Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dikejar Balik Primadona Kampus

Dikejar Balik Primadona Kampus

Kujomonku | Tamat
Jumlah kata
141.8K
Popular
6.4K
Subscribe
486
Novel / Dikejar Balik Primadona Kampus
Dikejar Balik Primadona Kampus

Dikejar Balik Primadona Kampus

Kujomonku| Tamat
Jumlah Kata
141.8K
Popular
6.4K
Subscribe
486
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahCinta Sekolah
Bima dibuat malu, setelah menyatakan cinta kepada Luna sang primadona kampus. Dia ditolak di depan banyak mahasiswa lainnya. Pengorbanan Bima selama bertahun-tahun dalam mengejar cinta Luna, ternyata sia-sia saja. Bima pikir, Luna bergantung kepadanya selama ini karena gadis itu memiliki perasaan lebih padanya. Pada kenyataannya, Luna hanya menganggapnya teman dan memanfaatkan dirinya. Namun, peristiwa besar yang Bima alami, membuat dunianya mundur ke masa lalu. Ke masa dimana Bima begitu bucin dengan Luna. Merasa tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, pemuda itu tidak mau mengejar Luna lagi. Dia tidak ingin dimanfaatkan dan dipermainkan perasaannya oleh gadis cantik itu. Keputusan putar arah Bima ini, malah membuat Luna jadi kalang kabut. Luna merasa penasaran dengan perubahan sikap Bima yang mendadak. Kini, dunia mereka terbalik. Luna mengejar cinta Bima dan tidak rela jika Bima bersama yang lainnya.
Bab 1. Kebodohan Bima

“Lun, aku cinta kamu! Ayo, kita pacaran!”

Di tengah keramaian kantin kampus, Bimasatya Manggala nekat meminta mahasiswi cantik untuk menjadi kekasihnya. Disaksikan banyak sekali mahasiswa yang memang sedang melintas, Bima berusaha menahan malu demi bisa menyatakan cinta pertama kalinya pada Luna Cantika, teman dekatnya selama kuliah di Universitas Respati.

Luna yang namanya disebut, menatap Bima dengan kesal. Pasalnya, dia tidak suka dengan situasi seperti ini. Sebagai primadona kampus, Luna merasa harus menjaga sikap.

“Maaf, Bima. Aku tidak bisa, karena skripsi di depan mata dan aku mau fokus sama skripsiku,” jawab Luna.

Mendapat penolakan pertama kalinya, tidak membuat Bima menyerah. Alasan yang diberikan oleh gadis itu masuk akal. Mereka berdua sudah di tingkat akhir, dimana gelar sarjana sudah semakin dekat.

Di belakang Bima, banyak yang membicarakan tentang dirinya. Bima terlalu naif.

“Memangnya kalian tidak tahu? Luna itu hanya memanfaatkan si Bima, karena dia pintar dan rajin. Apalagi Bima kesayangan dosen-dosen. Otomatis nilai Luna dapet A mulu.”

“Pantes IPK Luna semester kemarin, hampir sempurna.”

Bima tidak mendengar semua itu. Bagaimana kalau Bima tahu?

Waktu terus berjalan, dimana wisuda sudah mereka lewati. Bima masih saja berharap, cintanya disambut oleh gadis yang dicintainya itu. Apalagi, selama skripsi, Luna selalu dekat dengannya. Dari menyusun proposal hingga melakukan penelitian pun mereka selalu berdua. Bima pikir, Luna nyaman bersamanya.

Masih memakai toga wisuda, Bima mendekati Luna yang sedang berfoto dengan keluarganya. Untuk kedua kalinya, Bima akan meminta Luna untuk menjadi pacarnya. Diajaknya gadis itu pergi menjauh dari keluarganya.

“Ada apa, Bim?” tanya Luna dengan kebingungan.

Bima menarik kedua tangan Luna, dan berkata, “Kita sudah wisuda sekarang. Perasaanku masih sama, ayo kita pacaran!”

