
- Jumlah kata
- 5.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2

Bimo menatap noda kopi yang mengering di atas surat wasiat ayahnya yang ternyata palsu. Bau knalpot metromini dan gorengan dingin merayap masuk lewat celah jendela kontrakan sempit di pinggiran Jakarta. Setiap sudut kota ini seolah berbisik, menertawakan ingatannya yang compang-camping tentang masa kecil yang hilang. Ada lubang besar di tengah silsilah keluarganya yang sengaja ditutup rapat oleh beton-beton gedung tinggi. Dia bosan hidup dalam ketidaktahuan yang mencekik lehernya setiap kali ia mencoba memejamkan mata. Di sekelilingnya, ada wajah-wajah yang mencoba mengisi kekosongan itu dengan cara mereka sendiri. Sarah dengan tatapan tajamnya yang selalu tahu kapan Bimo berbohong, atau Maya yang kehadirannya senyap seperti embun tapi menyimpan rahasia tentang siapa sebenarnya ibu kandung Bimo. Mereka bukan sekadar pelarian; mereka adalah jangkar sekaligus duri dalam upaya Bimo mengais sisa-sisa kebenaran yang terkubur di bawah tumpukan arsip lama dan sengketa lahan berdarah. Hubungan-hubungan ini tumpang tindih, rumit, dan melelahkan, tapi lewat mereka Bimo bisa merasakan denyut kehidupan yang nyata di tengah kota yang penuh kepalsuan ini. Langkah Bimo terhenti di depan sebuah ruko tua yang seharusnya tidak ada dalam denah kota. Sebuah papan nama berkarat hanya bertuliskan satu kalimat pendek yang memicu mual di perutnya: "Apa ini?". Kalimat itu terus menghantam kepalanya setiap kali ia menemukan kepingan foto keluarga yang wajahnya sengaja dicungkil. Dia tidak sedang mencari harta atau kejayaan, dia hanya ingin tahu mengapa namanya tidak pernah tercatat di buku nikah orang tuanya sendiri. Kebenaran itu terasa seperti pecahan kaca di dalam tenggorokan - sakit untuk ditelan, tapi harus dihabiskan sampai tuntas.
Kipas angin dinding yang berderit di sudut plafon itu tidak banyak membantu. Alih-alih mendinginkan suhu udara, ia hanya memutar-mutar aroma knalpot metromini yang menyelinap masuk lewat celah ventilasi, bercampur dengan bau minyak gorengan dingin dari kantong plastik di atas meja. Bimo menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Tubuhnya yang tegap terasa terlalu besar untuk ukuran kontrakan sempit di pinggiran Jakarta ini, seolah dinding-dinding kusam yang mengelilinginya perlahan bergerak merapat, hendak menghimpitnya sampai sesak.
Di depannya, selembar kertas tergeletak dengan angkuh. Kertas itu seharusnya menjadi pegangan terakhir, sebuah kompas yang menuntunnya keluar dari kabut masa lalu. Namun, noda kopi yang mengering di sudut kanan atas surat wasiat itu seakan menertawakannya. Noda itu berbentuk bundar, tidak beraturan, menyerupai peta sebuah pulau yang tidak pernah ada dalam atlas mana pun.
Bimo menyulut sebatang rokok. Asapnya membubung, menari-nari ditiup angin lesu sebelum hilang tertelan bayang-bayang. Ia menatap tanda tangan di bagian bawah kertas. Tanda tangan ayahnya - atau sosok yang selama ini ia panggil Ayah. Goresannya tegas, sedikit miring ke kanan, dengan tarikan garis terakhir yang tajam. Sangat mirip. Terlalu mirip sampai terasa tidak alami.
"Bajingan," bisik Bimo pelan. Suaranya serak, tenggelam oleh deru mesin kendaraan di jalan raya yang tak pernah tidur.
Jarinya menyentuh tekstur kertas itu. Ada sesuatu yang salah. Bukan pada tulisannya, tapi pada rasa yang tertinggal di ujung jemarinya. Ia teringat ayahnya - lelaki tua yang jarang bicara, yang jemarinya selalu berlumuran oli dan aroma tembakau murah. Lelaki yang meninggal dalam kesunyian rumah sakit tanpa sempat meninggalkan sepatah kata pun. Lalu, dua minggu kemudian, surat ini muncul di kotak posnya. Tanpa pengirim. Tanpa catatan tambahan.
Bimo mengambil sebuah korek gas, menyalakannya, lalu mendekatkan nyala api itu ke sudut kertas. Ia tidak berniat membakarnya, hanya ingin melihat bagaimana reaksi tinta di bawah panas. Matanya yang tajam menangkap fenomena kecil yang luput dari pandangan orang awam: tinta itu sedikit mengkilap, seolah-olah baru saja keluar dari mesin cetak laser berkualitas tinggi yang mencoba meniru goresan pulpen manual. Yang lebih fatal lagi, stempel notaris di sana - Hadi Pranoto, S.H. - adalah nama seorang pria yang, menurut berita di koran bekas pembungkus tempe kemarin, sudah meninggal dunia tiga tahun sebelum tanggal yang tertera di surat wasiat ini.
Wasiat ini tidak hanya palsu. Wasiat ini adalah sebuah undangan ke dalam labirin yang lebih gelap.
Pikirannya melayang pada Sarah. Perempuan itu pasti akan menyadarinya dalam hitungan detik. Sarah dengan mata elangnya yang selalu bisa membedah kebohongan hanya dari cara seseorang bernapas. Bimo bisa membayangkan suara Sarah yang dingin namun sensual, membisikkan betapa bodohnya dia karena sempat memercayai secarik kertas sampah ini. Lalu ada Maya. Maya yang berbeda. Maya adalah keheningan yang menenangkan, seperti embun pagi yang menempel di kaca jendela, namun di balik ketenangannya ada rahasia yang ia simpan rapat tentang silsilah keluarga Bimo. Maya pernah berkata bahwa ada hal-hal yang lebih baik tetap terkubur di bawah beton Jakarta, tapi Bimo tidak bisa berhenti.
Ketidaktahuan adalah tali yang mencekik lehernya setiap kali ia mencoba memejamkan mata.
Bimo berdiri, berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke gang sempit. Di bawah sana, kehidupan berjalan seperti biasa. Tukang bakso memukul mangkuknya, anak-anak kecil berlarian mengejar kucing, dan lampu jalan yang berkedip-kedip seolah sedang mengirimkan kode morse yang tak terpahami. Di kejauhan, gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh, menutupi langit malam dengan cahaya neon yang palsu. Di balik dinding-dinding beton itu, Bimo tahu, ada lubang besar dalam sejarah hidupnya yang sengaja ditambal dengan semen dan dusta.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah foto lama yang sudutnya sudah melengkung. Foto itu menampilkan sebuah keluarga kecil di depan sebuah rumah tua. Ada seorang pria, seorang wanita, dan seorang anak kecil yang tampak bingung. Namun, bagian wajah sang wanita - ibu kandungnya - sengaja dicungkil, menyisakan lubang putih yang kasar.
"Siapa sebenarnya aku?" gumamnya pada kegelapan.
Ingatannya tentang masa kecil hanyalah potongan-potongan gambar yang compang-camping. Bau tanah basah, suara gesekan daun jati, dan rasa sakit di lututnya saat terjatuh. Sisanya hilang, seolah seseorang telah menghapus pita kaset di otaknya dan merekam ulang dengan kebisingan kota. Namanya tidak pernah tercatat di buku nikah orang tuanya. Ia tidak punya akta kelahiran yang sah. Dia ada, tapi secara administratif, dia adalah hantu.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Ruko di Jalan Kamboja No. 13. Papan namanya berkarat. Datanglah sebelum matahari tenggelam besok.”
