

Malam itu gerimis turun tipis-tipis, membasahi atap seng kontrakan sempit yang sudah mulai berkarat. Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter, Tegar Kayu Langit terduduk di tepi kasurnya yang tipis. Rambutnya basah oleh keringat, bukan karena panas, tapi karena pikirannya yang kacau.
Ia menatap selembar kertas tagihan bulanan dari kampusnya—biaya semester yang tertunda. Di sebelahnya, ada pula amplop kecil dari ibu kos, ditulis dengan spidol merah: "Bayar bulan ini atau segera angkat kaki!"
Sudah dua bulan Tegar tidak menerima kiriman dari kampung. Sejak ayahnya menikah lagi dengan wanita muda pilihan keluarganya, hubungan mereka merenggang. Uang yang biasanya dikirimkan tiap bulan, berhenti begitu saja. Bahkan pesan-pesan WhatsApp-nya tak pernah dibalas.
Tegar menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu.
TIKO TOK TOK!
“TEGAR!”
Suara cempreng tapi galak itu milik Bu Nirmala, janda pemilik rumah kontrakan yang terkenal pelit dan jutek. “Ini sudah tanggal tiga, kamu mau bayar kapan?! Jangan cuma bisa diam! Jangan pikir saya ini bodoh ya!”
Tegar menggertakkan giginya. Ia berdiri dan membuka pintu. Wajah Bu Nirmala langsung muncul, lengkap dengan daster ketat menonjoljan buah melon miliknya tanpa penopang dan tatapan menyelidik.
“Saya belum bisa bayar, Bu. Tapi saya janji minggu depan ada pekerjaan baru—saya akan lunasi semua,” katanya lirih, mencoba tetap sopan.
Bu Nirmala melipat tangan di dada, menatap Tegar dari atas ke bawah. “Kamu tuh ganteng, tinggi, badan atletis. Banyak cowok kayak kamu cari jalan pintas! Tapi jangan pikir kamu bisa ngelobi saya pakai wajahmu!”
Tegar hanya menunduk. Perutnya belum terisi sejak pagi. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.
Setelah gerutuan panjang, Bu Nirmala akhirnya pergi sambil mengancam akan menyegel pintu jika minggu depan Tegar belum juga membayar.
Saat pintu tertutup kembali, Tegar mendesah panjang. Ia berjalan ke meja kecil tempat laptop tuanya berada. Ia membuka tab browser dan menelusuri kembali iklan lowongan kerja malam—driver pribadi, pengawal freelance, jasa antar—apa pun yang bisa digarap.
Tak lama, satu iklan membuatnya terpaku.
“Dibutuhkan seorang helper lepas di bagian gudang dengan gaji memuaskan, kirim lamaran ke: CV. Kencana Kompleks Pergudangan XX Kav.XI.”
Matanya membelalak dan saat itulah, benih dari jalan hidup barunya mulai tumbuh.
Pagi belum sepenuhnya terang ketika Tegar memutuskan meninggalkan kontrakan. Ia berjalan cepat menembus kabut tipis, menghindari kemungkinan bertemu lagi dengan Bu Nirmala. Suara sepatu bututnya menampar aspal basah.
“Kalau si janda galak itu lihat aku masih di sini, pasti mulai lagi drama paginya,” gumamnya sambil menunduk.
Langkahnya menuju kompleks pergudangan XX, sekitar tiga kilometer dari tempat tinggalnya. Ada info dari iklan lowongan kerja semalam, bahwa ada lowongan sebagai helper—kerja fisik memang, tapi asal digaji harian dan bisa langsung mulai, Tegar siap.
Perutnya kosong, tapi pikirannya penuh beban. Di sisi kanan jalan, air hujan semalam membentuk kubangan besar. Tegar melewati pinggir trotoar dengan hati-hati.
Lalu—byur!
Air kotor menyembur ke arah dada dan wajahnya. Cipratan dari ban motor yang melaju kencang.