Genggaman tangan itu dilepas paksa oleh Luna. “Astaga, kau merusak hari bahagiaku bersama keluargaku. Jawabanku tetap sama. Kita tidak bisa pacaran,” kesal Luna yang lalu pergi meninggalkan Bima sendiri lagi.

Entah memang jodoh atau semesta memang sedang mempermainkan Bima, mereka sering bertemu saat bekerja. Mereka berdua bekerja di tempat yang sama. Bima bekerja sebagai manajer pemasaran dan Luna bekerja sebagai sekertaris direktur utama. Dia juga sering menemani Luna saat lembur.

“Bim, tolong rapikan schedule Pak Anton besok dong.”

“Bima, aku lupa membuat laporan buat rapat besok. Kamu mau bantuin aku, kan?”

“Bima, jemput aku, ya.”

Luna masih sama seperti dulu. Selalu, ingin bersama dirinya dan merengek manja jika membutuhkan dirinya. Saat masa-masa menjadi mahasiswa dulu.

“Bima, aku tidak bisa mengerjakan tugas ini.”

“Bima, buatkan jurnal untukku. Aku pusing sekali.”

“Penelitian kita sama-sama, ya. Nanti bantuin saat aku bimbingan dan presentasi, ya.”

Mengenang masa lalu, Bima yakin, Luna mulai merasakan ketergantungan padanya. Sudah saatnya dia mencoba kembali mengajak Luna berpacaran.

Kini mereka sudah selesai rapat tahunan. Bima melihat Luna sibuk dengan berkas-berkas yang digunakan untuk rapat tadi. Berkas itupun, Bima juga membantu menyusunnya semalam.

“Lun, aku mau bicara,” ucap Bima tegas.

Tetap dengan kesibukannya, Luna menjawab, “Ya, kenapa, Bim?” Sedikitpun Luna tidak menoleh padanya.

“Bisakah kita bicara berdua? Ini penting, Lun.”

Luna menatapnya dengan jengah. “Bicara tinggal bicara. Ribet amat sih,” sewotnya.

Mau tidak mau, Bima mengalah saja. Tidak peduli masih ada karyawan lain yang belum keluar dari ruang rapat, Bima akan melakukan sesuai isi otaknya.

“Lun, perasaanku padamu masih sama, Lun. Pacaran sama aku, ya,” mohon Bima. Dia yakin, kali ini Luna tidak akan menolaknya.

Gadis cantik sesuai namanya itu, malah memasang wajah ketus. Dia kibaskan rambut panjangnya nan halus, sempat mengenai wajah Bima. Tidak apa, Bima tidak akan marah, karena dia menyukai apa yang dilakukan Luna.

“Bima, kau kenapa batu sekali? Berapa kali kamu minta kita pacaran, tetap saja aku tidak mau. Kita cukup berteman saja. Paham?”

“Kenapa, Lun? Selama ini kita bersama dan kamu nyaman dekat sama aku,” protes Bima.

Semua mata tertuju pada mereka berdua. Sungguh sangat malu sekali.

“Harusnya kamu itu sadar sejak dulu, Bim. Aku tuh gak suka sama kamu. Kamu itu bukan siapa-siapa bagiku. Lagian, kamu punya apa? Maksa amat jadi pacarku. Kita tuh gak level, Bim.”

Bima memegang dada sebelah kirinya. Denyut jantungnya tidak karuan. Sesak dan sakit. Harga dirinya terinja-injak. Apalagi mendengar bisikan di belakang yang memandang remeh dirinya.

“Gak tau malu, jelek aja berani suka sama Luna.”

“Benar, dia hanya pandai dalam pekerjaannya, tetapi bodoh dalam percintaan. Harusnya cowok jelek, sama cewek jelek juga.”

“Apa dia tidak punya kaca yang besar di rumahnya? Ngaca, bro!”

Di depannya, Luna malah cekikikan. “Kamu dengar sendiri, kan? Kamu tuh gak selevel sama aku. Jangan ganggu aku lagi, oke?” ucap Luna, lalu pergi keluar. Yang lainpun mengikuti langkah Luna.

