Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pemuda Super Jenius

Pemuda Super Jenius

Cobalt Pen | Bersambung
Jumlah kata
23.0K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / Pemuda Super Jenius
Pemuda Super Jenius

Pemuda Super Jenius

Cobalt Pen| Bersambung
Jumlah Kata
23.0K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahUrbanThrillerKekuatan Super
Pemuda itu bernama Glen. Ia sering dipanggil dengan nama yang tidak layak hingga dibuatkan hastag #GLENDANGAN (glandangan). Kejeniusannya tertutupi oleh penampilannya yang bisa dibilang under rate. Namun siapa sangka dari julukan hingga dibuatkan hastag tersebut justru membawanya ke sebuah misteri tentang pelaku yang membunuh kedua orangtuanya.
Dekat Dengan Realita

"Yess, finally lulus,''

Hari ini adalah pengumuman kelulusan siswa XII SMA Garuda. Lapangan sekolah dipenuhi lautan seragam putih abu-abu. Sebanyak dua ribu tiga ratus siswa berdiri berjajar rapi di bawah matahari yang mulai meninggi.

Glen berdiri di barisan paling belakang. Matanya justru sibuk mencari satu sosok di antara ratusan siswa yang memenuhi lapangan sekolah. Rambut panjang terurai itu, serta senyum tipis yang selalu berhasil membuatnya tak jenuh memandang. Siapa lagi kalau bukan gadis yang bernama Camilia. Gadis itu berdiri bersama teman-temannya di barisan depan. Sesekali ia tertawa kecil, menunduk, lalu menutup mulutnya dengan anggun.

Glen tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi pemandangan itu saja sudah cukup membuatnya lupa pada panas matahari yang menyengat kulit.

"Kami akan menyampaikan satu pengumuman penting," suara waka kesiswaan terdengar melalui pengeras suara.

Glen tetap berdiri tenang. Ia masih sempat melirik Camilia sekali lagi. Gadis itu kini menoleh ke arah podium, wajahnya tampak antusias seperti siswa lain.

"Tentang prestasi siswa SMA Garuda di tingkat nasional."

Kata nasional membuat lapangan mendadak hening. Bisik-bisik yang tadi terdengar samar langsung lenyap. Beberapa siswa saling melirik, sementara para guru di sisi lapangan ikut menegakkan badan, wajah mereka berubah lebih serius.

"Lebih tepatnya pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional bidang Sosial dan Lingkungan tingkat SMA, yang diikuti oleh ratusan sekolah dari seluruh Indonesia…"

Jantung Glen berdegup lebih cepat, meski ia tahu kenapa. Tangannya mengepal ringan di sisi tubuh. Ia mencoba menenangkan diri, menganggap pengumuman itu bukan urusannya. Padahal dia menjadi salah satu peserta dalam ajang kompetisi itu."Dengan bangganya kami mengapresiasi Juara Pertama yang diraih oleh…"

Detik itu terasa memanjang.

"Glen Pratama."

Seperti ada ledakan tak kasatmata di tengah lapangan.

Suara gumaman langsung pecah. Beberapa siswa refleks menoleh ke segala arah, mencari sosok yang disebut. Ada yang berbisik, ada yang mengernyit tak percaya, ada pula yang tersenyum kecil.

Untuk sesaat, Glen masih tak percaya. Namanya menggema di pengeras suara. Nama aslinya. Bukan nama julukan.

"Silakan Glen maju ke depan."

Tepuk tangan mulai terdengar awalnya ragu, lalu semakin meriah memenuhi lapangan. Di tengah langkahnya, tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Camilia. Gadis itu menatapnya. Matanya membesar, lalu bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. Ia berdiri tepat di bawah tiang bendera ketika waka kesiswaan menyerahkan piala berkilau ke tangannya. Logam dingin itu terasa kontras dengan hangat yang mengalir di tubuhnya.

Sertifikat diselipkan menyusul, lalu sebuah amplop kecil.

"Uang pembinaan dua juta rupiah," ujar sang waka sambil tersenyum bangga. Tepuk tangan kembali menggema.

Di tengah riuh itu, mata Glen berkaca-kaca. Ia membayangkan wajah kedua orang tuanya. Janji sederhana yang pernah mereka ucapkan yaitu jalan-jalan ke luar negeri setelah ia lulus. Janji yang kini terasa begitu dekat lantaran sekarang dia lulus dan juga mendapat prestasi berkat kejuaraan ini."Selamat ya, Glen," ucap kepala sekolah.

"Terima kasih, Pak," sahut Glen sambil sedikit menunduk.

Ia turun dari podium dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Hari itu, untuk pertama

kalinya, dunia terasa berpihak padanya.

Setelah upacara berakhir, Glen kembali ke kelas untuk mengambil tasnya. Suasana sekolah masih ramai. Lorong-lorong dipenuhi suara tawa, foto bersama, dan obrolan tentang masa depan yang sebentar lagi akan dimulai.

Begitu ia melangkah masuk kelas, beberapa temannya langsung menyapanya.

"Woi lah, Glen! Menang lagi!"

"Gila sih, udah mau lulus masih aja juara."

"Fix calon jurnalis ini mah."

Glen hanya tersenyum kecil, sedikit canggung menerima ucapan selamat yang datang bertubi- tubi. Ia mengangguk, mengucap terimakasih seperlunya, sambil merapikan buku dan memasukkan semuanya ke dalam tas lusuh yang setia menemaninya selama tiga tahun terakhir.

Namun di antara semua suara itu, ada satu ucapan yang sejak tadi ia tunggu. Pandangannya

sempat melayang ke luar kelas.

Dari kejauhan, ia melihat Camilia bersama teman-temannya. Mereka berdiri di dekat jendela, saling merapatkan bahu, tertawa, dan bergantian mengambil foto. Seperti biasa, Camilia tampak bersinar di tengah mereka.

"Eh, aku balik dulu ya," ujar salah satu temannya sambil mengalungkan tas ke bahu.

"Udah ditunggu ayahku." Sambungnya.

"Iya, bro. Hati-hati," sahut Glen dan teman-teman yang lain dengan serentak. "Semoga sukses ya, Glen. Jangan lupakan kami kalau udah jadi jurnalis yang sukses."

Glen tertawa kecil. "Siap," katanya singkat.

Mereka satu per satu berpamitan. Tak ada yang tahu kapan mereka akan bertemu lagi. Setelah hari itu, setiap orang akan berjalan sesuai arah hidupnya masing-masing.

Saat kelas mulai lengang, Glen duduk sejenak di bangkunya. Pikirannya melayang pada janji lama yang tiba-tiba terasa begitu dekat. Janji dari papi dan maminya yaitu liburan bersama setelah ia lulus sekolah. Ia membayangkan wajah mereka saat mendengar kabar kemenangannya.

Ia merogoh saku, memastikan ponselnya masih ada. Dalam hati, ia sudah menyusun kalimat apa yang akan ia ucapkan nanti.

"Glen."

Suara itu membuatnya menoleh.

Camilia berdiri di ambang pintu. Teman-temannya sudah lebih dulu pergi. Untuk sesaat, lorong terasa sunyi.

"Congrats ya, Glen," ucapnya singkat.

Namun bagi Glen, kalimat sesederhana itu terasa seperti hadiah paling berharga hari itu.

"Iya… makasih," jawabnya, sedikit gugup.

Camilia mengangguk, lalu melangkah pergi menyusul teman-temannya.

Glen berdiri terpaku sejenak, menatap punggungnya menjauh, sebelum akhirnya tersenyum lebar tanpa sadar. Senyum di wajah Glen belum sepenuhnya pudar ketika ponselnya bergetar di dalam saku. Ia mengira itu pesan dari orang tuanya. Jari-jarinya bergerak cepat mengangkat panggilan itu.

"Om Dahlan," dahinya berkerut ketika membaca nama kontak yang tertera di layarnya.

[Glen]

"Iya om, ada apa," sahutnya.

Ada jeda. Terlalu lama untuk sebuah kabar biasa.

[Papi dan mami… kecelakaan. Kamu segera ke rumah sakit Medika segera ya]

Kalimat itu seperti menghantam kepalanya saat itu juga. Kepalanya berdengung, seolah semua suara di sekitarnya mendadak menjauh.

"Kecelakaan?" ulangnya lirih.

"Tapi mereka nggak papa kan? Sekarang gimana kondisinya?"

Titt..

Panggilan terputus.

"H--hallo om? Om! Om!!"

Glen menurunkan ponselnya dari telinga. Dia melihat panggilan itu telah berakhir. Tanpa banyak berpikir, ia berlari menuju parkiran. Tangannya gemetar saat menyalakan motor.Ia tak tahu berapa lampu merah yang ia terobos. Yang ia tahu hanya satu, ia harus tiba di rumah sakit secepatnya.

Begitu tiba di rumah sakit, Glen langsung mencari pamannya. Di kepalanya masih tersimpan banyak hal yang ingin ia ceritakan. Tentang kelulusannya dari SMA. Tentang rencana liburan ke luar negeri sebagai hadiah yang sudah lama dijanjikan. Tentang kemenangan yang akhirnya bisa ia banggakan. Ia ingin melihat wajah orang tuanya saat mendengarnya.

Pamannya berdiri di dekat lorong. Wajah lelaki itu pucat dan tatapannya kosong, jauh berbeda dari biasanya. Glen menghampirinya dengan langkah cepat, meski hatinya mulai diliputi rasa tak tenang.

"Om," Glen menghampiri pria setengah abad itu.

"Papi sama mami di mana?"

Pamannya tak langsung menjawab. Ia hanya menatap Glen sebentar, lalu berpaling. Ada jeda yang terasa terlalu lama, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk dikeluarkan.

Langkahnya pelan, terlalu pelan untuk sesuatu yang mendesak. Glen mengikutinya, jantungnya berdegup semakin kencang. Ia mencoba menenangkan diri. Orang tuanya hanya jarang di rumah karena pekerjaan. Mereka jurnalis. Mereka sering pergi, sering terlambat pulang. Mungkin kali ini juga begitu. Pikirnya.

"Om Dahlan kok diem? Om jawab om!" Glen terus mengikuti langkah pamannya. Suaranya mulai bergetar, meski ia berusaha keras menahannya.

Pamannya berhenti di depan sebuah pintu.

Sebuah papan kecil bertuliskan Ruang Jenazah terpasang di atasnya.

Glen menatap tulisan itu lama. Dadanya terasa sesak seketika. Kepalanya langsung menggeleng, menolak makna yang perlahan merayap masuk.

Pintu itu dibuka.

Udara dingin menyambutnya. Bau khas rumah sakit menusuk hidung. Di dalam ruangan itu, dua ranjang terbaring berdampingan, tertutup kain putih. Glen berdiri kaku. Tubuhnya gemetar, langkahnya tertahan, seolah kakinya menolak mendekat.

Glen melangkah pelan. Di kepalanya, rencana-rencana itu masih ada. Tiket pesawat yang belum dibeli. Koper yang belum disiapkan. Cerita kemenangan yang belum sempat ia ucapkan. Semua itu seharusnya diceritakan hari ini.

Saat kain itu disingkap, dunia Glen runtuh seketika.

Dua jenazah itu adalah kedua orang tuanya.

"Om, nggak mungkin! NGGAK MUNGKINN OMMM!"

Teriakan itu pecah seketika. Tubuh Glen langsung melemas ketika pamannya memeluknya. Tangannya mencengkeram baju pamannya, seolah kehilangan satu-satunya pegangan yang ia miliki.

Kepalanya penuh dengan satu pertanyaan yang tak menemukan jawaban: bagaimana mungkin orang yang ingin ia temui, orang yang ingin ia buat bangga, justru pergi sebelum mendengarkan apa pun darinya?

Ia baru saja lulus. Ia baru saja menang. Dan untuk pertama kalinya, ia tak punya siapa pun untuk berbagi. Sunyi menelan Glen sepenuhnya, bersama kenyataan bahwa liburan itu tak akan pernah terjadi, dan kedua orang tuanya telah pergi untuk selama-lamanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca