

Arjuna telah beberapa tahun menganggur akibat PHK besar-besaran di perusahaan. Arjuna berusaha apply kerja, tetapi tidak ada panggilan dari HRD.
“Jadi anak cuma beban orang tua, nggak pernah bayar listrik, masak tinggal makan, rumah berantakan. Aku nggak pengen masa tuaku dirawat oleh anak sepertimu. Aku bisa mandiri!”
Di sela ia merenung nasib kariernya. Amarah Arjuna tertahan.
“Ya. Aku salah.” Napas Arjuna terasa berat.
Ibunya semakin menunjuk tepat di wajah Arjuna. “Oh, cuma itu responmu?”
“Arrgghhhh…! Terserah katamu, Bu.” Arjuna segera berdiri dan masuk ke kamar.
Dentuman pintu terdengar sangat keras.
“Aku udah ngekuliahin kamu tinggi-tinggi, sampai S-2! Dan… kamu cuma jadi pengangguran?” Ibunya meninggikan suara.
Arjuna duduk di tepi ranjang. Matanya kosong. Rahangnya mengeras. Kepalan tangannya mengerat. Tidak ada air mata, waktu yang akan berbicara.
Arjuna diam, tapi makian semakin lantang.
“Oh, mentang-mentang kamu S-2 jadi lebih pintar dari Ibumu ini? Dasar anak tak berguna!”
Hati Arjuna rasanya ingin meluap. Matanya memerah. Dan tubuhnya berpindah ke arah pintu kamar. Di buka pintu dan dilihat ibunya menunjuk muka dengan sumpah serapah.
“Anak tak tahu diuntung! Cuma bisa merepotkan orang tuamu saja. Ayahmu menyesal di kuburan karena punya anak sial sepertimu!”
Brak!
Pintu kamar Arjuna terhempas.
“Aku? Anak sial itu, kan? Kenapa kau melahirkannya?”
Setelah kematian ayahnya, semua tampak kacau. Ia dituntut habis-habisan perihal nafkah keluarga. Semua beban berada di pundaknya.
“Oh, kamu membalas perkataan Ibu? Kami mendidikmu sampai sekolah setinggi ini, apakah ayahmu mengajarkan seperti ini? Hebat, ya!”
“Mendidik? Mana peranmu?”
Hidung Arjuna kembang kempis. Ia meninggikan suaranya. Ibunya terdiam dengan tatapan membara.
“Stop, Arjuna! Jangan sakiti Ibu!” Anton, kembarannya segera melerai. Anton menyentuh jemari ibunya erat.
“Dasar anak tak tahu diuntung. Kamu cuma numpang di sini!”
Kalimat terakhir ibunya berhasil menusuk ulu hati. Tak banyak kata, Arjuna angkat kaki dari rumah ini.
Sejak kejadian itu, Arjuna mengingat bahwa ia hanya hidup sebatang kara. Ia memutuskan untuk mengontrak dan memulai hidup baru.
Kontrakannya jauh dari kata layak. Tapi ini jauh lebih terhormat daripada hidup bersama orang tua penuh caci maki.
Pintu kontrakan tiba-tiba terbuka. Lamunannya buyar… kejadian beberapa hari lalu masih membekas di otaknya. Bahkan, sering melintas ketika ia bengong saat sendirian.
“Aku mau putus!” Pelangi mengacakkan pinggang.
Arjuna diam sejenak. “Maksudmu? Menyesal kenal pria miskin?”
Hujan tampak deras di luar. Tubuh Pelangi menggigil. Wanita itu pergi keluar rumah dengan menerobos hujan pakai payung dan naik ke atas kendaraan roda dua.
Arjuna mengejar dengan motor bututnya. Ia tak peduli ketika petir menyambar sekali pun, karena baginya cuma Pelangi yang tak pernah meninggalkannya.
Suasana jalan semakin dramatis, Arjuna mengejar motor di depannya, sekalipun jalanan licin, ia tak peduli, baginya mempertahankan huhungan jauh lebih penting daripada harga dirinya sendiri.
“Sudah miskin dan tidak berguna, pergi kau dari hidupku.” Perempuan itu memaki keras saat Arjuna mencoba menyalip.
Pengemudi motor bersuara nyaring semakin mengeraskan gas. Seolah-olah menantangnya bahwa ia tak akan mampu mengalahkan kecepatan motor bututnya.
Pelangi mencoba mendorong motor Arjuna dengan kaki mungil yang dulu berselonjoran manja di paha berganti menjadi sosok antagonis mencoba mencelakainya, bersamaan dengan motor gede menyerempet bodi ringkih motor tuanya.
Sreeet….
Ban gundul motor tuanya tak mampu menahan laju jalan licin. Motor butut itu mencium aspal, bersamaan dengan Arjuna tergelincir dan memental di bibir jalan. Arjuna basah kuyup dan luka di beberapa bagian tubuh.
Tapi, luka tubuhnya tak sesakit penghinaan dari sang wanita menghancurkan rasa percaya selama Ini. Kepalan tangan terasa erat dan pucat ketika tubuhnya menggigil dan rahangnya bergetar hebat.
Penghinaan Pelangi bukanlah penolakan biasa, ia merelakan dirinya untuk memperjuangkan wanita itu. Tapi, perkataan Pelangi melukai harga dirinya sebagai laki-laki.
“Baik, jika memang itu keputusanmu, Pelangi.” Arjuna memasuh wajahnya beserta kucuran darah mengalir dan menyatuh dengan air hujan.
Perempuan itu memutuskan hubungan sepihak. Mengakui dirinya bukan dari orang kaya raya benar-benar membuatnya frustrasi. Arjuna tampak putus asa, ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya sekarang juga. Tapi, jika ia mengakhiri hidup.. bagaimana cara membalas dendam?
Pelangi pergi meninggalkannya bersama dengan pengendara motor king tanpa memedulikannya terluka di aspal.
Arjuna menggenggam jemarinya. Rahangnya mengertak. Ia akan membalas semua hinaan. Menjadi pria miskin adalah bencana bagi dirinya. Apalagi banyak wanita yang mencintai harta. Tidak ibunya saja, begitu pun Pelangi. Hujan deras, kilat bercahaya— lututnya ambruk ke jalan.
“Aarrrgghhh….! Kenapa aku miskin, Tuhan?” Arjuna berteriak frustrasi. Ia tak peduli dengan kilatan cahaya dan petir menggetarkan tanah, ia berupaya menahan tumitnya masih perih, sisa tenaganya ia gunakan untuk berdiri dan menuju motor bututnya berada di tengah jalan.
Untung saja kepalanya tak terbentur, helm bututnya masih melindungi. Ia berupaya mendirikan motor kembali dengan langkah tertatih.
Arjuna masih dengan tatapan kosong. Tak ada upaya untuk kembali dan memohon. Ini bukan pertama ia memperjuangan hubungan ini, lagi lagi Pelangi enggan bersama.
Jalan sangat licin, pelan-pelan ia mencoba berkendara. Tiba-tiba wanita bergaun putih tak sengaja menghalanginya dari depan. Wanita itu basah kuyup, matanya memerah, dan make up luntur.
“To-long… a-ku,” ucap wanita itu terbata-bata.
Arjuna kebingungan, wanita itu mengenakan gaun putih menjuntai menyentuh genangan air. Tangan wanita itu menggantung di lengan kekar miliknya.
“Kau butuh bantuan?” Arjuna kebingungan, matanya mencari jawaban dari wanita itu.
Bibir wanita itu bergetar. “Bawa aku sekarang! Terserah ke mana aja. Mereka mengejarku.”
Melihat wanita ini sangat kacau dan terancam, naluri kelaki-lakian Arjuna ingin melindunginya. Tanpa pikir panjang, Arjuna meraih pinggul sintal wanita itu, dalam satu hentakan tubuh mungil terangkat.
Tubuh wanita itu berpindah di atas motor butut milik Arjuna.
“Woi… berhenti…!” teriak segerombolan pria berbadan kekar.
Motor tua yang awalnya mogok, tiba-tiba satu kali engkol bisa menyala, akhirnya sang motor tua melesat dan meninggalkan tempat ini. Wanita di belakang tubuhnya memeluk erat. Jalan terasa licin dan hujan deras, tubuh wanita semakin memeluknya erat.
——
“Namaku Nara. Siapa namamu?” Nara menatap Arjuna sedang memoles luka lengan dan lutut dengan obat merah.
“Arjuna. Gadis sepertimu mengapa malam-malam dikejar segerombolan pria?”
Nara menarik napas berat. Dada Nara kembang kempis. Arjuna menyaksikan ketika gundukan kembar hampir saja mengenai tangannya. Arjuna segera menyudahi. Tangannya mengenggam obat merah dan memberi jarak di antara mereka.
“Aku baru saja kabur dalam perceraian,” bisik Nara dengan semburat wajah penuh kemenangan.
Arjuna mengernyitkan dahi. “Kabur? Lalu mereka?”
Nara melihat langit atap rumah ini langsung menembus seng. “Mereka adalah suruhan mantan suamiku, sialnya, mantan suamiku masih memohon untuk balikan.”
Arjuna melirik Nara kedinginan. Ia jalan ke lemari pakaian, tak ada pakaian wanita, jemarinya mengambil acak.
“Pakai ini, hujan redah aku antar pulang.” Arjuna memberikan pakaian ke tangan Nara.
Nara ke kamar mandi. Nara melihat rumah ini jauh dari kata mewah, tetapi masih layak dihuni. Apalagi, Nara sedikit geli saat laba-laba bersarang di tembok
Sedangkan Arjuna tertunduk di bawah bodi motor. Kebiasaan motor tua kalau hujan lebat suka mogok. Tubuh berbalut kaos hitam selengan menampilkan otot lengan dan perut. Noda bekas oli membekas di sebagian tubuh.
Tak lama, ia menyeret tubuhnya keluar. Sedikit terengah, matanya menatap langit-langit. Nara menjongkok, bagian kerah baju turun dan menampilkan belahan dada menggoda.
Arjuna terhanyut memandang dua gumpalan tanpa penyangga. Sedangkan Nara masih tak menyadari posisi itu sangat berbahaya.
“Sudah puas menatapku?” Arjuna memecahkan keheningan. Lantas mengangkat tubuhnya, berpindah duduk di kursi.
Nara berdiri, berjalan ke arah Arjuna. “A—aku boleh menginap di sini? Semalam saja,” pinta Nara.
Arjuna menelan ludah susah payah. Dalam keadaan genting bisa-bisanya wanita baru dikenalnya menaruh rasa percaya dengan pria asing. “Aku akan mengantarmu, tunggu hujan reda.”
Nara menyentuh lengan Arjuna, menggeleng cepat. “Nggak, aku nggak bisa. Aku nggak mau pulang,” ucap wanita sambil merengek.