Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dipaksa Sistem Jadi Suami Idaman

Dipaksa Sistem Jadi Suami Idaman

Tami Chan | Bersambung
Jumlah kata
34.1K
Popular
2.2K
Subscribe
343
Novel / Dipaksa Sistem Jadi Suami Idaman
Dipaksa Sistem Jadi Suami Idaman

Dipaksa Sistem Jadi Suami Idaman

Tami Chan| Bersambung
Jumlah Kata
34.1K
Popular
2.2K
Subscribe
343
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalPecundang Pria MiskinSistem
Jaka Aditya adalah budak korporat berusi 27 tahun. Miskin, kesepian, jomblo ngenes seumur hidup. Suatu malam saat lembur, dia mengintip teman kerjanya yang sedang bercocok tanam dan mendapatkan serangan jantung dan mati, tapi dia malah terbangun kembali dalam tubuh seorang pria desa bernama Jaka Kelana. Jaka Kelana adalah pria miskin, toxic, pemabuk, pemukul dan penjudi. Istri cantiknya -Melati, hidup dalam ketakutan dan dua anaknya membencinya. Lalu sebuah sistem muncul; *Mandatory Kidnes System* [Buat Istrimu tersenyum, atau kau akan gatal sebadan!] Dipaksa berbuat baik, dan tak bisa menolak, Jaka Aditya pun menurut. Sudah dipaksa, dijadikan orang miskin, ditambah tanggung jawab menghidupi istri dan dua anak yang bukan anaknya, tentu saja Jaka Aditya kesal. 'Dasar sistem gila'! kesalnya. Bagaimanakah kehidupan Jaka Aditya selanjutnya? dari budak korporat yang biasa hidup di kota besar, berubah menjadi Jaka Kelana yang hidup miskin di desa terpencil?
Bab 1. Karma karena ngintip

Jam menunjukkan pukul 22.37.

Jaka mengucek matanya untuk kesekian kalinya. Layar laptop di depannya masih setia menampilkan spreadsheet yang tak berujung. Angka-angka. Selalu angka-angka. Jaka bahkan lupa kapan terakhir kali dia melihat sesuatu selain angka.

Di kantornya yang adalah sebuah perusahaan konsultan ternama di Jakarta, Jaka adalah bagian dari tim kreatif. Tapi sejatinya, dia hanya mengolah data. Data yang kalau salah satu angkanya meleset, dia akan dimarahi atasannya. Dan data yang kalau benar, bosnya yang dapat pujian.

“Jaka… Jaka… udah nama kampungan, otak bebal, kerja nggak becus! Miskin, nggak punya pacar, komplit banget penderitaanmu. Tapi ya, mau bagaimana lagi, memang kau ditakdirkan hidup seperti ini, hahaha…”

Hinaan seperti itu selalu keluar dari mulut atasanannya, tapi Jaka selalu bersabar. Ya, orang miskin macam dirinya, apalagi yang dia punya selain rasa sabar? Karena kalau dia mengikuti egonya untuk marah, dia tak akan bisa hidup. Marah nggak menghasilkan uang, Marah nggak bikin kenyang. Jadi untuk apa marah? Lebih baik Jaka telan mentah-mentah semua perasaan nggak penting itu. Karena bertahan hidup di kota besar memang harus se-struggle ini.

Jaka menarik napas panjang. Kopi di meja sudah dingin. Dia lupa kapan terakhir dia enjoy minum kopi panas.

Di luar, hujan rintik-rintik. Bus terakhir sudah lewat 20 menit lalu. Jaka tahu itu. Dia selalu tahu jadwal bus pulang, karena dia hampir selalu ketinggalan.

Besok gue minta lembur lagi. Nggak pulang juga nggak apa-apa. Di kos juga sepi cuma sendiri” batin Jaka. Ya, sudah hampir tiga hari, Jaka tak pulang ke kost-nya. Dia membawa beberapa lembar baju, dan selalu tidur di pantry jika lembur dan tak bisa pulang karena ketinggalan bus. Tapi lama-lama Jaka jadi merasa betah, karena dia tak perlu mengeluarkan ongkos untuk naik bus. Ada air panas, kopi dan teh gratis pun tersedia. Bukankah ini surga? Kantor sekarang menjadi rumah kedua Jaka.

Jaka bangkit dari kursinya. Matanya perih. Mungkin dia perlu ke toilet, mencuci muka. Atau mungkin dia hanya perlu berjalan sebentar agar tidak mati di depan laptop.

Lorong kantor sudah gelap. Hanya lampu darurat yang menyala temaram. Sepatu pantofel Jaka yang sudah mulai rusak di ujungnya berdecit pelan di lantai marmer.

Lalu --dari ujung lorong-- Jaka melihat cahaya terang dari sebuah ruangan.

Ruangan Brian.

Jaka kenal ruangan itu. Itu ruangan yang dulu berisi tiga cubicle. Jaka pernah menempati salah satu cubicle itu ketika dia masih karyawan baru lima tahun yang lalu, bersama brian dan satu lagi temannya. Tapi setelah Brian jadi manager, ruangan itu direnovasi jadi ruangan pribadi –hanya untuknya. Jaka tahu karena dia sendiri yang dulu mengangkut barang-barang Brian ke ruangan itu. Atas perintah Brian.

Jaka seharusnya lewat. Tapi kakinya berhenti.

Dia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.

Di dalam, ada Brian dengan kemeja putih yang sudah tak rapi lagi, dia sedang duduk di kursi kerjanya. Tapi dia tak sedang bekerja. Di pangkuannya duduk Melani. Asisten Direktur. Wanita berusia 30 tahun dengan senyum yang bisa membuat karyawan pria gemetar -tapi tidak pernah sekalipun tersenyum ke Jaka.

Jaka menelan ludah kasar, saat melihat interaksi yang terlihat tak biasa antara Brian dan Melani.

Brian tertawa pelan. Tangannya memegang pinggang Melani.

"Kamu tahu, sayang," kata Brian. "Setelah proyek ini selesai, posisi kepala divisi itu pasti aku yang dapet, kan? Tapi aku butuh rekomendasi dari kamu. Kamu kan asisten direktur?"

Melani tertawa manja. "Tentu, sayang. Semua untukmu."

Lalu mereka berciuman dengan sangat mesra dan lama-lama berubah ritme. Melani mengganti posisi duduknya hingga kini berhadapan dengan Brian. Rok super mininya terangkat sempurna –sayangnya Jaka tak bisa mlihat yang lainnya karena tertutup meja kerja Brian. Tapi gerakan mereka yang seirama –sudah cukup membuat Jaka mengerti jika kedua orang itu sedang asyik bercocok tanam tanpa melihat situasi di mana mereka berada saat ini. Mereka begitu santainya melakukan hal tak senonoh itu di sini –di kantor yang sepi.

Jaka menelan salivanya saat menonton adegan yang kadang muncul di dalam mimpinya. Ya, untuk ukuran lelaki umur 27 tahun, Jaka adalah pemula alias noob untuk urusan asmara, apalagi bercumbu seperti itu. Dia jomblo akut sejak lahir hingga sekarang. Pelariannya selama ini hanyalah menonton video-video hot di ponselnya. Belum pernah mengalaminya secara langsung, tapi saat ini dia malah menontonnya secara langsung, jadi Jaka tak bisa membendung rasa penasarannya, dan nekat terus mengintip.

Brian membuka paksa kancing baju Melani, melepaskan sebuah bra warna hitam tanpa kesulitan sama sekali, setelah itu bermain-main dengan gundukan yang terlihat menggoda, dia mendekat, menyusu seperti bayi, sambil menggerakkan pinggulnya naik turun. Diatasnya Melani melenguh panjang, tubuhnya melengkung kebelakang sambil terus menjerit keenakan.

Lagi-lagi Jaka menelan salivanya –pahit. Jantungnya berdebar hebat. Ada sebuah perasaan aneh menjalari tubuhnya, dan sesuatu di bawah sana yang terasa sesak.

Rasa iri pada Brian yang dulu pernah dia rasakan karena Brian bisa secepat itu naik jabatan, kini kembali Jaka rasakan. Iri karena Brian –sudah memiliki jabatan tinggi, ditambah memiliki kekasih cantik dan seksi. Ya walaupun lebih tua tiga tahun, tapi itu bukan masalah kan? Yang penting saling suka.

Sedangkan dia sendiri, masih berkutat sebagai pesuruh –jabatan paling rendah, tak ada kekasih dan tetap miskin.

Tiba-tiba Jaka merasa dadanya berdebar. Bukan karena cemburu, tapi kesal –marah pada nasibnya sendiri.

Dulu sama-sama training. Dulu sama-sama makan Indomie di pantry. Sekarang dia di sini, punya ruangan, punya wanita, punya jabatan. Gue? Gue masih di cubicle, masih numpang bus, masih sendiri.

Jaka menggenggam tangannya. Kukunya menusuk telapak tangan.

Kenapa nasib gue kayak gini, ya? Kenapa gue nggak bisa seperti dia...

Tangannya yang gemas tanpa sengaja menyenggol pot bunga besar di sebelah pintu.

"KRAAAAK!"

Pot jatuh. Tanah berserakan. Bunga krisan putih itu rebah di lantai.

Jaka kaget. Mundur. Tapi sayang, kakinya terpeleset genangan air dari pot pecah.

"BUK!"

Kepalanya membentur lantai marmer. Sakit. Sakit banget.

Tapi sakit di kepala tak sebanding dengan sakit di dadanya. Jantungnya berdebar dug-dug-dug-terlalu cepat. Terlalu keras. Seperti mau meledak.

"Serangan... jantung..."

Jaka meraba dadanya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Di dalam ruangan, Brian dan Melani berbalik. Wajah mereka panik. Buru-buru merapihkan baju mereka yang berantakan.

“Siapa itu!” sentak Brian dari dalam ruangan.

Tapi suara mereka terdengar jauh. Sangat jauh.

Pandangan Jaka gelap.

"Mampus... mati di sini... sendirian..."

"Nggak ada yang bakal nangisin gua..."

Lalu-dalam kegelapan itu- terdengar suara. Asing. Misterius. Seperti bisikan dari jauh.

[Tidak... ada yang menunggumu di tempat lain...]

“Hah? Apa?”

Lanjut membaca
Lanjut membaca