

Riko namanya. Seorang pemuda 21 tahun yang kini tengah duduk di bus yang akan berangkat ke ibu kota. Riko Syaputra atau orang kampung sering memanggilnya Kang Mas. Riko sebatang kara. Sejauh yang ia ingat ia di urus oleh seorang nenek tua yang berpulang saat ia berusia delapan tahun. Setelahnya warga kampunglah yang merawatnya. Mereka bergantian memberinya makan dan menyekolahkan Riko dari dana bersama kampung.
"Kang mas hati-hati di jalan ya, jika ada apa-apa hubungi saja bapak." teriak Pak Joko kepala desa tempat Riko tinggal. Pak Joko nampak berada di luar bus sementara Riko yang duduk di samping jendela hanya melambai.
Warga kampung sangat baik pada Riko. Mereka merawat Riko dengan tulus. Bahkan ketika kini saat Riko sudah bisa dibilang dewasa. Riko ingin bekerja ke kota mereka dengan cepat mengumpulkan uang untuk biaya perjalanan Riko. Riko bukannya tidak nyaman tinggal di kampung namun, sebaliknya Riko merasa terlalu nyaman. Di kampung, semua kebutuhannya pasti telah tersedia. Bahkan meski riko hanya diam dan berleha-leha dia tetap bisa makan dan membeli apapun karena bantuan dari warga kampung. Riko benci itu. Ia seolah menjadi benalu. Dia laki-laki dan menjadi benalu merusak harga dirinya sebagai laki laki. Riko memutuskan untuk bekerja di ibu kota dan menjadi mandiri.
"Berangkat, Pir!"ujar Kenek ketika memastikan tak akan ada lagi yang naik dan bus pun mulai berangkat.
Bus melaju stabil mengarungi jalan. Riko hanya menatap jalanan panjang di kirinya. Riko itu orangnya pendiam bila bertemu orang asing dan akan ceria bila telah mengenal lama. Jadi, meski ada orang lain yang duduk di sampingnya Riko memilih tetap diam dan menatap ke jalan.
"Mas, mau ngertau?" tanya pria paruh baya di sampingnya sambil mencolek bahu Riko.
Riko hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Dulu ya mas pas saya pertama kali ke kota tuh tak punya tujuan, uang pas passan, kerjaan belum ada, namun ya namanya rezeki akhirnya saya punya kerjaan. Tapi tetap meski terdengar mudah tapi perjuangan itu gak mudah mas. Saya dulu..." Pria itu terus berbicara menceritakan perjalanan rantaunya dulu. Riko hanya mencoba mendengarkan dam sesekali mengangguk sebagai balasan.
Bus akhirnya berhenti di terminal di ibu kota. Riko telah keluar dan sempat pamit ke bapak yang tadi di sebelahnya sekarang ia tengah duduk di kursi yang tersedia di terminal dan kembali membaca alamat tempat ia akan kerja.
*****
Binggung. Itu yang kini Riko rasakan saat sebuah getaran terasa dari cincin di tangan kirinya saat rekan kerjanya tadi menyentuh tangannya itu. Riko tiba-tiba tahu siapa dia orang taunya kakek neneknya bahkan buyut dari rekan kerja yang tadi mengenalkan dirinya bernama Lukman.
Nama-nama itu muncul dengan sendiri di benaknya dan ada satu keyakinan bahwa ia adalah cucu dari sepupu Riko dengan otomatis Lukman juga cucunya. Riko terdiam lama, mencerna informasi mendadak di pikirannya. Cucu? Keponakan? Ia bahkan dari kecil tak tahu siapa orang tua kandungnya dan tiba-tiba ia memiliki cucu?
"Riko?" sebuah suara memecah lamunan Riko. Ia menatap Lukman yang juga tengah menatapnya seolah bertanya kenapa?
"Ah tidak apa apa senang berkenalan dengan mu. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." ujar Riko memilih mengenyahkan pikiran aneh di.benaknya dan memutuskan fokus bekerja.
