
Detektif Hantu Unit 1.5
Naravell|Bersambung
- Jumlah kata
- 84.2K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 275
- Jumlah kata
- 84.2K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 275
Sinopsis
Naravell hanya ingin hidup tenang, lulus kuliah, dan berhenti melihat hantu. Tapi semuanya berubah sejak ia tinggal di Unit 1.5 dan bertemu Gina—gadis hantu cantik yang terus mengikutinya. Sekarang, mereka bekerja sama membantu para arwah menyelesaikan urusan yang belum selesai. Masalahnya… semakin dekat Naravell dengan dunia orang mati, semakin sulit baginya kembali menjadi manusia biasa.
Ulasan
16 ulasan
Dhanny Ofin
4/9/26 16:25
semangat bang, lanjut ceritanya jangan menyerah. coba update minimal 3 bab atau lebih mungkin pendapatan nya bisa naik
Naravell
4/9/26 04:14
😭gimana gak macet 3bulan nulis di max cuma dapet 30rb🤧 sebulan digaji 10rb sama Max😭🤧 sungguh terlalu kamu MAXNOVEL 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Unit 1.5
“Ini bawa, ya,” Ibu menyelipkan sebuah kain kecil berbentuk kalung ke dalam saku jaketku.
“Bu, aku sudah dewasa. Bisa menjaga diri sendiri. Lagipula, jimat itu... sudah tidak kubutuhkan lagi.” Suaraku terdengar lebih yakin dari yang kurasakan.
“Bawa saja, Vell. Kami khawatir di sini,” sahut Ayah, ikut menumpuk tumpukan buku terakhir ke dalam mobil bak yang sudah penuh.
Hari ini, aku pindahan ke apartemen baru agar jarak tempuh ke kampus tidak terlalu jauh. Sejak pagi, langit Jakarta tampak murung, diguyur hujan yang tak henti-henti, membuat suhu sore itu terasa menggigit tulang.
"Lagi dingin sekali Jakarta, ya, Mas?" sapa sopir, memecah keheningan di dalam mobil.
"lya, Bang. Dingin banget," jawabku singkat, melirik ke luar jendela. Langit kelabu seperti menyimpan rahasia.
Perjalanan yang biasanya padat, kini terasa lebih singkat, hanya ditempuh dalam waktu satu jam karena jalanan lengang.
Begitu kami tiba di depan gedung apartemen, hawa dingin yang menusuk langsung menyambut, memaksaku merapatkan jaket. Sopir itu buru-buru menurunkan semua barang, lalu pamit dengan senyum canggung, seolah terburu-buru ingin segera pergi dari tempat ini.
Aku segera memindahkan barang-barang yang paling penting masuk ke dalam. Satu per satu, aku panggul kardus-kardus berat itu ke unitku. Setiap langkah, aku merasakan bulu kudukku meremang.
Kini, aku berdiri di depan unit apartemenku, nomor 1.5. Jantung berdebar tak karuan, namun aku memaksa diri untuk percaya bahwa aku. siap menghadapi apa pun yang akan menyambutku di dalam sana.
Begitu kenop dingin itu kuputar dan pintu ku dorong perlahan, udara dingin yang bukan berasal dari suhu luar langsung menyeruak, mencengkeram kulitku.
Bersamaan dengan itu, suara cekikikan tajam menusuk gendang telinga.
"Ihihihihihi"
Mereka ada. Aku tahu.
Sebagai seorang indigo, aku bukan hanya bisa merasakan kehadiran mereka, tapi juga melihat dengan mata telanjang. Dan kali ini, mereka seolah sudah menungguku.
Dengan sekuat tenaga, aku berusaha mengabaikan sensasi merinding di punggungku.
Setelah semua barang berhasil masuk, aku mulai menata barang-barang pribadiku ke dalam lemari.
Di sekelilingku, "mereka" bergerak lincah, melayang-layang dengan tubuh transparan, sesekali sengaja menabrakku, bahkan berbisik-bisik di telingaku, mencoba mengagetkan.