Bimo mengerutkan kening. Jalan Kamboja berada di kawasan kota tua, sebuah daerah yang seharusnya sudah diratakan untuk proyek apartemen mewah tahun lalu. Ia ingat pernah melewati daerah itu. Sebuah kawasan yang seolah terisolasi dari waktu, di mana ruko-ruko tua berdiri dengan cat yang mengelupas seperti kulit mati.
Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas. Sebuah papan nama tua yang pernah ia lihat sekilas saat mencari alamat beberapa bulan lalu. Papan itu hanya bertuliskan dua kata yang membuatnya mual setiap kali memikirkannya: Apa ini?
Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan. Itu terasa seperti ejekan. Sebuah pengingat bahwa di dunia ini, ia tidak tahu apa-apa.
Ia kembali menatap surat wasiat palsu di meja. Kebenaran yang dicarinya mungkin akan terasa seperti pecahan kaca di dalam tenggorokan - sakit untuk ditelan, berdarah saat dipaksa masuk, tapi ia harus menghabiskannya sampai tuntas. Ia bosan menjadi penonton dalam hidupnya sendiri. Jika kota ini ingin bermain teka-teki, Bimo akan mengikuti aturannya, meskipun ia harus merobek lapisan demi lapisan kepalsuan yang menutupi wajah orang-orang di sekitarnya.
Sarah mungkin akan mencoba menghentikannya. Maya mungkin akan menangis dalam diam. Tapi Bimo tahu, jangkar yang mengikatnya pada kedua perempuan itu tidak akan cukup kuat untuk menahannya tetap berada di permukaan. Ia harus menyelam lebih dalam, ke dasar yang paling berlumpur, di mana sengketa lahan berdarah dan arsip-arsip lama yang sengaja dibakar disimpan sebagai rahasia negara.
Bimo mematikan puntung rokoknya di asbak kaca yang sudah penuh. Ia mengambil jaket kulitnya yang tersampir di sandaran kursi, lalu melipat surat wasiat palsu itu dan memasukkannya ke saku dalam. Tekstur kertasnya terasa dingin di balik kain.
Ia melangkah keluar dari kontrakan, mengunci pintu kayu yang sudah rayapan itu dengan sekali sentakan. Tangga menuju lantai bawah gelap dan pengap. Langkah kakinya menggema di lorong sunyi, seirama dengan detak jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat. Setiap langkah yang diambilnya menjauh dari ruangan sempit itu terasa seperti pengkhianatan terhadap kenyamanan yang selama ini ia bangun secara paksa.
Di depan gerbang kontrakan, ia berhenti sejenak. Angin malam yang tajam menusuk hingga ke tulang, membawa aroma sate ayam yang dibakar di ujung jalan. Bimo menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara Jakarta yang kotor dan berdebu.
Ia tidak tahu apa yang menantinya di ruko tua itu. Mungkin jawaban, mungkin jebakan, atau mungkin sekadar kekosongan yang lain. Namun, ada satu hal yang ia yakini: surat wasiat di sakunya adalah kebohongan pertama yang berhasil ia tangkap, dan ia tidak akan membiarkan kebohongan itu menjadi yang terakhir.
Bimo berjalan menuju motor tuanya yang terparkir di bawah lampu jalan yang mati. Ia menyalakan mesin, mendengarkan raungan knalpotnya yang kasar, lalu memacu kendaraannya membelah kemacetan malam, menuju pusat labirin yang disebutnya sebagai rumah. Matanya lurus menatap aspal hitam, sementara di kepalanya, bayangan wajah ibunya yang tercungkil itu terus berputar, menuntut untuk dikembalikan.
Lampu belakang motornya perlahan menghilang di tikungan, meninggalkan gang sempit itu dalam kesunyian yang mencekam, hanya menyisakan suara kipas angin di dalam kamarnya yang masih terus berderit, memutar udara yang sama berulang-ulang tanpa henti.
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.