

BAB 1: Ciuman Pengkhianat dan Wasiat Guru
Sore itu, udara di lereng Gunung Naga terasa amat sejuk dan tenang. Wira melangkah menyusuri jalan setapak dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Di dalam tas bambu yang digendongnya, terdapat beberapa akar obat langka hasil buruannya seharian di dalam hutan. Namun, bukan akar obat itu yang membuat hatinya berbunga-bunga, melainkan sebuah tusuk rambut kayu ukir sederhana yang dibelinya dari pedagang keliling kemarin.
Tusuk rambut itu disiapkannya khusus untuk Mira, teman seperguruan sejak kecil yang juga calon istrinya. Mereka tumbuh bersama di bawah bimbingan Guru Dagan, dan bulan depan, Guru Dagan berjanji akan meresmikan hubungan mereka.
Namun, begitu langkah Wira mendekati area pondok kediaman mereka, perasaan aneh mendadak menyengat dadanya. Suasana di sekitar pondok terasa terlampau hening. Pintu depan terbuka lebar dan agak miring, seolah baru saja didobrak secara paksa. Bau amis darah yang cukup pekat mendadak menyergap indra penciumannya melalui hembusan angin sore.
Jantung Wira berdebar kencang. Dia segera mengendap-endap di balik rimbunnya semak-semak halaman depan, menahan napas seraya mengintip ke arah pelataran.
Mata Wira seketika membelalak kaget. Di sana, berdiri seorang pria gagah berjanggut tipis yang mengenakan jubah hitam bersulam naga. Pria itu adalah Zarkan, Ketua Perkumpulan Naga Hitam yang terkenal kejam di rimba persilatan. Namun, yang membuat dada Wira serasa dihantam batu besar hingga sesak luar biasa bukan cuma kehadiran Zarkan, melainkan sosok wanita yang sedang berada di dalam pelukannya.
Mira.
Gadis manis yang selama ini mengisi hari-hari Wira itu tampak mengenakan pakaian ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya. Pakaiannya membusung padat menempel erat pada dada bidang Zarkan. Tanpa ada rasa canggung sedikit pun, Mira melingkarkan kedua tangannya di leher Zarkan. Bibir tipisnya yang meliuk indah bersatu dalam ciuman basah dan panas bersama pria yang sudah merusak kedamaian perguruan mereka.
"Zarkan... kamu beneran bakal ajak aku ke markas besar Naga Hitam dan jadiin aku permaisurimu, kan?" bisik Mira dengan suara yang terdengar sangat manja dan sarat akan gairah selepas ciuman mereka terlepas. Matanya yang liar menatap Zarkan dengan penuh kepatuhan.
"Tentu saja, Manisku," jawab Zarkan seraya terkekeh pelan. Tangannya yang kasar dengan lancang merayap turun, meremas pinggul padat Mira dan menyapu bagian samping tubuh Mira yang bergetar. "Lagipula, rencana yang kamu susun benar-benar sempurna. Kalau kamu tidak memberi racun pelumpuh di minuman orang tua itu, tidak mungkin aku bisa menghantamkan Telapak Naga Hitam dengan mudah ke dadanya."
Mira tertawa renyah, sebuah tawa dingin yang sama sekali tak pernah didengar Wira sebelumnya. "Orang tua itu sangat pelit, Zarkan! Dia menyimpan pusaka legendaris Giok Sakti sendirian tanpa mau menurunkan ilmunya padaku. Dia juga berniat mengawinkanku dengan Wira, anak yatim piatu yang miskin dan lugu. Mana mau aku hidup melarat di gunung ini bersamanya? Dengan membunuh tua bangkai itu dan merebut Giok Sakti, kita bisa menguasai dunia persilatan dan menikmati seluruh kekayaan Naga Hitam!"
"Hahaha! Bagus! Tapi sayang sekali, tua bangkai itu masih menyembunyikan lokasi Giok Sakti sampai napas terakhirnya," ujar Zarkan dengan dengusan kesal. "Tapi tak apa, tanpa pusaka itu pun, aku sudah memiliki tubuhmu yang indah ini dan tidak ada lagi yang bisa menghalangi Perkumpulan Naga Hitam."
Genggaman tangan Wira pada tusuk rambut kayu di dalam kantong mengepal sangat erat hingga ukiran kayu itu retak dan melukai telapak tangannya. Rasa sakit di tangannya tak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya. Kenyataan bahwa Mira, wanita yang dicintai dan dipercayainya, adalah sosok yang meracuni Guru demi harta, kekuasaan, dan pria lain, benar-benar meremukkan jiwa Wira.
Tanpa memedulikan keberadaan Wira yang bersembunyi, Zarkan merangkul pinggul Mira lalu melangkah pergi menuruni jalan setapak gunung, meninggalkan area pondok yang berantakan.
Dengan tubuh gemetar dan napas memburu, Wira melompat keluar dari semak-semak dan berlari masuk ke dalam pondok.
"Guru! Guru Dagan!" jerit Wira histeris.
Di dalam kamar utama yang remang-remang, Guru Dagan terbaring lemas di atas bale-bale bambu. Wajahnya yang tua tampak pucat pasi dengan urat-urat kehitaman yang menjalar dari leher hingga ke pipinya. Darah hitam pekat menetes dari sudut bibirnya.
"Wira... kamu... kamu sudah pulang?" suara Guru Dagan terdengar sangat lemah dan tersedak.
"Guru! Apa yang terjadi?! Aku... aku punya akar obat, aku bisa obat..."
"Tidak usah, Wira..." Guru Dagan menggelengkan kepala pelan, menahan rasa sakit yang amat sangat. "Ini racun gabungan, racun pelumpuh di minumanku dan Racun Telapak Naga Hitam milik Zarkan. Tubuh Guru sudah tidak tertolong lagi..."
"Guru... maafkan aku... aku tidak ada di sini untuk melindungimu..." air mata Wira menetes deras membentur lantai papan.
Guru Dagan menatap Wira penuh penyesalan. Tiba-tiba, dada Guru Dagan memancarkan kilatan cahaya merah keemasan yang sangat menyilaukan. Dari balik bajunya, keluar sebuah batu giok hijau berukir naga yang diselimuti aura panas membara. Giok itu melayang pelan di udara, sebelum akhirnya mendarat tepat di atas telapak tangan Wira.
"Mereka membunuhku demi benda ini, Wira... Tapi mereka tidak tahu, Giok Sakti hanya bisa menyatu dengan jiwa yang jujur..." bisik Guru Dagan dengan napas yang makin memburu. "Ini adalah Giok Sakti, kunci utama untuk membangunkan Sembilan Naga Api. Selama ini giok pusaka ini mati dan tidak memberikan tuah apa pun pada Guru karena Guru pernah tiga kali melanggar pantangannya akibat dendam masa lalu... Sekarang giok ini memilihmu."
"Pantangan...?" tanya Wira lirih di tengah isak tangisnya.
"Dengarkan Guru baik-baik, Wira!" tegas Guru Dagan dengan sisa-sisa tenaganya. "Kamu dilarang keras menolak permintaan tolong dari orang lemah yang memohon padamu, siapa pun dia, bahkan jika itu musuhmu sendiri! Kalau kamu melanggarnya lebih dari tiga kali, tuah giok ini bakal mati selamanya dan semua naga api akan padam..."
Begitu Guru Dagan menghembuskan napas terakhirnya, batu Giok Sakti di tangan Wira mendadak meleleh menjadi aliran cahaya merah keemasan yang sangat membara. Seketika itu juga, aliran cahaya tersebut merasuk tepat menembus kulit dada Wira!
Buumm!
Ada gelombang energi panas yang luar biasa dahsyat menyembur dan menjalar ke seluruh pembuluh darah Wira. Dadanya berdenyut kencang, staminanya memuncak hebat, dan pandangannya menjadi sangat tajam. Energi Sembilan Naga Api yang puluhan tahun tertidur kini resmi bangkit dan bersatu di dalam tubuh pemuda itu.
...
Malam pun jatuh menyelimuti Gunung Naga. Hujan gerimis menyiram bumi seolah ikut berduka.
Di belakang pondok, Wira berdiri tegap di depan gundukan tanah merah tempat peristirahatan terakhir Guru Dagan. Batu nisan kayu yang diukirnya sendiri berdiri kokoh di atas gundukan itu.
Wira mengepalkan tangan erat-erat, hingga kuku-kuku jarinya memutih dan darah menetes dari telapak tangannya yang terluka. Cahaya keemasan berdenyut samar dari balik dadanya, memancarkan hawa panas yang membakar rasa dingin di malam hari.
"Guru..." bisik Wira dengan suara berat yang bergetar, namun sarat akan tekad yang membatu. "Restuilah muridmu ini. Demi nama Guru dan keadilan perguruan kita, aku bersumpah demi langit dan bumi, Zarkan dan Mira tidak akan pernah hidup tenang. Setiap tetes darah dan penderitaan Guru akan kubalas tuntas. Aku, Wira, Sang Pewaris Giok Sakti, akan meratakan Perkumpulan Naga Hitam hingga tak tersisa!"