

"Aku menolak isi wasiat itu."
Suara berat William Nathaniel memantul di dinding ruang keluarga yang selama puluhan tahun menjadi saksi lahirnya keputusan-keputusan besar keluarga Nathaniel.
Ruangan itu begitu megah. Langit-langitnya menjulang tinggi dengan lampu kristal yang menggantung tepat di tengah, sementara dinding-dinding kayu mahoni dipenuhi foto para pendahulu keluarga Nathaniel. Di ujung ruangan, potret besar Richard Nathaniel, pendiri Nathaniel Group menatap semua orang dengan sorot mata yang seolah masih hidup.
Namun pagi itu, tak seorang pun memedulikan kemegahan ruangan. Semua perhatian tertuju pada selembar dokumen yang baru saja ditutup oleh notaris keluarga.
Suasana berubah sunyi. Kesunyian yang terasa menyesakkan. Tak ada suara selain denting pelan jam antik yang berdiri di sudut ruangan.
William berdiri dengan kedua telapak tangan bertumpu di atas meja panjang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, sementara tatapannya tak pernah lepas dari pria tua berkacamata di hadapannya.
"Itu tidak masuk akal," ucapnya lagi, kali ini lebih pelan. Namun justru nada tenang itulah yang membuat kemarahannya terasa lebih nyata.
"Selama lebih dari dua puluh lima tahun aku mengabdikan hidupku untuk Nathaniel Group. Aku ada saat perusahaan ini nyaris bangkrut. Aku yang menemui investor. Aku yang menenangkan para pemegang saham ketika keadaan kacau. Dan sekarang kau mengatakan semua itu diberikan kepada anak yang bahkan belum genap tiga puluh tahun?"
Notaris itu mengembuskan napas pelan. "Pak William, saya hanya menjalankan amanat almarhum."
"Amanat?" William terkekeh hambar.
"Amanat macam apa yang mengabaikan orang yang membangun perusahaan ini?"
Tak ada jawaban. Bukan karena notaris itu tak mampu menjawab. Melainkan karena siapa pun yang berada di ruangan itu tahu, isi surat wasiat tidak dapat diubah hanya karena seseorang merasa tidak puas.
Di sisi lain meja, Adrian Nathaniel masih duduk dalam diam. Setelan hitam yang membalut tubuhnya tampak rapi tanpa cela. Kedua tangannya bertaut santai di atas pangkuan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi, seolah keributan di depannya tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Padahal nama yang baru saja dibacakan adalah miliknya.
'Seluruh saham pengendali Nathaniel Group beserta jabatan CEO diserahkan kepada putra tunggal saya, Adrian Nathaniel.' Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala semua orang.
Leon Nathaniel melirik sepupunya dari seberang meja. Ia berharap menemukan sedikit saja tanda keterkejutan. Namun yang ia lihat justru sebaliknya. Adrian tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menerima kekuasaan bernilai triliunan rupiah.
"Kau sudah tahu soal ini?" Pertanyaan Leon memecah keheningan. Seluruh kepala kembali menoleh kepada Adrian. Tatapan mereka dipenuhi kecurigaan.
Adrian mengangkat matanya perlahan. "Tidak," jawabnya singkat. "Aku mendengarnya untuk pertama kali bersama kalian."
William mendengus. "Kebohongan yang buruk."
"Aku tidak berkewajiban membuat Om percaya." Kalimat itu meluncur begitu saja. Datar tanpa emosi. Tapi cukup membuat otot di wajah William menegang. Untuk sesaat, tak ada yang berbicara. Udara di ruangan terasa semakin berat.
Di luar jendela, angin pagi menggerakkan dedaunan taman milik keluarga Nathaniel. Semuanya tampak begitu damai. Berbanding terbalik dengan perang yang baru saja dimulai dalam rumah itu.
William menarik napas panjang sebelum kembali membuka suara. "Edward pasti dipengaruhi seseorang sebelum meninggal." Ucapan itu membuat beberapa anggota keluarga saling berpandangan.
"Kalau tidak, mustahil ia mengambil keputusan sebodoh ini."
Adrian perlahan berdiri dari kursinya. Tidak tergesa dan tidak pula menunjukkan amarah. Ia merapikan ujung jasnya lebih dulu sebelum menatap pamannya.
"Papa bukan orang yang mudah dipengaruhi."
"Itu menurutmu."
"Itu kenyataannya."
Tatapan keduanya saling mengunci. Tak ada teriakan atau saling dorong. Semua orang bisa merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan.
William mengenal Adrian sejak kecil. Ia tahu keponakannya itu bukan anak yang banyak bicara. Tetapi justru itulah yang membuatnya sulit ditebak.
"Kau pikir perusahaan sebesar Nathaniel Group bisa dipimpin oleh seseorang yang baru belajar menjadi direktur?"
"Aku tidak pernah bilang itu mudah."
"Lalu?"
"Aku hanya akan menjalankan keputusan Papa." William tersenyum tipis. Senyuman yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Kalau begitu dengarkan aku baik-baik." Ia melangkah mendekat hingga hanya tersisa satu langkah di antara mereka.
"Jabatan itu tidak akan bertahan lama di tanganmu."
Ruangan kembali sunyi. Adrian tidak mundur dan tatapannya tetap lurus. "Apa Om sedang mengancamku?"
"Bukan." William menggeleng pelan. "Aku hanya sedang mengingatkan."
Ia mencondongkan tubuh sedikit. "Perusahaan itu tidak hanya membutuhkan nama Nathaniel." Suaranya terdengar semakin pelan.
"Perusahaan itu membutuhkan orang yang benar-benar mampu memimpinnya."
Adrian menatap wajah pamannya beberapa saat. Tidak ada perubahan raut di wajahnya. Namun sorot matanya perlahan mengeras.
"Kalau begitu..." Ia berhenti sejenak. "Biarkan waktu yang membuktikannya."
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi justru membuat William kehilangan senyumannya. Karena untuk pertama kalinya pagi itu, ia menyadari sesuatu. Anak muda yang selama ini dianggap hanya bayang-bayang Edward Nathaniel, ternyata memiliki tatapan yang sama persis dengan ayahnya. Dingin, sulit ditebak dan nyaris mustahil digoyahkan.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu memecah suasana. Semua orang menoleh bersamaan. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk dengan langkah cepat. Ia adalah Dion, sekretaris pribadi Edward Nathaniel selama belasan tahun. Raut wajahnya tampak jauh dari tenang.
"Maaf mengganggu." Ia sempat mengangguk hormat kepada seluruh anggota keluarga sebelum akhirnya memandang Adrian.
"Pak Adrian..." Ada keraguan dalam suaranya. Seolah apa yang akan ia sampaikan bukan sekedar kabar biasa.
"Direksi Nathaniel Group sudah berkumpul di kantor pusat."
Adrian mengangguk pelan. "Mereka meminta saya datang?"
Dion tidak langsung menjawab. Ia justru menundukkan kepala sesaat. "Lima belas menit yang lalu mereka mengadakan rapat darurat."
William tertawa kecil. Tawa yang terdengar penuh kemenangan. "Aku sudah menduganya."
Adrian mengalihkan pandangan kepada Dion. "Apa isi rapat itu?"
Sekretaris itu menarik napas panjang. Kemudian, dengan suara pelan yang membuat seluruh ruangan kembali membeku, ia berkata,
"Beberapa anggota dewan mengajukan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Anda."
Dion berhenti sesaat. Tatapannya dipenuhi kekhawatiran. "Dan mereka meminta pemungutan suara dilakukan hari ini juga."
Hening. Tak ada satu pun yang bersuara. William merapikan jasnya sambil tersenyum tipis. "Selamat datang di medan perang, Adrian."
Ia berjalan melewati bahu keponakannya tanpa menoleh sedikit pun. Namun tepat sebelum keluar dari ruangan, langkahnya terhenti.
"Papamu mungkin berhasil menjadikanmu seorang pewaris." William memalingkan wajahnya sedikit.
"Tapi menjadi pewaris, bukan berarti kau mampu mempertahankan kedudukan itu."
Pintu tertutup. Suara langkah William menghilang dibalik lorong panjang. Adrian tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya perlahan beralih ke surat wasiat yang masih tergeletak di atas meja.
Baru beberapa menit lalu ia resmi menjadi CEO Nathaniel Group. Dan kini seseorang sudah berusaha merebut kursi itu darinya.