

"Dasar gila!"
"Jon, Jon... Nggak malu pake kalung rongsokan kek gitu!"
"Hahaha... Kalung itu biasanya saya pakein di anjing saya, Jon!"
"Orang itu kerja nyata, Jon! Jangan ke sawah mulu! Gimana bisa majunya?!"
Segala cibiran Jono telan mentah-mentah. Hidup miskin itu membuat Jono tak ada harga dirinya dimata masyarkat terutama para tetangganya. Tidak ada yang menghargainya jika bukan karena tenaga Jono di perlukan.
Padahal, selama hidup Jono tidak pernah berhutang atau pun meminta makan tetangganya. Tapi, orang-orang di Desanya sekaan tak punya hati, hanya karena Jono anak yatim, juga lulusan SMP saja. Setiap berpapasan dengan tetangganya pun, Jono tak lepas dari cibiran mereka.
"Anak saya Jon, yang dulu satu Smp dengan kamu, sekarang sudah jadi Polisi!"
Ibu-Ibu berdaster merah menimpali, "Anak saya Ratna... Sudah jadi perawat. Temen Sd kamu 'kan Jon?! Bulan ini mau di lamar sama Pacarnya, TNI!"
"Kalau lulusan Smp saja ya gini, Jon, kaya kamu. Kerjaanya ke sawah cari rumput! Hidupmu loh, Jon... Sampai kapan pun nggak baka sukses!" sahut Ibu-Ibu satunya ber daster ungu.
Pedas!
Ucapan Ibu-ibu tadi mengiris hati Jono. Padahal, secara terang-terangan tetangganya itu menyudutkan dirinya. Jono hanya menanggapinya dengan senyuman getir. Bukan karena iri akan kehidupan teman-temannya, tapi Jono hanya tidak menyangka, tetangganya dapat mencibir sebegitu kejinya.
*
Selepas mengambil pakan ternak kambingnya. Jono mengusap peluh, masuk ke dalam rumah mencari Ibunya.
Wajah Jono sangat lesu. Bukan hanya mengingat olok-olokan orang desa. Malam lalu, Jono juga merasakan sakit yang tak timbul darahnya. Cintanya kepada anak kepala desa harus berakhir tragis penuh luka.
"Maaf sebelumnya, Pak Lurah... Saya 'kan sudah di kenal baik sama keluarga Pak Lurah. Mirna juga begitu baik sama saya. Kedatangan saya kesini ingin melamar Mirna, Pak Lurah...." Ucap Jono sangat hati-hati.
Jono datang bersama Ibunya dan Pakdhenya. Demi melamar Mirna, Jono rela mengumpulkan uang dari hasil dirinya menjual kambing 3 ekor.
Wajah tampannya tertutup kain lusuh yang orang sebut sebagai kemeja. Penampilan kampungannya membuat keluarga Pak Lurah cukup menghela napas, tak halnya~Mirna yang sudah ingin kabur sejak tadi.
"Terus terang saja Ya, Jon... Putri saya hanya menganggap kamu sebagai temannya saja. Saya juga minta maaf kepada Bu Siti dan Pak Umar. Lamarannya saya tolak!" Pak Lurah menangkupkan dua tangan di dada, berkata sangat hati-hati.
Mirna mengimbuhi, "Selera saya bukan kamu, Jon! Saya ini Bidan... Jadi cocoknya sama pria yang berpangkat! Maaf Lo ya, Jon... Saya nggak bermaksud banding-bandingkan kamu."
Malam itu bukan hanya hati Jono yang hancur, tapi harga dirinya sebagai orang tak punya serasa di injak-injak. Menanggapi tolakan putri Lurahnya itu, Jono hanya mampu tersenyum getir merutuki sikap lancang dan nekadnya.
Dan ternyata, selama ini Jono tak pernah tahu jika dirinya hanya di manfaatkan keluarga si Lurah saja. Ia sangka, Mirna sering memintanya mengantarkan ke puskesmas, itu karena Mirna memendam cinta kepadanya. Padahal faktanya, Mirna hanya memanfaatkan kebaikan Jono saja.
Rasa sakit itu tak akan pernah Jono lupakan sampai kapan pun.
Bu Siti keluar dari balik bilik. Sementara terpaku beberapa detik melihat putranya pulang dari mencari pakan ternak dalam keadaan murung.
"Jono, kenapa kok lesu begini?"
Jono reflek mengulas senyum kecil. Ia menerima segelas air yang Ibunya bawakan dari dalam. "Bu... Duduk dulu deh, ada yang ingin Jono bicarakan."
"Ada apa? "
"Bu... Jono mau merantau saja ya setelah ini. Jono ingin mengubah perekonomian keluarga kita. Jono pingin bahagiakan Ibu sama Desti. Kalau Jono hanya mengandalkan kerja di ladang, bagaimana dengan masa depan Desti, Bu?! Dia baru kelas 1 SMP. Masa depanya masih panjang."
Sejenak, Bu Siti menarik napas. Sebagai orang tua, terkadang dirinya juga merasa gagal melihat anak-anaknya menjadi barang cibiran setiap orang.
