

Dinginnya air pancuran di ujung desa malam itu tidak sebanding dengan rasa panas di pipi Jagat. Dadang-si anak kepala desa yang selalu memimpin perundungan itu sedang menginjak tengkuk Jagat.
Argh …!
Pemuda lima belas tahun yang biasa mengenakan kain lurik kumal dan sedikit kekecilan itu sedang meringis menahan nyeri, napasnya tersendat, menelan rasa asin darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya.
Dia hanya bisa pasrah, menahan napas agar lumpur hitam tidak masuk ke hidung dan mulutnya sementara dadanya sesak oleh luapan emosi tak tertahan.
Dadang semakin kuat menginjak tengkuknya hingga memaksa wajah peuda itu makin terbenam ke dalam tanah becek dan berlumpur. Suara erangan Jagat membuat ketiga pemuda desa di hadapannya tertawa bersahutan memecah heningnya malam.
“Katanya cucu Ki Sapto sang dukun suwuk, tapi … jangankan menangkis pukulan, berdiri tegak saja gemetas seperti tikus kecebur got,” cemooh Dadang dengan menarik ke atas ujung bibirnya sebelah kiri.
“Ayo, tunjukkan mana kemampuanmu, Bocah! Atau memang hanya segitu kemampuanmu, hah?!”
Jagat bangkit dengan sisa tenaga setelah Dadang melonggarkan injakan pada tengkuknya. Dia enggan membalas tatapan remeh mereka. Di tanah Dwipantara seperti lereng Merapi, di mana bela diri seolah menjadi napas kehidupan dan harga diri, Jagat adalah anomali.
Dia sama sekali tidak paham bagaimana cara mengalirkan tenaga dalam, tidak tahu jurus pencak, dan fisiknya terlampau semenjana untuk ukuran remaja pegunungan yang terbiasa membelah kayu bakar.
Itulah penyebab mengapa Jagat kerap mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dan dianggap aneh dari warga sekitar.
"Sudahlah, Dadang," timpal pemuda satunya, jangkung kurus bernama Kutil. "Buat apa menghajar anak pungut ga jelas ini? Kulitnya saja tebal karena sering dihajar, tapi otaknya kosong.”
“Justru itu, aku ingin bermain-main dengan bocah tengik ini. Apa kalian tidak penasara¬¬¬¬n siapa orangtuanya? Tiba-tiba saja Ki Sapto membawanya dari dalam hutan belantara saat Merapi meletus lima belas tahun lalu. Jangan-jangan, dia ini anak genderewo!"
Gelak tawa kembali pecah. Kalimat "anak pungut ga jelas" itu menghantam dada Jagat lebih keras daripada pukulan mentah Dadang di rahangnya tadi. Ada gemuruh yang tiba-tiba bergejolak di dalam dadanya, sesuatu yang panas, berebut ingin keluar.
Jari-jari tangan Jagat mengepal erat hingga memutih. Namun, sebelum amarahnya menguasai akal sehat, bayangan wajah teduh sang kakek melintas di benaknya.
Sabar, Le. Amarah iku geni, yen kok pakani bakal nguntal awakmu dewe. Sabar, Nak. Amarah itu api, jika kamu beri makan, dia akan melahap dirimu sendiri.
Jagat mengedurkan kepalan tangannya sesaat setelah mengebuskan napas dengan kasar. Ia berusaha mengendalikan gemuruh di dadanya, memilih berbalik dan memungut keranjang bambu berisi rumput gajah yang tadinya sempat terguling karena ulah Dadang.
Woy, mau kemana?! Lari mengadu ke kakek dukunmu itu? Dasar pengecut, ga berani menghadapi kami sendirian.” Kalimat ejekan yang masih terdengar di telinga Jagat setelah memilih meninggalkan ketiga pemuda itu dengan langkah terpincang-pincang.
Dia pulang dengan baju robek, tubuh lebam, dan perasaan malu yang mendalam. Bagaimana kalau Ki Sapto kecewa? Bagaimana kalau tetangga melihatnya sekuyu ini? Jagat mengutuk tubuhnya sendiri yang terlalu lemah untuk melawan.
Rumah Ki Sapto sangat sederhana, terletak agak terpencil dari gugusan rumah warga desa lainnya. Rumah berdinding anyaman bambu yang sudah menghitam oleh jelaga dan usia, dengan atap rumbia yang berselimut lumut.
Namun, karena berdiri di batas vegetasi yang lebih dekat ke arah puncak, justru membuatnya lebih nyaman dan tenang.
Di teras rumah panggung mereka, Ki Sapto sedang duduk selonjoran sambil menumbuk ramuan obat herbal di lumpang batu. Ki Sapto terkejut dan sedih melihat kondisi cucunya.
Matanya yang mulai rabun menyipit, menatap nanar baju robek Jagat. "Ulah mereka lagi?" tanya Ki Sapto, suaranya berat, sarat akan kelelahan yang sama.
Tanpa berpikir lama, Jagat mendekat dengan kepala tertunduk. lalu duduk bersila di hadapan kakek angkatnya. Ki Sapto mengulurkan tangan yang keriput dengan kehangatan.
Senyum tipis menghiasi bibirnya sembari mengusap dagu Jagat yang membiru. Dengan cekatan menempelkan sejumput dedaunan hijau yang sudah dilumatkan ke luka di bibir remaja itu. Jagat meringis sedikit, merasakan sensasi dingin yang langsung meredakan rasa perihnya.
"Kek ... sampai kapan aku harus begini?" suara Jagat bergetar, menahan rasa sesak yang sudah mengumpul di tenggorokan sejak tadi.
“Kenapa aku diperlakukan berbeda, dijadikan keset tak berguna? Bukankah aku normal sama dengan anak-anak yang lainnya? Hanya karena aku tidak punya orangtua dan tidak memiliki kekuatan, apa mereka pantas melakukan ini? Kapan Kakek akan mengajariku cara membela diri?”
Ki Sapto menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar berat seolah memikul beban berabad-abad. Ia menepuk-nepuk pundak kurus Jagat dengan penuh kasih sayang.
"Jagat, dengarkan Kakek," ucap Ki Sapto dengan nada suara yang berat tapi menenangkan. “Satu pukulan tidak akan menyelesaikan lingkaran setan, dia akan terus berputar dan menimbulkan masalah lainnya. Menjadi sabar bukan berarti kamu lemah.”
“Apa maksud Kakek, dengan terus mengalah dikatai anak ga jelas, anak pungut, anak haram dari hutan aku harus tetap diam?” Dengan darah mudanya, Jagat meminta penjelasan.
“Dunia ini luas, dan apa yang kau lihat di desa ini hanyalah sebutir pasir di padang gurun. Sabar adalah wadah yang besar. Hanya wadah yang besar yang mampu menampung samudra ilmu dan takdir yang agung."
"Tapi aku ingin kuat, Kek! Aku ingin mereka berhenti menggangguku!" sanggah Jagat, setitik air mata akhirnya lolos dari pelupuk matanya.
"Sabar, Jagat. Logam yang paling keras sekalipun harus ditempa dalam dingin dan panas yang ekstrem sebelum menjadi pedang pusaka. Waktumu belum tiba, Ngger."
Ki Sapto tersenyum misterius, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Jagat, seolah melihat sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam jiwa remaja itu. "Sekarang, bersabarlah. Gusti Allah mboten sare. Bersihkan dirimu, lalu kita makan malam."
Jagat diam, tidak membantah lagi. Ia sangat menghormati Ki Sapto yang sudah membesarkannya. Satunya-satunya orang di desa itu yag memperlakukannya seperti manusia. Meskipun ia sangat ingin tahu kebenaran tetang asal-usulnya yang disimpan rapat di belakangnya.
Jagat yakin, kakeknya pasti memiliki alasan sendiri untuk tidak mengungkapnya sekarang. “Mungkin belum waktunya aku tahu.”
***
Jagat terbangun saat hawa lereng Merapi mendadak sekarat. Sungsang, bising jangkrik dan kodok yang biasanya menandakan lewat tengah malam lenyap total. Kulitnya perih kedinginan. Begitu mencoba duduk, ia meringis lebar, sisa hantaman Dadang sore tadi mendadak linu luar biasa.
Gemetar, Jagat menyeret langkah di atas lantai tanah, memaksa selot jendela kayu yang seret sampai berbunyi klek kasar.
Saat daun jendela terbuka, Jagat refleks tersedak dan membekap mulut. Matanya berair. Bau besi berkarat yang basah—anyir darah—pekat menyengat hulu hati, terbawa kabut tebal yang bergulung di pekarangan. Dunia di luar seolah mendadak tuli.
"Jangan di jendela, Le."
Jagat terlonjak, punggungnya menghantam sudut bale-bale sampai ia mengaduh pelan. Ki Sapto sudah berdiri di ambang pintu dengan sarung diselempangkan asal. Wajahnya layu, tapi matanya melotot awas.
"Kek, bau darah ... di luar juga terasa aneh," bisik Jagat parau.
Ki Sapto melangkah cepat, membanting jendela hingga tertutup, lalu mengunci mati selotnya. "Malam ini, jangan keluar sampai matahari kelihatan."
"Tapi Dadang dan yang lain di bawah kalau ...." Dendam sore tadi luruh, ciut oleh rasa ngeri.
Ki Sapto meremas pundaknya keras. "Tugasmu malam ini cuma tidur, dan pastikan besok pagi kamu masih bernapas."