Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sentuhan Hoki Seorang Kurir

Sentuhan Hoki Seorang Kurir

Ain-6 | Bersambung
Jumlah kata
76.6K
Popular
445
Subscribe
75
Novel / Sentuhan Hoki Seorang Kurir
Sentuhan Hoki Seorang Kurir

Sentuhan Hoki Seorang Kurir

Ain-6| Bersambung
Jumlah Kata
76.6K
Popular
445
Subscribe
75
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSistemHaremMiliarder
Saka Mahardika hanyalah seorang lelaki kurir yang hidup dalam kemiskinan dan kehinaan setelah keluarganya hancur dalam sebuah konspirasi bisnis. Puncaknya, ia dibuang oleh kekasihnya demi seorang lelaki kaya. Namun, di titik terendah itu, sebuah sistem kuno yang tertanam di nadinya bangkit: Midas Touch. Apapun yang disentuh Saka akan berubah menjadi emas, keberuntungan, atau keberhasilan mutlak. Namun di balik kekayaan tanpa batas, Saka menyadari bahwa setiap sentuhannya mengundang konspirasi yang lebih gelap. Akankah ia menjadi raja dunia, atau justru menjadi budak dari sistem yang ia miliki?
Sisa Keberuntungan

Lampu neon di langit-langit gudang logistik berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang gemetar di atas tumpukan paket. Saka Mahardika mengusapkan telapak tangannya yang kotor ke celana kain. Jam digital di pergelangan tangannya menunjukkan pukul delapan malam.

"Saka! Satu lagi ni. Pengiriman prioritas ke Distrik Menara Langit, Restoran The Azure," teriak kepala gudang sambil melempar sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado perak dengan pita satin hitam.

Saka menangkap kotak itu. "Hah? Menara Langit? Skor Atma saya kan cuma level satu, Pak. Jalur sana tertutup untuk kelas bawah."

"Cari jalannya. Ini pesanan khusus dari Pak Erwin Pratama. Dia orang penting. Kalau sampai telat atau barangnya lecet, bukan cuma poin kamu yang hilang, tapi pekerjaanmu juga. Cepat!"

Saka terdiam sejenak mendengar nama itu. Erwin Pratama adalah nama yang sering muncul di berita bisnis lokal sebagai pengusaha properti yang sedang naik daun. Saka segera memakai helmnya yang kusam dan menaiki motor tua yang kerap menyusahkan.

Di bawah guyuran hujan yang mulai menderu, Saka memacu motornya. Pikirannya beralih pada Elara, kekasihnya. Tadi sore, Elara mengirim voice note bahwa dia harus menghadiri acara makan malam keluarga besar yang sangat mendadak.

Elara terdengar begitu menyesal karena mereka tidak bisa merayakan dua tahun hubungan mereka malam ini. Saka hanya bisa membalas dengan kata-kata penyemangat, meski hatinya sedikit kecewa.

Setelah menembus kemacetan Metropolis Arcapada, Saka sampai di gerbang sensor The Azure. Lampu merah menyala terang menyambutnya.

"Identitas," suara robotik menggema dari tiang sensor.

Saka menempelkan pergelangan tangannya. Skor Atma: 1.2. Status: Buruh Rendah.

"Akses lobi ditolak. Gunakan jalur layanan di sisi barat," bunyi mesin itu.

Saka menghela napas, hal yang sudah diduganya. Dia mengikuti petunjuk ke gang gelap di samping gedung mewah tersebut. Seorang petugas keamanan berseragam lengkap berdiri di sana.

"Paket untuk meja dua belas. Pesanan Pak Erwin Pratama," Saka memperlihatkan kotak perak itu.

"Lift barang di sebelah sana. Lantai empat. Langsung ke meja pemesan, jangan berputar-putar," petugas itu menunjuk ke pintu besi.

Saka keluar dari lift barang dan mendapati dirinya dekat area dapur. Dia berjalan dengan kepala menunduk, hingga sampai di ambang pintu masuk restoran utama yang hanya dibatasi oleh tirai beludru.

