

Mbah Wiryo sedang fokus merapikan jaringnya yang robek ketika seorang nelayan muda berjalan cepat menghampirinya sambil sesekali melirik ke arah batu karang besar di ujung pantai.
“Mbah, Gusti Pangeran masih di sana?” bisik nelayan muda itu sambil membawa jaring di pundaknya.
Mbah Wiryo menoleh ke arah batu karang yang menjorok ke laut. Seorang pangeran muda masih duduk bersila menghadap samudra. Tubuhnya tegak, matanya terpejam, dan sejak tadi nyaris tidak bergerak sama sekali.
“Masih,” jawab Mbah Wiryo pendek.
“Belum pulang juga?”
“Belum.”
Nelayan muda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa heran melihat ketahanan sang pangeran. “Sudah tiga hari, kan, Mbah?”
Mbah Wiryo kembali menarik benang jaringnya yang kusut tanpa berniat menghentikan pekerjaannya. “Kurang lebih.”
“Beliau nggak lapar apa?”
“Kalau lapar, pasti beliau makan.”
“Tapi dari tadi cuma minum sedikit, Mbah.”
“Berarti dia belum lapar,” sahut Mbah Wiryo ketus, membuat nelayan muda itu terdiam meskipun wajahnya masih tampak tidak puas dengan jawaban tersebut.
Di sekitar mereka, beberapa nelayan lain mulai sibuk menyiapkan perahu kayu dengan mengangkat jaring, memeriksa dayung, dan mengikat lampu minyak kecil di bagian depan kapal agar bisa melihat jalan di tengah laut nanti. Tidak jauh dari batu karang, beberapa pengawal kerajaan berpakaian hitam dengan keris pendek di pinggang berdiri berjaga sambil berusaha membuat wajah mereka terlihat setenang mungkin, meskipun sebenarnya mereka bolak-balik saling melirik karena mulai merasa gelisah melihat sang pangeran sudah terlalu lama duduk menyendiri di tepi pantai.
Mbah Wiryo sangat memahami kegelisahan para pengawal itu karena tiga hari bukanlah waktu yang sebentar untuk duduk diam tanpa banyak makan dan hampir tidak berbicara, namun selama sang pangeran sendiri tidak meminta bantuan maka tak seorang pun di pesisir ini yang berani datang untuk mengganggunya.
Malam itu awalnya berjalan dengan sangat biasa seperti malam-malam sebelumnya, sampai tiba-tiba nelayan muda di samping Mbah Wiryo mendadak berhenti bergerak dan menyenggol lengan si orang tua.
“Mbah…”
“Apa lagi?” tanya Mbah Wiryo tanpa mengangkat kepala.
“Coba lihat itu.”
Barulah Mbah Wiryo mengangkat kepalanya dan mengikuti arah telunjuk si anak muda yang mengarah lurus ke tengah laut, di mana wajah nelayan muda itu kini tampak bingung seolah ia sendiri belum yakin dengan apa yang sedang dilihat oleh matanya sendiri.
Awalnya Mbah Wiryo hanya melihat gumpalan kabut tipis yang menggantung rendah di atas air, namun setelah diperhatikan selama beberapa saat, ada sebuah bayangan aneh yang bergerak maju menembus kabut hingga perlahan-lahan membentuk sosok seorang perempuan.
“Orang, Mbah?” bisik nelayan muda itu dengan suara gemetar.
Mbah Wiryo memicingkan matanya yang sudah mulai rabun. “Kelihatannya begitu.”
“Datang dari mana? Perahunya mana?”
Mbah Wiryo tidak langsung menjawab pertanyaan itu karena ia sendiri sedang sibuk mencari-cari apakah ada perahu atau rakit di belakang perempuan itu, tetapi sejauh matanya memandang, lautan di belakang sosok tersebut benar-benar kosong melompong. Perempuan misterius itu terus berjalan mendekat ke arah pantai dengan kain kebaya hijau yang bergerak pelan mengikuti embusan angin, sementara rambut hitamnya yang panjang jatuh melewati punggung dengan sangat rapi dan sama sekali tidak tampak basah meskipun ia baru saja datang dari arah samudra luas.
Satu per satu nelayan di sepanjang pantai mulai menghentikan pekerjaan mereka karena terpaku menatap ke arah yang sama.
Mbah Wiryo ikut menoleh. Di kejauhan, seorang perempuan sedang berjalan dari arah laut. Air masih setinggi betis di sekelilingnya. Ombak kecil datang dan pergi di sekitar kakinya, tetapi pakaian hijau yang dikenakannya tetap jatuh rapi seperti tidak pernah tersentuh air.
Nelayan muda di samping Mbah Wiryo langsung melangkah mundur setengah langkah karena ketakutan.
“Mbah…”
“Aku lihat.”
“Aku nggak suka ini, Mbah.”
“Diam dulu,” bisik Mbah Wiryo menenangkan, sementara di dekat batu karang, para pengawal kerajaan yang juga baru menyadari kehadiran sosok tersebut langsung meletakkan tangan mereka di atas gagang keris untuk bersiap-siap.
Perempuan berbaju hijau itu tetap berjalan lurus tanpa menengok kepada siapa pun sampai akhirnya ia berhenti tepat beberapa langkah di depan batu karang, dan pada saat itulah sang pangeran perlahan membuka kedua matanya lalu mendongak dengan pandangan yang sangat tenang, seolah-colah kedatangan sosok dari laut itu memang sudah ia tunggu sejak hari pertama ia duduk di sana.
Setelah keduanya saling berhadapan dalam kesunyian pantai, air laut di belakang perempuan itu tiba-tiba berubah. Cahaya kehijauan muncul dari bawah permukaan laut, mula-mula hanya satu garis tipis yang bergerak perlahan mengikuti ombak. Namun beberapa saat kemudian cahaya lain bermunculan di sekitarnya. Garis-garis hijau itu menyebar membentuk lingkaran besar di atas permukaan air sebelum perlahan menghilang kembali ke dalam laut.
Beberapa nelayan spontan mundur. Mbah Wiryo ikut menatap ke arah samudra. Cahaya itu tidak berasal dari perahu. Tidak juga dari pantulan bulan. Cahaya itu muncul dari bawah laut. Dari tempat yang tidak seharusnya memancarkan cahaya apa pun.
Sebelum para nelayan sempat memahami apa yang mereka lihat, perempuan berbaju hijau itu mengangkat tangannya ke arah laut sambil bertanya dengan suara lembut yang entah bagaimana bisa terdengar jelas oleh semua orang di pantai,
“Apakah kau siap mengikuti ujian berikutnya?”
Sang pangeran pun berdiri perlahan dari batu karangnya, membuat salah seorang pengawal yang panik langsung melangkah maju untuk menahannya.
“Gusti Pangeran…”
Sang pangeran segera mengangkat tangan sebelum pengawal itu sempat mendekat. “Tetap di sini.”
“Tapi Gusti, di depan sana laut dalam—”
“Tunggu aku kembali,” potong sang pangeran dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Tanpa membawa senjata, sang pangeran mulai melangkah turun dari batu karang dan berjalan mengikuti perempuan berbaju hijau itu menuju ke tengah samudra luas, sementara Mbah Wiryo dan para nelayan hanya bisa menyaksikan punggung mereka dari tepi pantai dengan perasaan tegang karena air laut yang seharusnya menenggelamkan manusia justru hanya memercik kecil di bawah telapak kaki sang pangeran.
Semakin jauh mereka berdua melangkah, kabut tebal dari tengah laut bergerak turun dengan sangat cepat dan menyelimuti tubuh keduanya sedikit demi sedikit sampai akhirnya mereka benar-benar menghilang dari pandangan.
Pantai mendadak sunyi. Tidak ada yang berbicara. Bahkan suara ombak terasa lebih pelan dari biasanya.
Seorang nelayan menjatuhkan dayung yang sejak tadi dibawanya. Dayung itu jatuh ke pasir dengan bunyi pelan, namun tak ada yang menoleh.
Semua mata masih tertuju ke arah lautan. Cahaya hijau yang tadi berkilau di bawah ombak perlahan memudar satu per satu sampai akhirnya menghilang sepenuhnya.
Tak jauh dari sana, para pengawal kerajaan masih berdiri menghadap laut. Tidak satu pun dari mereka berani pergi dari tempatnya.
Mereka tetap berdiri menghadap laut. Tak ada yang benar-benar ingin pulang sebelum melihat sang pangeran kembali.
Namun sampai bulan naik semakin tinggi, yang terlihat hanya hamparan laut gelap dan suara ombak yang datang silih berganti menghantam pantai.