

Angin dari puncak Gunung Wilis turun membawa kabut tipis dan bau dupa yang menyengat. Di pelataran Balai Pemujaan Desa Terapung, lima belas anak seusianya duduk bersila. Di hadapan mereka, sebuah batu hitam legam setinggi manusia berdiri diam, sebuah Batu Roh yang permukaannya kasar penuh guratan aksara kuno yang tak bisa dibaca lagi.
Hari ini adalah hari yang ditunggu selama lima tahun sekali .
Hari Ritual Buka Sukma adalah Hari di mana nasib ditentukan. Siapa yang akan naik ke Candi Langit menjadi kultivator, dan siapa yang akan tetap menjadi tanah, menjadi petani sampai mati.
Banyu Sangkara menarik napas pelan. Bajunya hanya kain lurik kasar yang sudah pudar, berbeda jauh dengan kain sutra halus yang dipakai anak-anak lain. Rambut hitam panjangnya diikat seadanya dengan tali ijuk, beberapa helai lepas tertiup angin Di pangkuannya tergeletak sebuah keris lurus tanpa pamor, berkarat di ujungnya. Keris Luk Mati, satu-satunya warisan dari ayahnya, satu-satunya peninggalan keluarga Sangkara yang dulu pernah disegani sebagai penjaga gerbang Candi Kuno sebelum dibantai dan dimiskinkan.
Selama Lima tahun ia bangun sebelum matahari terbit, berendam di sungai yang airnya seperti es,. Lima tahun pula ia berlatih Tapak Rasa di bawah bimbingan kakeknya, Ki Ageng Wilis. Selama itu ia menahan lapar, menahan hinaan, hanya untuk hari ini.
"Banyu Sangkara, putra terakhir keluarga Sangkara. Maju."
Suara Ki Ageng Pitu, tetua ritual, terdengar datar tanpa emosi.
Banyu bangkit. Langkahnya tenang, tapi telapak tangannya basah oleh keringat. Ia bisa merasakan puluhan mata menatapnya. Ada yang kasihan, kebanyakan menghina. Di barisan paling depan, duduk seorang gadis berparas cantik dengan sanggul rapi dan selendang batik halus. Sekar Mayang. Teman semasa kecilnya. Dulu waktu umur delapan tahun, mereka sering mencuri jambu di kebun Ki Lurah bersama. Banyu yang mengajari Mayang cara mengeja Aksara Jawa Kuno, Banyu yang mengajari Mayang cara memanjat pohon. Mereka janji akan masuk sekte bersama.
Banyu sampai di depan Batu Roh. Batu itu dingin, memantulkan wajah pucatnya sendiri.
"Letakkan tanganmu. Alirkan rasa yang sudah kau latih. Jika kau memang keturunan kultivator, batu ini akan menyala dan memanggil Sukmamu," perintah tetua.
Banyu meletakkan telapak tangannya yang kapalan di atas permukaan batu yang kasar. Ia memejamkan mata. Ia mengingat semua ajaran kakeknya. Rasakan napas bumi, rasakan aliran air di sungai bawah tanah, rasakan denyut leluhur di dalam darahmu.
Rasakan napas bumi, nyu. Bumi tidak pernah menolak siapa pun.
Ia mengalirkannya. Ia menarik napas dalam dan mendorong semua tenaga dari perutnya ke telapak tangannya. Ia membayangkan aliran sungai bawah tanah, ia membayangkan akar-akar pohon beringin yang masuk ke perut bumi.
Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik.
Namun batu Roh tetap hitam. Tidak ada cahaya. Tidak ada getaran dan Tidak terjadi apa-apa.
Dahi Ki Ageng Pitu berkerut. "Alirkan lagi, lebih keras!"
Banyu menggertakkan giginya. Darahnya berdesir kencang. Ia memaksa semua tenaga yang ia punya, sampai pembuluh darah di pelipisnya menonjol. Tangannya bergetar.
Namun batu itu Tetap gelap. Lalu keris di pinggangnya bereaksi.
Keris Luk Mati itu bergetar hebat, bukan getaran karena ingin bangkit, tapi getaran penolakan yang keras. Seperti binatang yang jijik.
Wunggg!
Sebelum Banyu sempat menahan, keris itu lebih dulu terpental dari sarungnya, jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring.
Trang!
Hening sepersekian detik, lalu seluruh pelataran meledak dalam tawa.
