

“Dito... jangan di situ. Aku sudah tidak bisa menahannya!”
Suara desahan menggema di setiap sudut kamar, sepasang kekasih tengah dimabuk gairah.
“Tahan sebentar, aku sebentar lagi akan sampai. Kita lakukan bersama,” sahut Dito dengan kuda-kuda kuat menerjang tubuh Indah.
Tubuh Dito ambruk di samping Indah, napas keduanya masih tersenggal akibat percintaan panas mereka yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.
Indah menyandarkan kepalanya di bahu Dito sembari tangannya memeluk pria itu dengan manja, “kamu kuat seperti biasanya,” pujinya.
Dito mencubit hidung Indah dengan tangannya karena gemas, “kapan kamu akan memutuskan si bodoh itu?”
Indah masih belum menjawab, seperti sedang menimbang sesuatu dalam otak kecilnya. “Sepertinya saat dia kembali dari Desa.”
“Kamu yakin?” suara Dito sangat bersemangat.
“Tentu saja, aku sudah mendapatkan semua yang aku mau. Apartemen mewah, mobil, tanah dan beberapa aset milik Bara sudah dibalik nama atas namaku,” jelas Indah tertawa, “dia itu bodoh, gampang sekali untuk ditipu.”
Dito pun ikut tertawa mendengarnya, pasalnya ini momen yang sangat dia tunggu sejak lama. “Dia mengira kalau kamu mencintainya, padahal kamu cuma mau hartanya saja.”
“Bara itu gampang dirayu, bucin parah padaku. Jadi, apa pun yang aku inginkan pasti akan dituruti,” seringai Indah dalam menilai Bara.
Bara Aryasatya adalah seorang pemilik klinik dokter hewan, meski terlihat kecil tapi banyak pelanggan yang datang ke tempatnya. Setiap bulan, Bara selalu memberi jatah uang untuk Indah. Mereka bahkan sudah merencanakan untuk menikah setelah anniversary kelima berpacaran, itu karena Bara sangat mencintai Indah dan berniat untuk serius melangkah ke jenjang pernikahan.
Bara sengaja pulang ke Desa untuk meminta izin pada orang tuanya untuk menikahi Indah, berharap akan menjadi pendamping terakhir dalam hidupnya kelak. Karena Bara yakin kalau Indah sangat mencintainya, dan begitu pun sebaliknya.
Sementara itu, Bara telah sampai di kota lebih cepat. Dia sengaja ingin memberikan kejutan untuk Indah dengan kedatangannya yang tepat di hari anniversary mereka, dia sudah menyiapkan cincin lamaran beserta bunga mawar merah.
Namun, begitu memasuki apartemen itu. Bara melihat pakaian pria dan wanita berceceran, dan suara desahan saling bersahut yang berasal dari kamarnya. Tubuhnya melemas saat suara itu adalah milik Indah, tangannya mengepal kuat dan tanpa ditahan dia langsung menendang pintu kamar itu hingga terdorong keras.
Brak.
Indah dan Dito yang masih di ranjang pun langsung terperanjat melihat kedatangan Bara, bukankah pria itu seharusnya belum kembali dari desa?
“Kamu berani sekali selingkuh di belakangku, Indah!” seru Bara dengan emosi yang masih dia tahan sesaat.
Indah tampak santai turun dari ranjang, dan memakai kimono. Di belakangnya diikuti oleh Dito yang dengan percaya diri bertelanjang dada sambil meletakkan tangannya di pundak Indah, senyum puas tercipta.
“Kata siapa aku selingkuh, Dito memang pacarku,” jawab Indah melipat tangan di depan.
“Apa?!” seru Bara terkejut.
“Sejak awal pacarku memang Dito, kamu yang jadi selingkuhanku,” sahut Indah dengan nada ejekan pada Bara.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kita selama ini, ha? Kita saling cinta dan akan menikah,” ujar Bara yang masih belum bisa mempercayai hal ini, pasalnya dia dan Indah selama ini jarang ada masalah. Jika pun ada, segera diselesaikan.
“Kamu itu memang bodoh, Indah itu hanya memanfaatkanmu saja. Dan sekarang, apa yang dia mau sudah di dapatkan. Lalu kamu?” Dito menatap remeh Bara, “sudah waktunya untuk dibuang karena sudah tidak berguna.”
Indah kembali tertawa, “ayolah, jangan terlihat menyedihkan seperti itu.”
“Selain bodoh, dia juga pecundang,” ejek Dito tertawa.
