langsung menghubungi Bu Listiana, karena Pak Kenandra selain sudah banyak dikenal orang sebagai seorang Birokrat kaya raya di Indonesia, dia juga seorang Aristokrat terpandang.
Kini, di samping pembaringan Pak Kenandra, Bu Listiana berdiri dengan napas tertahan. Wajah wanita itu pucat, memendam amarah dan kepedihan yang berkecamuk begitu tahu suaminya itu kecelakaan bersama seorang wanita yang usianya jauh lebih muda darinya.
Di belakang Bu Listiana, ketiga anak kandungnya, buah perkawinannya dengan Pak Kenandra, yaitu Gavin (19 tahun), Davin (17 tahun), dan Valerie (14 tahun), menatap sang ayah dengan tatapan campur aduk.
"Perempuan yang sama Papa siapa Ma?" Tanya Gavin.
Bu Listiana terdiam tak menjawab, karena dia juga tidak tahu, siapa perempuan yang bersama suaminya itu, tapi wajahnya tampak menahan amarah.
Tak lama, seorang dokter laki-laki paruh baya masuk ke dalam ruang rawat Pak Kenandra.
"Maaf Nyonya Kenandra. Nampaknya, Tuan Kenandra mengalami benturan hebat di kepalanya. Untuk sementara, beliau akan mengalami koma." Terang si dokter.
"Sampai kapan dokter?" Tanya Bu Listiana mengerutkan dahi cemas.
"Tak tentu, Nyonya! Bisa seminggu, sebulan, atau tiga bulan. Nanti ketika Tuan Kenandra telah sadar, kami akan menghubungi Nyonya." Jawab si dokter, napasnya terhela berat, menunjukkan keprihatinan.
"Terima kasih dokter!" Ucap Bu Listiana sebelum si dokter pergi meninggalkan ruang rawat suaminya.
"Kita pulang, lusa kita kesini lagi, melihat perkembangan Papamu." Ajak Bu Listiana kepada Gavin, Davin dan Valerie.
Sepekan telah berlalu, dan Pak Kenandra telah siuman. Namun, bukan Bu Listiana dan ketiga anaknya yang pria paruh baya kaya raya itu tanyakan kepada si dokter, melainkan anaknya yang lain dari Bu Zahira, Bumi Pradana dan pengacara pribadinya, Pak Agustinus Velosa.
"Agus!" Panggil Pak Kenandra bersuara lirih, air matanya mengalir begitu mengetahui istri mudanya tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Agus mendekat ke ranjang rawat Pak Kenandra. "Iya Tuan!" Sahutnya menunjukkan sikap patuh.
"Tolong, buatkan, surat wasiat,,, saya dektekan!" Pintanya bersuara lemah.
"Baik Tuan!"
Lalu, Pak Agus pun menuliskan surat wasiat sesuai apa yang di katakan oleh Tuhan-nya tersebut secara detail, jelas tanpa ditambah atau dikurangi.
"Dimana, putraku, Bumi,,,?" Lanjut Pak Kenandra bertanya setelah surat wasiat itu selesai dibuat.
"Ada di rumah, Tuan,,, bersama para pelayan anda." Jawabnya sambil menggenggam telapak tangan Pak Kenandra. "Apakah anda mau bertemu Tuan Muda Bumi?"
Pak Kenandra menggelengkan kepala. Dia tak kuat melihat kesedihan putra kesayangannya itu bila tahu Mamanya telah meninggal. "Tolong,,, panggilkan istri pertamaku, dan ketiga anakku, kemari!"
Si pengacara mengangguk, lalu menghubungi Bu Listiana, memberi kabar kalau Pak Kenandra telah sadar.
"Baik,,, kami akan kesana!" Sahut Bu Listiana dari seberang telfon. Suaranya terdengar begitu dingin.
Tak berapa lama, Bu Listiana, Gavin, Davin dan Valerie tiba di ruang rawat Pak Kenandra.
"Lis,,, tiana,,,!" Panggil Pak Kenandra dengan suara terengah-engah. Air mata terus mengalir dari kedua sudut matanya.
"Mas,,, jangan banyak bicara dulu!" Bisik Bu Listiana, meski suara dan jemarinya gemetar.
Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Pak Kenandra mencengkeram pergelangan tangan istrinya. Matanya yang sayu menatap lurus, memancarkan penyesalan yang mendalam.
"Maafkan aku,,, Ada hal besar yang,,, harus kuakui sebelum aku pergi." Tukas Pak Kenandra patah-patah. "Wanita, yang bersamaku,,, di mobil, adalah Zahira. Dia,,, juga istri sahku. Kami,,, sudah menikah resmi, dan dicatat secara hukum beberapa tahun lalu." Ungkapnya.
"Deg!"
Ruangan rawat VVIP itu seketika hening mencekam. Bu Listiana terpaku bagai dihantam petir di siang bolong. Bu Listiana tahu betul, siapa itu Zahira, yaitu cinta pertama suaminya yang dulu dia fitnah berselingkuh dengan pria lain.
Gavin mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara Davin dan Valerie saling pandang dengan tatapan tak percaya.
"Apa maksud Papa?" Spontan tanya Gavin dengan nada tinggi, tak mampu menahan emosinya. "Papa menduakan Mama?"
Pak Kenandra mengabaikan amarah putranya. Waktunya tak banyak lagi. "Kami,,, memiliki seorang putra. Namanya Bumi Pradana. Usianya,,, baru tujuh tahun,___"
Napas Pak Kenandra semakin memburu. Cengkeramannya pada tangan Bu Listiana mengencang. "Aku mohon, Listiana,,, tolong rawat Bumi. Bawa dia ke rumah kita. Dan dengarkan,,, aku baik-baik,,,! Aku telah,,, menulis wasiat! Bagian harta warisannya sudah kuatur secara sah. Namun, hak penuh atas seluruh aset peninggalanku,,, baru boleh diserahkan padanya,,, ketika Bumi tepat berusia tujuh belas tahun." Mata Pak Kenandra menatap Bu Listiana dengan ketegasan yang menyiksa. "Jika kau menolak merawatnya atau mencoba melanggar amanah ini,,, tidak sepeser pun harta peninggalanku akan jatuh ke tanganmu dan anak-anakmu. Semuanya akan disumbangkan ke yayasan." Tandasnya.
"Mas! Kamu gila?" Jerit Bu Listiana hysteris. Air mata kemarahan menetes di pipinya. Bagaimanakah bisa suaminya membawa anak dari wanita yang dia nemcinya dan mengancam hak anak-anak kandungnya sendiri.
Namun, sebelum Bu Listiana sempat meluapkan seluruh kemarahannya, monitor detak jantung di samping tempat tidur Pak Kenandra berbunyi panjang dan konstan.
"Beep,,, beep,,, beep,____"
Garis di layar menjadi datar. Pak Kenandra telah mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan sebuah rahasia besar dan ancaman warisan yang menjadi bom waktu bagi keluarga tersebut.
"Mas! Mas! Mas,,,!" Teriak Bu Listiana. "Cepat panggil dokter!"
Gavin pun langsung memencet tombol darurat di samping ranjang rawat Pak Kenandra.
Tak lama, dokter dan beberapa perawat datang. Melakukan daya kejut ke dada Pak Kenandra, namun tak berhasil setelah dilakukannya beberapa kali.
"Maafkan kami Nyonya! Pak Kenandra telah berpulang." Ucapnya memasang wajah menyesal.
Bukan tangis kesedihan yang terjadi, tapi raut kemarahan yang terlukis di wajah Bu Listiana, Gavin, Davin dan Valerie.
Beberapa hari kemudian, di sudut megah rumah keluarga Kenandra, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berdiri terdiam di sudut ruang tamu.
Dialah Bumi Pradana. Berambut lurus, bermata jernih, dan memiliki raut wajah yang sangat mirip dengan almarhum ayahnya.
Anak kecil itu diantar oleh Pak Agus ke rumah itu. Dia menggunakan pakaian hitam yang kebesaran. Bumi kecil hanya bisa meremas jemarinya sendiri. Dia belum sepenuhnya mengerti, mengapa ibu dan ayahnya tak pulang dalam sepekan ini, dan mengapa kini dia berada di rumah asing.
Dari balik pilar ruang tengah, tiga pasang mata menatapnya dengan kilatan kebencian yang nyata.
"Anak haram itu,,, kenapa harus ada di sini?" Bisik Gavin kasar. Sebagai anak tertua, Gavin merasa martabat keluarganya dan haknya sebagai putra mahkota telah diinjak-injak.
"Lihat mukanya, bikin muak." Timpal Davin dengan wajah dingin. "Gara-gara anak kecil ini, Papa mengancam akan mencoret nama kita dari warisan kalau Mama tidak merawatnya."
Valerie, si bungsu, melipat tangannya di dada sambil mendengus sinis. "Aku tidak mau punya adik dari wanita pelakor. Bikin malu di sekolah saja kalau teman-temanku sampai tahu!"
Bu Listiana keluar dari kamarnya dengan wajah sembap dan dingin. Dia berjalan melintasi ketiga anak kandungnya, lalu berhenti tepat di depan Bumi. Ditatapnya anak berusia tujuh tahun itu tanpa ada sedikit pun rasa belas kasihan atau kehangatan seorang ibu.
Bumi menengadah, menatap Bu Listiana dengan kepolosan anak-anak. "Ibu,,, dimana Papa dan Mama Bumi?" Tanyanya bernada lugu.
Bu Listiana tidak menjawab. Dia hanya mengepalkan tangannya rapat-rapat, menahan kebencian yang membakar dadanya.
Di mata Bu Listiana, Bumi bukan sekadar anak piatu, melainkan simbol pengkhianatan suaminya dan ancaman bagi masa depan anak-anaknya.
"Mulai hari ini, kamu tinggal di kamar belakang." Seru Bu Listiana dengan suara sedingin es. "Jangan pernah panggil aku Ibu. Dan ingat satu hal,,, kamu berada di rumah ini hanya karena sebuah peninggalan yang terpaksa kami jaga,___"
"Jangan salah Nyonya Listiana." Potong Pak Agus.
Bu Listiana dan ketiga anaknya menyorot mata tak senang. "Kenapa tidak kau pelihara saja Pak Agus, anak ini." Hardik Bu Listiana.
Pak Agus tersenyum kecil, senyum penuh misteri bergantian menatap satu persatu wajah suram Bu Listiana dan ketiga anaknya.
Bersambung.
Daftar bab
86 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








