

Hujan turun deras malam itu.
Air kotor mengalir di gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah reyot.
Kilat sesekali menyambar langit, memperlihatkan sosok seorang pria paruh baya yang tersungkur di depan rumahnya sendiri.
Buk!
Sebuah tendangan menghantam perut Arga Pratama hingga tubuhnya terguling ke genangan air.
"Mana uang kami, bangsat?!"
Arga Pratama memuntahkan darah. Napasnya memburu. Wajahnya penuh lebam.
Dua pria bertubuh besar berdiri di depannya sambil membawa balok kayu. Tatapan mereka dipenuhi amarah.
"Kau pikir hutang judi bisa hilang begitu saja?! 5 juta! Apa kau pikir uang sebesar itu bisa turun dari langit?!"
"5 juta? Tidak mungkin! Hutangku tidak sampai sejuta!!"
Arga Pratama mencoba bangkit, namun sebuah pukulan kembali menghantam pelipisnya hingga pandangannya berkunang-kunang.
Di usia hampir lima puluh tahun, hidupnya benar-benar hancur.
Tidak punya uang.
Tidak punya harga diri.
Dan yang paling menyedihkan... dia menghancurkan keluarganya sendiri.
"Ja... jangan pukul Ayah..."
Suara itu membuat tubuh Arga Pratama membeku.
Seseorang tiba-tiba memeluk kaki salah satu penagih hutang. Seorang pria muda bertubuh besar.
Bahunya lebar. Lengannya kekar karena terbiasa bekerja kasar. Tingginya hampir menyamai para preman itu.
Namun tatapannya kosong seperti anak kecil.
Air liur menetes sedikit dari sudut bibirnya.
"Ja... jangan pukul Ayah..." ulangnya dengan suara polos.
Mata Arga Pratama langsung memerah.
Adi, anaknya.
Anak laki-lakinya yang kini sudah berusia dua puluh tahun... namun kecerdasannya berhenti berkembang sejak kecil karena demam tinggi. Karena uang pengobatannya dipakai Arga Pratama untuk berjudi.
"Lepas, bodoh!"
Brak!
Pria penagih hutang itu menendang tubuh Adi tanpa ampun.
Tubuh besar Adi jatuh ke tanah basah.
"Adi!"
Seorang wanita paruh baya langsung merangkak menghampiri Adi sambil menangis panik.
Maya. Istri Arga.
Rambut wanita itu sudah dipenuhi uban tipis.
Tubuhnya kurus dan lemah akibat bertahun-tahun hidup sengsara.
Namun, bahkan dalam keadaan seperti itu, dia masih berusaha melindungi Arga Pratama.
Melindungi suami yang menghancurkan hidup mereka.
Dada Arga Pratama terasa seperti diremas.
Bayangan demi bayangan memenuhi kepalanya.
Dirinya yang berjudi semalaman.
Dirinya yang mabuk.
Dirinya yang menjual tanah keluarga.
Dirinya yang mengambil uang obat Adi.
Dirinya yang menampar Maya saat wanita itu menangis memohon.
Dan sekarang... keluarganya hancur karena dirinya.
"Dasar keluarga sampah!"
Salah satu penagih hutang meludah ke tanah.
"Kalian semua lebih baik mati saja."
Pria itu mengangkat balok kayu lalu menghantamkannya ke arah Adi.
"JANGAN!"
Maya langsung memeluk tubuh Adi.
Buk!
Pukulan itu menghantam punggung Maya hingga wanita itu menjerit kesakitan.
Mata Arga Pratama membelalak.
Sesuatu di dalam dirinya akhirnya meledak.
"BAJINGAN!"
Dengan sisa tenaga yang ada, Arga Pratama menerjang salah satu pria di depannya hingga mereka jatuh berguling ke tanah.
Namun tubuh tua dan lemahnya tidak mampu melawan.
Bukkk!
Sebuah tendangan keras menghantam dada Arga Pratama.
Tubuhnya terlempar ke belakang lalu menghantam tembok rumah.
Retakan kecil muncul di semen kusam itu.
"Ukhh...!"
Arga Pratama memuntahkan darah segar.
Pandangan matanya mulai kabur.
Di tengah hujan dan rasa sakit itu... ia melihat Adi kembali merangkak menghampirinya.
Padahal tubuh besarnya penuh lumpur dan kesakitan.
Namun pemuda itu tetap menangis sambil mencoba melindungi ayahnya.
"Jangan pukul Ayah..."
Suara polos itu menghancurkan hati Arga Pratama sepenuhnya.
Anaknya...
Anak yang hidupnya dirusak olehnya... masih berusaha melindunginya sampai detik terakhir.
Air mata bercampur darah mengalir di wajah Arga Pratama.
Selama hidupnya... kenapa ia baru sadar sekarang?
Kenapa ia baru menyesal setelah semuanya terlambat?
"Maya... Adi..."
Suara Arga Pratama serak dan gemetar.
Maya langsung memandangnya sambil menangis.
"Arga..."
Arga Pratama tersenyum pahit.
"Di kehidupan mendatang... temuilah keluarga yang lebih baik... yang menyayangi kalian..."
Tubuh Arga Pratama perlahan melemas.
Suara tangisan Maya terdengar semakin jauh.
Gelap.
Semuanya gelap.
---------------
"Hiks... jangan ambil uangnya..."
Suara tangisan pelan membuat Arga Pratama mengernyit.
Dadanya tidak lagi terasa sakit. Tubuhnya pun terasa ringan.
Perlahan ia membuka mata.
Langit-langit kusam yang familier menyambut pandangannya.
Kipas angin tua berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi berdecit.
Arga Pratama membeku.
Ruangan ini...
Tangannya mulai gemetar.
Ia buru-buru bangkit lalu melihat sekeliling.
Rumah kecil itu.
Lemari tua itu.
Meja kayu reyot itu.
Semua terlalu familier.
"Tidak mungkin..."
Arga Pratama berjalan sempoyongan menuju cermin kecil di dinding dan saat melihat pantulannya... napasnya berhenti.
Wajah muda.
Tubuh muda.
Belum dipenuhi kerutan dan luka kehidupan.
Arga Pratama mundur beberapa langkah dengan jantung berdegup liar.
"Aku... kembali?"
Dua puluh tahun lalu.
Ini rumah mereka dua puluh tahun lalu.
Tepat sebelum semuanya hancur.
Bruk!
Seseorang tiba-tiba berlutut di depan kakinya.
Arga Pratama menunduk.
Tubuhnya langsung membeku.
Maya yang masih muda, masih sehat, belum dipenuhi uban dan luka kehidupan.
Namun wajah wanita itu penuh ketakutan.
Di tangannya ada beberapa lembar uang lusuh.
"Arga..." Suara Maya bergetar. "Tolong... jangan ambil uang ini..."
Arga Pratama membeku.
Ingatan lama langsung menghantam kepalanya.
Hari ini, hari ketika dirinya mengambil uang pengobatan Adi demi berjudi.
Hari yang mengubah masa depan anaknya selamanya.
"Tolong..." Maya menangis sambil memeluk uang itu erat. "Adi panas sekali... kalau tidak dibawa ke dokter—"
Arga Pratama menoleh cepat ke arah ranjang kecil di sudut ruangan.
Seorang bocah kecil tertidur di sana dengan wajah merah karena demam tinggi.
Adi.
Dia masih kecil, juga masih bisa diselamatkan.
Tubuh Arga Pratama mulai gemetar hebat. Masih ada kesempatan.
Kali ini... semuanya belum terlambat.
Arga Pratama perlahan jongkok di depan Maya.
"Maya..."
Ia mencoba membantu istrinya berdiri.
Namun begitu tangannya bergerak, Maya langsung mundur ketakutan.
Tubuh wanita itu gemetar hebat.
Tatapannya penuh ketakutan seolah Arga Pratama adalah monster.
Dan memang benar.
Selama ini dirinya memang monster bagi keluarga ini.
Dada Arga Pratama terasa sesak.
Berapa banyak luka yang sudah ia berikan pada Maya sampai wanita itu takut disentuh olehnya?
Arga Pratama menunduk pelan.
Air matanya jatuh tanpa suara.
"Aku... maaf..."
Maya membelalak kaget.
Selama bertahun-tahun menikah... Arga Pratama tidak pernah meminta maaf.
Dan tiba-tiba...
[Ding!]
Suara dingin mekanis menggema di kepala Arga Pratama.
Tubuhnya langsung membeku.
Sebuah layar transparan muncul di depan matanya.
━━━━━━━━━━━
Sistem Penyesalan berhasil diaktifkan.
Host: Arga Pratama.
Tujuan utama sistem:
Mengubah nasib tragis keluarga host.
━━━━━━━━━━━
Mata Arga Pratama melebar.
Apa ini?
Halusinasi?
Namun suara itu kembali terdengar.
━━━━━━━━━━━
[Ding!]
Misi Pertama Dimulai.
[Selamatkan Adi sebelum pukul 06.00.]
Status target:
Demam tinggi akut.
Hadiah misi:
Uang tunai 2.000.000
10 Point Penyesalan
Kegagalan misi:
Kerusakan otak permanen pada target.
━━━━━━━━━━━
Tubuh Arga Pratama langsung menegang.
Kerusakan otak permanen.
Kalimat itu seperti pisau yang menusuk jantungnya.
Di kehidupan sebelumnya, itulah yang terjadi pada Adi.
Karena dirinya mengambil uang pengobatan.
Karena dirinya memilih judi dibanding keluarga.
Napas Arga Pratama memburu.
Ia langsung menoleh ke arah jam tua di dinding.
05:13.
Kurang dari satu jam.
[Ding!]
Peringatan.
Status target terus menurun.
━━━━━━━━━━━
Arga Pratama menatap tubuh kecil Adi yang mulai mengigau di atas ranjang, lalu menatap Maya yang masih memandangnya penuh ketakutan.
Perlahan...
Arga Pratama mengepalkan tinjunya erat.
Kali ini, dia akan mengubah semuanya.
Dan tepat saat Arga Pratama hendak bergerak, tubuh kecil Adi tiba-tiba kejang di atas ranjang.
"ADI!" Maya menjerit panik.
Lalu layar sistem berubah merah terang.
━━━━━━━━━━━
Waktu tersisa: 46 menit.
━━━━━━━━━━━