Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Karisma si Coki

Karisma si Coki

Coky Junior | Bersambung
Jumlah kata
125.6K
Popular
601
Subscribe
88
Novel / Karisma si Coki
Karisma si Coki

Karisma si Coki

Coky Junior| Bersambung
Jumlah Kata
125.6K
Popular
601
Subscribe
88
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahBadboySi GeniusCinta Sekolah
​Bagi Ucok, hidup itu sederhana: jualan nasi uduk, servis motor, dan latihan Taekwondo. Dia tidak pernah punya waktu untuk memikirkan lirikan mata atau pipi yang merona di sekitarnya. Namun, justru "ketidakpekaan" itulah yang menjadi jerat paling mematikan bagi kaum hawa. Di mata Wina, Desi, dan mungkin cewek-cewek lainnya, Ucok adalah sosok yang tenang bak telaga tapi punya nyali yang tak terukur. Saat dia mengabaikan godaan dengan sindiran halus atau senyum datar, di situlah karismanya meledak—membuat banyak hati terpesona, namun tak sedikit pula yang harus menanggung perihnya patah hati karena merasa diabaikan oleh sang Arjuna Nasi Uduk.
Bab 1-Awal yang Berat

Selepas shalat subuh, Coki memperbaiki sepeda ontelnya. Sebelumnya, dia membantu ibunya membuat nasi uduk, untuk dititipkan di warung-warung tetangganya.

Usai membetulkan sepeda, Coki berdiri di teras depan. Gerimis pagi membuat tubuhnya menggigil, hanya berlapiskan sweater lusuh yang sudah menemaninya sejak kelas satu SMP.

Penataran P4 telah usai, kini ia akan memulai babak baru di kelas sepuluh. Coki masih mengenakan seragam SMP, sebab ia belum memiliki seragam baru.

"Cok!" panggil ibunya yang bernama Bu Siska.

Ucok menoleh ke belakang. "Ya, Bu!" sahut Coki, panggilan ibunya membuyarkan lamunan.

"Ini nasi uduk-nya tolong diantar!" titah bu Siska. "Uang yang kemarin jangan lupa!"

Coki segera menuju ke dapur, nasi uduk sudah disiapkan ibunya, untuk dititp di warung tetangganya.

Ayahnya yang bernama Hamdani, lagi sarapan pagi bersama adiknya yang bernama Devianti.

"Kau sudah sarapan, Cok?" tanya ayahnya.

Coki mengangguk pelan. "Udah, Yah! Awak udah sarapan dari tadi," jawab Coki. "Ayah punya jas hujan, endak?" tanyanya.

Pak Hamdani menunjuk motor vespa-nya. "Ada." balasnya. "Kau pakailah yang satu, ayah punya dua."

"Kalau masih hujan, tunggu sampai berhenti, Cok!" bilang ibunya mengingatkan.

Coki tersenyum tipis. "Endak apa, Bu!" balas Coki. "Lagian, cuma gerimis aja."

Pak Hamdani yang melihat Coki masih mengenakan seragam SMP, menegurnya seraya menghentikan sarapannya, "Kau belum memakai seragam SMA, Cok?"

"Awak kan belum punya seragam-nya, Yah!" jawab Ucok enteng. "Lagi pula, ini baru awal pelajaran."

"Ya sudah! Nanti ayah belikan satu stel," bilang pak Hamdani.

"Lalu, sepeda kau bagaimana?" tanya ayahnya lagi. "Apa sudah dibenerin?"

"Udah, Yah!" jawab Coki. "Cuma sadel-nya aja yang kendor." nampak Coki menarik napas panjang.

Rumah mungil sederhana, itulah gambaran rumah Coki. Ayahnya yang baru saja mendapatkan pekerjaan baru, membuatnya semangat lagi. Rumah yang masih kental dengan adat Batak-nya, atapnya memakai seng.

Keluarga Coki hidup di lingkungan Betawi tepatnya di kampung Jawara, pindah dari Medan sejak Coki usia sembilan tahun. Di Medan, dia dipanggil Coki, saat tinggal di Jakarta, panggilannya jadi Ucok.

Ibu Siska tidak berhenti berjualan, meski suaminya sudah mendapat pekerjaan baru, setelah dua tahun tidak bekerja.

Coki cium tangan ayah dan ibunya. "Awak berangkat dulu!" bilang Coki.

"Ya, Hati-hati di jalan, Nak!" balas ibunya.

Sebelumnya, Coki udah siapin bekal untuk makan di sekolah. Uang jajan-nya sengaja disimpannya. Itu dilakukannya, tanpa sepengetahuan ayah dan adiknya. Hanya dia dan ibunya yang tahu, Coki juga menyisihkan uang jajannya ditabung.

Melihat hujan sudah berhenti, Coki mengurungkan niatnya memakai jas hujan. Dimasukan jas hujan ke dalam tas-nya, lalu dia mendorong sepeda ontel-nya keluar.

Jalanan nampak becek, dan banyak genangan air di sepanjang jalan. Ditambah lagi dengan banyaknya lubang jalanan, membuat Coki ekstra hati-hati melajukan sepedanya.

Coki mengayuh sepedanya dengan perlahan, suara pedal-nya yang berdecit terdengar khas di telinga.

Pas sampe di warung Mpok Minah, Coki segera turun. "Pok, ini nasi uduk-nya!" panggil Coki, napasnya nampak sedikit tersengal.

Gak pake lama, Mpok Minah keluar. "Ada berapa, Cok?" tanyanya. "Uang yang kemarin belum gue kasih, ya?"

Coki mengangguk. "Ada dua puluh bungkus, Pok!" jawabnya. "Iya, belum dikasih."

Mpok Minah nunjuk ke etalase warung. "Taro aja di atas, Cok!" bilangnya. "Sebentar, gue ambil duit-nya dulu."

Coki menaruh nasi uduk-nya di atas etalase warung Mpok Minah, terus ditatanya dengan rapi.

Gak pake lama, Mpok Minah udah balik keluar. "Nih duit yang kemarin!" bilangnya sembari nyodorin duit ke Coki. "Makasih ya, Cok!"

Coki nerima duit bayaran dari penjualan nasi uduk kemarin, terus dikantongi tuh duitnya.

Terus, Coki menuju warung Bang Jabrik, yang warung-nya dekat lapangan bola. Jaraknya tidak terlalu jauh dari warung Mpok Minah.

Pas udah sampe warung Bang Jabrik, Coki berdiri di depan. "Bang Jabrik!" panggil Coki, dia melongok ke dalam.

Bukan Bang Jabrik yang keluar, melainkan istrinya yang bernama Mpok Marni.

"Eh, Ucok!" sapa Mpok Marni. Mau nitip berapa bungkus?" tanyanya, senyumannya mengembang.

"Kayak kemarin, Pok!" jawab Coki polos. "Dua puluh bungkus, sama duit yang kemarin belum dikasih."

"Sebentar ya, Cok!" balas Mpok Marni sigap. "Taro aja nasi uduk-nya di meja!" pintanya sembari jalan ke dalam.

Gak pake lama, Mpok Marni udah balik keluar. Terus, dia ngasih duit hasil penjualan nasi uduk-nya yang kemarin ke Coki.

"Nih duit-nya, Cok! Makasih, ya!" bilang Mpok Marni, lagi-lagi dia mengembangkan senyum khas-nya.

Coki mengangguk pelan. "Sama-sama, Pok!" balasnya. "Kalo gitu, awak berangkat sekolah dulu!"

"Hati-hati di jalan, Cok!" balas Mpok Marni menasehati.

Suasana pagi yang dingin, tidak membuat Coki patah semangat, dia mengayuh sepedanya dengan cepat menuju sekolah-nya. Bila tidak hujan, butuh waktu setengah jam sampe sekolah.

Nampak orang-orang antusias sekali membeli nasi uduk buatan ibunya. Kadangkala, ibunya membuat donat juga yang dijual sore hari.

Di tengah perjalanannya, Coki mendapat banyak ejekan dari teman sekolahnya, yang rata-rata membawa motor. Apa lagi, Coki masih mengenakan seragam SMP, semakin membuatnya jadi pusat perhatian.

"Itu si Ontel" tunjuk Dani, yang dibonceng sama Irfan.

Irfan mengangguk, lalu dia mempercepat laju motornya.

Irfan barengan sama rekannya yang bawa motor juga, mereka berniat mengejek Coki.

Pas udah di dekat Coki, mereka meneriaki dan mengejek habis-habisan.

"Woi, Ontel!" ejek Dani, dia ketawain Coki. "Tuh sepeda ditaro musium aja!"

"Gak punya baju, ya?" sindir Irfan. Nadanya sinis pake banget. "Apa perlu gue beliin?"

Coki tidak menghiraukan ejekan teman kelasnya, matanya tetep fokus ke jalanan yang memang banyak lubang.

"Minggir jalannya, jangan halangin orang!" teriak Gatot yang bawa motor juga.

Ontel panggilan Coki, bagi temen-temen kelasnya yang tidak suka dengannya. Apa pun sebutannya, Coki tidak pernah marah apa lagi membalas perlakuan mereka.

Irfan ketawa ngakak. "Kasian amat sih lo, Tel! Apa Babe lo gak mampu beliin motor?" ledekannya semakin menjadi.

Coki tetap cuek. Tapi saat mereka menyinggung orang tuanya, matanya menajam, menatap Irfan.

"Apa lo melotot!" maki Irfan. "Gak seneng?"

"Hahaha, jangankan motor, bajunya aja gak kebeli, Fan!" Dani nyahutin, matanya mendelik sinis ke arah Coki.

"Lo ada baju bekas gak, Dan?" tanya Irfan menyindir. "Kalo masih ada, kasih aja buat Ontel."

Gatot tidak mau kalah. "Gue masih punya, tapi baju SD," Gatot ngakak abis, semua temennya pun ikut ketawa.

"Hahaha, parah banget lo, Tot! Masa baju SD dikasih dia?" sindir Dani. Kebagusan kali itu mah."

"Udah bagus gue kasih, Dan!" bales Gatot, senyumannya masam kayak jeruk nipis.

Coki jalannya makin ke pinggir, karena mereka sengaja memepetnya.

"Gue yakin dia bakal mau, Tot!" Serius dah!" Irfan seneng banget nimpalin.

"Kalo perlu, ama celananya sekalian, Fan!" Gatot ngasih isyarat pegang celananya.

Merasa Coki tidak memberi respons atas ejekannya, mereka semakin geram dan kesal.

Irfan mendengus kesal. "Sialan!" makinya. "Kayaknya kita gak dianggap, Dan!"

"Ember, Fan! Kita jorogin aja dia!" niat jahat Dani udah muncul.

"Gimana caranya?" tanya Irfan berbisik.

Karena mereka tidak memakai helm, dengan mudah Dani membisikan niat jahatnya sama Irfan.

Pas denger bisikannya si Dani, sontak aja si Irfan ketawa lepas. "Hahaha, brilian banget ide lo, Dan!" bilangnya. "Patut dicoba ini mah." Mata Irfan berbinar.

Saat beberapa ratus meter lagi sampai sekolah, tiba-tiba sepeda Coki oleng. Ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya… nyungsep ke dalam got yang berbau dan kotor.

Lanjut membaca
Lanjut membaca