

“Ambil uang itu!”
Diono pria berusia 30 tahun yang baru saja merantau untuk bekerja selama 3 bulan sebagai tukang kebun di rumah mewah di Jakarta langsung melebarkan matanya menatap Niko, majikannya.
Di depannya terdapat koper berisi tumpukan uang berwarna merah. Seumur hidupnya, Diono tidak pernah melihat uang sebanyak ini.
“I..ini maksudnya apa, pak?” Diono menelan ludah.
“Saya tahu kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu di kampung yang sedang sakit parah, kan?”
Diono diam sebentar dan melihat majikannya yang duduk di kursi besar. Pikirannya jadi buntu. Hatinya juga mendadak dipenuhi rasa syukur yang teramat sangat. Pak Niko berbaik hati memberikannya uang sebanyak itu.
“Terima kasih banyak, Pak. Saya janji akan mengabdi ke keluarga ini, membantu Bapak dan Ibu.” Diono mengambil uang itu.
“Uang itu tidak gratis, tapi ada syarat yang harus kamu lakukan.”
Tangan Diono seketika melayang di udara. Dalam benaknya jadi menebak-nebak, apa syaratnya jika sampai diberi uang sebanyak ini?
“Syarat seperti apa, Pak?
“Buat istri saya hamil.”
Mata Diono nyaris melompat keluar. Ini pasti telinganya hanya salah dengar saja, kan? Mana mungkin majikannya memerintahkan hal tidak masuk akal seperti itu?.
Ada-ada saja!
“Maksudnya bagaimana, Pak?”
“Kamu tidak salah dengar. Saya minta kamu untuk menghamili Stella, istri saya.” Niko kembali mengulang ucapannya.
Seketika isi kepala Diono langsung terbayang wajah Stella, nyonya di rumah ini. Tidak ada interaksi lebih bersama Stella.
Jujur saja, sebagai laki-laki normal, bohong kalau Diono tidak pernah curi-curi pandang. Di matanya, Stella itu sangat cantik. Kulitnya putih bersih khas orang kota, dan tubuhnya berisi, mirip gitar Spanyol.
Apalagi kalau wanita itu sedang memakai baju ketat, berlatih yoga di balkon. Lekuk pinggangnya selalu membuat jakun Diono naik-turun.
Sejak saat itu Diono rajin mengintip kegiatan majikannya. Paling menyenangkan adalah saat berenang, Stella mengenakan bikini merah.
Kadang saat melamun sendirian di kamar belakang, sempat terlintas pikiran nakal bagaimana rasanya bisa melepas bikini dan memeluk tubuh seindah Nyonya rumah ini.
Diono menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir pikiran nakalnya. Khayalan setinggi langit itu langsung buyar karena Diono melirik dirinya sendiri.
Pria dekil sepertinya, jangankan menyentuh, berdiri di samping Stella saja rasanya sudah tidak pantas.
Kaus oblong kumal yang ia pakai basah oleh keringat, sehingga melekat di kulit. Bau badannya sangat tidak sedap. Belum lagi telapak tangannya yang kasar, hitam, dan kulitnya mengelupas karena tiap hari memegang gunting rumput.
Ia kembali menatap Niko dengan ragu. “Tapi, Pak… apa Bu Stella tahu soal ini? Pasti beliau menolak.”
“Itu urusanku, kamu tidak perlu ikut campur, cukup setuju dan hamili dia. Beres.” Niko masih percaya diri di kursinya.
Tiba-tiba pintu terbuka. Diono menoleh dan melihat Stella, istri majikannya masuk ke ruang kerja. Wajahnya nampak gusar.
“Sayang…Apa kamu yakin dengan rencana semalam? Ini rasanya aneh dan tidak wajar.”
Stella bicara sambil melewati Diono dan menahan tangis.
“Kamu pikir aku senang dengan rencana ini? Stel, kita tidak punya pilihan!”
Niko mendekati istrinya yang tampak gelisah. Menahan bahu Stela, memaksa wanita itu menatapnya.
“Kamu tahu kan Stel, jabatanku di perusahaan taruhannya. Papi sudah ancam aku. Kalau sampai tahun ini kita belum punya ahli waris, nenek akan mendepakku! Kamu mau lihat aku kehilangan jabatan?”
Stella memalingkan muka sambil menahan tangis.
“Niko, tolong jangan katakan itu. Aku tidak bisa lihat kamu kesusahan.” Suara Stella berubah serak.
“Dengar aku baik-baik. Dokter memvonis spermaku buruk! Aku ini mandul! Kamu tahu itu, kan?” bentak Niko.
Pengakuan memalukan itu merontokkan harga dirinya sebagai pria. Wajah Niko berubah sangat merah saking marahnya.
“Diono ini orang desa, dia atletis dan kuat. Benihnya sudah pasti bagus. Cukup sampai kamu hamil, setelah itu kita kasih dia uang bonus dan dia pergi dari sini. Lagipula, dia tidak akan berani membongkar aib ini ke media. Tolong, demi pernikahan kita, Sayang.” Niko mengambil tangan Stella dan mengusapnya lembut.
Mendengar pertengkaran pasutri kaya itu, kemarahan Diono yang tadi sempat tersulut karena dihina dekil, berubah menjadi iba.
Sekarang Diono baru paham. Pantas saja selama tiga bulan bekerja di sini, ia sering mendengar suara tangisan Bu Stella setiap malam.
Ternyata, ada aib besar dalam pernikahan mereka. Niko yang penampilannya serba parlente dan sombong itu, mandul dan tak berkutik di bawah tekanan Nyonya besar, yaitu neneknya.
Akhirnya Stella mengangguk dan menatap kosong ke lantai. Meratapi nasibnya yang harus tidur dengan pria lain demi keturunan.
Niko tersenyum puas. Ia menatap Diono lagi.
"Bagaimana, Diono? Kamu sudah dengar sendiri. Aku tidak punya banyak waktu," tagih Niko yang menekan. "Ingat ibumu di desa.
Biaya operasi jantung itu mahal. Kalau kamu menolak, silakan pergi. Tapi jangan menyesal kalau ibumu meninggal."
Diono tidak suka mendengar ucapan Niko.
Bayangan wajah pucat ibunya yang kurus di desa langsung melintas. Ingat betul bagaimana ibunya merintih karena menahan sakit waktu ia pulang minggu lalu. Uang sisa gajinya jelas tidak akan cukup untuk biaya operasi sebesar itu.
Persetan dengan harga diri. Diono kepalkan tangan karena sekarang nyawa ibunya jauh lebih penting.
Diono menarik napas panjang sambil menatap majikannya.
"Baik, Pak. Sa..saya bakal coba."
Niko mengambil selembar kertas dari meja dan memberikannya ke Diono, lengkap dengan pulpen.
"Bagus. Sekarang tanda tangan ini!" perintah Niko.
Diono membaca sekilas apa saja isi kertas itu. Intinya jelas, ia wajib menjaga kerahasiaan ini seumur hidup. Setelah anaknya nanti lahir, statusnya menjadi anak kandung Niko dan Stella. Diono tidak punya hak apa-apa sebagai ayah.
Saat Diono ragu, Niko mengetuk meja dengan keras.
"Kenapa diam lagi? Tanda tangan! Jangan mikir macam-macam. Tugasmu sumbang benih, setelah itu lupakan kalau kamu pernah menyentuh istriku. Paham?!"
Diono tidak punya pilihan lain. Hingga akhirnya ia membubuhkan tanda tangan di surat perjanjian itu.
Perasaannya Diono masih campur aduk.
"Sudah saya tandatangani, Pak."
Diono menatap Stella yang juga membalas tatapannya. Stella ini mirip bidadari yang jatuh dari langit. Masih sangat muda dan setiap tarikan napasnya bisa Diono rasakan, sangat wangi. Ini sangat canggung, sampai Stella kembali melihat pada Niko.
"Terus... habis ini saya harus bagaimana, Pak? Apa saya langsung buka baju di sini?"
Niko naik darah karena kepolosan konyol tukang kebunnya itu.
"Buka baju di sini? Kamu pikir saya mau melihat kalian melakukannya langsung?!"
Stella yang berdiri di samping suaminya langsung memalingkan muka. Pipinya merah karena malu mendengar pertanyaan vulgar Diono.
"Supaya tidak ada staf yang curiga. Kita akan pergi ke hotel. Kalian hubungan badan di sana!”