

Kring!!!
Suara Bell berbunyi SMA Alpha Academy, yang memiliki dua waktu dalam berbunyi nya, yaitu saat masuk sekolah dan pulang sekolah. Bunyi lonceng itu, serasa seperti panggilan lonceng kematian - katanya biar seluruh siswa selalu ingat waktu di SMA Alpha Academy itu sangatlah mahal.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Gandar Maganta - siswa berprestasi anak dari pembersih sekolah. Bagi Gandar, suara lonceng itu serasa seperti tanda penderitaan dimulai yang akan datang esok hari atau menunggu sebuah penderitaan.
Jam masuk sekolah adalah pukul 07.00 pagi, namun Gandar sudah lebih dulu hadir. Yaitu pukul 05.30 karena membantu pekerjaan bapak nya yang bekerja sebagai penjaga sekolah. Seperti membuka gerbang, menyapu seluruh kelas, membersihkan sampah, dan mengepel serta membersihkan jendela - jendela yang berdebu. Rutinitas itu dilakukannya setiap hari bersama bapak nya.
Seragam nya berwarna putih dan hitam, bergaris emas, di bagian kantung dan kerah blazernya, namun bedanya milik Gandar bukanlah seragam baru melainkan seragam bekas dari anak nya Kepala Sekolah, yang sudah lulus dua tahun yang lalu. Di bagian nama nya tertulis nama 'Buyung' - nama anak Kepala Sekolah sehingga semua senior memanggilnya Buyung bukan Gandar.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.40, salah satu ketua osis, yang bernama Davino, anak seorang pejabat yang merupakan salah satu Menteri di pemerintahan yang sering menyuruh Gandar ini dan itu. Pagi ini dia seperti biasa menjadikan Gandar sebagai budaknya.
"Woi Buyung sini, lo! Tinggalin sapu nya, tolongin gue.!" Pinta Davino pada Gandar dengan arogan
Gandar yang belum selesai menyapu segera menjatuhkan sapu nya dan mendekat ke arah Davino, "Ya Vino ada apa?"
"Pake nanya lagi lo, pura - pura bego apa pura - pura lupa tugas lo. Lo kan lihat tadi Gue udah sampe sekolah ngapain bengong aja lo!. Gue capek buruan bawain tas ke kelas. Udah di kasih tahu masih bego aja."
Pak Asep dari kejauhan hanya mengelus dada, melihat anak nya dijadikan budak sekolah. Tetapi apa mau dikata, dia tidak berdaya karena hanya rakyat kecil.
"Heh..malah diem lagi, cepetan bawain ke kelas lelet banget sih!" Pinta Vino sembari memberikan tas nya dengan kaki nya
"Ya Bang."
"Gandar bin Buyung, Nih ambil uang lelah lo," Vino mengeluarkan selembar uang kertas sebesar dua puluh ribu, namun tidak diberikan secara baik - baik, melainkan dilempar ke arah wajahnya Gandar.
"Makasih Bang," jawab Gandar sembari memungut uang dua puluh ribu itu dari bawah.
"Nah gitu, budak itu kalau nerima uang memang cocoknya harus mungut dari tanah, paham lo!"
"Ya bang ini saya bawain tas ini dulu ke kelas Bang Vino..."Jawab Gandar sembari membetulkan kacamata nya
"Ya udah sana bawain, dan inget jangan sampai kena debu ya tas gue.."
"Kelas udah bersih koq Bang, tenang aja."
"Bagus deh, lo sama Bapak lo memang jagonya kalau jadi budak sekolah."
Sosok Vino memang tidak ada satu pun yang berani melawannya sekali pun itu Kepala Sekolah, karena salah bersikap saja siapapun bisa menderita. Karena Bapaknya Menteri terkuat, dan memiliki banyak aset serta selaku pemilik Saham terbesar di SMA Alpha Academy.
Setelah menaruh tas nya Vino, tak lama mobil Jeep mewah masuk halaman sekolah. Siapa lagi kalau bukan- si paling telat datang - Renno. Anak pemilik Hotel Austin yang juga memiliki saham 20 persen di SMA Alpha Academy yang juga sering memperbudak Gandar.
Melihat Renno datang, Gandar yang sudah tahu tugasnya, segera mengambil kanebo dan pewangi sepatu. Seperti biasa dia jongkok sembari membersihkan sepatu nya Renno. "Ehh budak gue, udah pinter ya sekarang yang bersih ya. inget... sepatu gue jangan sampe berdebu."
