

"Cepat menjauh sana! Kamu bau sekali!"
"Kamu sangat menjijikkan! Jangan mendekat!"
Terdengar suara teriakan dari para penumpang bus kepada seorang pengemis tua yang mengenakan jubah berwarna hitam.
Bahkan, ada yang bertindak kasar. Seorang penumpang pria sengaja mendorong bahu pengemis tua itu hingga hampir terjatuh. "Cepat keluar dari bus ini!"
Melihat kejadian itu, hati seorang pemuda bernama Julian terasa sesak. Dia segera melangkah menerobos kerumunan, menahan tubuh lelaki tua itu agar tidak jatuh.
"Kakek tidak apa-apa, kan?" tanya Julian sambil memegangi bahu lelaki itu.
Pengemis tua itu menoleh, menatap Julian dengan sepasang mata yang tampak dalam. "Aku tidak apa-apa, Nak. Terimakasih."
Pemuda berusia 20 tahun itu bekerja sebagai OB di sebuah perusahaan besar di Kota Nusa. Padahal, dulunya dia pernah duduk di bangku kuliah, namun keadaan memaksanya berhenti di tengah jalan karena tidak sanggup menanggung biaya pendidikan.
Dia adalah anak panti asuhan, tumbuh besar tanpa kasih sayang orang tua. Hingga kini, dia sama sekali tidak tahu siapa ayah dan ibunya, serta alasan mengapa dia dibuang begitu saja saat masih bayi. Pertanyaan itu sering menghantuinya, namun dia berusaha tegar.
Karena itu, dia sangat merasa beruntung memiliki kekasih seperti Tias. Hanya Tias satu-satunya orang yang yang dia miliki di dunia ini.
Julian sangat mencintai wanita itu. Mereka berpacaran disaat mereka sama-sama di bangku SMA.
Belum sempat Julian berbicara lebih lanjut, supir bus tiba-tiba menghentikan kendaraannya secara tiba-tiba. Sang kondektur bergegas mendekat, lalu dengan kasar mendorong pengemis tua itu.
"Cepat keluar dari sini!" bentak si kondektur, tanpa belas kasihan.
Julian tidak tega melihatnya. Dia pun memutuskan untuk ikut turun bersamanya, memapah tubuh lelaki tua itu hingga sampai ke bangku panjang di halte bus.
"Duduk dulu di sini, Kek," ucap Julian dengan lembut.
Dia lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet. Dia menghela nafas, ternyata hanya terdapat dua puluh ribu.
Namun, tanpa ragu Julian tersenyum dalam hati. 'Lebih baik aku berikan ini padanya. Lagipula nanti sore aku gajian.'
Dia pun menyodorkan uang itu ke telapak tangan sang pengemis. "Ini uang buat Kakek. Tapi Maaf, jumlahnya tidak seberapa."
Mata lelaki tua itu seketika berkaca-kaca. "Terima kasih, anak muda. Kebaikanmu ini tidak akan aku lupakan."
"Sama-sama, Kakek. Anggap saja sebagai sedekahku pagi ini," jawab Julian sambil tersenyum tulus.
Pengemis tua itu lalu merogoh saku dalam jubahnya yang kotor, dan mengeluarkan sebuah benda yang membuat mata Julian terbelalak. Itu adalah sebuah giok berbentuk persegi delapan, berwarna hijau pekat yang indah, memancarkan kilau halus seolah berisi cahaya di dalamnya. Benda itu terlihat sangat mahal.
"Ini untukmu," kata kakek itu sambil menyodorkan giok tersebut. "Suatu saat nanti, kamu akan sangat membutuhkannya. Namanya Giok Jiwa."
Julian menggeleng cepat, menolak. "Tidak perlu, Kakek. Simpan saja buat Kakek. Benda ini pasti harganya sangat mahal, Kakek pasti lebih membutuhkannya daripada aku."
"Terimalah sebagai tanda terimakasihku," nada suara lelaki tua itu berubah menjadi tegas.
Karena tidak enak hati, akhirnya Julian menerimanya dengan sungkan. "Baiklah... terima kasih, Kakek."
"Iya, sama-sama, anak muda."
Julian melihat jam tangannya, dia terkejut. Dia hampir terlambat bekerja. Dia segera memasukkan giok itu ke saku celananya dengan hati-hati. "Maaf, aku gak bisa lama-lama. Aku harus segera pergi bekerja."
"Pergilah. Hati-hati di jalan, anak muda," jawab sang kakek sambil mengangguk pelan.
Julian pun bergegas pergi meninggalkan halte itu. Dia tidak melihat bahwa di belakang punggungnya, pengemis tua itu masih berdiri diam menatap kepergiannya. Di bawah penampilan lusuh itu, tersungging senyuman haru.
