

Desing kayu membelah udara terdengar berulang-ulang di halaman belakang kediaman Valerius. Ayunannya pendek, kencang, dan berjarak rapat, membaur dengan dinginnya angin senja di sela pepohonan tua.
Arven Valerius sudah mengayunkan pedang tumpul itu lebih dari seratus kali. Kaos linen kasarnya basah kuyup oleh peluh, menempel dingin di punggung dan dada. Napasnya memburu lewat bibir yang pecah-pecah. Keringat yang turun dari pelipis terasa perih saat merembes ke sudut mata, tetapi pandangannya tidak lepas dari satu titik di batang oak tua di depannya. Di kepalanya, ia tidak meniru jurus ksatria bangsawan mana pun. Ia mengulang hitungan mekanika: sudut tebasan empat puluh lima derajat, putaran pinggul, dan dorongan tenaga dari tumit yang dialirkan lewat bahu ke pergelangan tangan. Pelajaran dari kehidupannya dulu di Bumi masih menempel jelas.
Hanya saja, kepala dan tubuhnya jarang akur. Tubuh pemuda sembilan belas tahun yang ia tempati ini terlalu kurus dan kurang makan. Otot lengannya gemetar menahan bobot pedang kayu, menolak perintah dari kesadaran seorang pria yang sebenarnya berumur jauh lebih tua.
Pada ayunan keseratus dua belas, fokusnya buyar. Ujung pedang melenceng dari perhitungan dan menghantam bagian keras batang pohon. Suara benturannya berdebam keras.
Sentakannya menjalar cepat dari pergelangan tangan ke pangkal bahu, meninggalkan ngilu di persendian. Arven menggigit bibir bawah. Genggamannya terlepas sebagian, dan gesekan kayu kasar merobek kulit telapak tangannya yang melepuh. Darah segar keluar dari sela luka, menetes pelan ke tanah berdebu di bawah kaki.
"Masih belum bosan bermain dengan ranting busuk itu, Arven?"
Suara itu memecah kesunyian halaman belakang, disusul tawa mencemooh dari dua orang lainnya. Arven menarik napas panjang, menelan kekesalannya, lalu menata wajahnya agar tampak datar dan linglung seperti yang sudah ia latih berbulan-bulan.
Ia menoleh ke arah beranda batu. Lucian Valerius, sepupunya yang sebaya, berdiri bersandar santai pada pilar marmer. Jubah sutra birunya berkilau lembut diterpa matahari senja, lengkap dengan sulaman perak naga berkepala dua khas keluarga Valerius. Pakaian itu bersih tanpa noda, sangat kontras di sebelah tunik lusuh Arven yang compang-camping dan bau keringat. Di belakang Lucian, dua pengawal muda berdiri dengan tangan terselip di sabuk pedang, memandang Arven seperti melihat binatang liar yang tersesat.
"Aku hanya melatih badan, Sepupu Lucian," jawab Arven pelan. Pandangannya jatuh ke lantai batu di bawah kaki sepupunya.
Lucian mendengus, lalu melompat turun dari beranda setinggi satu meter dengan tumpuan yang sangat ringan. Begitu sepatunya menjejak tanah, hawa dingin tipis menyebar dari badannya. Itu pendaran mana es milik garis utama keluarga, cukup dingin untuk membuat rumput di sekelilingnya membeku seketika.
"Melatih badan?" Lucian melangkah maju dan menendang pedang kayu Arven yang tergeletak di rumput. Pedang itu terlempar ke semak berduri. "Kau pukul pohon itu sampai tanganmu patah pun tidak ada gunanya. Orang yang lahir tanpa Sirkuit Mana tidak akan pernah jadi ksatria. Kau cuma buang tenaga, merusak pemandangan, dan mempermalukan nama ayahku sebagai kepala keluarga."
Arven melirik semak tempat pedangnya mendarat, lalu mengamati posisi berdiri Lucian yang berjarak dua langkah di depannya. Tumpuan sepupunya terlalu berat di kaki kanan dengan kuda-kuda kaku. Titik gravitasinya terlalu tinggi karena terbiasa mengandalkan tolakan mana ketimbang keseimbangan otot. Kalau Arven merendahkan badan sekarang lalu menyapu tumit kiri pemuda itu, Lucian pasti langsung jatuh sebelum sempat merapal mantra apa pun.
Namun Arven memilih diam. Ia membiarkan pundaknya melorot, kepalanya tertunduk lebih dalam, sepenuhnya memainkan peran anak buangan yang diharapkan orang-orang ini.
"Kau benar, Sepupu. Maafkan aku," ucap Arven lirih ke arah tanah.
Lucian mendecak, tampak kecewa karena lawannya tidak memberi alasan untuk memukul. "Bagus kalau otak tumpulmu masih paham. Jangan berani-berani menampakkan mukamu di aula utama nanti malam. Rombongan utusan dari Ibu Kota akan tiba sebelum tengah malam, dan Lord Valerius tidak butuh melihat aib keluarga berkeliaran bau keringat."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Lucian memutar badan dan melangkah pergi menuju bangunan utama bersama kedua pengawalnya yang masih terkekeh pelan.
Arven tetap mematung menunduk. Ia menghitung detak di dadanya sendiri sampai derap langkah bersepatu bot itu benar-benar hilang di balik lorong berlantai pualam.
Begitu halaman belakang kembali sepi dan hanya menyisakan derak dahan tertiup angin, Arven menegakkan punggungnya. Wajah pasrahnya lenyap, berganti menjadi tatapan tajam dan dingin seorang pria dewasa.
Ia berjalan ke semak berduri, memungut pedang kayunya, lalu mengibaskan tanah dan daun kering yang menempel di gagang.
Di tempat ini, logika dan perhitungan dari Bumi tidak ada harganya. Orang-orang hanya peduli pada dua hal: kemurnian garis darah dan bakat sihir sejak lahir. Dalam sistem feodal yang picik itu, Arven hanyalah anomali yang malang, jiwa asing yang terperangkap dalam tubuh putra kedua bangsawan yang terlahir tanpa sirkuit sihir. Menunjukkan kecerdasan hanya memancing curiga, dan memperlihatkan ambisi sebelum punya kekuatan sama saja dengan menyodorkan leher ke algojo.
Menjadi orang buangan yang dianggap tidak berguna justru posisi paling aman untuk bernapas. Tidak ada yang repot-repot mengawasi sampah yang masa depannya sudah dianggap habis.
Arven meninggalkan halaman belakang menuju kamarnya di sayap timur estate. Bangunan itu dulunya bekas gudang perkakas tua yang sudah lama ditinggalkan. Karena dianggap aib, ia disingkirkan ke ruangan berlantai batu lembap dan dingin ini, terpisah jauh dari sayap utama tempat kerabat dan pelayan tinggal.
Ia mendorong pintu kayu yang berderit, melangkah masuk ke ruangan temaram, lalu menutupnya rapat-rapat. Suara gerendel besi yang bergeser ke lubangnya memberi sedikit rasa lega. Arven mengembuskan napas panjang, membiarkan rahangnya kembali rileks.
Di sudut ruangan, di atas meja berkaki goyang, terdapat cermin tua dengan retakan melintang dari kiri ke kanan. Arven mendekat dan memperhatikan bayangannya di kaca yang buram.
Sosok di cermin memiliki garis wajah yang tegas, tetapi pipinya cekung karena kurang makan dan kulitnya pucat karena jarang terkena matahari. Rambut hitamnya berantakan menutupi sebagian dahi. Sepasang matanya cokelat tua gelap, mata orang biasa tanpa kilau mana sedikit pun.
Arven memejamkan mata rapat-rapat. Di dalam kegelapan pikirannya, ia memanggil kembali kepingan memori yang paling ia jaga selama lima tahun terakhir.
Wajah seorang wanita paruh baya muncul di benaknya, tersenyum di depan kompor gas tua di dapur sempit di Bumi sambil memegang spatula kayu, memanggil namanya untuk makan malam. Ada aroma tumisan bawang putih dan kecap manis di udara ruangan itu, ingatan sederhana yang selalu ia putar ulang tiap malam agar tidak hilang ditelan waktu.
Ibu.
Napas Arven bergetar sesaat. Ia membuka mata perlahan, lalu menyentuhkan telapak tangannya ke permukaan cermin yang dingin.
Lima tahun sejak terbangun di tubuh ini setelah mati mendadak di kehidupannya yang lama, kenangan tentang rumah lamanya adalah satu-satunya jangkar yang tersisa. Setiap kali dihina oleh Lucian, setiap kali direndahkan atau dibiarkan kelaparan oleh pelayan yang lancang, ia selalu kembali ke ruangan ini untuk mengingat wajah itu. Ia perlu memastikan bahwa dirinya bukan sekadar pion buangan di dunia antah-berantah ini, melainkan manusia yang pernah punya kehidupan nyata.
"Aku tidak akan mati di sini," bisik Arven pada bayangan di cermin. Suaranya serak, tetapi tegas. "Berapa kali pun dunia ini mencoba menyingkirkanku, aku akan tetap bertahan."
Ia menarik tangannya dari cermin, berbalik, lalu melangkah ke baskom tembikar di sudut meja. Ia menuangkan air dari kendi tanah liat hingga setengah penuh, lalu mencelupkan kedua tangannya yang kotor ke dalam air dingin.
Rasa perih menusuk kulit telapak tangannya yang robek. Arven meringis kecil saat butiran debu terlepas dari luka. Air sumur yang awalnya jernih perlahan berubah menjadi merah muda keruh saat darahnya larut.
Ia membersihkan sela jarinya dengan hati-hati.
Namun ketika hendak mengangkat tangan keluar dari air, Arven mematung.
Tepat di pergelangan tangan kirinya, di atas jalur nadi utama, sebuah garis hitam pekat menonjol keluar dari bawah kulit. Garis itu tidak berdenyut mengikuti detak jantung, melainkan berkedut sendiri dengan ritme yang cepat dan liar.
Arven menahan napas. Ia mendekatkan pergelangan tangannya ke celah sempit daun jendela, memanfaatkan sisa cahaya senja untuk melihat lebih jelas.
Garis hitam itu merayap di bawah kulit pucatnya, memanjang ke arah lengan bawah lalu bercabang membentuk pola geometris yang kaku. Dalam hitungan detik, garis-garis itu saling bertaut membentuk susunan belah ketupat yang rapat, persis seperti sisik reptil purba.
Jantung Arven berdegup kencang.
Ia mengerjapkan mata karena kaget. Namun saat ia kembali menatap tangannya, pola hitam itu sudah lenyap tanpa bekas. Urat nadinya kembali tampak biru pucat di bawah kulit, tersembunyi tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Ketika ia menunduk ke arah baskom di atas meja, matanya melebar.
Air rendaman yang tadi berwarna merah muda kini mengepulkan asap putih tipis ke udara. Bau tajam seketika memenuhi ruangan, perpaduan pekat antara belerang dan arang kayu yang terbakar.
Arven menyentuh bibir tembikar itu dengan ujung telunjuk. Rasa panas yang menyengat langsung terasa, memaksanya menarik tangan seketika. Air dingin dari sumur itu mendidih pelan, memunculkan gelembung-gelembung kecil dari dasar baskom.
Mustahil darah biasa memanaskan air sumur hingga mendidih dalam hitungan detik.
Darah yang mengalir di tubuh ini jelas bukan darah biasa.
Sadar akan bahayanya, Arven bergegas melangkah ke jendela. Ia mendorong daun jendela kayu yang lapuk lebih lebar agar angin malam menyapu bau belerang keluar dari kamar. Jika ada penjaga patroli yang mencium aroma ini dari sayap timur, ia akan tamat. Di kediaman Valerius, anak buangan tanpa sihir yang tiba-tiba memicu fenomena aneh tidak akan dianggap mukjizat. Ia akan langsung dicap sebagai pembawa kutukan atau ancaman, lalu diseret ke ruang bawah tanah untuk dihabisi demi menjaga nama baik keluarga.
Setelah bau belerang mulai menipis, Arven mengangkat tangan kirinya kembali ke depan dada dan menatap telapak tangannya.
Luka robek yang tadi mengeluarkan darah sudah menutup rapat. Permukaan kulitnya kembali utuh dan bersih, hanya menyisakan bekas merah muda tipis yang perlahan menyatu dengan warna kulit aslinya. Luka itu menutup jauh lebih cepat dari proses penyembuhan normal mana pun.
Ini bukan sekadar regenerasi biasa, melainkan pertanda kekuatan yang baru terbangun.
Keluarga Valerius selalu membanggakan mana es mereka yang dingin menusuk tulang sebagai wujud kekuatan naga perak sejati. Namun hawa yang baru saja mendidihkan air di baskom ini sama sekali bukan es. Itu adalah hawa panas membara, abu, dan belerang yang terpendam.
Mungkinkah vonis para tetua tentang ketiadaan Sirkuit Mana di tubuhnya hanyalah ketidaktahuan mereka semata? Alat ukur mana milik kekaisaran mungkin hanya bisa membaca sihir umum yang biasa digunakan orang banyak, sementara tubuh ini menyimpan energi kuno dengan karakter yang sama sekali berbeda.
Arven memejamkan mata. Mengabaikan cara meditasi ksatria yang tak pernah bisa ia ikuti, ia memusatkan pikiran pada jalur saraf di sepanjang lengan kirinya, memetakan aliran darahnya seperti melihat jalur kabel listrik.
Di sana, jauh di dalam rongga dadanya di balik tulang rusuk yang dingin, ada denyut hangat yang tersembunyi. Denyut itu masih sangat halus, seperti bara kecil yang tertutup lapisan abu, tetapi hidup dan bergerak.
Sudut bibir Arven terangkat sedikit.
Cap sampah yang mereka berikan padanya kini menjadi tameng paling berguna. Selama orang-orang menganggapnya tidak berdaya, tidak ada yang akan membuang waktu untuk mengawasinya. Di kamar terpencil ini, pengetahuan lamanya dari Bumi dan bara api yang baru terbangun ini bisa ia pelajari perlahan tanpa gangguan.
Arven mengambil kain perca usang, mengelap sisa air di atas meja, lalu mengangkat baskom tembikar dan membuang sisa air panasnya ke tanah di luar jendela.
Dari arah gerbang depan, tiupan terompet penyambutan tamu Ibu Kota mulai bergema menembus senja. Arven menutup kembali daun jendelanya rapat-rapat, lalu berbalik menatap cermin retak di depannya.
Sosok di dalam cermin masih seorang pemuda kurus dengan pakaian kusam. Namun di dasar matanya yang gelap, keraguan itu telah hilang sepenuhnya.