Aku memasang wajah datar, berpura-pura seolah tak ada apa pun di sana. Aku sudah terlatih dalam hal ini, menjadi aktor ulung yang pura-pura tuli dan buta.
"Ugh, sial! gumamku dalam hati, menahan napas. Bau anyir seperti bangkai bercampur amis menusuk hidung, membuat perutku mual.
Rasanya aku ingin sekali menutup hidungku atau menjerit, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku harus tetap terlihat tenang, seolah semua ini hanya ilusi.
"Kau melihatku, Nak?" Suara parau nan mendesis menyentak, berasal dari hantu bertubuh kurus kering dengan wajah compang-camping mengerikan. Salah satu bola matanya kosong melompong, sementara yang lain menjuntai menggelantung hanya dengan seutas urat tipis.
"Kau merasakan dadaku yang besar ini, Mas?" sambung hantu lain, yang bertubuh semok dengan pakaian tembus pandang, suaranya terdengar genit dan menggoda. Pasti dia hantu cabul kelas kakap.
"Hei, anak muda! Kenapa kamu mengabaikan kami?"
"Sudah lama sekali tidak ada penghuni baru yang bisakami ajak bermain!"
"Apa sekarang kita teman? kan kita sudah akrab!"
"Apa kamu tidak suka kami? Padahal kami suka sekali denganmu, hihihi!
Rentetan gangguan tak henti-hentinya menerpa. Aku mencoba mengalihkan perhatian, merebahkan tubuhku ke sofa empuk-sebagai penyamaran-dan pura-pura asyik memainkan ponsel.
Sialnya, mereka tidak mudah menyerah.
Kalau bukan karena biaya sewa apartemen ini yang super murah hingga tak masuk akal, aku juga enggan sekali menyewa sarang hantu ini.
Tiba-tiba, ponselku berdering nyaring, menyelamatkanku dari situasi canggung ini.
"Vell, lo udah pindahannya?"
"Udah, baru selesai."
"Lo pasti capek banget, kan?"
"Enggak kok, gue enggak capek. Oke, gue ke kamar lo sekarang. Aku sengaja bicara dengan nada bersemangat, berharap mereka takkan curiga.
Syukurlah. Semoga "mereka" tidak sadar aku sebenarnya menyadari sepenuhnya keberadaan mereka. Dengan cepat, aku menyambar jaket dan dompet, lalu segera melesat kabur dari neraka itu.
Begitu pintu apartemen tertutup rapat di belakangku, napas lega kubuang panjang-panang.
Aku mulai mengumpat pelan, "Sialan! Bajingan-bajingan tengik! Brengsek! Bangsat! Udah kayak lintah nempel terus!"
Aku tak menoleh lagi. melangkah cepat menyusuri koridor, menjauh.
Aku mengetuk pintu kamar Rahmat yang ada di lantai 3, nomor 36. Tak lama, pintu terbuka, dan aku disambut keriuhan teman-teman kampus yang sudah duluan berkumpul di sana.
Ada Heru, Luna, dan Vivi yang sedang asyik bermain game di konsol Rahmat.
"Vell, lo tinggal di gedung ini juga?" tanya Heru, matanya melirikku dari balik layar TV.
"Kaya juga bisa sewa apartemen di gedung ini?" timpal Luna, menatapku dengan heran, matanya menyelidik sambil cengengesan.
"Gue kira lo anak beasiswa yang pas-pasan, ternyata beasiswa prestasi yang flexing," sahut Vivi, cengengesan juga.
Aku hanya tersenyum tipis, merasa sedikit geli dengan persepsi mereka. "Gue tinggal di kamar 15," kataku sembari mencari celah untuk duduk diantara mereka.
Seketika, suasana hening. Musik dari game di TV mendadak terasa seperti soundtrack film horor. Semua mata tertuju padaku, ekspresi mereka berubah drastis, antara terkejut, ngeri, dan...
kasihan?
Rahmat yang tadinya asyik dengan joystick-nya, langsung menoleh. "Dia gila. Nggak waras. Padahal dia udah tahu gosipnya." ucap Rahmat, suaranya tercekat.
"Beneran kamar 1.5 itu, Vell?" Angga, yang sedari tadi cuma diam, langsung menyahut dengan mata melotot.
Heru menggigil. "Gue dibayar aja nggak mau tinggal di kamar itu, sumpah!"
Luna menutup mulutnya. dengan tangan, "Demi apa, Vell? Kamar itu... bukannya Itu kamar yang ceritanya..."
Vivi ikut menimpali, suaranya berbisik, "...yang keluarga. Harsono itu, kan? Yang katanya bunuh diri sekeluarga? Padahal nggak ada masalah apa-apa, loh."
Hening lagi. Kali ini lebih mencekam. Udara di kamar Rahmat yang tadinya hangat karena ramai, kini terasa dingin seperti embusan napas hantu.
"Ya, itu kamar 1.5," jawabku, berusaha tetap tenang
meskipun dalam hati sudah menyiapkan mental untuk sesi interogasi ini. Tentu saja gue tahu, sangat tahu. Tapi ya gimana, dengan uang pas-pasan gue harus bisa cari yang paling murah.
"Vell, lo nggak bercanda, kan?" Luna menatapku seolah aku baru saja mengumumkan akan tinggal di kuburan. "Serius, kamar itu angker banget, tau! Dulu, keluarga yang tinggal di sana tiba-tiba aja ditemukan meninggal semua. Satu keluarga loh! Bapaknya gantung diri, ibunya minum racun, anaknya lompat dari balkon. Nggak ada surat wasiat, nggak ada masalah utang, nggak ada pertengkaran. Polisi aja sampai geleng-geleng kepala nggak nemu alibi yang jelas!"
"Katanya sih... mereka semua bunuh diri setelah melihat sesuatu yang mengerikan di dalam kamar itu," tambah Angga, suaranya ikut merendah, menatap kosong ke arah pintu. "Bahkan ada yang bilang, arwah mereka. itu nggak pergi, malah makin menjadi di sana. Suka ada suara aneh-aneh dari sana kalau malam."
Heru mengangguk-angguk setuju, wajahnya makin pucat. "Betul, Vell! Gue pernah dengar dari satpam lama, katanya kalau malam suka ada suara cekikikan anak kecil, terus bau melati campur anyir darah. Aduh, gue aja dengerin ceritanya udah mau muntah!"
"Astaga, Vell! Lo yakin mau tinggal di sana? Nggak takut apa?" Vivi menatapku panik. "Gimana rasanya tidur di tempat kayak gitu? Nggak merinding?"
Aku hanya mengedikkan bahu. "Ya mau gimana lagi. Udah terlanjur sewa," ujarku, mencoba terdengar pasrah, padahal dalam hati aku cuma memikirkan harga sewa yang jauh lebih murah dibandingkan unit lain. Lagipula, mereka lumayan menghibur kok, kadang-kadang. Bikin apartemen ini nggak sepi-sepi amat.
"Nggak bisa gitu dong, Vell! Ini bukan soal sewa murah! Ini soal nyawa!" Rahmat berseru, "Pindah aja, deh. Lo bisa tidur di kamar gue dulu, sementara lo nyari tempat yang lain. Temenin gue, lumayan ada temen mabar!"
"lya, Vell. Jangan nekat gitu dong. Serem banget kalau sampai kenapa-kenapa," Luna ikut membujuk.
Aku tersenyum kecil. "Makasih tawarannya, tapi kayaknya nggak deh. Udah betah," candaku, berharap mereka menganggapnya sebagai lelucon.
Tapi melihat ekspresi mereka yang makin horror, sepertinya candaanku gagal total. Mereka masih menatapku seolah aku baru saja kehilangan akal sehat.
Daftar bab
69 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