"HAHAHA! Lihat! Bahkan kerisnya sendiri menolaknya!"
"Sukma Mati! Keluarga Sangkara benar-benar sudah dikutuk langit! Pantas saja miskin!"
Tawa itu paling keras datang dari Raden Brajamusti, putra Adipati Kala Bantala. Pemuda tampan dengan keris berlapis emas di pinggangnya itu berdiri, menatap Banyu dari atas ke bawah seperti melihat sampah. Di samping Brajamusti, "Turun sana, Miskin! Balai ini bukan tempat untuk sampah!"
Sekar Mayang langsung melepaskan genggaman selendangnya dan menunduk dalam-dalam, seolah tidak mengenal Banyu, Wajah Banyu pucat pasi. Ia tidak mendengar tawa itu lagi. Telinganya berdengung. Ia hanya menatap Batu Roh yang tetap hitam dan kerisnya yang tergeletak di tanah, kotor oleh debu.
" Kenapa seperti ini, aku sudah melatih nya selama 5 tahun, tapi kenapa begini " Pikir Banyu.
"Gagal," vonis Ki Ageng Pitu dingin, tanpa sedikit pun simpati. "Banyu Sangkara, kau tidak memiliki Sukma. Kau adalah Anak Tanpa Sukma. Mulai hari ini, kau dilarang menginjak Balai Pemujaan dan dilarang menyebut dirimu keturunan kultivator. Turun."
Kata-kata itu seperti palu godam yang menghancurkan lima tahun usahanya.
Banyu tidak membantah untuk membela dirinya . kecewa pada dirinya sendiri, tentu saja karena usahanya selama 5 tahun sia-sia begitu saja. Ia hanya membungkuk perlahan sambil memungut keris berkaratnya dengan tangan gemetar, Tanah yang menempel di bilahnya ia usap dengan ujung bajunya. Lalu ia berjalan turun, melewati barisan anak-anak yang menyingkir seolah ia membawa penyakit.
Tidak ada yang melihat, tapi genggamannya pada keris itu begitu erat sampai kukunya patah dan darah menetes ke bilah karatan itu.
Di sudut paling jauh pelataran, Ki Ageng Wilis berdiri bersandar pada tongkatnya. Lelaki tua renta itu memejamkan mata. Satu tetes air mata jatuh melewati keriput pipinya dan hilang di tanah.
Malamnya, gubuk bambu keluarga Sangkara sepi.
Banyu duduk di depan tungku yang sudah padam. Di depannya, keris itu tergeletak. Ia menatapnya lama.
"Kenapa... kenapa kau juga menolakku?" bisiknya dengan suara serak.
Tidak ada jawaban.
Ki Ageng Wilis masuk, batuk-batuk pelan. "Banyu..."
"Kek, apa benar kita dikutuk?" potong Banyu, suaranya datar, tanpa emosi.
Kakeknya terdiam, lalu duduk di sampingnya. "Bukan dikutuk, Yu. Jalan kita saja yang berbeda. Leluhur Sangkara dulu tidak pakai Batu Roh untuk buka Sukma. Mereka... mereka mencarinya sendiri di tempat yang tidak boleh didatangi manusia."
Banyu menoleh. Matanya yang biasanya sayu, kini menyala dengan api yang aneh.
"Di mana?"
Ki Ageng Wilis menghela napas berat. "Alas Purwo. Di tengah hutan larangan itu ada Candi Terbalik yang tenggelam. Candi yang dibangun terbalik, puncaknya menusuk perut bumi. Siapa pun yang masuk ke sana, tidak pernah kembali. Leluhurmu yang terakhir ke sana adalah ayahmu. Dan dia tidak kembali."
Alas Purwo.
Banyu berdiri. Ia menyelipkan Keris Luk Mati ke pinggangnya. Ia mengambil bekal seadanya, sepotong ubi dan kendi air.
"Kalau langit menolakku, aku akan cari jalan di bawah tanah," ucapnya pelan.
Tanpa menunggu jawaban kakeknya, Banyu melangkah keluar dari gubuk, berjalan lurus ke utara, ke arah hutan yang bahkan para kultivator Jantung Candi pun tak berani memasukinya. Ke arah kegelapan yang memanggilnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah 17 tahun, keris berkarat di pinggangnya mengeluarkan dengungan yang sangat pelan, bukan karena menolak, tapi seperti... merindukan rumah.