Tangan Jono di usap. "Memangnya kamu mau kemana, Jono?"
"Jono mau ikut Mas Arman ke Jakarta, Bu! Jono mau mengadu nasib di sana. Siapa tahu Jono bisa sukses," harapnya.
Dari lubuk hati Bu Siti, wanita parubaya itu mengaminkan harapan sang putra dari lubuk yang terdalam. Kemudian tiba-tiba Bu Siti bangkit.
"Mau kemana, Bu?"
"Sebentar, ada yang ingin Ibu kasih sama kamu," selepas mengarakan itu, Bu Siti masuk ke salah satu kamar, yang dulu pernah di huni oleh kakeknya.
Jono memicingkan mata melihat botol kecil yang di pegang Ibunya berjalan mendekat. "Itu apa, Bu?"
"Ini bukan apa-apa, Jon! Minyak kecil ini sebenarnya satu set sama kalung yang kamu pakai itu. Kamu bawa merantau. Setiap hari senin sama kamis, oleskan sedikit minyak ini pada kalung kamu secara merata."
Jono menerima botol kecil tadi. Karena penasaran Joko membukanya. Baunya wangi, sekilas sama seperti minyak wangi pada umumnya. Namun, minyak itu wanginya lebih menyengat.
Keputusan Jono sudah bulat. Tekadnya juga sudah mantab ingin ikut Arman sepupunya merantau ke Ibukota.
*****
Bis sudah berhenti di terminal. Jono keluar mengalungkan tas ranselnya di pundak sebelah kanan. Tidak membawa banyak pakaian, karena pakaian Jono hanya itu-itu saja.
Arman juga sudah turun. Tak lama itu ada sebuah mobil cukup mewah yang berhenti tepat di sebrang mereka.
Seorang pria berusia 55 tahun keluar sambil mengangkat tanganya tinggi. Arman juga melakukan hal yang sama.
"Dia siapa, Mas Arman?" Bisik Jono.
"Itu mandor tempat kita kerja nanti, Jon! Yang sopan, ya!"
Jono hanya mengangguk patuh. Bersikap sopan saat calon Mandornya menyapa.
"Ini saudara kamu, Man?" Tanya Pak Ibnu.
"Iya, Pak... Namanya Jono."
Jono sedikit tertunduk saat mendapat tatapan menyipit dari Mandor tadi. "Kuat dia kerja di bangunan? Soalnya berat. Dia masih muda banget soalnya."
Arman menyahut, "Jangan diragukan, Pak Ibnu! Di desa, kerjaan lebih berat. Jono sudah terbiasa kerja yang berat-berat."
Pak Ibnu manggut-manggut. Setelah itu ia mengajak kedua anak buahnya menuju mobil. Sebab Jono dan Arman tiba sore, jadi Pak Ibnu mengajak keduanya ke sebuah kontrakan kosong miliknya. Tepat berada di depan rumah sang Mandor.
Begitu tiba, Jono di kejutkan dengan seorang wanita cantik yang sudah cukup berumur datang menyambut kedatangannya.
"Buk... Nanti tolong buatkan kopi ya. Mereka pekerja Mas dari Desa," ucap Pak Ibnu kepada Istrinya.
Wanita parubaya itu mengangguk genit. Usianya mungkin sudah kepala 4, namun dandanan serta tubuhnya masih sangat mempesona.
Apalagi dua gundukan kencang dibalik kaos putihnya, serta bongkahan besar yang tertutup rok mininya itu, siapapun mata yang memandang pasti akan terpesona.
Tak terkecuali dengan Jono dan Arman saat ini. Jono yang melihat pun sampai tak berkedip.
'Buset dah... Gede pisan gunungnya. Jono... Sadar Jono, dia Istrinya Mandor kamu,' Jono sampai bergeleng pelan merutuki hasratnya yang sedang naik.
Wanita tadi namanya Bu Mudah. Usianya kira-kira 45 tahunan. Tapi untuk masalah badan, beuhh... Nggak kalah sama yang masih gadis.
Tiba-tiba saja Jono ingin buang air kecil. Jono menyela obrolan Pak Ibnu dan Arman. "Maaf, Pak... Toilet sebelah mana, ya? Saya kebelet kencing."
Pak Ibnu menatap Istrinya. Bu Mudah langsung menyahut. "Sekalian saya mau ke dapur, ayo bareng saja tak anterin, Nak Jono!"
"Iya, ikut Istri saya saja, Jon! Biar tau di mana toiletnya," sambung Pak Ibnu.
Selepas itu Jono bergegas mengikuti Istri Mandornya, hingga keduanya tiba di sebuah dapur cukup kecil, dan di sudutnya ada kamar mandi dengan pintu triplek yang hanya di kaitkan oleh paku.
"Ahhh... Leganya...." gumam Jono begitu selesai. Akan tetapi, pitonnya itu masih tetap menegak. Tiba-tiba saja bayangan Bu Mudah ada di depanya.