"Siap Bang Renno, tas nya apa mau di bawain?" Tanya Gandar pada Renno
"Nggak usah! Lo bawain aja ini semua buku paket gue, ambil di bangku belakang mobil terus bawain ke kelas ya buruan!"
Renno adalah senior kedua, salah satu geng dengan Davino dia murid yang dikenal sebagai raja telat namun pulang lebih cepat. Sosok Reno ini juga kebal hukum dan tidak ada juga yang berani memberikan teguran buatnya karena takut dengan kekuasaan Bapaknya .
Selang lima menit kemudian, senior ketiga - Ferro. Anak dari pemilik showroom mobil supercar termewah yang terkenal dengan playboynya Alpha Academy, setiap datang selalu membawa perempuan - siswi cantik yang digadang menjadi pacarnya. Dan tanpa sungkan begitu berani berciuman dengan tiga pacarnya, Ferro pun sama sering menyiksa Gandar dengan menyuruh Gandar membelikan kondom untuk dia meniduri pacar - pacar sexy nya - siswi tercantik di sekolah.
Ferro melangkah masuk ke halaman Alpha Academy dengan gaya khasnya, percaya diri yang begitu berlebihan seolah seluruh dunia memang sudah menjadi miliknya. Tawa ringan para siswi yang mengelilinginya terdengar seperti gema yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi. Namun di balik sorotan itu, ada bayangan yang tak pernah benar-benar hilang: Gandar.
Gandar berdiri di dekat loker, berpura-pura sibuk merapikan buku. Ia tahu, cepat atau lambat, Ferro akan melihatnya. Dan benar saja, hanya dalam hitungan detik, tatapan tajam itu mengunci dirinya.
“Eh, Gandar, sini lo!” panggil Ferro santai, tapi nada suaranya menyimpan perintah yang tak bisa ditolak.
Gandar menoleh perlahan. “Iya ada apa Bang Fero?”
Ferro mendekat, diikuti dua temannya yang tersenyum sinis. “Seperti biasa. Gue butuh bantuan lo.”
Kata “bantuan” dari Ferro selalu berarti masalah. Gandar menelan ludah, tapi tetap mengangguk. Ia sudah terlalu sering berada di posisi ini, tak punya pilihan selain menurut.
Namun hari itu terasa berbeda. Saat Gandar hendak melangkah mendekat, sebuah suara lain memotong suasana. “Kenapa harus dia terus?”
Semua kepala menoleh. Seorang siswi berdiri tak jauh dari sana - Aruna. Tatapannya tajam, berbeda dari yang lain. Tidak ada rasa takut, apalagi kagum pada Ferro.
Ferro mengangkat alis. “Ini urusan gue. Lo nggak perlu ikut campur.”
Aruna melipat tangan. “Kalau urusan lo selalu nyusahin orang lain itu juga bakalan jadi urusan semua orang, termasuk gue.”
Suasana mendadak hening. Beberapa siswa mulai berbisik seolah tak percaya ada yang berani menantang Ferro secara langsung. Gandar sendiri terdiam. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang jarang ia rasakan yaitu sebuah harapan.
Ferro tersenyum tipis, tapi kali ini ada sedikit ketegangan di wajahnya. “Lo berani juga.”
Aruna tidak mundur sedikit pun. “Bukan berani. Cuma muak.”
Beberapa detik terasa panjang. Lalu Ferro menghela napas, seolah menahan sesuatu. “Santai aja. Gue cuma bercanda.”
Ia menepuk bahu Gandar, kali ini tanpa tekanan seperti biasanya. “Lain kali aja.”
Ferro berbalik pergi bersama rombongannya, meninggalkan keheningan yang aneh. Orang-orang mulai bubar, tapi pandangan mereka masih tertuju pada Aruna dan Gandar.
Gandar menatap Aruna, bingung sekaligus kagum. “Kenapa kamu bantuin aku?”
Aruna mengangkat bahu ringan. “Karena kalau nggak ada yang mulai, semuanya bakal terus kayak gini.”
Untuk pertama kalinya, Gandar merasa sesuatu berubah. Mungkin kecil, mungkin belum berarti apa-apa. Tapi setidaknya, hari itu, ia tidak lagi merasa sendirian.