Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Diary Siswa SMA Sang Pengendali Sihir

Diary Siswa SMA Sang Pengendali Sihir

Adera27 | Tamat
Jumlah kata
123.4K
Popular
100
Subscribe
20
Novel / Diary Siswa SMA Sang Pengendali Sihir
Diary Siswa SMA Sang Pengendali Sihir

Diary Siswa SMA Sang Pengendali Sihir

Adera27| Tamat
Jumlah Kata
123.4K
Popular
100
Subscribe
20
Sinopsis
18+FantasiIsekaiSpiritualSihirPahlawan
Raka adalah seorang siswa SMA yang biasa. Namun, kenyataannya dia adalah satu-satunya penerus kekuatan sihir tertinggi, yang dikenal sebagai Sang Pengendali Sihir, yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan elemen alam dan membaca aliran energi yang tersembunyi di sekitar manusia. Sekarang, Raka harus berjuang menghadapi ujian kenaikan kelas, mengatasi rasa malu saat dekat dengan Dara yang membuat jantungnya berdebar, dan juga mencegah niat jahat yang ingin menggunakan sekolah ini untuk membuka jalan menuju kegelapan. Akankah Raka mampu menjaga rahasianya tetap aman? Bisakah orang itu mengatur kehidupan remajanya sambil menjalankan tugas berat sebagai Sang Pengendali Sihir? Apakah ada kelanjutannya di keturunan berikutnya? Tugas selanjutnya begitu berat atau enteng?
Bab 1: Rahasia di Balik Seragam SMA

Matahari pagi baru saja muncul dengan malu-malu dari balik bangunan-bangunan tinggi di tengah kota, menerangi halaman luas Sekolah Menengah Atas Merah Putih dengan sinar keemasan yang hangat. Suara bel berdentum keras, mengganggu keramaian para siswa dan siswi yang sedang berjalan berkelompok menuju gerbang utama. Suara tawa yang riuh, pembicaraan mengenai pelajaran, ujian, atau sekadar pembicaraan santai mengisi suasana pagi itu. Di antara ribuan siswa yang memakai seragam yang sama, ada seorang pemuda yang berjalan dengan tenang. Langkahnya teratur, pandangannya terjaga tetapi terlihat biasa saja. Namaku Raka, dan hari ini hanya tersisa satu hari lagi yang harus kubuang dengan sangat berhati-hati.

Dari luar, aku terlihat persis seperti teman-teman yang lain. Siswa kelas 11 memiliki nilai rata-rata yang biasa saja, tidak begitu menonjol di pelajaran maupun olahraga, dan biasanya lebih suka diam saja. Terkadang aku dianggap sedikit aneh karena sering melihat ke langit dengan tatapan kosong atau berbicara dengan suara pelan pada diriku sendiri. Namun di balik penampilan yang sederhana itu, tersembunyi sebuah rahasia besar yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun, termasuk guru, teman, atau orang terdekat. Sejak berusia sepuluh tahun, aku memiliki kekuatan bernama Aliran Jiwa.Kekuatan itu memungkinkanku merasakan, membaca, dan mengendalikan energi sihir yang ada di dalam segala sesuatu di dunia ini. Aku adalah keturunan ke-17 dari Sang Pengendali Sihir, orang-orang yang bertugas menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia roh.

“Raka! Hei, tunggu dulu!”

Panggilan riang itu memecah lamunanku. Aku menoleh dan melihat Bima, temanku dari SMP, berlari kecil mendekat sambil mengatur rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. Bima adalah orang yang selalu ceria, santai, dan mampu membuat suasana jadi lebih hidup. Hanya kepadanya aku bisa merasa tenang, meski ada satu hal penting yang masih kusebutkan. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan bahwa tepat di atas bahu kanannya, ada makhluk kecil berwarna hijau muda yang sedang menghisap sisa energi lemak tubuhnya? Makhluk itu tidak berbahaya, hanya sedikit mengganggu, dan Bima tidak akan pernah bisa melihatnya meskipun aku menunjukkan secara langsung.

"Pagi, Bima," kataku sambil tersenyum lebar, lalu berjalan melangkah ke koridor kelas."

“Kenapa selalu saja melamun? Seolah ada dunia lain yang lebih menarik di matamu," kata Bima sambil memeluk bahuku dengan santai, mengatur langkahnya agar seirama denganku."Kau sudah dengar kabar terbaru? Hari ini ada siswa baru yang pindah ke sini. Katanya dari sekolah internasional, dan yang paling penting, semua orang bilang dia sangat cantik!"

Aku hanya mengangguk samar, tanpa rasa tertarik. Bagi saya, siswa baru atau murid lama itu sama saja. Hidup di sekolah adalah tempat di mana aku harus membungkam siapa diriku sebaik mungkin. Pesan kakek sebelum dia meninggal masih terdengar jelas di telingaku."Raka, kekuatan itu seperti pedang yang memiliki dua mata." "Gunakan untuk melindungi, tapi jangan sampai orang biasa tahu. Jadilah ada meski tidak terlihat, seperti air yang mengalir tanpa meninggalkan jejak. Jika siapa pun mengetahui siapa kamu sebenarnya, kamu tidak akan memiliki tempat lagi di dunia ini."

“Ah, kau memang begitu saja,” keluh Bima sambil tertawa.“Selalu dingin dan tidak peduli.” Padahal seluruh sekolah sedang membicarakannya. Namanya Dara. Anehnya, dia pindah tepat di tengah semester, dan tadi sore kepala sekolah sendiri yang antarkan. Ada yang menyebut keluarganya punya pengaruh besar di kota ini.

Kami masuk ke ruang kelas XI-2. Suasana di dalamnya sama seperti biasanya, penuh tertawa, pembicaraan, dan aroma khas dari kapur serta kertas tulis. Aku pergi ke bangku di baris keempat dekat jendela—itu tempat duduk yang selalu ku pilih sejak dulu. Dari situ, aku bisa melihat semua benda dalam ruangan dan merasakan aliran energi yang masuk dan keluar dari gedung sekolah ini. Saat aku meletakkan tas di atas meja, tangan aku secara tidak sengaja menyentuh sisi kiri permukaan kayu itu. Getaran lembut, dingin, dan tajam tiba-tiba menyebar sampai ke ujung jari-jari saya.

Aku menegang dan menatap lekat-lekat meja tersebut. Di balik lapisan cat yang sedikit memudar, masih terasa sisa energi yang tidak biasa. Bukan energi jahat, tapi energi yang berantakan dan tidak seimbang. Anehnya, meja ini sudah ada bertahun-tahun, tapi baru kali ini aku merasakan getaran seperti jejak itu baru saja tertanam tadi sore. Perlahan, aku mengaktifkan penglihatanku yang istimewa kemampuan untuk melihat benang-benang cahaya yang menghubungkan segala sesuatu. Seketika, pandanganku berubah mataku berkilau sedikit keemasan, dan ruangan yang biasanya terlihat biasa kini terlihat berbeda. Aku melihat benang-benang energi putih bersih yang berasal dari siswa yang memiliki hati tenang dan baik, benang merah terang yang muncul dari emosi kuat seperti semangat atau kemarahan, serta benang hitam tipis yang terlihat dari perasaan cemas atau kebohongan. Namun yang paling mencolok adalah aliran energi berwarna ungu gelap yang mengalir perlahan melalui dinding belakang kelas, naik ke langit-langit, lalu menghilang ke atas atap sekolah. Energi itu terasa sangat kuat, dan memiliki pola yang belum pernah aku jumpai sebelumnya.

Ada sesuatu yang berbeda di sini, pikirku sambil tetap waspada. Sesuatu yang sangat besar.

“Selamat pagi, anak-anak!”

Suara Bu Sari, guru kelas kami, terdengar dari depan pintu. Rasa tenang mengisi kelas dan semua siswa kembali duduk di bangku masing-masing dengan cepat. Di sampingnya berdiri seorang perempuan dengan seragam yang rapi, rambut hitam lurus yang panjang tergantung indah hingga bahu, serta sepasang mata yang tajam tetapi terasa lembut. Dari tubuh perempuan itu menyemburkan energi yang sangat kuat—terasa liar tetapi dibungkus dengan sangat rapi dan terkontrol, seperti gelombang panas yang menyebar perlahan. Warnanya perak campur emas, warna yang pernah kubaca dalam buku-buku tua yang ditinggalkan kakek.Warna itu menunjukkan kekuatan murni, bahkan mungkin lebih kuat dari kekuatanku sendiri.

“Perkenalkan, ini Dara. Mulai hari ini dia akan belajar di kelas kita. "Semoga kalian semua bisa berteman baik dengannya," ujar Bu Sari sambil tersenyum ramah."Dara, silakan sapa teman-temanmu."

“Namaku Dara. "Ia menyampaikan dengan suara lembut namun tegas, terdengar sangat tenang." Saat berbicara, matanya melihat ke seluruh ruangan, dan tepat saat menatap ke arahku, sudut bibirnya sedikit naik membentuk senyum kecil yang bermakna. Bukan sekedar salam biasa, tapi senyum yang kayaknya mengatakan, "Aku tahu kau ada di sini, dan aku tahu siapa kau itu."

Jantungku berdebar cepat—bukan karena suka atau tertarik, tapi karena perasaan waspada yang tiba-tiba sangat kuat. Selama bertahun-tahun, aku percaya bahwa diriku adalah satu-satunya Pengendali Sihir yang masih ada di kota ini, satu-satunya orang yang bertugas di garis depan. Kehadiran Dara mengubah segalanya. Dia berjalan lewat lorong bangku menuju kursi yang kosong tepat di depanku. Setiap langkahnya terasa seperti getaran lembut yang menyebar ke lantai, dan setiap kali dia bergerak, jejak energi ungu yang tadi aku lihat berkedip semakin terang. Saat dia duduk dan sedikit membalikkan kepalanya ke belakang, aku melihat tanda kecil berwarna emas di lehernya, tersembunyi di balik rambutnya yang panjang.Pagi itu berlangsung dengan pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia, tapi pikiranku tidak bisa fokus sama sekali. Kepala saya penuh dengan berbagai pertanyaan yang tidak memiliki jawaban: Siapa sebenarnya Dara? Mengapa dia muncul di sini? Apakah dia sekutu atau justru ancaman? Yang paling mengganggu adalah, sejak dia masuk ke ruangan ini, udara di sekitar sekolah terasa makin berat dan tebal, seolah-olah ada kekuatan besar yang bangun dari tidur panjangnya di bawah tanah sekolah ini.Bel istirahat berbunyi, membuat seluruh siswa bisa bergerak bebas. Bima langsung berpaling ke arahku dengan mata bersinar penuh semangat."Benar kan tebakanku?" Dia sangat cantik, dan lihatlah cara tatapannya tadi ke arahmu! "Seolah kalian sudah saling mengenal sejak dulu." Aku hanya tersenyum malu sambil menyusun buku pelajaran."Mungkin hanya perasaanmu saja, Bima."

Lanjut membaca
Lanjut membaca