Riko bekerja di sebuah supermarket yang cukup besar. Tugasnya adalah memastikan ketersedian stok di rak pajangan. Jadi selama Jam kerja Riko akan mengelilingi supermarket untuk melihat ketersedian stok dan memasukan stok barang bila perlu.
Riko kembali merasakan getaran di jari manisnya saat seorang pelanggan wanita tak sengaja menyenggol tangannya. Riko juga mendadak tahu nama perempuan itu dan silsilah kelurganya. Lagi?
"Mas nya kenapa? Ada yang salah dengan wajah saya?" tanya wanita itu pada Riko yang dari tadi seolah menatapnya dengan serius.
"Paman gak papa." kalimat itu meluncur lancar dari mulut Riko. Wanita itu menatap pemuda yang jauh lebih muda darinya itu aneh. Wanita itu dengan cepat mendorong troli menjauhi Riko yang masih nampkak bengong.
"Anak muda jaman sekarang aneh. Maunya dipanggil paman." gerutu wanita itu.
Riko yang menyadari kesalahannya hanya bisa menepuk mulutnya pelan. Kenapa kata itu keluar lancar dari mulutnya? Tapi anehnya Riko seolah sangat mengenal wanita itu.
Hal itu terjadi lagi kini getaran itu menuju ke seorang gadis dengan gaun minim dan dandanan yang cukup medok menurut Riko. Cincin Riko bergetar dan Riko mengenali gadis itu sebagai cucunya. Cucu? Kali ini silsilah si gadis cukup dekat dengan Riko. Si gadis adalah Cucu dari paman Riko? Paman? Sejak kapan Riko memiliki Paman? Riko yang masih binggung berakhir mendapat tamparan karena terbengong dan di salah pahami oleh gadis itu.
"Mas nya gak sopan! Lihat apa hah! Itu mata kemana hah!" teriak gadis itu marah.
Seketika orang di sekitar juga mulai berkerumun dan Lukman sebagai pembimbing dari Riko pun mendekat.
"Maaf...maaf..." itu suara lukman yang mencoba menenangkan gadis itu yang kini tengah marah marah. Ia juga membawa tubuh Riko untuk membungkuk bersamanya. Riko yang benar benar binggung hanya menurut.
Kalian coba bayangkan di posisi Riko yang tiba-tiba mendapat informasi yang tidak masuk akal. Riko tiba-tiba menjadi seperti orang bodoh. Otaknya kosong. Setelahnya Riko diomeli Lukman dan mencoba kembali fokus bekerja.
******
Jam pulang akhirnya tiba. Riko dengan buru-buru ke Mes dan memasuki kamarnya. Kamar dua ruangan dengan hanya kamar mandi dan sabuah ruangan 4×5 menjadi tempat tinggal Riko mulai hari ini. Di kamar itu terdapat satu kasur single yang dibiarkan di lantai dan sebuah lemari plastik. Riko terdiam lama di kasur. Ia mencoba mencerna semua hal baru yang ia alami.
Hingga ia tiba tiba ingat sebuah buku yang dulu pernah di berikan nenek yang merawatnya kala itu.
"Kalau suatu saat kang mas mengetahui sebuah informasi yang bahkan kang mas tidak pahami kang mas buka buku merah ini ya Kang mas."
Riko kembali mengingat kalimat nenek kala itu. Riko langsung membongkar tas yang ia bawa dari kampung yang belum ia bereskan saat tiba di mes, ia langsung kerja dan belum sempat beresberes.
Setelah hampir mengeluarkan semuanya akhirnya Riko melihat siluet sebuah buku dengan sampul kulit berwarna merah yang dulu diberikan oleh nenek. Riko mengeluarkannya dari tas. Namun Riko ragu membukanya karena saat Riko pernah membukanya dulu, buku itu kosong, hanya berisi beberapa lembar kertas dengan warna kekuningan yang menandakan betapa tuanya buku tersebut.
Namun sebuah pikiran meyakinkan Riko bahwa jawabannya ada di buku ini. Dan setelah mengehembuskan nafas beberapa kali untuk Riko mencoba untuk tenang Riko membuka buku itu.