Bima ditinggal begitu saja, tanpa ada belas kasihan. Tidak habis pikir, kedekatan mereka tidak artinya selama ini. Semua penantian dan pengorbanan yang dia lakukan untuk Luna, ternyata sia-sia.

Perjalanan pulang kantor, semakin berat saat hujan sangat deras sekali. Seolah tahu jika hari ini patah hati terberat Bima. Badai pun dia terobos menggunakan motor kesayangannya.

Hingga, dadanya kembali sakit. Rasa panas dan tertusuk, membuatnya lemah, lalu jatuh dari motor karena tidak sadarkan diri.

Bima pikir, dia akan terbangun di kamar rawat inap sebuah rumah sakit atau kamar bedah sekalian. Namun, semua itu salah. Saat membuka mata, Bima berada di dalam kamarnya. lebih tepatnya, kamarnya saat dia masih kuliah beberapa tahun lalu.

“Astaga, apa yang terjadi padaku?”

Semua jengkal tubuhnya dia raba. Melihat ke cermin di lemari, dia bisa melihat Bima versi polos saat kuliah dulu.

“Tahun berapa ini?” tanyanya sambil melihat kalender dinding yang ada di dekat meja komputernya.

“A … APA?” Bima kaget saat melihat tahun ini merupakan tahun dia masih kuliah.

Bagaimana bisa?

Tidak penting caranya dia bisa kembali ke masa lalu. Bisa jadi, semesta meberikan kesempatan kepada Bimastya Manggala untuk tidak menyia-nyiakan masa mudanya hanya untuk mengejar cinta primadona kampus alias Luna Cantika.

***

Kampus tampak ramai seperti yang Bima tahu sesuai ingatannya waktu itu. Motor kesayangannya terparkir di tempat biasanya. Parkiran bawah pohon randu.

Melewati taman kampus, Bima melihat satu kelompok yang terdiri dari 3 mahasiswi tercantik, sedang bergibah seperti biasa. Tatapan Bima tertuju pada salah satunya, yaitu Luna Cantika. Gadis yang sudah menginjak ketulusannya.

Mata mereka bertemu. Luna dengan senyum cantiknya tertuju padanya. Tangannya pun melambai, sambil memanggil namanya, “Bima!”

Tidak mau terkecoh dan bodoh seperti sebelumnya, Bima melengos begitu saja. Dia tidak sudi membalas sapaan itu. Apalagi, ada kelas yang akan segera dimulai dalam beberapa menit lagi.

“Bima gak lihat aku, ya?” tanya Luna pada kedua temannya.

“Bisa jadi. Lagian, tidak akan ada yang mengabaikanmu dengan sengaja,” balas salah satu temannya yang bernama Yola.

“Tapi tadi dia lihat aku, kok.”

“Yaudahlah, Lun. Mungkin perasaan kamu saja. Kali saja dia minus matanya,” sanggah temannya yang lain yang bernama Sera.

Mungkin saja.

Setelah kelas selesai, Bima buru-buru ke kantin. Jika waktunya sama, dulu dia menyatakan cintanya pertama kali di tempat itu. Namun, kali ini tidak. Bima hanya pergi untuk membeli makan saja.

Saat sedang menikmati mie ayam, Luna datang bersama teman-temannya. Dia mendekat dan duduk di depan Bima dalam meja yang sama.

“Bim, skripsian kita bareng, yuk! Kita ambil topik yang sama.”

Ajakan itu terdengar sangat menyenangkan…. dulu. Namun, kali ini dia tidak mau terjebak di lubang sakit hati yang sama.

“Tidak! Aku sudah masukin topik sendiri tadi,” jawabnya tegas.

“Kok gitu sih? Kok gak tanya aku dulu,” protes Luna.

“Untuk apa aku harus mempertimbangkan pendapatmu? Memangnya kamu sepenting itu?”

Luna terdiam, dengan wajah keruh. Bima tahu Luna sedang syok mendengar penolakannya untuk pertama kalinya.

Apakah Bima benar-benar ”membuang” Luna dalam hatinya atau kembali jatuh dalam pesona Luna si primadona kampus?

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca