Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Awakener

Awakener

Axivus | Bersambung
Jumlah kata
40.6K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Awakener
Awakener

Awakener

Axivus| Bersambung
Jumlah Kata
40.6K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalMonsterSilatKekuatan Super
Budi hanyalah seorang tukang bakso berusia 19 tahun dengan kehidupan sederhana. Meski begitu, ia sangat menyukai novel, komik, serta berbagai kisah fantasi. Suatu hari, saat sedang berjualan seperti biasa, hujan meteor tiba-tiba menghantam bumi dan mengubah segalanya. Makhluk bengis serta monster mengerikan yang selama ini hanya ada dalam dunia fantasi mulai bermunculan di dunia nyata. Kota berubah kacau, manusia berlarian ketakutan, dan kematian hadir di mana-mana. Di tengah bencana yang tak masuk akal itu, Budi menyadari bahwa pengetahuannya tentang dunia fantasi mungkin menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Meteor

Ting…! Ting…! Ting…!

Suara dentingan khas menggema pelan, berasal dari sendok yang diketukkan ke bibir mangkuk.

Seorang pria tampak mendorong gerobak bertuliskan Bakso Malang menyusuri jalanan.

“Mas… Baksoooo!!!” seru seseorang dari kejauhan.

Penjual bakso itu menoleh cepat sebelum menghampiri calon pembelinya.

“Boleh, Mas, silakan…” Setelah menghentikan gerobaknya tepat di depan pria tadi, ia sigap mengambil lap dan membersihkan mangkuk yang akan dipakai.

“Seporsi berapa, Mas?” tanya si pembeli.

“Biasa, sepuluh ribu aja.” Ia meletakkan mangkuk bersihnya lalu membuka panci berisi kuah panas dan bakso. “Mau beli berapa?”

“Seporsi aja deh.”

Pedagang itu mengangguk singkat dan langsung menyiapkan pesanan.

Matahari siang berada tepat di atas kepala. Hawa panas menyengat, membuat keringat perlahan mengalir melewati leher.

Merasa gerah, sang penjual mengusap tengkuknya menggunakan kain tipis yang tersampir di pundak.

“Panas sekali hari ini ya, Mas,” ucap pembeli sambil tersenyum kecil. “Rasanya enak makan bakso kalau cuaca begini.”

Penjual bakso mengembuskan napas pelan. ‘Heh, mana ada cuaca seterik ini enak makan bakso. Yang enak mah minum dingin atau makan es krim…’

“Betul, hehehe…” balasnya, mengurungkan komentar dalam kepalanya.

“Ngomong-ngomong, Mas ini kelihatan muda banget udah usaha bakso. Umurnya berapa kalau boleh tahu?”

“19 tahun, Mas…”

Di tengah percakapan ringan itu, penjual bakso yang masih terlihat belia tersebut telah menyelesaikan pesanannya.

Lengannya terulur, menyodorkan semangkuk bakso penuh dengan berbagai tambahan makanan lain. Aroma kuah panasnya langsung menggoda selera hingga membuat si pembeli menelan ludah.

“Nah kan, bener enak gini,” ujar pembeli sambil menerima mangkuk tersebut dengan wajah puas.

Ia memegang mangkuknya mantap sembari menatap langit yang begitu terik.

Namun, beberapa detik kemudian, matanya mendadak membelalak. Sebuah objek asing meluncur dari langit menuju arah mereka dengan kecepatan mengerikan.

Secara spontan ia menepuk keras pundak tukang bakso di sebelahnya.

“MAS! ITU APA???!!!”

“EH?!!!”

Tubuh penjual bakso mendadak kaku layaknya patung es. Seluruh badannya seperti tak bisa digerakkan.

‘Meteor…?!’

Belum sempat keduanya bereaksi lebih jauh, benda jatuh itu sudah melesat semakin dekat.

Detik demi detik berlalu begitu cepat.

Meteor tersebut akhirnya menghantam bangunan di belakang mereka.

DUARRR!!!

Gelombang kejut dahsyat langsung meledak ke segala arah, menghancurkan area sekitar dalam sekejap.

Dampaknya menghantam dua manusia yang berdiri tak jauh dari lokasi benturan. Tubuh mereka terpental hebat sebelum terguling di atas jalanan.

Tak lama berselang, penjual bakso perlahan membuka matanya.

Tubuhnya terasa remuk. Ia terpental beberapa meter hingga menghantam tembok rumah di sekitar lokasi.

“Urgh… Anjing! Apa-apaan ini…”

Pandangannya masih kabur tak karuan.

Dengan susah payah ia menyipitkan mata, mencoba memperjelas keadaan di sekelilingnya.

Hal pertama yang terlihat ialah sang pembeli tadi terkapar di sampingnya, dengan mangkuk bakso menempel di wajah.

“MAS!!!”

Refleks ia mencoba menggerakkan tubuh untuk menolong pria yang pingsan itu.

Sayangnya, rasa sakit luar biasa langsung menyerang sekujur badan.

Beberapa sendinya seperti mengalami dislokasi, membuatnya tak sanggup berdiri. Pada akhirnya ia kembali menyandarkan tubuh ke tembok sambil meringis kesakitan.

Asap tebal membubung dari lokasi jatuhnya meteor. Hawa panas membakar area sekitar, sementara permukaan tanah tampak cekung akibat benturan mengerikan tadi.

Tak lama kemudian, batu raksasa berbentuk meteor itu mulai retak perlahan.

Mata penjual bakso memerhatikan setiap retakan dengan saksama. Alisnya mengernyit, berusaha fokus melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Tiga detik kemudian…

BRAKK!!!

Batu besar itu hancur dari dalam.

Pecahan-pecahan keras beterbangan ke segala arah.

“OE-OE YANG BENAR AJA INI!!!!” teriak penjual bakso.

Jantungnya berdetak kencang, sementara tubuhnya bergetar hebat saat melihat makhluk yang keluar dari batu meteor tersebut.

Sekawanan makhluk kerdil berkulit hijau tampak begitu liar dan menyeramkan.

Mata mereka tajam, telinga panjang menjuntai, sementara tangan kecilnya menggenggam berbagai senjata tajam.

Gerombolan itu langsung menatap penjual bakso yang masih bersandar di tembok.

Tanpa memberi waktu sedikit pun, mereka menerjang ke arahnya.

Penjual bakso tadi tidak tinggal diam. Tatapannya berubah drastis. Kebingungan yang semula terpancar kini lenyap, berganti sorot serius penuh kewaspadaan.

“Goblin!!!” serunya terkejut. “Kupikir cuma ada di cerita fiksi dan game.”

Karena mampu memahami situasi dengan cepat, ia segera membetulkan posisi tulang sendinya yang bergeser dengan gerakan cekatan.

Orang biasa mungkin akan terkejut melihat kemampuan seperti itu.

Namun, dirinya memang bukan sekadar penjual bakso biasa.

Namanya Budi. Seorang lulusan SMA yang kini berjualan bakso keliling. Sebelum lulus sekolah, ia dikenal sebagai gamer, pembaca novel fantasi, sekaligus murid perguruan silat.

“Sip…” gumamnya pelan sambil memutar lengannya. Rasa sakit tadi mulai berkurang dan posisi tulangnya terasa kembali normal.

Dengan sigap ia memasang kuda-kuda silat.

Tubuhnya bersiap menyambut enam goblin yang menyerbu bersamaan.

“KIIIKK!!!”

Para goblin berteriak nyaring layaknya hewan buas yang berusaha mengintimidasi mangsa.

Salah satu goblin di barisan depan langsung mengayunkan senjata tajam ke arah kepala Budi.

Budi memiringkan tubuhnya sedikit, menghindari tebasan tersebut. Dalam sepersekian detik, tinjunya meluncur lurus menghantam wajah goblin itu.

BUKK!!!

Pukulannya mengenai sasaran dengan telak.

Sayangnya, serangan berikutnya langsung datang dari sisi lain.

Goblin-goblin lain terus membabi buta menyerang menggunakan senjata tajam mereka.

Namun, Budi bergerak lincah menangkis setiap serangan yang datang.

Sesekali, ketika celah terbuka, ia langsung membalas dengan pukulan keras tanpa ragu.

Pertarungan yang awalnya terlihat timpang perlahan mulai berbalik arah.

Berbeda dengan gerakan brutal para makhluk liar tersebut, Budi justru bergerak rapi dan teratur. Langkahnya seolah menari di tengah pertempuran mendadak itu.

Hingga beberapa saat kemudian, goblin-goblin yang sempat tumbang kembali bangkit berdiri.

“SIAL! Mereka belum pingsan, huh?!”

Budi kembali mengubah posisi kudanya. Kali ini wajahnya berubah datar tanpa ekspresi.

‘Tak ada pilihan lain.’

Kini justru dirinya yang menerjang lebih dulu.

Dengan tangan kosong, tubuh Budi terasa seperti senjata hidup.

“KIIIKK!!!”

Beberapa goblin tampak ketakutan ketika melihat manusia itu berlari menghampiri mereka.

Namun, Budi tak memedulikannya sedikit pun. Dalam waktu singkat ia sudah memahami satu hal.

Makhluk di hadapannya benar-benar sama seperti goblin dalam game dan novel yang sering ia baca.

Sekawanan monster bengis yang hidup untuk membuat kekacauan dan membunuh.

Budi menghentakkan kakinya kuat-kuat ke tanah sebelum menyapu kaki seluruh goblin secara bersamaan.

BRAKK!!!

Tubuh kecil para goblin langsung terangkat dan terjungkal di udara selama beberapa detik.

Kesempatan itu tak disia-siakan.

Karena lawannya tak mampu bergerak bebas di udara, Budi langsung menghajar mereka semua dengan rentetan tinjuan cepat.

BUKK! BUKK! BRAKK!!!

Darah hitam memercik membasahi lengannya.

Beberapa detik kemudian, Budi berdiri tegak setelah berhasil menghabisi seluruh makhluk hijau tersebut.

“Udah gila… Apa aku kebanyakan baca novel?!” gumamnya tak percaya.

Sorot matanya menyapu area sekitar.

Tak lama kemudian, mayat-mayat goblin di depannya perlahan hancur seperti debu yang tertiup angin, meninggalkan kristal bulat berwarna hitam.

Karena penasaran, Budi mengambil salah satunya lalu memperhatikan benda itu dengan saksama.

“Apa ini? Kayak kelereng…”

Di tengah rasa penasarannya, suara benturan keras kembali menggema dari kejauhan.

DUUUARRR!!!

Budi refleks mengangkat kepala.

Matanya langsung membelalak menatap langit.

Lanjut membaca
Lanjut membaca