

"Bawakan aku Teratai Darah Dewa, Arya. Malam itu juga, aku bersumpah akan menjadi milikmu seutuhnya."
Kalimat itu terus terngiang di telinga Arya Senopati. Napas pemuda itu menderu kasar memecah kesunyian malam. Dia menyeret kaki kirinya yang mati rasa. Darah merembes deras dari luka robek di dadanya, sisa tebasan cakar siluman beruang di Hutan Kematian. Jubah abu-abu khas murid luar Sekte Astrakara yang dia kenakan telah koyak tidak berbentuk.
Namun, Arya tersenyum. Tangannya yang gemetar menggenggam erat sebuah kelopak bunga merah seukuran kepalan tangan. Teratai Darah Dewa. Pusaka langka berharga puluhan ribu koin emas. Besok, dia akan menyerahkan bunga ini. Dia akan menjadi murid inti, dan yang paling penting, dia bisa melamar Purnama Sari secara resmi.
Langkahnya tertatih memasuki lorong asrama murid luar. Dia membuka pintu kamarnya.
"Sari, aku berhasil," ucap Arya parau.
Kosong.
Senyum di wajah Arya memudar. Kamarnya berantakan. Lemari kayunya terbuka lebar. Baju-bajunya berserakan di lantai. Kantong koin tabungannya hilang. Bahkan kotak kayu di bawah tempat tidur tempat dia menyimpan barang berharganya lenyap.
"Arya." Suara terdengar dari ambang pintu.
Arya menoleh. Bisma berdiri di sana dengan wajah sepucat mayat. Tangannya yang memegang panci bergetar hebat.
"Bisma. Di mana Sari? Kenapa kamarku dibongkar?" tanya Arya cepat.
Bisma menelan ludah dengan susah payah. Matanya membelalak melihat luka di dada Arya. "Astaga naga. Kau terluka parah. Darahmu mengalir terus. Kau benar-benar nekat masuk ke Hutan Kematian."
"Jawab pertanyaanku, Bisma. Di mana Sari?"
"Kau harus pergi dari sini, Arya. Obati lukamu dan pergi yang jauh."
Arya mencengkeram kerah baju Bisma dengan tangan kirinya. "Aku tanya, di mana Sari."
"Sari membawa semuanya," bisik Bisma ketakutan. "Dia mengambil sisa tabunganmu. Dia juga mengambil ekstrak Teratai Darah yang kau kumpulkan setengah mati bulan lalu."
"Ke mana dia membawanya?"
Bisma menundukkan kepala. Dia tidak sanggup menatap mata Arya. "Ke paviliun utama Puncak Astrakara. Ke kamar Tuan Muda Jaya Perkasa."
Jantung Arya seakan berhenti berdetak. "Jangan bicara omong kosong. Untuk apa dia ke sana? Kami akan mendaftar ke aula inti besok."
"Buka matamu, Arya," balas Bisma dengan nada sedih. "Tuan Muda Jaya menjanjikan posisi istri kedua untuknya awal bulan ini. Sari tahu kau menyembunyikan ekstrak Teratai Darah di kamarmu. Dia sengaja merayumu, menyuruhmu pergi ke hutan untuk mencari kelopak yang utuh agar kau mati dimakan siluman di sana."
"Kau bohong."
"Aku mendengar semuanya saat mengantar anggur ke paviliun tadi sore. Sari sedang bersamanya. Mereka meminum ekstrak terataimu. Mereka ada di sana sekarang."
Arya melepaskan kerah Bisma. Pandangannya kosong selama beberapa detik, sebelum rahangnya mengeras tajam. Dia tidak mempedulikan teriakan Bisma. Pemuda itu berlari keluar asrama. Dia menembus pelataran gelap gulita menuju area Puncak Astrakara. Wilayah elit yang terlarang bagi murid luar.
Dada Arya terasa panas terbakar, tapi tidak sepanas hatinya. Dia menolak percaya. Sari adalah wanita yang menemaninya selama tiga tahun terakhir. Wanita yang selalu mengusap keringatnya setelah berlatih pedang.
Langkahnya berhenti di depan paviliun mewah berukir naga emas. Pintu kayu itu terbuka sedikit. Celah cahaya kuning redup terpancar dari dalam.
Arya melangkah mendekat. Terdengar suara decakan kulit yang beradu dari dalam ruangan. Disusul desahan panjang seorang wanita.
"Tuan Muda Jaya, kau terlalu kasar. Pelan sedikit." Suara manja itu menghentikan aliran darah Arya. Itu suara Sari.
"Kau sangat menyukainya, bukan? Tubuhmu merespon jauh lebih jujur daripada mulutmu." Suara Jaya membalas diselingi tawa.
"Ini jauh lebih baik daripada disentuh oleh anjing kampung yang mati di hutan itu. Ah. Tenagamu luar biasa setelah meminum ekstrak teratai rendahan itu."
"Anjing itu berguna juga pada akhirnya. Setidaknya dia membawakan hadiah pertunangan yang manis untukku. Yaitu kau."
Dada Arya serasa dihancurkan dari dalam. Sisa-sisa kenaifannya menguap tak bersisa. Dia menendang pintu paviliun itu sekuat tenaga hingga engsel kayunya hancur.
Prang.
Pemandangan di dalam ruangan itu mengoyak seluruh akal sehat Arya.
Di atas ranjang berselimut kain sutra merah, Purnama Sari berbaring tanpa sehelai pakaian pun. Kulit putihnya memerah berpeluh keringat. Matanya sayu dengan bibir terbuka. Di atasnya, Jaya Perkasa menghentikan pinggulnya. Bangsawan pewaris sekte itu menoleh ke arah pintu. Sama sekali tidak ada raut kepanikan di wajah tampannya. Senyum meremehkan justru terlukis jelas.
"Oh. Rupanya anjing peliharaanmu masih hidup, Sari," ucap Jaya santai. Dia tidak turun dari ranjang. Tangannya dengan sengaja mengusap leher jenjang Sari di depan mata Arya.
Tangan Arya bergetar hebat. Matanya memerah menahan amarah yang hampir meledak. "Sari. Apa artinya semua ini."
Sari menoleh. Sisa gairah di wajahnya menghilang, berganti dengan tatapan sedingin es. "Kau sungguh mengganggu, Arya. Kenapa kau belum mati di hutan?"
"Aku bertarung mempertaruhkan nyawa." Arya mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah, memperlihatkan Teratai Darah Dewa. "Hanya untuk memenuhi permintaanmu. Kau berjanji akan menjadi milikku malam ini."
Sari tertawa sumbang. Tawa yang belum pernah Arya dengar sebelumnya. "Kau benar-benar bodoh. Aku membutuhkan ekstrak Teratai Darah agar Tuan Muda Jaya melirikku dan mengangkatku dari lumpur kemiskinan sekte luar. Kau pikir aku sudi hidup menderita bersamamu selamanya?"
"Kau menjadikanku tumbal."
"Tentu saja." Jaya menyela pembicaraan. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, menatap Arya layaknya melihat serangga. "Pria yatim piatu sepertimu bermimpi memeluk angsa putih? Sari tahu persis masa depan siapa yang paling cerah di Sekte Astrakara. Lihat dia, Arya. Dia merintih memohon padaku sejak dua jam yang lalu. Kekuatanku di atas ranjang membuat dia melupakan namamu."
Sari tersipu mendengarnya. Wanita itu melingkarkan lengannya ke leher Jaya tanpa rasa malu. "Tuan Muda Jaya seratus kali lipat lebih berkuasa darimu, Arya. Kekuatan energinya nyaris menembus tahap master. Kau tidak sebanding dengan ujung kuku miliknya."
Rasa mual menyerang perut Arya. Rasa cinta dan percayanya berbalik menjadi rasa jijik yang membuat empedunya terasa pahit. Cinta itu kini menjadi racun.
"Aku akan membunuh kalian berdua." Arya melempar Teratai Darah ke lantai. Dia mencabut pedang besi di pinggangnya.
"Bagus. Majulah, murid rendahan. Aku ingin melihat taringmu." Jaya menyeringai lebar. Dia menyambar jubah mandinya dan melangkah turun dari ranjang dengan langkah ringan.
Arya menerjang maju. Amarah membutakan matanya. Dia memusatkan seluruh sisa energinya ke ujung pedang. Menyerang pewaris sekte di wilayah utama adalah hukuman mati. Tapi logika Arya sudah hancur lebur.
Jaya berdiri tegak tanpa memasang kuda-kuda. Saat pedang Arya nyaris menebas lehernya, Jaya hanya memiringkan kepala dua inci. Tangan kiri Jaya melesat secepat kilat membelah udara.
Kraaaak.
"Argh." Arya berteriak saat tangan Jaya mencengkeram pergelangan tangan kanannya. Jaya memelintir lengan Arya hingga tulang sikunya mencuat keluar merobek kulit. Darah menyemprot ke lantai kayu. Pedang karatan itu jatuh berdenting.
Belum sempat Arya menarik kakinya, lutut Jaya menghantam telak ulu hatinya.
Tubuh Arya terlempar ke belakang, menabrak pilar kayu dengan bunyi debum keras. Dia jatuh tengkurap, memuntahkan darah dari mulutnya. Kekuatan Jaya bukan hanya tahap murid, itu sudah menembus tahap master. Ekstrak Teratai Darah benar-benar menyempurnakan kekuatan pria itu.
Jaya berjalan pelan mendekati Arya. Pria itu berjongkok, merapikan jubahnya yang sedikit tersingkap.
"Kau benar-benar mudah ditebak, Arya." Jaya berbisik tepat di depan wajah Arya. "Kau pikir pintuku kebetulan terbuka dan tidak ada penjaga di luar? Aku sengaja membiarkanmu masuk. Aku sengaja membiarkanmu melihat jalangmu ini mendesah di bawahku."
Mata Arya terbelalak.
"Jika aku membunuhmu tanpa alasan, ayahku akan marah," lanjut Jaya dengan senyum iblis. "Tapi sekarang, kau menerobos paviliun. Kau menyerangku lebih dulu dengan senjata tajam. Secara hukum Sekte Astrakara, aku memiliki hak untuk mencacatkanmu sebagai bentuk pembelaan diri. Kau masuk ke dalam perangkapku seperti babi buta."
Jaya menarik lengan kiri Arya yang masih utuh.
"Lepaskan aku, keparat." Arya mengertakkan giginya menahan rasa sakit.
"Tidur yang nyenyak, sampah."
Kraaaak.
Jeritan Arya menggema di langit malam. Lengan kirinya dipatahkan dengan paksa ke arah berlawanan. Kedua tangannya kini hancur lebur, lumpuh total.
Jaya berdiri tegak. Dia mengangkat kaki kanannya dan menginjak kepala Arya ke lantai dengan kejam. Sepatu bot berlapis besi itu menekan pipi Arya hingga kulitnya tergesek serpihan kayu.
Purnama Sari melangkah mendekat. Dia membungkus tubuh polosnya dengan kain tipis. Wanita itu berjongkok tepat di depan wajah Arya. Bau wangi tubuhnya yang berbaur dengan peluh sisa percintaan menyeruak masuk ke hidung Arya, memicu rasa mual yang luar biasa.
Sari menundukkan wajahnya ke telinga Arya. Senyum manis nan mematikan terukir di bibirnya.
"Terima kasih sudah membawakan maharku untuk Tuan Muda Jaya, anjing liar."
Arya memaksakan matanya tetap terbuka. Dia meludahkan darah dari mulutnya, mengenai ujung kaki Sari. Cengkeraman sepatu Jaya di kepalanya semakin berat, seakan ingin meremukkan tengkoraknya saat itu juga. Dunia di sekeliling Arya perlahan memudar. Suara tawa puas Jaya dan dengusan sinis Sari mengiringi pandangannya yang berubah menjadi gelap gulita.