Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Asura Terakhir

Asura Terakhir

Ershita | Bersambung
Jumlah kata
45.0K
Popular
383
Subscribe
52
Novel / Asura Terakhir
Asura Terakhir

Asura Terakhir

Ershita| Bersambung
Jumlah Kata
45.0K
Popular
383
Subscribe
52
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurSilatDewaNaga
Gading Tirta jenius nomor satu Padepokan Langit, rela menghancurkan kultivasinya demi harga diri karena fitnah keji dari sahabatnya sendiri. Dan rela dijebloskan ke dalam Jurang Kematian untuk menerima hukuman. Namun semesta berkata lain, takdirnya dibangkitkan, kultivasinya dipulihkan, kekuatannya dinaikkan hingga melewati batas hukum alam. Di bawah bimbingan Kaisar Asura Kuno dan Kaisar Dewa Kuno, dia bangkit, dia kembali dan menggetarkan Semesta. Akankah Gading Tirta menjalani takdirnya dengan mulus atau justru kematian yang menjemputnya…
1. Fitnah dan Pengkhianatan

Arcapada terhampar luas sebagai dunia fana tempat manusia biasa dan para pendekar berada. Arcapada ini terbagi dalam empat wilayah, Arcapada Utara, Selatan, Timur, dan Pulau Terapung.

Di wilayah timur, atau yang sering disebut wilayah rendah, terdapat banyak padepokan. Namun ada satu padepokan terbesar di sana, yaitu Padepokan Langit.

BRAK!

Telapak tangan kokoh Mahaguru Danur Kencana menggebrak meja di tengah aula hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kayu beterbangan ke lantai batu.

Para sesepuh hanya menundukkan kepala. Keringat dingin mengalir di tengkuk mereka, tidak ada yang berani bersuara.

Namun seorang pemuda tampan berusia lima belas tahun berdiri tenang dengan sorot mata tajam. Tatapannya lurus menatap Mahaguru. Tidak berkedip, tidak pula gentar.

"Tundukkan pandanganmu, Gading!" hardik Mahaguru Danur Kencana.

Gading Tirta hanya tersenyum sinis, itu jawaban mutlak yang dia berikan. Tatapan membunuh dari para sesepuh menghujam ke arahnya, namun Gading Tirta tetap tegak berdiri.

"Jangan kau pikir karena kau jenius nomor satu di Padepokan Langitku dan kau berasal dari Wangsa Tirta, aku tidak bisa tegas kepadamu," suara dingin Mahaguru Danur Kencana kembali bergema di seluruh ruangan.

"Selaku Mahaguru, apakah kau sudah menyelidiki akar masalah yang sebenarnya?" Senyum sinis dan wajah dingin Gading Tirta membuat suasana semakin panas seperti ruang pengap tanpa angin.

Seorang sesepuh berdiri. Wajahnya merah padam menahan amarah.

"Cukup! Ini bukan tempatmu berbicara."

Namun tawa Gading Tirta menggelegar. Suaranya serak namun penuh keberanian. Dia menjawab tanpa ragu sambil menunjuk wajah sesepuh itu.

"Lalu untuk apa Sang Hyang Pencipta menciptakan mulut dan pikiran? Apa kau merasa kau lebih hebat dari pencipta semesta ini?"

Dia berhenti sejenak. Matanya menyapu ruangan.

"Apa gunanya padepokan ini selalu bersikap bijak kalau ternyata di dalamnya hanya berisi manusia manusia munafik sepertimu?"

BOOM!

Ucapan berani Gading Tirta terasa seperti gempa yang menghancurkan ketenangan di bumi ini. Beberapa sesepuh sampai tersentak.

"Gading, sebaiknya kau akui saja apa yang sudah kau perbuat kepadaku dan beberapa murid jenius tiga hari yang lalu," ujar Ayu Jenar Wardhani dengan suara manis tapi penuh racun.

Gading Tirta menatap gadis jelita itu dengan tatapan dingin. Matanya seperti pisau.

"Dasar penyihir. Kau sudah menebar fitnah dan mengkhianati ketulusanku demi ambisi busuk keluargamu dan tua bangka gurumu itu."

Sesepuh Pertama yang ditunjuk oleh Gading Tirta hanya bisa menahan amarah. Wajahnya bergetar, tetapi dia tidak membalas.

Suasana berubah hening sesaat. Hanya suara napas napas berat yang terdengar, napas napas yang menahan amarah.

"Gading, aku tahu kau salah satu harapan masa depan Padepokan dan dunia persilatan. Tetapi karena tindakan kejimu yang sudah berani menodai Ayu Jenar dan beberapa murid perempuan lainnya, serta meracuni murid murid jenius, maka kau harus menerima hukuman setimpal," suara Mahaguru terdengar datar. Namun ada getaran aneh di ucapannya, getaran yang berusaha dia tahan.

Gading Tirta tersenyum miring. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya.

BOOM!

Tangan itu menghantam Cakra Intinya hingga hancur.

BUUZZ!

Tenaga dalam dari Pendekar Tingkat Limamiliknya keluar dari dalam tubuh seperti banjir bandang. Seluruh ruangan ikut bergetar hebat. Beberapa sesepuh sampai terjungkal.

Darah segar menyembur dari mulut Gading Tirta. Wajahnya terus memucat. Tubuhnya kian lunglai.

Gading Tirta yang sudah kehilangan kanuragannya berjalan terseok keluar dari aula.

"Aku ambil hukuman tertinggi dengan menghancurkan kanuraganku. Dan dengan senang hati akan masuk Jurang Kematian," suaranya tetap dingin dan tegas. Matanya menyapu ruangan satu kali.

"Jika aku selamat, aku bersumpah akan menghancurkan kalian semua."

Ayu Jenar Wardhani menatap Gading Tirta dengan suka cita. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Rencananya berjalan mulus.

TAP!

Seorang pemuda kurus menopang tubuh Gading Tirta sambil menangis.

"Pancur, kau ini laki laki. Simpan air matamu, brengsek! Cepat bawa aku ke Jurang Kematian."

Pancur hanya bisa menunduk. Dia membopong tubuh sahabat yang sudah dia anggap saudara satu satunya. Dia menuruti ucapan Gading Tirta karena sebelumnya Gading sudah menceritakan semua rencananya hari ini.

Mahaguru dan para Sesepuhtampak membeku. Mereka sama sekali tidak menyangka Gading Tirta akan sekejam itu pada dirinya sendiri. Ketika mereka tersadar, sosok pemuda dingin dan tegas itu sudah dibawa pergi oleh Pancur.

Di tepi Jurang Kematian, Gading Tirta bersandar di sebuah batu besar sambil menatap langit.

"Gading, hentikan tindakan bodohmu!"

Suara keras terdengar dari kejauhan. Nadanya menyembunyikan sesuatu. Mungkin penyesalan. Mungkin kemarahan. Mungkin keduanya.

Gading Tirta hanya tersenyum.

Dia melompat ke dalam jurang. Tanpa ragu. Tanpa penyesalan.

"GADIIINGGG!"

Mahaguru Danur Kencana berteriak sambil memukul batu besar tempat Gading Tirta sebelumnya bersandar.

Beberapa Sesepuhmenatap ganas ke arah Pancur.

Pancur menegakkan dagunya.

"Apa kalian juga ingin aku seperti saudaraku yang gagah berani mempertahankan harga dirinya?"

Dia menatap satu per satu.

"Kalau begitu akan aku lakukan."

PLAK!

Baru selesai dia berucap, sebuah tamparan mendarat di pipi kirinya.

Matanya beradu pandang dengan Mahaguru Danur Kencana.

"Hanya kau harapan yang tersisa dari semua jenius Padepokan Langit."

Sementara itu, saat tubuh Gading Tirta meluncur ke dalam jurang misterius itu, terdengar geraman rendah yang menggema hingga ke atas jurang.

Suara itu membuat bulu kuduk semua orang yang masih berada di atas jurang seketika meremang.

Namun hanya dua orang yang tampak tersenyum senang penuh kemenangan. Mereka adalah Ayu Jenar Wardhani dan Sesepuh Pertama.

Guru dan murid itu memang cocok menjadi pasangan licik.

Pancur yang melihat gelagat mereka menatap keduanya dengan niat membunuh di matanya.

"Hehehe... saudara angkatmu sudah dipastikan mampus. Suara geraman itu adalah suara binatang iblis kuno yang merasa senang diberi makanan," ejek Ayu Jenar dengan senyum licik yang tak pernah lepas dari bibirnya.

Tidak mau meladeni wanita licik yang tampak gila, Pancur memilih diam. Dia menatap ke dalam jurang, berharap bisa melihat sosok saudara angkatnya kembali ke atas.

Gading Tirta sendiri merasakan tubuhnya semakin dingin dan mulai mati rasa. Pandangannya semakin kabur.

"Ini kah rasanya menuju kematian?" gumamnya lirih dengan senyum pasrah. Dia berusaha menikmati udara yang terus menarik tubuhnya ke dasar jurang, dasar yang belum juga terlihat.

Tiba-tiba kesadaran Gading Tirta hilang. Tubuhnya terlihat seperti mayat yang baru saja meninggal, melayang tanpa kendali.

Tepat saat tubuhnya menembus gumpalan kabut hitam yang melayang di kedalaman, sebuah pusaran merah darah muncul di samping tubuhnya. Pusaran itu lalu menghisap tubuh Gading ke dalamnya dalam satu tarikan kuat.

Dua pasang mata menatap penuh antusias ke arah Gading Tirta yang meluncur ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.

Tubuh lunglai itu kemudian melayang lembut di depan dua sosok kuno yang mengulurkan kedua tangan mereka untuk menyambut kedatangan Gading Tirta.

"Hahahaha... akhirnya setelah jutaan tahun kita mendapatkan apa yang kita tunggu," ujar sosok bertubuh kekar yang kulitnya kemerahan dan dipenuhi pola pola putih di bagian tangan dan punggungnya.

Sementara sosok yang terlihat lebih agung dan berwibawa hanya terkekeh sambil mengibaskan tangannya.

BUUZZ!

Seketika muncul altar dari batu putih mengkilat yang memancarkan aura dingin. Dengan hati hati mereka meletakkan tubuh Gading Tirta di atas altar itu.

Beberapa saat kemudian tubuh Gading Tirta bergetar. Seluruh ruangan asing itu ikut bergetar hebat.

Bahkan kedua sosok kuno itu pun harus mengerahkan tenaga untuk menjaga keseimbangan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca