

Bab 1. Perubahan yang Mengejutkan
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar, menyinari sosok pemuda yang sedang berdiri diam mematung di depan cermin berdiri penuh. Arka Pratama masih belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tangannya bergerak perlahan menyentuh permukaan pipinya sendiri, merasakan tekstur kulit yang halus dan kenyal, jauh berbeda dari kulit yang dulu agak kusam dan berbekas jerawat kecil.
"Wah... ini benar-benar aku?" gumamnya pelan, matanya tak berkedip menatap pantulan di kaca.
Tubuhnya yang dulu kurus kering seperti tiang listrik kini berubah drastis. Otot-otot terbentuk sempurna di bagian lengan, dada, dan perut, tidak terlalu besar seperti binaragawan, tapi cukup untuk memberikan kesan atletis dan kuat. Wajahnya yang dulu datar dan biasa saja, kini memiliki garis rahang yang tegas dan maskulin, hidung yang terlihat lebih mancung, dan sepasang mata yang tajam namun teduh, seolah menyimpan karisma yang luar biasa.
Ding!
[Status Host Stabil. Semua atribut dasar telah ditingkatkan ke level optimal.]
[Tubuh host kini bersih dari racun dan kotoran. Fisik mendekati batas maksimal manusia biasa.]
Suara sistem kembali terdengar jelas di kepalanya. Arka menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan jantung yang berdegup kencang karena kegirangan. Rasa percaya diri yang selama ini hilang tertimbun rasa minder, kini kembali penuh mengisi seluruh ruang di dadanya. Ia merasa bisa melakukan apa saja sekarang.
"Arka! Cepetan bangun nak! Nanti telat lho masuk sekolah!" teriak suara Ibu dari luar pintu, disertai ketukan pelan.
"Iya, Bu! Sebentar lagi siap! Arka langsung keluar kok!" jawab Arka.
Suaranya pun berubah, terdengar lebih berat, beratapan, dan sangat berwibawa. Tidak lagi terdengar seperti suara remaja yang cengeng atau penakut.
Arka cepat-cepat mengenakan seragam putih abu-abunya. Saat kemeja itu menempel di tubuhnya, terlihat sangat pas dan menawan. Seolah-olah seragam itu didesain khusus oleh penjahit profesional hanya untuknya. Bahkan dasi yang biasa ia ikat sembarangan kini terlihat rapi dan keren begitu dikenakannya.
Sesampainya di gerbang sekolah SMA Harapan, suasana pagi itu terasa sangat berbeda bagi Arka. Banyak siswa yang sibuk berlalu lalang, ada yang mengobrol, tertawa, atau bahkan berlari kecil karena takut terlambat masuk kelas.
Arka berjalan santai memasuki area sekolah dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Awalnya ia berpikir tidak ada yang aneh, tapi perlahan-lahan, satu per satu kepala mulai menoleh ke arahnya.
"Eh... cowok itu siapa sih? Kok gak pernah liat sebelumnya?"
"Ganteng banget ya ampun... Siswa baru ya pindahan?"
"Wah, badannya keren banget, posturnya tegap gitu."
"Aduh, jantungku... kok bisa ganteng banget sih?"
Bisik-bisik itu mulai terdengar jelas di telinga Arka. Ia mencoba tetap tenang dan memasang wajah cool, meski sebenarnya di dalam hati ia sedang meledak kegirangan. Wah, efeknya sebesar ini rupanya, batinnya bersorak.
Tiba di depan kelas 11-A, Arka menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Begitu kakinya melangkah melewati ambang pintu, suasana di dalam kelas yang tadinya riuh rendah langsung hening seketika. Semua mata tertuju padanya. Beberapa cewek bahkan sampai menutup mulut menahan kaget.
Di bangku paling belakang, tempat biasa ia duduk, sudah ada seorang gadis cantik dengan rambut dikuncir dua yang sedang asyik memainkan HP sambil mengunyah permen karet. Cewek itu Mikaela Chen, teman sebangku sekaligus teman masa kecilnya yang paling dekat.
"Pagi, Mika," sapa Arka dengan lembut, ia meletakkan tasnya di atas meja.
Mika mendongak, matanya masih fokus melirik layar HP.
"Pagi juga. Eh, kok suaranya beda ya? Dalem gitu... Eh?"
Mika menghentikan ucapannya. Ia menatap wajah Arka lekat-lekat. Kedua matanya perlahan membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka menahan kaget. Tangannya yang memegang HP sampai terjatuh ke meja.
"E-eh... Maaf, Mas... Mas siapa?" tanya Mika terbata-bata, wajahnya mulai memerah. "Kamu salah duduk kali ya? Ini tempat temanku, Arka. Kamu pasti murid pindahan kan?"
Arka terkekeh pelan melihat reaksi Mika yang polos dan lucu.
"Mas apanya? Ini aku, Mik. Arka temen main kamu dari kecil itu lho. Yang dulu sering diajarin main layangan, inget gak?"
"Hah?! ARKA?!" Mika berteriak keras membuat seluruh kelas kembali menengok. "Gak mungkin! Masa iya?! Kamu beneran Arka Pratama? Jangan bercanda deh, kamu nyamar ya?!"
"Iya dong, masa bohong," Arka tersenyum lebar, menampilkan lesung pipi yang kini terlihat sangat manis dan menawan. "Kenapa? Aku berubah banget ya sampe kamu gak kenal?"
"Bukan berubah banget lagi, Ka!" Mika masih mengucek matanya sendiri berkali-kali, memastikan ini bukan mimpi atau halusinasi. "Kamu... kamu jadi ganteng banget sumpah! Wajah kamu jadi tajam gitu, terus kulit kamu bersih banget polos! Terus... terus badan kamu kok jadi kekar dan tinggi gitu? Kamu abis dari mana aja semalem?!"
"Ya mungkin ajaib kali, Mik. Tadi pagi bangun tidur tiba-tiba rasanya enak badan banget, terus pas liat cermin ya udah gini deh," jawab Arka berbohong sedikit dengan santai, tentu saja ia tidak bisa menceritakan soal keberadaan sistem yang ada di dalam kepalanya.
"Gila... ini keajaiban alam apa gimana sih?" Mika geleng-geleng kepala tak percaya, tapi matanya kini berbinar-binar memandang Arka.
Ada rasa bangga, kaget, dan juga rasa suka yang tiba-tiba melonjak tinggi di hatinya.
"Tapi serius deh Ka, sekarang kamu keren banget. Aku jadi deg-degan dan salah tingkah nih liatnya."
Arka tertawa renyah, "Makasih ya. Yuk siap-siap buka buku, kayanya Bu Guru mau masuk deh itu."
Tidak lama kemudian, guru mata pelajaran Matematika, Bu Susi, masuk ke dalam kelas. Wajahnya yang biasanya tegas, kaku, dan galak membuat suasana kelas langsung menjadi kaku dan mencekam.
"Baik anak-anak, harap tenang. Hari ini kita akan ada ulangan harian mendadak. Buku tulis dibuka, soalnya saya tulis di papan tulis. Kerjakan dengan jujur," ucapnya datar.
Seluruh kelas mengeluh serentak. Matematika adalah momok bagi kebanyakan siswa. Mika langsung menyenggol lengan Arka pelan, wajahnya cemas.
"Yaah, ulangan mendadak sih. Gimana nih Ka? Aku belum belajar sama sekali materi kemaren. Kamu gimana? Pasti bingung juga kan soalnya rumit banget gitu?" bisik Mika pelan agar tidak didengar Bu Susi.
Arka tersenyum sangat santai. Ia ingat jelas statusnya tadi pagi, Kecerdasan (INT): 9 ⭐ (Jenius).
"Tenang aja, Mika. Aku rasa gampang kok. Nanti aku bantu liatin dikit juga gak apa-apa," jawab Arka santai.
"Yah, kamu bisa aja ngelucu. Dulu matematika juga pas-pasan lho nilainya, sekarang sok jago," Mika mendelik kecil, tapi tetap tersenyum.
Bu Susi mulai menuliskan soal-soal yang terlihat sangat rumit dengan angka-angka dan rumus panjang yang membingungkan. Siswa lain mulai mengerutkan dahi, ada yang menggaruk kepala yang tidak gatal, ada yang hanya menatap papan tulis dengan kosong.
Namun, berbeda dengan Arka. Begitu melihat soal itu, otaknya bekerja dengan sangat cepat dan efisien. Rumus-rumus yang dulu sulit diingat kini seolah sudah hafal di luar kepala. Langkah penyelesaiannya muncul begitu saja di pikirannya seperti video yang diputar dengan jernih.
Arka mengambil pulpen, dan mulai menulis. Trak trak trak trak!
Gerakannya sangat cepat, yakin, dan tulisannya sangat rapi. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, lembar jawabannya sudah penuh tertulis angka-angka dan logika yang sempurna.
"Wah, cepet banget nulisnya Ka. Pasti asal comot dan coret aja, ya?" ledek Mika yang masih bingung mengerjakan soal nomor satu.
"Nanti aja liat hasilnya, yang penting kamu kerjain yang bener," Arka menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Mika dengan senyum penuh percaya diri yang membuat hati Mika berdebar lagi.
Setelah waktu habis, Bu Susi mulai mengumpulkan kertas jawaban. Karena ingin cepat memeriksa, ia mengambil beberapa kertas acak untuk dikoreksi di depan kelas.
"Hmm, jelek. Nilai 40. Kalian ini belajar nggak sih? Rumus dasar aja salah," komentar Bu Susi dingin.
Bu Susi kemudian mengambil kertas berikutnya. Wajahnya yang datar tiba-tiba berubah terkejut. Kacamatanya didorong ke atas, matanya menyipit membaca jawaban demi jawaban dengan teliti.
"Ini... siapa yang ngerjain ini?" tanya Bu Susi.
"Arka Pratama, Bu," jawab ketua kelas dengan lantang.
"Arka? Arka yang mana?" Bu Susi mencari-cari dengan pandangan matanya.
"Itu lho, Bu. Yang duduk sama Mika di belakang," tunjuk salah satu siswa.
Semua kepala kembali menoleh ke arah Arka. Bu Susi berjalan mendekat ke meja mereka, wajahnya masih tampak tak percaya.
"Kamu Arka?" tanya Bu Susi ragu. "Kok penampilanmu berubah drastis banget? Apa kamu sakit kemaren?"
"Iya Bu, saya Arka. Alhamdulillah sehat kok Bu," jawab pemuda itu sopan dan tenang.
Bu Susi menggelengkan kepala lalu kembali melihat kertas jawaban di tangannya.
"Sungguh luar biasa... semua jawaban benar seratus persen. Langkah penyelesaiannya rapi, logis, dan bahkan kamu pakai cara alternatif yang jauh lebih cepat dan rumit tapi akurat. Nilai kamu... NILAI SERATUS!"
BRUK!
Seakan ada petir yang menyambar di dalam kelas. Mika sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melotot tak percaya sampai hampir keluar.
"Gila... Seratus? Beneran seratus, Ka?!" seru Mika tak bisa menahan diri.
Bu Susi tersenyum sangat lebar, sangat jarang ia tersenyum selebar itu kepada muridnya.
"Hebat, Arka! Sungguh kejutan besar buat Ibu. Kamu jenius matematika ya, ternyata selama ini disembunyiin!"
Arka hanya mengangguk sopan sambil tersenyum, "Terima kasih, Bu."
Saat keributan kecil itu terjadi, Arka tidak sadar bahwa dari arah koridor luar, sepasang mata indah yang tajam dan dingin sedang memperhatikannya dari balik jendela.
Sepasang mata itu milik Freya Nathania, Ketua OSIS yang terkenal cantik, dingin, dan angkuh. Biasanya ia tidak pernah peduli pada urusan siswa lain, tapi hari ini, langkah kakinya terhenti total. Ia menatap Arka dengan alis terangkat tinggi, seolah bertanya-tanya dalam hati... siapa pemuda tampan dan luar biasa itu?
Baru saja Arka berhasil membuat seluruh kelas takjub dan Bu Guru memujinya, tiba-tiba suara dingin sistem kembali berbunyi nyaring di kepalanya.
Ding!
[Misi Baru Telah Tersedia!]
[Tugas Utama: Buat Freya Nathania tersenyum tulus padamu dalam waktu 1x24 jam!]
[Hadiah: Poin Atribut +5 & Skill Khusus: Voice of Charmer!]
[Sanksi Gagal: Semua atribut tubuh akan dikurangi setengahnya selama seminggu!]
Mata Arka terbelalak lebar, keringat dingin langsung mengalir di pelipisnya.
"Hah?! Bikin si Ice Princess senyum? Cewek yang ketawa aja jarang itu?! Ini misi bunuh diri apa gimana sih?!"