Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Terjebak Di Pulau Wanita

Terjebak Di Pulau Wanita

Bika Ambon | Bersambung
Jumlah kata
125.9K
Popular
6.5K
Subscribe
905
Novel / Terjebak Di Pulau Wanita
Terjebak Di Pulau Wanita

Terjebak Di Pulau Wanita

Bika Ambon| Bersambung
Jumlah Kata
125.9K
Popular
6.5K
Subscribe
905
Sinopsis
18+FantasiIsekaiTransmigrasi21+Pertualangan
Sigit, pria modern tiba-tiba masuk ke dalam novel harem anti mainstream yang ia baca. Terjebak di sebuah Pulau yang kaya akan sumber daya alam, dengan penghuni yang sebagian besar para wanita itu dengan peradaban tertinggal. Sigit yang mendapatkan kekuatan ajaib: kebal dari segala racun dan menjadi kuat berkat bandul giok hitam pemberian mendiang kakekny, justru dipaksa memperistri lima putri pemimpin di sana sekaligus. Harus berjuang memberi lima keturunan anak laki-laki jika ingin bebas keluar dari pulau. Tapi anehnya, di saat satu persatu istrinya hamil selalu saja keguguran, Sigit akhirnya mendapati fakta mencengangkan jika dukun sakti di Pulau itulah yang menjadi penyebabnya karena ingin menguasai seluruh pulau itu. Bersama kelima istrinya, Sigit bertekad mengalahkan Dukun Sakti itu, melindungi Pulau, memajukan dan membuka jalan menuju kemakmuran.
Bab 1. Diburu Para Wanita

"Bau sekali, seperti bangkai tikus yang sudah tiga hari terkena matahari!"

Suara itu terdengar dingin dan tajam, mengiris telinga Sigit yang baru sadar dari ketidaksadaran panjangnya. Ia mencoba membuka mata, tapi silau sekali.

Cahaya matahari tropis menembus celah-celah daun kelapa, di mana Sigit terbaring tanpa daya di bawahnya--menyakitkan retinanya, perih. Belum lagi denyut di kepalanya yang hebat, seolah-olah ada palu godam yang menghantam tengkoraknya dari dalam.

"Bangkai ini harus segera disingkirkan, atau dibakar saja!" ucap seseorang itu lagi sambil menendang-nendang tubuh Sigit yang sama sekali tak bergerak.

Tapi kemudian, Sigit bersikeras memberi tanda bahwa dia masih hidup. Sekuat tenaga Sigit mencoba duduk, walau tubuhnya terasa berat seperti ditindih batu besar.

Pasir putih panas menempel di kulitnya yang kering, terutama di wajahnya. Dengan keterbatasannya, Sigit menoleh ke sumber suara. Dari celah matanya, dia mendapati seorang wanita berdiri satu meter darinya sambil menutup hidung. Sedangkan tangan kanannya mencengkeram gagang tombak kayu yang ujungnya runcing dan mengkilat.

Wanita itu mengenakan pakaian ala kadarnya dari anyaman serat tanaman, namun postur tubuhnya tegak. Otot-otot lengan dan kakinya terlihat jelas, seperti sering ngegym. Namun matanya itu tidak menunjukkan belas kasihan, kecuali kewaspadaan terhadap musuh.

"Aku belum mati," jawab Sigit lemah. Suaranya serak, tenggorokannya seperti terisi kerikil. "Dan ... aku bukan bangkai."

Semula mundur, sekarang wanita itu melangkah maju. Ujung tombaknya bahkan diarahkan tepat ke leher Sigit.

"Orang luar biasanya langsung mati dalam satu hari. Racun udara di sini merusak paru-paru manusia lemah seperti kalian. Tapi kau justru masih bernapas? Ini mencurigakan!" bentak wanita itu.

Sigit terkejut. "Apa?" Tangannya sontak memegangi dada, menarik napas dalam-dalam meski udara di sekitarnya terasa berat.

Ada aroma belerang samar-samar yang tercampur dengan garam laut. Namun anehnya, Sigit tidak merasakan sesak sama sekali. Malahan dia merasakan sensasi hangat di dada kirinya. Dia lalu meraba lehernya, seperti tengah mencari sesuatu.

Bandul batu alam dari giok hitam berbentuk oval pemberian mendiang kakeknya waktu kecil, masih tergantung di lehernya. Aneh, Sigit mengernyit. Dia merasakan batu giok itu berdenyut halus dan hangat, seperti jantung kedua baginya.

"Namaku, Sigit Arshaka," katanya dengan berusaha tetap tenang memperkenalkan diri pada wanita itu. Panik adalah bahaya. Jika ujung lancip tombak itu ditusukkan wanita itu ke lehernya, dia bisa mati.

Sekarang, Sigit ingat novel sampah yang dia baca sebelum tidur. Novel harem anti mainstream yang sempat diledeknya habis-habisan, karena menurutnya novel itu tidak masuk akal.

Dasar Penulis kocak! Mana ada di dunia ini Pulau Wanita? Pulau terlarang yang penuh racun dan penghuninya 90 persen adalah wanita.

Mustahil walau itu hanya sebuah khayalan, imajinasi Penulis stress! Kalau pun ada, Sigit ingin menjadi pejantan tangguh di sana.

Tapi jika benar-benar dunia itu ada, maka wanita yang berada di depannya saat ini adalah ... Kinanthi, Putri sulung pemimpin dan penjaga pulau ini.

Sigit membolakan kedua matanya, butiran-butiran pasir putih langsung rontok saat tangannya menepuk-nepuk wajah dengan ekspresi terkejut.