Saka mencari meja nomor dua belas.

Langkah Saka terhenti. Tangannya yang memegang kotak perak mendadak kaku.

Di meja nomor dua belas, seorang perempuan duduk dengan anggun mengenakan gaun merah yang sangat cantik. Rambutnya tersanggul modern dengan hiasan mutiara yang berkilau di bawah lampu kristal. Di depannya, seorang lelaki bertubuh gempal mengenakan jas biru gelap sedang tertawa lebar.

Saka mematung. Matanya tidak beralih dari perempuan itu.

"Elara?" bisiknya, nyaris tidak terdengar.

Perempuan itu tertawa lepas mendengar ucapan lelaki di depannya. Dia condong ke depan, membiarkan lelaki itu mengusap jemarinya dengan lembut.

"Jadi, si kurir itu benar-benar percaya kamu ada acara keluarga?" suara lelaki itu terdengar di sela musik piano.

"Dia selalu percaya apa pun yang aku katakan, Sayang," jawab Elara sambil menyesap minumannya. "Saka itu sangat mudah dibohongi. Aku bilang ibuku sedang kambuh sakitnya saja, dia pasti langsung merasa bersalah kalau menggangguku. Mana mungkin aku mau merayakan anniversary di warung mie pinggir jalan sementara ada tawaran makan malam di sini?"

Saka melangkah maju, menyingkap tirai beludru. Sepatunya yang basah meninggalkan noda air di atas karpet merah yang sangat mahal. Dia berjalan lurus menuju meja nomor dua belas.

"Paket untuk Pak Erwin Pratama," kata Saka dengan menahan getaran hebat di baliknya.

Tawa di meja itu berhenti seketika. Erwin mendongak, menatap Saka dengan pandangan meremehkan. "Ah, akhirnya sampai juga. Kamu lama sekali."

Namun, perhatian Saka hanya tertuju pada Elara. Perempuan itu membelalak, wajahnya yang tadi penuh tawa berubah pucat pasi dalam sekejap. Gelas di tangannya nyaris terlepas.

"Saka? Kenapa... kenapa kamu yang antar?" Elara terbata-bata.

"Elara?" Erwin menoleh ke arah Elara, lalu kembali ke Saka. "Oho, jadi ini dia? Si 'magnet sial' yang kamu ceritakan itu?"

"Saka, keluar sekarang!" Elara berdiri, suaranya naik satu oktav karena malu. "Ini tempat elit, kamu nggak seharusnya di sini!"

"Acara keluarga?" Saka meletakkan kotak perak itu di atas meja dengan tangan gemetar. "Jadi ini keluarga yang kamu maksud, Elara?"

Erwin mengambil kotak itu dan membukanya dengan santai. Sebuah kalung berlian berkilau di dalamnya. "Jangan salahkan dia, Nak. Perempuan secantik Elara butuh perhiasan seperti ini, bukan hanya janji-janji kosong."

"Saka, pergi! Aku sudah nggak mau dengan kamu lagi!" Elara berteriak, tidak peduli lagi dengan pandangan tamu lain. "Dua tahun bersamamu sudah cukup. Aku lelah makan di pinggir jalan. Aku butuh hidup yang layak, dan kamu tidak akan pernah bisa memberikannya!"

Elara meraih tasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas, dan melemparkannya ke arah Saka. Uang itu berhamburan ke lantai.

"Ambil uang itu. Anggap sebagai ganti uang yang pernah kamu keluarkan. Kita selesai!"

Erwin tertawa keras, mengembuskan asap rokok ke arah Saka. "Dengar itu? Sekarang keluar dari sini. Baumu merusak selera makan."

Saka menatap uang di lantai, lalu menatap Elara yang kini memalingkan mukanya. Dia merasa seolah seluruh energinya tersedot keluar.

Dia menghela napas panjang lalu berbalik, meninggalkan mereka dengan hati yang hancur.

Di luar, hujan turun seperti sedang menumpahkan seluruh kemarahan langit. Saka menaiki motornya dan menekan tombol starter.

Mesin itu tidak menyala.

Saka turun dan menendang ban motornya berkali-kali hingga kakinya terasa perih. Dia mendongak, membiarkan air hujan mengguyur amarahnya.

Tiba-tiba, dari arah jalan utama, lampu sorot sangat terang menyilaukan mata Saka. Sebuah mobil Rolls-Royce hitam melesat tidak terkendali di atas aspal yang licin. Mobil itu menghantam pembatas jalan, berputar, dan menabrak tiang listrik tepat di gang tempat Saka berdiri.

Percikan api menyambar dari tiang listrik yang tumbang. Saka terhempas ke dinding karena getaran tabrakan. Dia terbatuk, melihat ke arah mobil yang ringsek itu. Pintu depan terbuka paksa. Seorang perempuan dengan pakaian kantor abu-abu merangkak keluar dengan napas tersengal.

"Tolong ..."

Saka berlari mendekat. Dia mengenali wajah itu dari berita ekonomi pagi tadi. Maura Adijaya. Penguasa bisnis Metropolis Arcapada. Dia berusaha berdiri. Saka menangkap bahu Maura saat perempuan itu nyaris tersungkur di genangan air.

Maura mencengkeram lengan baju Saka dengan sangat kuat. Tangannya dingin. "Rapat ... kontrak itu ... aku harus segera sampai."

Saka memegang telapak tangan Maura untuk membantunya berdiri. Pada detik itu, sebuah sensasi panas mengalir dari pergelangan tangan Saka menuju kepalanya. Dunia di sekitarnya seolah berhenti bergerak.

Rintik hujan tampak menggantung di udara.

Di depan matanya, sebuah cahaya keemasan membentuk layar virtual yang transparan.

[Deteksi Kondisi Putus Asa. Sistem 'Midas Touch' Terhubung]

[Target: Maura Adijaya. Kualitas: SSS]

[Proses Sinkronisasi Keberuntungan Berhasil]

[Efek Instan: Keberuntungan Mutlak diberikan kepada Target]

[Reward Pengguna: Saldo Bank Terisi Rp100.000.000,00]

Saka memejamkan mata sesaat. Saat dia membukanya kembali, perempuan itu sedang menatapnya. Ponsel Maura yang sempat terjatuh ke di tanah tiba-tiba berdering. Perempuan itu mengambilnya dengan tangan gemetar.

"Halo? Ya? Apa?!" Maura terbelalak. "Investor dari Astina setuju? Mereka ingin tanda tangan sekarang juga di kantor pusat? Bagaimana mungkin?"

Maura menurunkan ponselnya. Dia menatap Saka yang masih memegang tangannya. Dia merasakan sebuah getaran energi yang kuat, seolah lelaki di depannya adalah sumber dari keajaiban yang baru saja terjadi.

"Kamu..." Maura menelan ludah. "Siapa namamu?"

"Saka Mahardika, Nona."

Maura melihat ke arah motor Saka, lalu melirik ke arah restoran The Azure di atas sana, dan kembali ke wajah Saka yang basah kuyup. Dia meraih kerah jaket Saka.

"Saka, aku nggak tahu apa yang terjadi barusan. Tapi aku merasa saat kamu menyentuhku, nasibku berubah."

Maura menunjuk ke arah mobil pengawal yang baru saja tiba. Rupanya sensor benturan di Rolls-Royce mengirim sinyal darurat ke rumah. Dua orang bersetelan jas hitam berlari menuju Maura. Perempuan itu mengangkat tangannya, menghentikan mereka.

"Masuk ke mobilku."

"Tapi motor saya bagaimana?"

"Lupakan saja!" Maura menarik tangan Saka dengan kuat. "Hari ini kamu menyelamatkan hidupku. Mulai sekarang, kamu harus terus berada di dekatku."

Saka menoleh ke belakang, ke arah jendela restoran tempat Elara dan Erwin berada. Dia kemudian merasakan ponsel di sakunya bergetar: Saldo Anda: Rp100.000.000.

Lanjut membaca
Lanjut membaca