"Ternyata kamu sudah tumbuh sebesar ini, Julian," gumamnya pelan.
_
Tak lama kemudian, Julian telah sampai di tempat kerjanya, Perusahaan Montana. Gedung pencakar langit itu menjulang tinggi.
Julian baru saja melangkah masuk ke lobi, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Hei, Julian!"
Dia adalah Fero, ketua regu petugas kebersihan. Pria itu langsung menghampiri dengan sikapnya yang angkuh.
Selama ini, Fero memang dikenal selalu berbuat semena-mena terhadap bawahannya.
"Kamu ini niat kerja gak sih? Kenapa baru sampai sekarang?" bentak Fero dengan nada tinggi.
Julian mengerutkan kening, sedikit bingung. "Bukannya aku datang tepat waktu?"
"Tepat waktu katamu?" Fero mendengus sinis. "Seharusnya kamu datang sepuluh menit lebih awal untuk persiapan! Kamu harus ingat, kalau kamu datang terlambat lagi, jangan salahkan kalau aku melaporkanmu ke atasan supaya kamu dipecat!"
Julian hanya diam, menahan rasa kesal. Dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.
Pembicaraan mereka terhenti saat suasana di lobi mendadak menjadi hening. Mata Fero dan semua karyawan yang ada di sana tertuju pada satu titik di depan pintu masuk utama.
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti, lalu seorang wanita cantik melangkah keluar dengan anggun.
"Direktur telah datang!" bisik seseorang dengan napas tertahan.
Montana Group saat ini dipimpin oleh seorang CEO muda bernama Dona Montana. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu memiliki segala hal yang diimpikan wanita lain. Wajahnya sangat cantik, kulitnya putih, tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk tubuh yang sangat ideal. Penampilannya sangat sempurna dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Namun, kecantikannya itu seolah tertutup lapisan es. Dona dikenal sangat dingin, angkuh, dan tegas. Banyak karyawan pria yang diam-diam mengaguminya, bahkan berkhayal bisa memiliki wanita itu. Namun, mereka semua sadar diri. Dona Montana terlalu tinggi untuk dijangkau. Ditambah lagi, sifatnya yang sulit ditaklukkan.
Semua orang segera berbaris rapi di kedua sisi lorong, menyambut kedatangan sang pemimpin.
"Selamat pagi, Direktur!" seru mereka dengan serentak.
Dona sama sekali tidak membalas sapaan itu. Dia berjalan santai menuju pintu lift khusus eksekutif, diikuti dari belakang oleh Hilda, asisten pribadinya.
Tatapan Dona lurus ke depan, tanpa melirik kiri atau kanan. Aura dinginnya begitu kuat hingga membuat siapa pun yang berpapasan merasa seolah sedang mengikuti uji nyali.
Barulah setelah pintu lift itu tertutup rapat dan naik ke atas, semua karyawan menghembuskan napas lega. Berhadapan dengan Dona memang selalu menegangkan.
Julian pun kembali berniat melanjutkan pekerjaannya, namun pandangannya tertuju pada layar televisi besar yang tergantung di sudut ruangan. Sebuah acara berita sedang ditayangkan di sana.
"Pemirsa, pagi ini telah terjadi kecelakaan tunggal di Jalan Utama Kota Nusa. Diduga karena mengantuk, seorang supir bus kehilangan kendali, hingga kendaraan tersebut oleng dan menabrak trotoar."
Jantung Julian seakan berhenti berdetak. Dia mendekat, menatap layar itu dengan lekat. Di sana terlihat potret bus yang ringsek dan berasap.
'Itu adalah bus yang baru saja aku tumpangi tadi!' batinnya.
Julian sangat bernafas lega. "Aku sangat beruntung turun bersama kakek itu."
Namun, rasa syukur itu perlahan berubah menjadi rasa heran yang mendalam.
Kamera televisi memperlihatkan kerumunan orang yang mulai berkumpul di lokasi kejadian. Di antara banyaknya orang itu, sekilas Julian melihat sosok pengemis tua yang tadi memberikan giok padanya, dia berdiri dengan tenang menonton kejadian itu dari pinggir jalan.
"Rasanya sangat aneh," gumam Julian sambil mengerutkan kening. "Mengapa kakek itu bisa secepat itu sampai ke lokasi kejadian? Bukannya tadi dia masih berada di halte bus bersamaku? Jaraknya lumayan jauh, tidak mungkin dia bisa lari secepat itu."
Pikiran Julian mulai berkecamuk. Apakah mungkin pengemis tua itu bukan manusia biasa?