

Bab 1. Vonis Dokter Membawa Petaka
,
,
“Ada apa, Mas?! KOK BERHENTI!” teriak Sinta emosial dengan dada setengah terbuka turun naik. Hasratnya tengah memuncak. “Kenapa, Mas?!”
Sinta melotot seraya mencengkram kedua bahu Johan yang mandi keringat.
“A..aku… capek Sinta. Ma… af,” jawab Johan merasa bersalah. Dia berusaha membelai pipi Sinta. Namun Sinta langsung menepisnya.
“Gimana, sih, Mas? Aku masih tanggung! Cepetan dicoba lagi. Aku belum keluar, Mas!” omel Sinta seraya menarik baju tidurnya hingga dia benar-benar polos.
Johan tak bersemangat menatap tubuh istrinya yang sudah nude. Dia menggaruk kasar kepalanya.
‘Ada apa denganku? Nggak seperti biasanya,’ batin Johan merasa heran dengan kondisi tubuhnya. Mendadak hasratnya menghilang.
“Tatap dadaku, Mas! Lihat, pelototin kalo perlu, biar itu mu bangun lagi!” bujuk Sinta kasar seraya kedua tangannya menarik tangan Johan agar menempel di dadanya.
Johan menggeleng. “Aku beneran capek, Sinta. Besok lagi ya. Aku janji besok pasti hasratku akan lebih besar dari saat ini.”
Sinta mendecih.
“Ada apa denganmu, Mas? Apa kamu sudah bosan denganku?” tanya Sinta kesal seraya memakai kembali dasternya tanpa memakai kembali bra-nya, hingga bulatan kecil tercetak jelas dari balik daster tipis itu.
Sekali lagi Johan menggeleng. “Entahlah. Yang jelas aku bukan bosan denganmu, Sinta. Sepertinya ada yang nggak beres dengan tubuhku.”
Sinta mengernyit sesaat, lalu menatap Johan serius. “Kamu ke dokter, gih. Aku takut kamu terkena penyakit atau apalah. Nggak lucu kan, Mas, masak kamu mendadak impoten gitu.”
“Sinta! Keterlaluan! Jaga ucapamu. Aku nggak impoten!” Protes Johan agak sengak.
Johan kecewa, merasa terhina dengan ucapan Sinta barusan.
“Lalu kenapa kamu mendadak ejakulasi dini, Mas? Burung mu nggak strong, nggak kayak biasanya. Kamu mendadak letoy, lunglay. Batinku kurang puas, Mas. Bagaimanapun aku masih muda, kepuasan batinku harus cukup terpenuhi!”
Johan bangkit dari dipan. Menarik handuk seraya menjawab kesal. “Aku mandi dulu. Setelahnya, aku ke apotek, tanya obat kuat. Puas kamu!”
Sinta langsung tersenyum. “Gitu, dong. Ini baru suamiku. Buruan mandi. Ntar malem, kita main lagi.”
Johan menjawil hidung Sinta, emosinya menurun melihat senyum manis istrinya.
Satu jam kemudian, Johan sudah berada di apotek Sehat tak jauh dari rumahnya. Dia pun menanyakan obat kuat pada salah satu karyawan dengan suara berbisik.
“Johan, ngapain ke apotek? Lo sakit?” seseorang menegurnya.
Johan reflek menoleh dengan raut wajah malu. ‘Sial, Raden ngapain kemari!’
“Nggak, Den. Gua mau beli obat strong. Bini gua protes mulu soalnya.” Johan menjawab dengan raut wajah malu.
Raden Agus melotot mendengar jawaban Johan barusan.
“Maksud lo…? Letoy? Nggak bisa bangun? Apa kurang bisa main banyak?”
“Ssst? Jangan keras-keras, Den. Malu gua. Nggak tahu, nih. Body gua kayaknya yang bermasalah. Udah dua bulan ini kayak capek melulu, gitu. Mau main itu hasrat gua kagak ada.”
Raden Agus mengernyit. “Lo udah ke dokter belom?”
“Ngapain ke dokter?” bisik Johan balas mengernyit.
“Sama kayak kasus Gua bulan lalu, Han. Ee, kagak tahunya gua kena diabetes type 2 berikut asam urat. Nah itu yang bikin gua kagak bisa muasin si Lince.”
Johan mendelik. “Maksud lo… Gua kemungkinan diabetes sama asam urat?”
Raden Agus mengangguk. “Berobat, gih, sebelum terlambat. Kalo dibiarin ntar tahu-tahu cuci darah, si ginjal ikutan somplak. Ih amit-amit, dah!”
“Ih, lo nakut-nakutin gua, aja, Den.”
Johan bergidik membayangkan dirinya digerogoti penyakit metabolik.
“Lo periksa dulu, gih. Ntar kalo udah ketahuan penyebabnya, gampang mah buat balikin si hasrat.”
“Beneran bisa balik hasrat gua, Den? Tapi jangan bilang gua harus kawin lagi kaya lo, Den!” Tolak Johan dengan kepala menggeleng.
Raden Agus terbahak. “Itu akibat si Lince meremehkan Gua, Han. Dia bilang penderita diabetes kagak bisa bangun lagi. Nyatanya bini muda gua yang bohay itu bisa bikin gua jadi pejantan tangguh seminggu tiga kali!”
“Brengsek lo! Mengkhianati si Lince!”
Raden Agus terbahak. “Udah, kagak usah ngurusin rumah tangga Gua, Han. Lo jangan minum obat kuat dulu. Ke dokter dulu, pastiin kondisi kesehatan lo. Ok. Gua jalan dulu.”
Johan termenung sesaat. Dia memutuskan batal membeli obat kuat.
“Maaf, Mbak nggak jadi. Saya mau ke klinik dr. Surya dulu.”
Dua jam kemudian, Johan duduk di hadapan dr Surya, spesialis penyakit dalam yang buka klinik tak jauh dari kompleknya.
“Hasil tes lab Anda kurang bagus, Tuan Johan. Kreatinin tinggi, fungsi ginjal Anda nyaris cuci darah. Asam urat 11, gula darah 400. Itu penyebab kelelahan yang anda alami,” jelas dokter Surya pelan.
Dunia serasa runtuh saat telinga Johan mendengar kondisi medisnya saat ini. Tubuhnya semakin lemas.
“A… pa masih bisa disembuhkan, Dok?” tanya Johan dengan suara bergetar.
Dokter Surya menatap Johan serius. “Anda perlu dirawat beberapa hari, Tuan Johan. Saya akan mengevaluasi lebih lanjut kondisi metabolik Anda. Semoga tidak ada hipertensi, dan jantung aman. Bagaimana?”
Johan mendengkus pelan. Napasnya mendadak sesak.
“Saya pulang dulu, Dok. Istri saya perlu diberitahu.”
Dokter Surya mengangguk. “Baiklah. Jangan lupa bawa KTP dan surat asuransi kesehatan bila ada untuk keperluan rawat inap.”
“Baik, Dok. Saya permisi dulu.”
Tiga puluh menit kemudian langkah gontai Johan Bimantara tiba di rumah sederhana miliknya. Dia mengernyit saat melihat sedan hitam keluaran tahun kemarin, terparkir di teras samping rumahnya.
“Siapa yang bertamu dengan pintu depan tertutup saat aku nggak di rumah,” gumam Johan dengan perasaan gelisah.
Langkah Johan dipercepat. Perlahan membuka pintu utama yang ternyata tak terkunci. Baru saja dia masuk, telinganya mendadak panas.
“Sayang, suami letoymu masih lama kan?” ucap Prayoga Aditya pada Sinta dengan tangan sibuk bekerja pada tubuh wanita itu.
“Dia nggak akan pulang sebelum bawa yang kuminta, Sayang,” jawab Sinta bernada mencemooh.
“Apa?” Prayoga mengernyit seraya mencubit nakal pinggang Sinta.
“Obat kuat,” jawab Sinta cekikikan.
“Hahaha, dasar si Letoy. Kalah jauh ya sama punyaku. Kamu puas kan?”
“Puas dong. Besar soalnya. Hahaha!”
“Brengsek!” maki Johan kasar seraya mempercepat langkah ke arah kamar tidurnya.
“Brak!!”
Johan menendang pintu kamar yang memang tak tertutup rapat.
“Kalian berdua jahanam! Sinta keterlaluan kamu! Aku talak kamu! Aku talak kamu!” tuding Johan memaki istri dan temannya.
Sinta dan Prayoga sama-sama terkejut. Keduanya sama-sama polos di atas kasur, menoleh ke arah Johan di muka pintu.
“Mas… Aku…,” ucap Sinta terbata.
Prayoga Aditya terbahak, menuding ke arah Johan. “Lo yang brengsek, Johan! Sudah miskin, burung lo juga letoy! Jangan salahin Sinta! Salahin diri lo sendiri!”
Deg!
Johan merasa tertampar dengan ucapan Prayoga. Dia menoleh ke arah Sinta.
“Kamu seharusnya bersabar denganku, Sinta! Burungku loyo, bukan kemauanku, tapi kondisi medisku kurang baik, Sinta!”
Johan mencobanya menjelaskan kondisi fisiknya dengan tangan berkacak pinggang.
Prayoga dan Sinta saling pandang. Lalu keduanya terbahak mengejek Johan.
“Suami loyo, penyakitan seperti Johan, ngapain kamu ikuti, Sinta! Pasti dia kena diabetes, dan asam urat. Kasian lo Johan!” ejek Prayoga seraya memakai kembali pakaiannya.
“Bukan salahku selingkuh, Mas. Nyatanya kamu penyakitan. Apa kata dokter? Biarpun kamu barusan talak aku dua kali, aku masih peduli sama kamu,” ucap Sinta kasar.
Napas Johan kembali sesak. Dia tersadar sudah menceraikan istrinya barusan.
Johan berusaha menguatkan tubuhnya agar tidak limbung di hadapan Prayoga dan Sinta.
“A..aku harus opname, Sinta. Kondisi fungsi ginjalku buruk. Aku sakit, Sinta," ucap Johan pelan dengan wajah minta dikasihani.
Sinta melotot. Dia menatap tajam Johan.
“Pergi aja sendiri. Aku cuma nanya aja. Kita barudan sudah cerai, Mas! Tolong ucapkan talaknya sekali lagi. Biar talak tiga sekalian!” tuding Sinta sengit.
Prayoga sangat senang melihat Sinta bercerai dari Johan. Rivalnya sejak kanak- kanak.
“Hahaha! Ayo, Sayang. Kita lanjut di hotel saja! Kamar ini terlalu pengap dan bau! Bau laki-laki impoten dan penyakitan!”
“Brengsek kalian!” maki Johan penuh amarah.
Saking marahnya, tekanan darah Johan meningkat, pembuluh darah di hidung pecah. Darah segar keluar dari hidungnya.
Johan panik. Mendadak dadanya terasa sangat nyeri. Johan pun roboh.
“Sin… ta, tolong…,” gumam Johan dengan suara lemah dan mata mulai terpejam. Napasnya makin berat.
Sinta menoleh. “Sialan, sepertinya dia mau mati. Cepat kita pergi dari sini!”