Tangan Bara terkepal, lalu dia membanting bunga dan cincin yang sudah dia bawa. Ternyata yang selama ini bermimpi indah hanya dirinya saja, dan itu sangat menggelikan.
“Padahal selama ini aku selalu mencintaimu, membiayai semua kebutuhanmu, menuruti keinginanmu bahkan membayar uang kuliahmu hingga lulus,” kata Bara mengingat hal itu, “kita bahkan sudah melewati banyak hal bersama dalam lima tahun ini.”
Bara menatap tajam, tatapan penuh cinta itu kini berubah. “Ternyata kamu telah menipuku, dasar wanita licik!”
“Bukan aku yang licik, tapi kamu yang terlalu bodoh. Gampang sekali dirayu dan digoda,” ejek Indah menertawakan kejatuhan hati Bara saat ini. “Kamu itu masih kalah jauh dengan Dito, dia yang terbaik!”
Bara sudah tidak tahan lagi, dia menerjang tubuh Dito. Mereka saling berkelahi dengan sengit, pukulan demi pukulan dilayangkan dan situasi semakin tegang karena mereka sudah berada di balkon apartemen.
“Aku akan membunuh kalian,” teriak Bara yang terus melayangkan pukulan pada Dito.
Bara mencekik Dito yang sudah bersandar di ujung balkon, tatapannya menggelap penuh emosi yang sudah meledak akibat perselingkuhan ini. Namun, siapa sangka Indah memukul punggungnya dengan sapu sehingga cekikan di leher Dito melemah.
Dito dengan cepat mendorong balik, Bara yang kehilangan keseimbangan pun terjatuh dari lantai sembilan apartemen yang akan menjadi rumah pernikahannya dengan Indah.
“Mampus!” suara Dito puas.
Suara benturan keras tubuh Bara di atas mobil itu bertepatan dengan suara kilat guntur yang menggelegar, Bara sudah tidak mampu lagi merasakan tubuhnya... seperti sudah mati rasa.
Darah mulai keluar dari sekujur tubuh Bara yang terkapar, mata masih terbuka menatap lantai di mana dulu masa depan ingin dia ukir. Dia merasa sungguh tidak adil? Dia yang disakiti tapi kenapa dia juga yang mati mengenaskan?
Bara menarik sudut bibirnya pelan meski terasa berat, “jika aku bisa mengulang waktu, aku akan membalas perbuatan kalian. Dasar-“
Suara Bara sudah terpotong karena napasnya sudah habis, mata penuh dendam itu tetap terbuka menatap kilat gemuruh langit malam ini. Lalu tiba-tiba sebuah benda bercahaya di pergelangan tangan menyala, jam tangan warisan keluarga Bara akhirnya berfungsi.
Jarum jam mulai bergerak, namun bukan bergerak maju seperti pada umumnya melainkan bergerak mundur. Semula hanya bergerak pelan, dan perlahan menjadi cepat berputar seperti mengulang waktu. Berputar dan membentuk cahaya mengelilingi tubuh Bara, hingga dalam kumparan cahaya itu Bara terlempar.
“Dasar wanita murahan,” teriak Bara kencang, bahkan menggebrak meja diiringi menampar wanita di depannya dengan penuh emosi.
Mata Bara melotot tajam, napasnya naik turun akibat amarah yang berkobar memenuhi jiwanya. Dia masih ingat bagaimana perbuatan hina antara Indah dan Dito, lalu bagaimana mereka membunuhnya dengan mendorong dari balkon?
Bara sejenak terdiam, mengingat sesuatu.
“Bukankah aku sudah mati karena jatuh dari balkon?” kata Bara melihat tangannya beberapa kali, lalu dia menampar pipinya sendiri untuk memastikan kalau ini bukan mimpi.
“Ternyata sakit,” gumam Bara terlihat senang, “apa mungkin aku terlahir kembali?” tawanya seolah tidak percaya ada hal-hal mistis seperti ini.
Bara mengambil kalender, dan benar. Dia kembali tepat di satu tahun yang lalu saat merayakan anniversary keempatnya bersama Indah.
“Benar, aku hidup kembali. Aku hidup lagi,” teriak Bara sambil berjoget. “Aku hidup lagi.”
Namun, Bara merasa ada yang aneh dan dia berhenti. Ternyata ada seorang wanita duduk di kursi depan, sedang memegang seekor kucing.
“Kamu siapa?” suara Bara pelan tapi menyelidik.
Bukan mendapatkan jawaban, tapi pukulan Bara dapatkan hingga mimisan.