“Asu!” Tegar mengumpat keras. “Ngendarain motor apa ngambekin kubangan, bangsat?!”
Motor itu sempat menjauh, tapi tiba-tiba berhenti. Salah satu dari dua pengendara, cowok bertubuh kekar dengan rambut cepak dan jaket hitam, memutar balik.
Motor mendekat cepat dan berhenti tepat di depan Tegar.
“Apa lo bilang tadi?!” bentak si pengendara. Temannya masih di atas motor, tertawa mengejek.
“Gue bilang lo goblok! Asu!” sahut Tegar tajam, wajahnya datar tapi matanya menusuk.
Pria itu turun dari motor, mendekat agresif. “Mulut lo bau bangsat! Mau ngajarin gue nyetir motor, hah?!”
Tegar menahan napas. Ujung sabarnya nyaris habis.
“Lo gak liat jalan becek? Gue lagi jalan kaki. Bukan patung di pinggir got. Kalau punya otak, ya pelan-pelan, Bang.” Nada suara Tegar tetap rendah, tapi dingin dan menggigit.
Tangan si cowok bergerak cepat, mendorong dada Tegar.
“Jangan ngajak ribut pagi-pagi,” ancamnya.
“Kalau lo nyari ribut, ayo sini. Tapi kalau cuma bisa pamer otot, mending ngaca dulu—liat tuh otak lo bocor.” ujar Tegar.
“Anj—!” si cowok mengangkat tinjunya.
Blar!
Namun sebelum tinjunya melayang Tegar lebih dulu melesatkan satu pukulan cepat menghantam rahangnya duluan. Si pria sok jago itu terhuyung. Temannya terkejut, tapi tak sempat turun dari motor karena Tegar sudah menarik kerah jaket si pemukul dan menekannya ke tiang lampu di pinggir jalan.
“Minta maaf,” desis Tegar dingin.
“Gila lo ya?!”
Bugh! Satu pukulan lagi mendarat di perutnya.
“Minta maaf,” ulang Tegar sambil mengangkat satu kepalan tangan ke udara.
“A-a... oke! Maaf!” teriaknya akhir pria itu.
Tegar melepasnya. Dua orang itu buru-buru naik motor dan tancap gas, sambil melontarkan makian dari jauh. Tegar hanya berdiri, napasnya memburu, pakaiannya basah dan kotor.
Ia mengusap wajahnya perlahan. “Sial... belum apa-apa udah beginian...”
Langit makin terang. Waktu terus berjalan.
Dengan baju lusuh dan sepatu belepotan lumpur, Tegar melanjutkan langkahnya ke kompleks pergudangan. Ada panas yang menggumpal di dadanya. Bukan hanya karena pertengkaran barusan. Tapi karena hidup rasanya terus menekannya dari segala arah.
Namun ia belum tahu... bahwa jalan terjal pagi itu adalah pintu masuk menuju takdir yang jauh lebih gelap—dan membakar.
Setelah berjalan kaki hampir satu jam, Tegar akhirnya tiba di Kompleks Pergudangan XX. Keringat dingin masih menempel di pelipisnya, sementara baju dan celananya masih lembap akibat kubangan tadi. Ia berdiri sejenak di depan gerbang besi tinggi dengan tulisan besar “Kawasan Terbatas - Tamu Wajib Lapor.”
Seorang satpam berbadan tambun duduk di pos jaga sambil merokok. Tegar mendekat dengan langkah tegas.
“Pagi, Pak. Mau tanya, gudang nomor 12 di mana ya?” tanyanya, sopan meski napasnya belum sepenuhnya stabil.
Satpam melirik Tegar dari atas ke bawah, lalu mendecak kecil. “Lu pelamar kerja?”
“Iya, Pak. Helper.”
Satpam menunjuk ke arah deretan gudang yang berjajar hingga ujung jalan. “Lurus, belok kanan, terus kiri. Ada plang kecil di pintu. Gudang 12, paling pojok.”
“Terima kasih.” ucap Tegar sambil menunduk.