"Aku tidak perlu tahu namamu!" sengit Kinanthi yang galaknya minta ampun. Ia lalu memberi isyarat ke belakang semak-semak.

Srek, srek, srek!!

Tubuh Sigit semakin tegang, ketika telinganya menangkap bunyi gemerisik di semak-semak itu yang daun-daunnya bergoyang karena sesuatu.

Benar saja, dua wanita lain kemudian muncul dari sana. Mereka juga memegang senjata. Wajah mereka keras. Tidak ada senyum dan tidak ada keramahan, meski mereka cantik.

"Cepat bangun dan ikut kami!" sentak wanita pertama yang terlihat seperti pemimpinnya, penuh dominasi. "Jika kau mencoba kabur, aku akan menusuk tumitmu agar kau tidak bisa berjalan lagi."

Ancaman itu membuat Sigit perlahan mengangkat kedua tangannya ke atas, tiga wanita itu saling keheranan dengan apa yang dia lakukan.

"Kau memberontak?!"

Sigit menggeleng. "Tidak."

"Kalau begitu , ayo cepat bangun lelet!"

Sigit berdiri. Kakinya gemetar bukan karena takut, melainkan karena fisiknya yang masih lemah. Dia juga mengamati sekeliling Pulau asing itu. Hutannya lebat, pohon-pohon di sana berukuran raksasa yang akarnya menjalar seperti ular purba.

Tidak ada kicauan burung. Hanya desauan angin yang terdengar seperti bisikan hantu. Pulau yang terasa horor, seperti menolak kehidupan lain.

Sigit tersenyum tipis. Di bawah saku piyama nya yang robek, dia merasakan sesuatu. Bukan ponsel, bukan pula dompet. Tapi rasa lapar yang membuat perutnya melilit.

Insting survivalnya secara tiba-tiba menyala terang. Sigit tahu bagaimana hukum rimba berjalan, di mana yang kuat berkuasa atas yang lemah dan dia baru saja menyadari bahwa bandul giok di lehernya bukan sekadar perhiasan. Tapi benda itu adalah kunci untuknya bertahan hidup di Pulau Wanita.

"Seret dia!" suruh wanita pertama itu kepada dua pengawalnya.

"Ya, Kak Kinan," sahut mereka berdua patuh, berjalan menuju Sigit yang tampak mencerna kejadian yang dia alami seperti linglung.

Ternyata benar, Sigit masuk ke dalam dunia novel yang dia baca. Dia terjebak di novel yang berjudul "Sovereign Of The Black Jade" di mana jumlah pria di Pulau Wanita bisa dihitung dengan jari. Selain Pemimpin Pulau itu, Pak Broto. Terdapat satu pria lainnya, dia adalah sang dukun sakti mandraguna, yang dikenal dengan nama Dukun Slamet.

Para warga di Pulau itu bahkan lebih mengagungkan Dukun Slamet yang punya pengaruh besar dibandingkan Pak Broto. Dukun suci yang menurut buku: bisa meramal masa depan, semua perkataannya bagai penentu takdir yang wajib dijalankan dan bisa menahan bencana.

Bahkan kata wanita di sana, Dukun Slamet dianggap paling tampan nomor satu dari Pak Broto yang hanya punya belasan istri. Fisiknya masih gagah, hanya seluruh rambutnya saja yang memutih. Meskipun usia dukun itu sudah mencapai 70 tahunan, tak sedikit wanita yang antri menjadi istrinya, berharap mendapat keberkahan walau istri Dukun Slamet diketahui sudah berjumlah ratusan.

"Eh ... aku akan ikut kalian, sabar!" kata Sigit yang kini justru penasaran dan ingin segera berpetualang di Pulau Wanita. "Tapi beri aku air, jika aku pingsan kalian harus memikulku dan aku berat. Jadi aku tak yakin kalian bisa."

Kinanthi langsung menyipitkan mata, terlihat menilai ancaman Sigit dan terkesan tak ingin diremehkan. Setelah beberapa detik, dia mengangguk singkat. "Minum, lalu cepat jalan atau detik ini aku akan membunuhmu."

Sigit lekas mengambil tempayan air yang disodorkan salah satu pengawal. Dia meminumnya rakus. Air itu tawar rasanya, tapi segar. Ketika cairan itu menyelam ke tenggorokannya, giok hitam di dadanya berdenyut lebih kencang.

Sensasi hangat itu menyebar ke seluruh tubuhnya, setiap cairan yang larut ke dalam organ tubuhnya seakan menyala biru. Ajaib, kelelahan ototnya seketika berkurang drastis. Penglihatannya menjadi lebih tajam dan ia bisa melihat detak nadi di leher Kinanthi, bahkan mendengar langkah kaki semut di pasir sekalipun.

Kekuatan itu datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Tapi Sigit menekan rasa takjubnya, dia tak boleh menunjukkan keanehan ini. Belum saatnya. Sekarang, ia harus bermain peran sebagai si polos dan korban yang lemah dulu.

"Mari kita pergi, Kinan," kata Sigit yang melangkah mengikuti pemimpin para wanita itu masuk ke dalam kegelapan hutan.

Kinanthi menoleh tajam padanya, berhenti sejenak, seolah dalam tatapannya itu bertanya sesuatu "bagaimana kau bisa menyebut namaku seakrab itu? Padahal kita baru saja bertemu".

Sigit tersenyum, wanita itu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya memimpin di depan. Tanpa Kinanthi tahu, jika di dalam hati Sigit sebuah rencana mulai terbersit. Entah kenapa dia malah terjebak di sebuah buku novel, tapi satu hal yang ia tanamkan. Di Pulau itu dia tidak akan mati, melainkan untuk menakhlukannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca