

Hujan mengguyur deras pada malam tersebut.
Cahaya-cahaya dari restoran mewah di pusat kota tampak berkilau akibat tetesan air hujan. Mobil-mobil mahal berjejer memenuhi lahan parkir, menjadikan tempat itu terlihat seperti sebuah dunia yang sangat jauh dari kehidupan Reno.
Namun, meskipun demikian, Reno tetap datang malam ini.
Karena malam ini seharusnya menjadi malam paling bahagia dalam hidupnya.
Dengan mengenakan kemeja hitam terbaik yang dimilikinya dan sebuah kotak cincin kecil disimpan dalam saku celananya, Reno melangkah memasuki restoran sambil berusaha menenangkan detakan jantungnya.
Lima tahun.
Ia telah menjalin hubungan dengan Siska selama lima tahun.
Dan malam ini, ia berencana untuk melamar wanita tersebut secara resmi.
Pelayan restoran segera mengantarkan Reno menuju ruangan VIP di lantai dua.
Namun, ketika pintu ruang terbuka—
Reno langsung berhenti melangkah.
Di dalam, terdapat keluarganya Siska yang duduk lengkap dengan pakaian mahal mereka.
Ayah Siska.
Ibu Siska.
Beberapa sanak saudara.
Dan seorang pria muda yang mengenakan jas mahal duduk di samping Siska sambil memegang kunci mobil sport di tangannya.
Kevin.
Reno langsung mengenali pria itu dari keterangan Siska.
Anak dari seorang pebisnis kaya yang belakangan banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya.
Entah mengapa…
Kehadiran pria tersebut seketika membuat insting Reno tidak enak.
"Reno, ayo duduk."
Siska tersenyum tipis, tetapi senyumnya terasa berbeda di malam itu.
Tidak sehangat biasanya.
Reno berusaha tersenyum dan perlahan-lahan duduk.
Namun, suasana di meja terasa aneh.
Tatapan mereka tampak seolah sedang menilai dirinya.
Dan Reno sangat tidak suka dengan tatapan semacam itu.
"Jadi…" ucap ayah Siska sambil bersandar. "Apakah kamu serius ingin menikahi putri saya?"
"Iya, Om."
"Masih kerja di toko?"
"Iya."
"Berapa penghasilanmu?"
Pertanyaan itu segera membuat suasana terasa canggung.
Namun Reno tetap menjawab dengan tenang.
"Cukup untuk kebutuhan sehari-hari."
Kevin langsung tertawa kecil.
"Jawaban yang aman."
Beberapa orang lain juga ikut tertawa kecil.
Reno mulai mengepalkan tangan di bawah meja.
Namun, ia masih berusaha untuk tetap tenang.
Ibu Siska kemudian menatap Reno dari atas hingga bawah.
"Maaf, Reno. Kami hanya ingin realistis."
"Siska sudah hidup nyaman sejak kecil."
Tatapannya semakin menjauh menjadi dingin.
"Kamu yakin bisa memberinya kehidupan yang serupa?"
Reno menarik napas dalam-dalam.
"Saya memang belum kaya," jawabnya dengan tenang. "Tapi saya bekerja keras."
Kevin tersenyum tipis.
"Semua orang juga bekerja keras."
"Tetapi tidak semua orang berhasil."
Pria itu kemudian mengeluarkan dompet berwarna gelap dari kantongnya dan meletakkan kartu premium di atas meja.
"Kartu ini memiliki batas dua miliar."
"Dan ini adalah kartu kedua."
Tatapannya langsung merendahkan Reno.
"Kamu bahkan tidak akan bisa memiliki yang seperti ini meski menabung seumur hidup."
Suara tawa kecil terdengar kembali.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Reno benar-benar merasa direndahkan.
Namun yang paling menyakitkan bukanlah ucapan mereka.
Melainkan—
Siska hanya terdiam.
Wanita tersebut tidak memberikan pembelaan sedikit pun untuk Reno.
"Aku hanya ingin membuat Siska bahagia," Reno berkata sembari memandang wanita tersebut.
Namun ibunya langsung memotong.
"Bahagia saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga."
"Cinta itu penting. Namun uang lebih penting."
Pernyataan itu bagaikan sebuah tamparan keras.
Reno menatap Siska cukup lama.
"Apakah kamu juga berpikir seperti itu?"
Siska tampak gelisah.
Dia menghindari tatapannya.
Setelah beberapa detik, wanita itu akhirnya berkata pelan—
"Aku lelah dengan kehidupan yang sederhana, Ren…"
DEG!
Jawaban itu menghancurkan segalanya.
Reno langsung terdiam.
Lima tahun hubungan mereka…
terhempas oleh uang.
Kevin bersandar sambil tersenyum puas.
"Kadang pria perlu tahu kapan untuk mundur."
Reno perlahan tertawa kecil.
Namun tawanya terdengar dingin.
Dia memasukkan tangan ke dalam saku dan mengeluarkan sebuah kotak cincin kecil.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Kotak sederhana yang telah dia beli dengan hasil tabungannya selama berbulan-bulan.
Reno sejenak membayangkan cincin itu akan melingkar di jari Siska malam ini.
Sungguh lucu.
Reno berdiri perlahan.
Lalu berjalan menuju tong sampah kecil yang ada di sudut ruangan.
Dan tanpa ragu—
dia membuang kotak cincin itu ke dalamnya.
BRAK!
Suasana langsung menjadi hening.
"Reno!" Siska langsung berdiri.
Namun Reno hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Untuk pertama kalinya…
tatapan Reno tidak lagi dipenuhi dengan cinta.
Tetapi dengan kekecewaan.
"Hari ini mungkin kalian melihat saya sebagai pria yang gagal."
Suara Reno rendah tetapi tajam.
"Tapi ingat satu hal…"
Tatapannya beralih kepada Kevin.
"Saya tidak akan selamanya berada di bawah."
Kevin tersenyum sinis.
"Mimpi tetaplah mimpi."
Namun Reno justru membalas dengan senyuman tipis.
Dan anehnya…
senyum tersebut membuat Kevin merasa sedikit tidak nyaman.
Reno kembali menatap Siska.
"Mulai malam ini…"
"Kita sudah selesai."
Setelah mengucapkan itu, Reno langsung meninggalkan ruangan.
Hujan deras menyambut Reno di luar restoran.
Tapi dia tetap berjalan menuju tempat parkir tanpa peduli badannya yang basah kuyup.
Reno berhenti di depan motornya.
Sepeda motor sport berwarna hitam yang selalu dia banggakan.
Motor yang dia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Namun malam ini…
motor itu terlihat kecil di antara deretan mobil mewah.
Reno mendengus kecil dengan rasa pahit saat mengenakan helm.
Jadi inilah rasanya diremehkan karena kemiskinan.
Teleponnya tiba-tiba bergetar.
Pesan dari Kevin.
Siska layak mendapatkan pria yang sukses.
Pesan berikutnya langsung masuk.
Lain kali jangan datang ke restoran mahal dengan motor 😄
Tatapan Reno langsung berubah menjadi dingin.
Tangannya menggenggam ponsel dengan sangat kuat.
Dan untuk pertama kalinya…
amarah mulai mengalahkan rasa sedihnya.
Reno langsung menyalakan motornya dan melesat menembus hujan malam.
Suara mesin motor bergema di jalanan yang basah.
Sepanjang perjalanan, pikiran Reno dipenuhi dengan satu hal—
uang.
Status.
Kekuasaan.
Dunia ternyata hanya menghormati pria yang sukses.
BRAKK!
Petir menyambar langit.
Namun tiba-tiba—
sebuah mobil hitam meluncur keluar dari tikungan dan nyaris menabrak Reno.
Reno segera mengerem dengan keras.
Ban motornya sedikit tergelincir.
"Brengsek…"
Reno turun dengan emosi yang membara.
Namun pintu mobil itu terbuka perlahan.
Seorang lelaki berumur dengan rambut putih melangkah keluar sambil memegang payung berwarna hitam. Ekspresi wajahnya tegas tetapi tenang. "Maaf," kata lelaki itu dengan nada santai. "Pengemudi saya terlalu terburu-buru."
Reno mengeluarkan napas dengan keras. "Tidak masalah."
Lelaki tua tersebut mengamati Reno selama beberapa detik. "Kamu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya." Reno terdiam sesaat. Lelaki tua itu kemudian memberikan senyum kecil. "Tapi saya menyukai matamu. Mata seseorang yang sedang terpuruk biasanya lebih berbahaya."
Reno menyipitkan mata, merasa bingung. Namun lelaki tua itu mengeluarkan kartu nama dan memberikannya.
"Jika kamu benar-benar ingin mengubah arah hidupmu... datanglah menemuiku."
Mobil hitam itu mulai melaju meninggalkan Reno. Reno melihat kartu nama yang ada di tangannya. Matanya langsung melebar sedikit. Hendra Wijaya. Salah satu pengusaha terkemuka di kota. Dan untuk pertama kalinya malam itu... Reno menyadari bahwa hidupnya mungkin belum sepenuhnya berakhir.
Di sisi lain— di dalam restoran, Siska masih berdiri mematung menatap pintu yang telah tertutup. Entah mengapa, dadanya terasa tidak nyaman.
"Sudahlah," kata Kevin dengan santai sambil menikmati minumannya. "Laki-laki seperti dia tidak akan bisa memberikan masa depan."
Namun bayangan tatapan Reno masih terus terlintas di pikirannya. Pandangan dingin yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya... Siska merasa dia mungkin baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berarti.