Tegar melangkah cepat. Setiap napasnya terasa berat, entah karena kelelahan atau firasat buruk yang mulai merambat ke kulitnya.
Ketika akhirnya ia sampai di depan Gudang 12, ia mendengar suara ribut-ribut dari dalam.
“Lu tuh kerja pake otak atau pantat ha?!”
Suara menggelegar dari dalam gudang membuat langkah Tegar tertahan. Ia mendekat pelan ke pintu terbuka dan mengintip.
Deg.
Matanya membelalak.
Di dalam gudang yang berisi tumpukan karung dan barang-barang berat, berdiri seorang mandor bertubuh kekar dengan topi cap miring, wajah merah padam. Di depannya, dua pria yang sangat dikenalnya pagi ini: si pengendara motor dan temannya yang sempat dia hajar.
Salah satu dari mereka—yang mukanya masih tampak lebam dan memar di rahang—terus menunduk sambil sesekali melirik gelisah ke sekitarnya.
“Lu pikir perusahaan ini tempat maen gitu?! Laporan lu ngawur! Stok barang kacau!” bentak si Mandor lagi.
Pria yang dihajar Tegar akhirnya mendongak, dan tatapan mereka bertemu. Matanya melebar, ekspresinya campur aduk antara syok dan... balas dendam.
Tanpa menunggu lama, pria itu menunjuk ke arah pintu. “Itu dia, Pak!”
Mandor menoleh cepat. “Siapa?”
“Orang itu! Yang pagi-pagi tadi bikin saya... eh... eh...” lidahnya tampak gugup, tapi ia tetap melanjutkan, “...yang ngancam saya! Dia pelamar kerja, saya gak yakin aman, Pak! Gak jelas asal-usulnya!”
Tegar maju satu langkah, wajahnya tetap tenang tapi matanya membara. “Gue gak ancam lo. Gue cuma bales perlakuan lo yang gak punya otak.”
“Apa lo?!” si pria melangkah maju, tapi Mandor menghadang dengan tangan keras.
“Diam lu!” hardik sang Mandor, lalu beralih ke Tegar. “Lu siapa?”
“Nama saya Tegar Kayu Langit. Saya lihat iklan kerja. Saya datang ke sini mau cari rezeki, bukan ribut.” Suaranya tegas, namun masih sopan.
Mandor menyipitkan mata. “Lu kenal orang ini?”
“Baru tadi pagi, di jalan. Dia percikin gue pakai air kubangan. Saya cuma omelin, dia ngajak ribut, ya saya bela diri.” Tegar mengangkat sedikit bajunya, menunjukkan noda bekas air kotor dan sedikit sobekan kecil di pinggir kemejanya.
Mandor menoleh ke anak buahnya. “Lo ribut sama orang di jalan, terus ngajak dia berantem di sini?! Gue malu punya anak buah kayak lo!”
“Tapi, Pak...”
“Diam!”
Situasi hening sesaat. Mandor menatap Tegar lama, seakan menimbang.
“Kamu masih mau kerja sini?”
Tegar mengangguk. “Asal gak diganggu sama bocah kurang ajar itu, saya siap kerja keras.”
Mandor terkekeh pelan. “Suka yang keras ya?”
Tegar tak menjawab. Tatapannya masih menusuk ke arah si pria bermasalah, yang kini memalingkan muka.
“Baik. Mulai besok. Tapi satu masalah aja, gue tendang lu dua-duanya,” kata Mandor sambil menunjuk ke Tegar dan anak buahnya.
“Siap, Pak,” jawab Tegar.
Saat ia berjalan keluar gudang untuk kembali ke pos satpam mengisi data, hatinya masih berdegup kencang. Ia belum tahu, bahwa pria yang barusan dia hajar... memiliki koneksi berbahaya yang suatu saat akan menjungkirbalikkan hidupnya.
Dan_ ke khawatiran yang ia rasakan, seakan Tuhan menjawab dalam ujian yang di berikan dalam menit-menit langkahnya ke depan.