Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Antapodia

Antapodia

andirtps | Bersambung
Jumlah kata
151.4K
Popular
109
Subscribe
17
Novel / Antapodia
Antapodia

Antapodia

andirtps| Bersambung
Jumlah Kata
151.4K
Popular
109
Subscribe
17
Sinopsis
FantasiFantasi TimurRajaPerangKerajaan
Di sebuah benua yang pernah hancur oleh perang tak berkesudahan, berdirilah Kekaisaran Antapodia, sebuah monarki agung yang dibangun bukan hanya dengan batu dan semen, melainkan di atas fondasi bayang-bayang masa lalu yang kelam. Di sini, kekuasaan bukan sekadar tentang siapa yang menggenggam tongkat kemahkotaan di puncak takhta emas, melainkan tentang siapa yang mampu mengendalikan alur sejarah dari balik koridor-koridor sunyi dan tirai beludru istana. Legenda mengatakan bahwa kedaulatan Antapodia ditebus dengan darah yang kini telah membeku menjadi hukum rimba yang elegan. Ketika garis pemisah antara sang pahlawan pembela rakyat dan pengkhianat mahkota mulai mengabur dalam kabut intrik politik, sebuah rahasia kuno yang terkubur di bawah akar pohon kehidupan kekaisaran mulai berdenyut kembali. Satu kebenaran terlarang kini mengancam untuk menyulut api pemberontakan yang akan menghanguskan seluruh kemegahan Dinasti Antapodia hingga menjadi debu. Di negeri yang tampak tenang ini, setiap senyuman bangsawan adalah belati yang tersembunyi, dan setiap janji setia adalah jerat yang mematikan, karena di Antapodia, kebenaran adalah kemewahan paling mahal yang hanya bisa dibayar dengan nyawa. #FiksiSejarah #HistoricalFiction #Abad12 #Kerajaan.
1. Sisa Kejayaan yang Membisu

Provinsi Matea, Empat tahun telah berlalu sejak eksodus massal itu. Kastil Matea, yang dulunya merupakan jantung administrasi utara, kini tegak berdiri seperti nisan raksasa yang terbuat dari batu granit.

Ali (19 tahun) berjalan menyusuri koridor panjang aula utama. Suara langkah kakinya yang mengenakan sepatu kulit usang bergema, memantul di dinding-dinding yang dulunya dihiasi permadani sutra, kini hanya menyisakan kerangka kayu yang mulai melapuk. Baginya, kastil ini bukan lagi simbol kekuasaan, melainkan hanya sebuah tempat berteduh yang terlalu luas.

Pagi itu, udara di utara Sungai Vaslas sangat menggigit. Ali keluar menuju halaman belakang kastil yang kini berubah menjadi semak belukar. Di tangannya, sebuah busur kayu buatan sendiri dan beberapa batang anak panah.

"Jangan berpikir tentang masa lalu, Ali. Perutmu tidak bisa makan kenangan," bisiknya pada diri sendiri, sebuah kebiasaan yang ia kembangkan agar tidak merasa benar-benar gila dalam kesunyian.

Ia berjongkok di balik reruntuhan patung gubernur yang sudah kehilangan kepalanya. Matanya yang tajam menangkap pergerakan di balik semak: seekor kelinci hutan yang gemuk. Ali menarik napas perlahan, menahan detak jantungnya agar tetap tenang. Namun, tepat saat ia hendak melepaskan anak panahnya, sebuah suara yang tidak seharusnya ada di kota hantu ini terdengar.

Klining... klining...

Itu suara lonceng kecil yang biasanya terpasang pada pelana kuda.

Ali membeku. Jantungnya berdegup kencang. Selama empat tahun, satu-satunya suara di Matea adalah angin, burung, dan aliran sungai. Ia segera membatalkan tembakannya dan merayap rendah, naik ke menara pengawas yang separuh hancur untuk melihat ke arah gerbang luar kastil.

Di kejauhan, melalui kabut tipis, ia melihat sesuatu yang mustahil: sebuah kereta kuda mewah dengan lambang kerajaan yang sudah pudar, dikawal oleh dua orang penunggang kuda yang tampak kelelahan dan terluka.

Ali tahu, kedatangan orang asing di tanah terkutuk ini hanya berarti satu hal:

Ali menahan napas. Dari balik pilar raksasa yang menghitam akibat jelaga tahun 296 era penyatuan antapodian atau 1150 masehi, ia mengamati ketiga sosok asing itu. Mereka tampak seperti hantu yang keluar dari masa lalu, mengenakan pakaian yang terlalu mewah untuk debu dan kesunyian Matea.

Kuda-kuda mereka mendengus kelelahan, uap panas keluar dari hidung hewan-hewan itu saat mereka berhenti di tengah aula terbuka. Dua pengawal itu turun dengan gerakan kaku, seolah tulang mereka sudah terlalu tua atau terlalu lelah untuk memanggul zirah besi yang penuh goresan pedang.

Salah satu pengawal, yang memiliki bekas luka memanjang di pipinya, membukakan pintu kereta. Seorang gadis keluar dengan langkah gemetar. Ia mengenakan jubah beludru biru tua yang kotor di bagian bawahnya, namun mahkota kecil yang melingkar di kepalanya tetap berkilau tertimpa cahaya matahari yang masuk lewat atap kastil yang bolong.

Beberapa saat kemudian, api unggun kecil menyala di tengah aula, menggunakan sisa-sisa kursi kayu mahoni yang dipecahkan oleh para pengawal. Suara retakan kayu yang terbakar menjadi musik latar bagi perdebatan yang mulai memanas.

"Kita tidak bisa berlama-lama di sini, Kapten!" bisik pengawal yang lebih muda, suaranya parau karena ketakutan. "Pasukan pengejar Jenderal Kaelen tidak akan berhenti di tepi sungai. Mereka akan menyeberang!"

"Matea adalah kota terkutuk, Silas," jawab pengawal yang lebih tua, sang Kapten, sambil mengasah pedangnya dengan batu. "Orang-orang selatan takut pada hantu-hantu Antapodia. Ini satu-satunya tempat di mana Putri Elara bisa memejamkan mata tanpa takut lehernya digorok saat tidur."

Putri Elara, Ali mencamkan nama itu di kepalanya. Ia adalah putri dari dinasti yang seharusnya melindungi rakyatnya saat perang pecah, namun kini ia sendiri terlunta-lunta.

"Tapi lihatlah tempat ini!" Silas mengibaskan tangannya ke arah kegelapan koridor tempat Ali bersembunyi. "Kastil ini kosong. Tidak ada makanan, tidak ada harapan. Jika kita tidak mati oleh pedang, kita akan mati kelaparan di sini."

Elara, yang sedari tadi terdiam menatap api, tiba-tiba bersuara. Suaranya tenang namun bergetar. "Setidaknya di sini aku mati sebagai manusia bebas, bukan sebagai alat politik untuk dinikahi oleh pembunuh ayahku. Jika Selatan telah jatuh, maka Matea adalah akhir dari segalanya."

Ali, yang berada hanya sepuluh meter dari mereka, merasakan perasan yang aneh. Marah karena mereka menganggap tempat tinggalnya "mati", tapi juga ada rasa iba yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

Tiba-tiba, perut Ali berbunyi, sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri karena ia belum makan sejak pagi. Suara itu kecil, namun di aula yang sunyi senyap seperti kuburan, bunyi itu terdengar seperti ledakan.

Kapten pengawal itu langsung berdiri, menghunus pedangnya ke arah pilar tempat Ali bersembunyi.

"Siapa di sana?! Keluar, atau aku akan memastikan kepalamu terpisah dari pundakmu!" teriak sang Kapten.

Ali tidak bergerak dengan ketakutan. Sebaliknya, ia melangkah keluar dari bayang-bayang pilar dengan gerakan yang sangat tenang, hampir seperti seekor predator yang sedang mengamati wilayahnya sendiri. Sebatang rumput kering terselip di sudut bibirnya, ia kunyah perlahan sambil menyandarkan bahunya di permukaan batu pilar yang kasar.

Matanya yang tajam dan dingin menatap langsung ke arah pedang yang terhunus.

"Kau berisik sekali untuk ukuran orang yang sedang bersembunyi," suara Ali terdengar berat dan datar, sudah lama tidak digunakan untuk berbicara panjang lebar.

Kapten Wedos, nama pengawal tua itu, tidak menurunkan senjatanya. Ia justru melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Putri Elara. Otot-otot lengannya menegang; ia bisa merasakan bahwa pemuda di depannya ini bukan pengungsi biasa. Postur tubuh Ali tegak, matanya tidak menunjukkan ketakutan yang biasa terlihat pada rakyat jelata.

"Siapa kau?! Bagaimana bisa ada manusia hidup di reruntuhan ini?" bentak Kapten Wedos. "Apa kau mata-mata Jenderal Kaelen? Jawab! Berapa orang yang bersamamu di dalam sana?!"

Ali hanya melirik ujung pedang Wedos, lalu beralih menatap Putri Elara yang tampak terpaku melihat penampilannya. Ali mengenakan pakaian dari kulit binatang yang ia jahit sendiri, tangannya kasar dan penuh bekas luka cakaran, tanda bahwa ia terbiasa bergulat dengan alam liar Matea, bukan dengan protokol istana.

"Hanya aku," jawab Ali singkat. Ia melepaskan sandaran bahunya dan berjalan perlahan menuju api unggun, mengabaikan hunusan pedang Wedos yang mengikutinya. "Dan jika aku adalah mata-mata, kalian sudah mati sejak kalian melewati gerbang depan. Suara kereta kalian bisa terdengar sampai ke seberang sungai."

"Jangan bergerak!" Wedos berteriak lagi, wajahnya memerah karena merasa diremehkan oleh seorang pemuda desa. "Kau belum menjawab, siapa kau sebenarnya? Apa jabatanmu di kastil ini dulu?"

"Jabatan?" Ali terkekeh hambar. Ia merogoh kantung kulit di pinggangnya, membuat Silas, pengawal muda, hampir menghunus pedangnya juga, namun Ali hanya mengeluarkan dua ekor kelinci hutan yang sudah dikuliti bersih. "Aku adalah raja, gubernur, sekaligus pelayan di sini. Dan kalian adalah tamu yang tidak diundang yang merusak ketenangan makan siangku."

Putri Elara melangkah maju, menyentuh pundak Kapten Wedos agar menurunkan pedangnya. "Cukup, Wedos. Jika dia ingin membunuh kita, dia bisa melakukannya saat kita sedang menyalakan api tadi." Elara kemudian menatap Ali dengan tatapan menyelidik. "Maafkan kekasaran pengawal saya. Kami hanya... sudah terlalu lama dikejar oleh kematian."

Wedos tetap tidak menurunkan kewaspadaannya. "Putri, kita tidak bisa percaya padanya! Dia mungkin ahli beladiri, lihat caranya bergerak. Dia bukan pemuda sembarangan."

Wedos kembali melontarkan pertanyaan dengan nada menginterogasi, "Katakan, dari mana kau belajar cara bertarung? Dan kenapa kau memilih tinggal di tempat terkutuk ini sendirian sementara ribuan orang melarikan diri?"

Ali baru saja membuka mulut untuk menjawab, namun tiba-tiba ia mematung. Matanya tidak lagi menatap Kapten Wedos, melainkan tertuju pada lantai batu aula yang dingin. Ia sedikit menundukkan kepala, memfokuskan seluruh inderanya.

Di sela desis api yang membakar kayu mahoni, ada sebuah getaran halus yang merambat dari tanah. Bagi telinga orang biasa, itu mungkin hanya suara angin yang menderu di celah reruntuhan, namun bagi Ali yang telah hidup lima tahun dalam kesunyian Matea, itu adalah suara kematian.

"Diam," potong Ali tajam, suaranya rendah namun penuh otoritas.

"Jangan memerintahku, Nak! Aku bertanya," Kapten Wedos hendak membentak, namun Ali bergerak secepat kilat.

Hanya dalam satu gerakan yang hampir tak terlihat mata, Ali sudah berada di depan Wedos, telapak tangannya menekan dada zirah sang Kapten dengan kuat, sementara jari telunjuknya menempel di bibir sendiri.

"Jika kau ingin terus hidup untuk melindungi Putrimu, tutup mulutmu," bisik Ali. "Satu mil dari sini. Sekitar tiga puluh... tidak, empat puluh kuda. Mereka memacu hewan mereka seolah sedang memburu nyawa."

Wajah Wedos memucat. Ia mencoba mendengarkan, namun ia tidak mendengar apa pun selain kesunyian. Namun, melihat sorot mata Ali yang begitu yakin dan waspada, ia tahu pemuda ini tidak sedang menggertak.

"Silas! Matikan apinya! Sekarang!" perintah Ali sambil berbalik. Tanpa menunggu persetujuan, Ali menendang tumpukan kayu yang membara, menyebarkan abunya hingga padam seketika. Aula itu kini jatuh ke dalam keremangan yang mencekam.

Putri Elara gemetar, ia menggenggam jubahnya erat-erat. "Apakah itu orang-orang Jenderal Kaelen?"

"Siapa pun mereka, mereka tidak datang untuk bertamu," jawab Ali singkat. Ia menyambar busur dan kelincinya, lalu menoleh ke arah sebuah lorong gelap di balik singgasana gubernur yang sudah miring.

"Ikuti aku. Jangan bersuara, jangan menyeret kaki, dan jangan biarkan pedang kalian beradu dengan batu. Jika kalian ingin selamat, masuk ke dalam."

Wedos ragu sejenak, menatap kegelapan lorong itu dengan curiga. Namun, suara gemuruh yang Ali katakan mulai terdengar sayup-sayup, seperti guntur yang merayap di kejauhan. Pasukan itu memang datang.

"Cepat!" desak Ali.

BAB SELANJUTNYA>>>

Lanjut membaca
Lanjut membaca