Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Duda Hyper Dan Tiga Wanita Cantik

Duda Hyper Dan Tiga Wanita Cantik

Eriska | Bersambung
Jumlah kata
102.7K
Popular
2.7K
Subscribe
604
Novel / Duda Hyper Dan Tiga Wanita Cantik
Duda Hyper Dan Tiga Wanita Cantik

Duda Hyper Dan Tiga Wanita Cantik

Eriska| Bersambung
Jumlah Kata
102.7K
Popular
2.7K
Subscribe
604
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeHaremMengubah Nasib21+
Warning! 21+ Jangan salah lapak! Di usia tiga puluh tahun, ia harus menjalani hidup sebagai duda setelah kehilangan Nadira, wanita yang begitu dicintainya. Dulu, pernikahan mereka ditentang keras oleh keluarga Nadira karena Arlan hanyalah pria miskin. Bahkan, orang tua Nadira pernah berkata bahwa jika putri mereka tetap menikah dengannya, mereka akan menganggap Nadira telah mati.Bertahun-tahun kemudian, ucapan itu seolah menjadi kenyataan yang menyakitkan. Setelah sempat merasakan kesuksesan sebagai pengusaha, Arlan mengalami kebangkrutan. Tak lama kemudian, Nadira meninggal dunia dan meninggalkannya dalam kesepian.
Bab 1 Dua Tahun yang Tidak Cukup

Hari itu, Sumayah sengaja datang ke rumah putra semata wayangnya. Ada satu hal yang sudah lama mengganjal pikirannya.

Sejak istrinya, Nadira, meninggal dunia tiga tahun lalu, Arlan memilih hidup sendiri. Ia tidak pernah benar-benar membuka hati untuk menikah lagi. Padahal menurut Sumayah, tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk berduka.

Yang membuatnya semakin heran, Arlan dikabarkan dekat dengan beberapa wanita. Bahkan banyak orang membicarakan kedekatannya dengan Clarita, Clara, dan Linda. Namun hingga kini tidak ada satu pun hubungan yang berlanjut ke jenjang yang lebih serius.

Sayangnya, Sumayah tidak mengetahui satu hal.

Saat ini Arlan sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada urusan perempuan.

Beberapa usaha yang ia bangun mengalami kegagalan berturut-turut.

Sebenarnya, bangkrut bukanlah hal baru bagi Arlan. Dalam perjalanan bisnisnya, ia sudah beberapa kali jatuh dan kehilangan banyak uang. Namun setiap kali terpuruk, ia selalu berhasil bangkit dan membangun usahanya kembali.

Sayangnya, kali ini keadaan terasa berbeda.

Kegagalan datang silih berganti tanpa memberinya banyak waktu untuk bernapas. Modal yang ia tanam tidak kembali sesuai harapan. Dua proyek besar berhenti di tengah jalan, sementara satu investasi justru membuatnya merugi cukup banyak.

Setiap hari ia memikirkan cara mempertahankan perusahaan, membayar operasional, menjaga para karyawannya tetap bekerja, dan mencari peluang baru agar usahanya tidak tumbang.

Karena itulah, pernikahan bukanlah hal yang paling sering muncul di pikirannya.

"Ibu tahu kamu dekat dengan Clarita, Clara, dan Linda," ujar Sumayah.

Arlan yang sedang memikirkan laporan keuangan perusahaan hanya menghela napas pelan.

Baginya, pembicaraan itu terasa jauh lebih ringan dibandingkan masalah yang sedang dihadapinya.

"Terus?" tanyanya.

"Kamu maunya bagaimana? Tiga wanita cantik dekat denganmu, tapi tidak ada satu pun yang kamu pilih."

"Aku belum siap menikah lagi, Bu."

Dalam hati, Arlan menggeleng pelan.

Bukan karena ia belum siap.

Melainkan karena hidupnya belum berada di tempat yang ia inginkan.

"Kalau memang belum siap, kenapa kamu terus dekat dengan mereka?" tanya Sumayah.

Arlan terdiam.

Ia tidak pernah merasa sedang mempermainkan siapa pun.

Clarita, Clara, dan Linda memang hadir dalam hidupnya. Mereka menemaninya di masa-masa sulit. Namun kehadiran mereka tidak otomatis menyelesaikan semua masalah yang sedang ia hadapi.

"Dengarkan Ibu baik-baik. Kalau dalam dua tahun ke depan kamu tidak memilih salah satu dari mereka untuk menjadi istrimu, Ibu yang akan mencarikan jodoh untukmu."

Arlan langsung mengernyit.

Dua tahun.

Bagi Sumayah, itu adalah waktu untuk memilih pasangan hidup.

Namun bagi Arlan, dua tahun adalah kesempatan untuk menyelamatkan masa depannya.

Ia ingin memastikan perusahaannya kembali stabil.

Ia ingin memastikan seluruh usahanya menghasilkan keuntungan yang konsisten.

Ia ingin berdiri dengan kokoh di atas kakinya sendiri sebelum memikirkan pernikahan.

"Ibu kok begitu sih? Ini sudah zaman modern."

"Memangnya kenapa? Sampai sekarang kamu dekat dengan beberapa perempuan, tapi tidak ada satu pun yang kamu seriuskan."

Arlan menghela napas panjang.

"Bu, masalah terbesar dalam hidupku sekarang bukan perempuan."

Sumayah terdiam.

"Perusahaanku sedang banyak masalah. Aku sedang berusaha mempertahankan apa yang sudah kubangun selama bertahun-tahun."

Untuk pertama kalinya, Sumayah melihat keseriusan yang berbeda di mata putranya.

"Aku tidak mau menikah hanya karena umur atau karena didesak."

"Lalu karena apa?" tanya Sumayah.

"Karena aku ingin siap."

Arlan menatap lurus ke depan.

"Aku ingin menjadi suami yang bisa bertanggung jawab."

Ia berhenti sejenak.

"Aku tidak mau menikah saat hidupku sendiri masih berantakan."

Mendengar itu, Sumayah tidak langsung membantah.

Ia mulai memahami bahwa keraguan Arlan bukan sekadar soal memilih Clarita, Clara, atau Linda.

Ada beban yang jauh lebih besar yang sedang dipikul putranya.

Beban sebagai seorang laki-laki yang sedang berusaha mempertahankan masa depan yang ia bangun dengan susah payah.

"Yang jelas, Ibu hanya memberi waktu dua tahun."

Arlan mengangguk paham.

"Tapi dua tahun itu memang lama tapi tidak cukup untuk itu,"jawab Arlan.

"Tidak cukup untuk memilih?"tanya ibunya pada Arlan.

Arlan mengangguk kecil.

"Cukup untuk memperbaiki hidupku juga belum tentu, apalagi memilih dari ketiga wanita itu, itu tidak mudah, Bu. Memilih wanita untuk dinikahi dalam keadaan ekonomi sulit dan perasaan ku juga tidak sepenuhnya ke wanita-wanita itu. Aku masih belum bisa melupakan mendiang istriku, aku juga belum merasa diantara mereka itu cocok, terlebih wanita-wanita zaman sekarang tidak cukup bermodal ganteng saja tapi uang dan uang,"ungkap Arlan pada ibunya.

"Arlan, lalu kenapa kamu dekat dengan tiga wanita itu hingga jadi bahan omongan orang-orang? Kamu playboy dan kamu hanya mendekati mereka untuk memuaskan hasrat kamu, kamu cuma ingin main main sama perempuan itu, banyak yang mengatakan kamu hanya mendekati mereka tapi tidak benar-benar ingin menikahi salah satunya,"timpal ibunya.

Baru saja Arlan mau membuka mulutnya. Ponsel Arlan tiba-tiba berdering.

Ia melihat nama yang muncul di layar.

Manajer keuangannya.

Entah mengapa, firasat buruk langsung muncul.

"Ada apa?"

"Pak, kita punya masalah."

"Masalah apa lagi?"

"Klien terbesar kita membatalkan kontrak."

"Dan Pak, ada satu masalah lagi."

Arlan langsung mengernyit.

"Masalah apa?"

"Perusahaan yang dulu memberikan pinjaman kepada kita kembali menagih pembayaran."

Arlan terdiam.

"Mereka memberi batas waktu sampai hari ini."

"Dengan kondisi perusahaan saat ini, apakah kita sanggup membayarnya?" tanya Arlan dengan suara berat.

"Tidak, Pak."

Arlan memejamkan mata sesaat.

"Lalu kalau tidak dibayar?"

Suara di seberang terdengar semakin pelan.

"Sesuai perjanjian, mereka berhak menyita aset perusahaan."

"Aset yang mana?"

"Hampir semuanya, Pak. Kendaraan operasional, peralatan kerja, gudang, dan sebagian barang yang kita miliki."

Arlan tidak langsung menjawab.

Dadanya terasa sesak.

Ia sudah menghadapi banyak kegagalan dalam hidupnya, tetapi ancaman kali ini benar-benar membuatnya terdiam.

"Baik. Aku akan cari jalan keluarnya."

Setelah menutup telepon, Arlan hanya menatap layar ponselnya tanpa berkata apa-apa.

Sumayah yang melihat perubahan wajah putranya langsung merasa tidak enak hati.

"Ada masalah apa, Lan?" tanyanya pelan.

Arlan menghela napas panjang.

"Kalau hari ini aku tidak bisa membayar pinjaman perusahaan, sebagian besar aset perusahaan akan disita."

Sumayah langsung terdiam.

Baru sekarang ia menyadari betapa berat masalah yang sedang dihadapi putranya.

Ia menunduk sesaat sebelum berkata pelan,

"Ibu rasa kedatangan Ibu hari ini untuk membicarakan masalah perempuan bukanlah hal yang tepat."

Arlan menoleh ke arahnya.

"Ibu tidak tahu kalau kamu sedang menghadapi masalah sebesar ini."

Sumayah menghela napas panjang.

"Selama ini Ibu hanya mendengar omongan orang."

"Katanya kamu gonta-ganti perempuan hingga tiga wanita."

"Katanya kamu dekat dengan tiga wanita sekaligus, tetapi tidak pernah mau menikahi salah satu dari mereka. Tak mengenalkan kepada ibu itu pertanda kamu nggak serius pada wanita-wanita itu."

Wajah Sumayah terlihat menyesal.

"Jujur saja, Ibu sampai malu mendengarnya dan mendengar fakta kamu tidak pernah membawa pulang salah satu dari mereka ke rumah ibu."

"Tapi sekarang Ibu mengerti."

"Kamu ternyata sedang berjuang menghadapi masalah yang jauh lebih besar."

"Kamu bukan sedang sibuk memikirkan perempuan."

"Kamu sedang berusaha mempertahankan perusahaan dan masa depanmu."

Arlan hanya tersenyum tipis.

Tak berselang lama ibunya pun pergi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca