Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
ASKARA DAN RATU SILUMAN ULAR

ASKARA DAN RATU SILUMAN ULAR

Purple Flow | Bersambung
Jumlah kata
134.4K
Popular
1.2K
Subscribe
184
Novel / ASKARA DAN RATU SILUMAN ULAR
ASKARA DAN RATU SILUMAN ULAR

ASKARA DAN RATU SILUMAN ULAR

Purple Flow| Bersambung
Jumlah Kata
134.4K
Popular
1.2K
Subscribe
184
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSiluman21+Balas Dendam
Warning (21+) Askara seorang pemuda yang tampan dan hidup didesa tiba-tiba saja bertemu dengan sesosok wanita cantik yang diam-diam selalu membantunya. Hidupnya lambat laun berubah, tanpa dia sadari ternyata wanita itu adalah Ratu Siluman Ular, bagaimana nasib Askara selanjutnya.
Bab 1 Sosok wanita itu

“Di mana ini?” ucap seorang pemuda tampan, sambil menyapu pandangannya di sekitar tempat itu.

Dari balik pohon, dirinya melihat seorang wanita berparas sangat cantik keluar perlahan menghampirnya.

“Si-siapa kau?” tanya pemuda itu.

Wanita bergaun kebaya hijau tersenyum ke arahnya. Tatapan matanya teduh seakan menghipnotis pemuda itu sampai dia terdiam.

“Aku Seruni, Kang. Kelak kau akan bertemu denganku. Bawalah ini untuk bekalmu,” ucapnya.

Flashback off...

“Askara... kemari, Nak,” panggil seorang wanita paruh baya kepadanya.

“Iya, Bu, sebentar,” jawabnya dengan lembut, dan segera menghampiri sang ibu. “Kenapa, Bu?” tanyanya.

Sang ibu menoleh. “Itu, kayu bakar sisa sedikit, Nak. Apa kamu tidak keberatan jika mencarikannya?”

Askara tersenyum sambil membawa seutas tali, alat pancing, sebuah karung, serta golok untuk memotong kayu bakar.

“Tentu tidak, Bu. Aku harus bantu ibu, karena bapak sedang sakit," jawabnya.

Sang ibu menatap teduh ke arah Askara. Dia begitu bahagia memiliki anak sepertinya, penurut serta berbakti kepadanya.

“Ya sudah, hati-hati, Nak. Ingat, jangan terlalu lama memancingnya, nanti kamu bisa kemalaman,” kata Ibunya.

Askara mengangguk pelan dan segera beranjak pergi menuju hutan di kaki Gunung Kidul. Askara Jati Niskala, itulah namanya. Pemuda berumur 23 tahun itu memiliki paras yang menawan dan di sukai para gadis di desanya.

Dia tinggal bersama ibunya yang bernama Arsih, ayahnya bernama Candrakala, dan ia juga memiliki seorang adik perempuan bernama Ratih Jati Niskala.

Mereka hidup sederhana di sebuah rumah bilik bambu di bawah kaki Gunung Kidul, serta bertahan hidup hanya mengandalkan apa yang mereka tanam di kebun miliknya.

Askara berjalan menyusuri jalan setapak dengan bertelanjang kaki, berbekal seutas tali tambang serta karung, golok, dan alat pancing di tangannya.

Dia fokus mengumpulkan kayu bakar dan memotongnya menjadi beberapa bagian kecil.

"Keliatannya mendung, sepertinya akan turun hujan,” katanya sambil memandang ke atas langit yang sudah mulai gelap.

Askara dengan cepat mempererat ikatan tali di kayu bakarnya, lalu memasukkannya ke dalam karung besar yang dia bawa.

Tanpa dia sadari, ada sosok gaib yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Sesosok wanita memakai gaun kebaya hijau di hiasi mahkota ular di kepalanya, wanita itu juga memiliki mata cokelat yang kemerahan, serta hidung yang mancung, membuat sosoknya terlihat sangat cantik.

“Pemuda yang sangat baik dan kuat. Hanya dia yang berani memasuki kawasan ini,” ucap wanita itu sambil terus memperhatikan Askara.

Askara kini menggendong setumpuk kayu bakar di punggungnya. Badannya yang kekar sudah terbiasa dengan pekerjaan yang berat, sehingga tidak membuatnya mudah kelelahan.

Saat sampai di sebuah sungai, Askara menyempatkan diri untuk memancing.

“Seperti nya di sini sangat cocok. Mudah-mudahan ikannya banyak, untuk makan malam,” gumamnya sambil duduk di tepi sungai.

Dia mengeluarkan alat pancing kesayangannya dan mulai memberikan umpan cacing di kail pancingan.

Wushhh!!

Plung!!

Askara mulai bersenandung sambil menunggu ikan menghampiri umpannya. Namun tanpa dia sadari, sebuah arus besar di ujung sungai sedang menuju ke arahnya. Askara tak menyadari arus itu semakin mendekat, tiba-tiba...

Byurrrrr!!

Aaaa...

Askara terseret arus sungai yang di iringi hujan lebat di sekitar sungai. Dalam hati, Askara pasrah pada Sang Maha Kuasa, jika dia harus mati di sungai itu.

Selang beberapa saat, mata Askara perlahan terbuka. Tubuhnya basah kuyup. Dia merasa kebingungan, karena dia tidak berpindah tempat... padahal yang dia ingat tadi, arusnya sangat kencang.

“A-apakah ini mimpi? Tapi tidak mungkin…” ucapnya pelan. Dia menyapu pandangan ke arah sekitar. Dia terkejut melihat kayu bakar yang masih utuh ada di sampingnya, serta puluhan ikan tergeletak di rumput sekitar tempat dia memancing.

“Wah... ikannya banyak sekali,” ucapnya sambil mengambil satu per satu ikan yang masih segar itu, seakan lupa bahwa dirinya baru saja menghadapi bahaya.

Dari kejauhan, sosok wanita gaib di hutan tadi masih memperhatikan Askara. “Untung saja aku melihatmu. Jika tidak, kau akan membuat keluargamu bersedih, pemuda tampan.” Lalu sosok gaib itu perlahan menghilang di balik kabut tebal.

Askara kini bersiap untuk pulang, ia menggendong kayu bakar serta ikan segarnya.

“Lumayan untuk makan dua hari, sepertinya cukup,” ucapnya sambil berjalan melewati jembatan bambu yang berada di dekat sungai.

Namun dirinya masih memikirkan kejadian aneh yang baru saja ia alami. Askara masih heran dengan kejadian itu. Dia berjalan menuju ke arah rumahnya di iringi hujan lebat yang mengguyur.

Beberapa menit kemudian, dia sudah berada di belakang rumah. Ibu Arsih terkejut melihat anaknya sudah basah kuyup.

“Ya ampun, Nak. Kenapa sampai hujan-hujanan begini?” katanya sambil mengusap punggung Askara.

Askara tersenyum. “Nggak apa-apa, Bu. Ini hanya air hujan. Oh iya, Ratih mana, Bu?” jawabnya.

Dia tidak menceritakan kejadian aneh yang baru saja di alaminya, karena ia tak mau membuat ibunya khawatir. Dia berusaha terlihat baik-baik saja.

“Oh, ada. Adikmu lagi pijitin bapak, Nak,” jawab Ibu Arsih.

“Ya sudah, Bu. Askara mau mandi dulu,” katanya, sambil memberikan ikan hasil tangkapanya.

Ibu Arsih terlihat sangat senang saat melihat hasil tangkapan anaknya ternyata banyak. Lalu Ibu Arsih memindahkan ikan-ikan itu ke dalam sebuah wadah lalu membersihkannya.

Saat Ibu Arsih tengah sibuk membersihkan ikan, Ratih datang dengan mata berbinar sambil memperhatikan ikan-ikan yang ada di hadapannya.

“Waaah... banyak sekali, Bu. Ini A’a yang bawa?” tanyanya.

“Iya, tadi a'a yang bawa dari sungai,” jawabnya, sambil fokus membersihkan ikan-ikan itu.

“Asik, makan enak dong hari ini,” ucap Ratih, sambil tersenyum bahagia.

Ratih pun mulai membantu ibunya untuk membersihkan ikan hasil tangkapan Askara. Sebuah ikan sudah cukup mewah bagi mereka sekeluarga, karena sehari-hari mereka hanya memakan apa yang mereka tanam di kebunnya, seperti ubi jalar, dan singkong.

Terkadang juga Askara menjual hasil kebunnya ke pasar atau ke warga sekitar, dia juga menukarnya dengan seliter beras.

Jadi, jika Askara memancing dan mendapatkan banyak ikan, itu bisa menjadi makanan spesial bagi keluarganya. Beberapa menit kemudian, Askara keluar dari kamar mandi sederhana itu.

“A’a hebat, bisa dapat ikan sebanyak ini,” ucap Ratih sambil memperhatikan kakanya itu.

Askara tersenyum bahagia, karena Ratih begitu senang saat ia bawakan ikan. “Sudah rezeki kita, Ratih. Bapak bagaimana sekarang?” tanyanya.

“Hm, kondisi bapak masih sama, a. Belum ada perubahan. Harusnya kita bawa bapak ke dokter di kecamatan, tapi kan…” kata Ratih terpotong karena Askara.

“Sudah, nanti biar A’a yang carikan uangnya buat bapak berobat,” ucapnya di iringi senyuman.

Lalu dia beranjak pergi menuju kamar bapaknya. Saat dia berada di ambang pintu kamar, matanya memandang sayu ke arah bapaknya yang sedang terbaring lemah.

“Aku janji, Pak. Suatu hari nanti Aku akan membuat bapak sembuh,” gumamnya, penuh keyakinan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca