Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gerbang Amerta: mencari jalan pulang

Gerbang Amerta: mencari jalan pulang

Miusyan | Bersambung
Jumlah kata
35.7K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Gerbang Amerta: mencari jalan pulang
Gerbang Amerta: mencari jalan pulang

Gerbang Amerta: mencari jalan pulang

Miusyan| Bersambung
Jumlah Kata
35.7K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiRajaSihir
Eres, siswa SMA biasa yang hidupnya membosankan, mencoba menjadi “anak nakal” dengan sengaja datang terlambat. Namun rencananya gagal dan justru membawanya ke hukuman membersihkan area belakang sekolah. Sebuah gerbang tua yang seharusnya tidak dibuka malah menyeretnya ke dunia lain—dunia penuh sihir dan makhluk asing. Untuk kembali pulang ke ibunya, Eres hanya punya satu cara: menemukan raja di Amerta. Masalahnya, tidak semua orang bisa masuk ke wilayah abadi yang di khususkan untuk raja.
Bab 1. Hari pertama menjadi anak nakal

Suara lonceng berbunyi, tanda sekolah telah berakhir. Zaman sudah modern, namun sekolah ini masih menggunakan lonceng jadul sebagai tanda masuk dan pulang.

Guru bilang kami harus menjaga tradisi. Tradisi yang aneh. Lagipula itu cuma lonceng tua kenapa harus dipertahankan? Kalau dijual ke kolektor, pasti bisa dapat uang banyak.

"Res, kau mau ikut tidak? Kita mau ke warnet!" teriak teman sekelasku.

"Iya, aku ikut!" Aku segera berlari mendekati mereka.

Sepanjang perjalanan mereka asyik mengobrol. Saat aku mencoba menimpali, mereka mengabaikanku.

"Res, kau diam saja. Kenapa?"

"Dari tadi aku bicara, kalian nggak dengar?"

"Oh iya kah? Maaf ya, kami nggak dengar."

Ini bukan kejadian pertama. Sudah sering terjadi sampai aku terbiasa dengan kata "maaf" dari orang-orang di sekitarku.

Sesampainya di warnet, kami langsung bermain game online. Aneh, setiap arahanku sama sekali tidak mereka dengar. Itu membuatku kesal.

"Sudahlah, kalian payah bermain. Aku pulang saja."

Kupikir mereka akan menyusul, tapi mereka tetap fokus pada layar. Akhirnya aku benar-benar pergi.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.

"Membosankan sekali..."

Saat melewati sebuah sekolah, kulihat beberapa orang sedang menyapu halaman

"Mereka rajin sekali bersih-bersih sekolah sampai sore?" tanyaku.

"Mereka sedang dihukum karena tawuran. Jadi sepulang sekolah harus menyapu halaman depan," ucap satpam penjaga.

Walaupun dihukum, mereka tampak bersenang-senang, bercanda bersama

"Benar juga... kenapa aku tidak jadi anak nakal saja? Di sekolahku banyak juga anak nakal..."

Aku berjalan cepat menuju rumah. Rumahku hampir seluruhnya berbahan kayu, berbeda dengan rumah tetangga yang sudah tembok. Walaupun dari kayu, desainnya tetap modern, jadi tidak terlihat jadul.

Ibuku sangat menyukai tanaman. Halaman depan dan belakang dipenuhi berbagai jenis tanaman. Dibanding rumah lain, rumahku terlihat seperti rumah pohon.

"Ibu, Eres pulang!"

"Selamat datang. Gimana sekolahnya?"

"Satu kata bosan."

"Kenapa tidak bermain dengan teman yang lain?"

"Barusan aku main game online... dan ya, mereka mengabaikanku lagi."

"Kayaknya mereka terlalu fokus pada permainan."

"Yah... mungkin."

Ibuku masih terlihat cantik. Rambut pendek berwarna cokelat, wajahnya tampak muda di usianya yang ke-50 tahun. Setiap aku berjalan di sampingnya, orang-orang selalu mengira dia kakakku.

Keunikan ibuku adalah dia sangat suka sayur. Hampir setiap hari kami makan sayur. Bukan berarti aku tidak suka, hanya saja sesekali ingin makan daging juga.

"Bagaimana rasanya? Enak?"

"Enak sekali. Ibu pintar memasak sayur."

Aku tidak bohong. Rasanya memang enak. Tapi tetap saja... aku bosan.

Dengan cepat aku menghabiskannya, lalu masuk ke kamar.

Rutinitasku tidak jauh dari game. Tanpa terasa waktu berlalu cepat. Langit sudah gelap. Aku segera menutup jendela dan mulai tidur.

"Besok aku akan datang terlambat."

Saat terbangun, langit sudah terang. Aku buru-buru bangkit.

"Aku memang mau terlambat... tapi ini terlalu kesiangan!"

Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Sudah terlalu siang untuk berangkat.

"Eres, jaketmu!" teriak ibu sambil melempar.

Dengan sigap aku menangkapnya.

Sesampainya di sekolah, tidak ada siapa pun. Satpam sampai menggelengkan kepala.

"Eres, tumben terlambat. Kamu satu-satunya siswa yang terlambat hari ini."

"Apa tidak ada orang lain?"

"Tidak ada. Walaupun kamu anak rajin, hukuman tetap hukuman. Ikuti bapak."

Aku mengikuti langkahnya ke belakang sekolah. Area itu tidak terlalu besar, tapi jarang dikunjungi karena ada larangan.

Entah kenapa kepala sekolah selalu melarang murid bermain, apa karena di balik pagar hutan.

"Untuk apa dibersihkan, toh gak ada siswa yang ke sini?" gumamku.

"Hanya ini satu-satunya area yang kotor. Sapu saja, setelah itu kembali ke kelas," ucapnya, lalu pergi meninggalkanku sendirian.

"Sial sekali... hari pertama jadi anak nakal gagal total. Mana sendirian lagi."

Baru saja mengambil sapu, ujungnya sudah lepas. Aku hanya bisa menarik napas panjang, lalu memasangnya kembali.

Angin tiba-tiba berhembus kencang. Langit berubah gelap.

"Insting ibu nggak pernah salah... Sebentar lagi hujan. Kalau begitu, kupercepat saja. Semangat!"

Terlalu semangat, ujung sapu terlepas lagi kali ini terlempar sampai keluar pagar.

"Aaaaaa! Kenapa harus ke sana sih?! Dasar sapu tua lebih baik pakai sapu lain saja deh..."

Saat membuka ruang penyimpanan, tidak ada satu pun sapu. Hanya ada satu ember.

"Jadi itu sapu satu-satunya..."

Aku berjalan ke arah gerbang berkarat. Saat mencoba membukanya, ternyata tidak sesulit yang kupikirkan.

Aku segera berlari keluar, tapi tiba-tiba berhenti. "Hah? Harusnya di sini..."

Aku mencoba mengingat arah lemparan. Tidak salah lagi seharusnya dekat pohon tinggi ini. Tapi tetap tidak ketemu.

Sampai akhirnya dari sudut mata, kulihat warna biru ternyata sapunya terlempar cukup jauh.

"Hah? Kok bisa ada di sana?"

Aku berlari mendekat dan mengambilnya. Namun saat berbalik

jantungku langsung berdegup kencang.

"Gerbangnya... mana?"

Aku mulai panik. Semakin berlari, rasanya semakin jauh. Area ini berubah seperti hutan gelap dengan kabut muncul di barengi dengan udara yang semakin dingin.

Aku merapatkan jaket, tapi tetap tidak hangat.

"Dingin sekali... apa akan turun badai?"

"Perlu bantuan, anak muda?" ucap suara wanita. Saat aku menengok kebelakang sosok putih dengah pakian serba putih

"Wuaaa! Hantu!" Aku berlari kencang.

Aku berhenti di balik pohon, mencoba mengatur napas.

"Yang tadi itu... Apa? Masa siang-siang ada hantu"

"Orang-orang sering menyebutku seperti itu. Apa itu nama panggilan?" ucapnya.

Dia tiba-tiba muncul di depanku. Seorang wanita berjubah putih, sebagian wajahnya tertutup kain, hanya bibir merahnya yang terlihat.

"Anda... bukan hantu?"

"Menurutmu?"

Aku melihat kebawah tidak terlihat apakah kakinya napak tanah atau tidak, pakaiannya panjang menyeret tanah, tapi tetap terlihat putih bersih.

"Maaf... aku terkejut. Sepertinya aku tersesat. Anda tahu di mana gerbang sekolahku?"

"Gerbang? Jika maksudmu jalan keluar, berlarilah ke depan. Ada pohon besar lewati saja."

"Terima kasih... nona putih."

Aku langsung berlari. Namun di tengah jalan aku ragu.

"Pohon besar? Rasanya tadi nggak ada..."

Tiba-tiba langkahku terhenti.

Di depanku berdiri pohon yang sangat besar dengan ukuran yang tidak normal,

"Wow... ini pohon sudah hidup berapa lama?"

Saat mencoba menyentuhnya, kakiku tersandung dan aku jatuh ke dalam celah gelap.

Angin langsung menerpa wajahku. Aroma rumput yang segar tercium. Terdengar suara air.

Saat membuka mata aku terdiam di depan mata ku hamparan rumput hijau, bunga-bunga tumbuh bebas, angin berhembus sepoi-sepoi.

Sangat berbeda dengan hutan tadi.

Saat menoleh ke belakang, terlihat garis pemisah dua dunia berbeda. Satu terang, satu gelap.

Tempat aku keluar tadi... seharusnya pohon besar. Tapi sekarang hanya batang pohon yang sudah ditebang.

"Kenapa jadi begini...? Aku sebenarnya di mana?"

Angin kencang berhembus dari atas saat mendongak seorang manusia bersayap terbang di langit.

"MAKHLUK APA ITU?!"

Dari arah danau, seekor putri duyung meloncat tinggi. Ekor ungunya berkilau terkena sinar matahari.

Aku tidak bisa berkata-kata. Apakah semua ini nyata atau mimpi?

"Woi, permisi! Kami mau lewat!" ucap suara kecil.

Aku menoleh. Makhluk kecil seperti manusia, berpakaian dari daun, mendorong gerobak kecil.

"Sebenarnya... ini tempat apa?"

"Ini area bebas. Apa kau orang baru?" jawab mahkluk mungil

Aku langsung berlari, memukul batang pohon dengan keras.

"Keluarkan aku dari sini. Ini bukan duniaku nona putih, keluarlah! Apa ini mimpi?!"

Aku menghantam kepalaku ke batang pohon berkali-kali hingga berdarah. Membuktikan jika semua ini bukan mimpi.

Saat darah membekas di batang pohon tubuhku tiba-tiba tersedot masuk.

Lanjut membaca
Lanjut membaca