
Topeng Sang Raja
Mutiara Senja|Bersambung
- Jumlah kata
- 65.2K
- Popular
- 155
- Subscribe
- 62
- Jumlah kata
- 65.2K
- Popular
- 155
- Subscribe
- 62
Sinopsis
" Dasar pria miskin, berani kau menatapku hhhh" Ucap sinis seorang wanita yang menaiki mobil mewah setelah melempar botol bekas ke arahnya hingga mengenainya. "Maaf non" ucapnya lirih hendak pergi dari tempatnya yang semula. " Ehhh, tunggu !!! pungut tu botol bekas, bukankah sama seperti kamu kot*r dasar orang miskin sok tampan " sindirnya hingga pria itu berbalik arah dan memungut botol tersebut lalu melirik tajam wanita tersebut. " Dasar wanita sombong, Awas aja kalau aku kaya nanti, pasti kamu akan jadi milikku dan patuh padaku " ucapnya asal karna hatinya terasa sakit. Dia adalah Ramon pranata seorang pria miskin yang kerjaannya cuman memungut sampah dan barang rongsokan lalu di jualnya untuk menghidupi dirinya sendiri. Sebenarnya ia pria yang tampan karna hidupnya yang susah menutupi ketampanannya. Suatu hari ia berjalan tanpa arah hingga menemukan benda aneh yang bersinar tertutup pasir, ia yang penasaran mengoreknya dan mengambil benda bersinar itu dan terdengar suara lirih hingga ia terperanjat kaget. " pakailah topeng itu, dia akan mengubah hidupmu jadi lebih baik, tapi ingat jangan pernah tinggi hati dan bantulah orang yang lagi butuh bantuaan" Suara itu menggema hingga ramon merinding dan menatap topeng yang sejak tadi ia pegang. " ngeri sekali, tapi apakah benar bisikkan tadi " ucapnya lalu memakai topeng tersebut hingga keanehan pun terjadi. "Ehhhh, apa ini "
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
bab 1 perkenalan
Di sebuah kota besar yang bernama kota jakarta terdapat sebuah gedung- gedung tinggi menjulang dan mewah hingga seorang pria yang bernama Ramon pranata terpaku melihat pemandangan yang membuat ia kagum.
" Andai aku bisa jadi orang terkaya di kota metropolitan ini, semua terpenuhi, semua di layani enak sekali hidupku yah "gumamnya lirih.Hingga ia tersadar dari lamunannya saat benda keras mengenainya.
"Bughhhh"
Suara botol bekas yang mengenai pundaknya, hingga ia menoleh kebelakang melihat siapa yang melempar botol bekas padanya. Ia reflek menatapnya tajam dan mengerutkan keningnya.
" apa lihat- lihat mau marah, bukankah kamu mencari barang bekas, aku kan baik memberimu botol bekas" ucapnya sinis menatapnya penuh rasa jij*k.
" Tapi bukan gitu juga caranya non" Ucapnya mencoba memberi komentar atas tindakannya yang kurang sopan.
Tetapi tanggapan wanita itu semakin tidak suka pada ramon , hingga ia mendengus kesal.
" Dasar orang miskin, banyak gaya banget "
Ucapnya sambil menutup jendela mobil dan melaju kencang tanpa menghiraukan ekspresinya.
" Gini amat jadi orang tak punya, diam salah berani perpendapat pun salah " ucapnya sambil meraih botol bekas dan memasukkannya ke karungnya.
Ramon pranata seorang pria miskin yang baru merantau ke jakarta setelah keluarganya tiada, akibat sakit dan tak bisa berobat karna terhalang ekonomi.
Ia memutuskan ke jakarta untuk bekerja, karna ia hanya tamatan sekolah menengah Atas( SMA) , Maka sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan hingga ia memutuskan mengais rezeki dengan mengumpulkan barang bekas lalu menjualnya.
Ramon memiliki postur tubuh yang ideal, berisi, wajahnya yang juga terbilang tampan dan rambut lurus dan tebal menambah keelokkan dirinya.
Tapi semua itu di jaman sekarang tak akan di pandang wanita, karna sekarang jaman serba mahal, gaya minta elit tak jarang banyak wanita memilih lelaki beruang untuk memenuhi gaya hidup dan hidup mewah yang membuat mereka menjadi ratu layaknya drama drama yang ada di China.
" katanya roda itu berputar, kapan waktunya aku berada di puncak kejayaan yah " ucapnya lirih dan berjalan menyusuri pinggiran kota yang sangat ramai mobil dan motor berlalu lalang.
Hari hampir gelap hingga ramon memutuskan untuk pulang di kontrakkan rumah.
Rasa lelah dan letih melanda tubuhnya pikiran mandi dan makan mie instan yang selalu menemani rasa laparnya menguasainya pikirannya.
" pulang, mandi,.makan dan lanjut rebahan enaknya " gumamnya sambil jalan melewati gang kecil hingga ia berada di depan kontrakkannya yang terbilang kecil.
" pulang juga kamu, mana udah waktunya bayar kontrakan kalau enggak enyah dari sini " teriak ibu kontrakan yang mempunyai badan gemuk dan berkaca mata agak tebal hingga menghampiri dirinya dengan wajah kesalnya.
" hehe sabar, Minggu depan pasti aku bayar kok tolong beri waktu lagi gimana ? " ucapnya memohon hingga tangan yang tadinya ingin meraih lengan ibu kontrakan langsung di hempaskan kasar olehnya.
" kamu udah nunggak dua bulan lamanya, aku sudah mentolerir ketiga kalinya, entah dari sini" Ucap ibu kontrakan hingga ramon akhirnya dengan berat hati mengambil koper usang yang di lempar di hadapannya dan pergi dengan rasa kecewa di dalam hatinya.
" Emang dunia ini suka bercanda padaku hhhh " ucapnya dengan rasa lesu dan lelah.
" KRUUKKKKK KK,'
Suara perut yang kelaparan hingga ia berhenti sejenak dan merogoh uang di dalam sakunya dengan rasa berharap masih ada sisa uang untuk mengganjal perutnya.
Tangannya yang tampak meraba dan merasakan menemukan sesuatu membentuk senyum di bibirnya.
Ia lantas segera menarik kertas dan menatapnya hingga senyum yang mengembang langsung berubah muram di iringi hujan yang sedikit membasahi uangnya.
" lima ribu dapat apa ya ? " ucapnya sambil mengelap uang yang sedikit basah terkena air hujan.
Ia mengedarkan pandangannya dan melihat sebuah gerobak di pinggir jalan dan di etalasenya terdapat gorengan hangat.
ia berjalan sedikit berlari menghampiri penjual tersebut yang terlihat ramah menyapanya.
" Mau beli apa kak". ucap seorang wanita separuh baya menatapnya penuh rasa sopan.
" mau beli gorengan tapi uang saya hanya lima ribu " ucapnya bingung.
" nggak papa kak " ucapnya lalu mengambil kantong kertas dan hendak mengisi gorengan lalu menatap Ramon lagi.
" kak, campur " Ucapnya menawari Ramon lagi.
" terserah ibu aja " ucapnya pasrah.
" ya udah ini " ibu itu menyodorkan kantong kertas yang berisi gorengan hingga ramon menerimanya dengan senang hati menggantinya dengan uang lima ribunya.
Ramon pergi berjalan ke arah halte bus dan duduk di sana menikmati gorengan hingga kakek tua yang menghampirinya dan duduk di sampingnya.
" kakek mau kemana ? ' tanyanya sambil menyodorkan kantong kertas menawari kakek tersebut.
"mau pulang nak " ucapnya sambil meraih gorengan yang di bawa Ramon.
" kamu sendiri mau kemana "
" Entahlah kek,aku juga bingung" jawabnya terlihat lelah dengan semua yang telah ia alami.
" Mau ke rumah kakek, kebetulan kakek hidup sendiri" jelasnya menawari Ramon, tanpa pikir panjang ramon mengangguk pelan.
" Boleh kek, beneran " tanyanya antusias hingga sang kakek tersenyum manis menatapnya.
" kalau boleh tau siapa nama kakek aku ___"
" Nama kamu Ramon pranata kan " sela kakek tersebut yang sudah mengetahui nama ramon hingga ramon terkejut menatapnya penuh rasa bingung dan mengerutkan keningnya.
" panggil saja aku kakek dharma"
ucapnya sambil bangkit dan melangkah pergi tanpa mengajak Ramon lagi, hingga ramon bergegas bangkit dan segera menyusul kakek dharma.
Dalam perjalanan yang cukup jauh, kakek dharma tak berbicara satu patah katapun hingga ramon membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
" kakek rumahnya masih jauh ya " tanyanya hingga kakek dharma tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan dari ramon.
Ramon hanya menggaruk pelan kepalanya yang tak gatal sambil trus menyunggingkan bibirnya tersenyum terpaksa.
Sudah hampir setengah jam lamanya ia berjalan mengikuti kakek dharma hingga kakek dharma yang tiba- tiba berhenti membuat ramon tak sengaja menabraknya.
' kek, maaf aku enggak sengaja ' ucapnya sambil mengedarkan pandangan yang hanya mendapati pepohonan dan tempat sedikit gelap dan suara Auman keras srigala membuat bulu kuduknya meremang.
Kakek dharma tampak menjentikkan jari- jarinya hingga yang sejak tadi nampak pepohonan dengan minimnya penerangan kini seperti tirai yang terbuka dan membuat pemandangan yang mengejutkan bagi Ramon.
Ia hanya terpaku dan membuka mulutnya sedikit karna apa yang ia lihat seperti magic baginya.
" kakek, kakek kamu"
"kamu siapa sebenarnya?"
" AUUUUuuuuuu, hrrrrrrrrrr"
Suara lolongan srigala membuat ramon berlari mengikuti kakek dharma yang lebih dulu berjalan.
" apa itu kek" tanya ramon dengan sangat terkejut menatapnya tanpa berkedip.
Daftar bab
51 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








