
PETUALANGAN BERSAMA REKAN KERJAKU
pena malam|Bersambung
- Jumlah kata
- 12.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 18
- Jumlah kata
- 12.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 18
Sinopsis
perkenalkan namaku Irfan Mahardika biasa dipanggil Irfan atau Silep panggilan akrabku di kalangan sirkelku. di sini aku akan menceritakan kisah manis petualanganku bersama para gadis di tempat kerjaku.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
01 Irfan Mahardika
Hai pembaca sekalian, perkenalkan namaku Irfan Mahardika. Sejak kecil dan setelah kedua orang tuaku meninggal aku hidup di sebuah desa bersama nenekku. Kini ku berusia 19 tahun dan baru saja tamat SMA sederajat.
Keseharianku sepulang sekolah aku membantu nenekku bertani di kebun dan juga di sawah demi mencukupi kebutuhan hidup kami, begitupun dengan biaya sekolahku juga.
Tak ingin terus menjadi beban nenekku yang sudah tua yang dengan sabar dan penuh kasih sayang merawatku hingga sebesar ini, aku berniat untuk bekerja untuk menggantikannya menjadi tulang punggung keluarga.
“Nek aku janji, setelah aku mendapat kerja nanti akan ku penuhi semua kebutuhan kita sehari hari.. jadi Nenek nggak perlu kerja panas panasan lagi di sawah seperti ini Nek..” ucapku yang tak tega melihat Nenek yang wajahnya dipenuhi keringat saat mencabut rumput di sela sela tanaman sayur di sepetak sawah peninggalan kakekku.
“iya Fan, Nenek tahu niat baik kamu.. kamu sungguh cucu kebanggaan Nenek Fan.. tapi kalau kamu sudah kerja dan Nenek nggak kerja panas panasan seperti ini, lantas siapa yang akan mengurus sawah ini Fan???” sahut Nenekku dengan mengulas senyum yang penuh keriput dari wajahnya yang basah oleh peluhnya.
“ya kan nanti kalau aku sudah kerja dan dapat gaji, kita kan bisa Nek bayar orang buat ngurus sawah kita ini.. Nenek tenang saja, setelah kerja nanti aku akan hasilkan banyak uang dan Nenek tak perlu lagi bekerja, aku akan kerja keras agar Nenek hidup enak..” balasku dengan penuh percaya diri.
“Nenek percaya sama kamu Fan, tapi kalau di pikir pikir kamu kerja dan gaji kamu buat bayar orang yang kerja di sawah kita, emang UMR di kota ini berapa Fan?? alangkah baiknya, jika kelak kamu sudah mendapat kerja, uang hasil kerjamu di tabung aja buat masa depan kamu nanti Fan.. kalau soal Nenek kerja panas panasan gini nggak pa pa Fan, Nenek senang kok melakukannya.. lagian juga dengan bekerja seperti ini Nenek bisa mengeluarkan keringat dan tubuh Nenek juga sehat..” sahut Nenekku yang seketika membungkam mulutku karna kepikiran juga dengan UMR di kotaku.
“dah yuk kita istirahat dulu Fan..” lanjut Nenek seraya menepuk pundakku dan setelahnya berjalan menuju gubuk di sawah kami.
Di sela sela kami beristirahat di bawah gubuk sambil menikmati angin sepoi sepoi, kami terus berbincang.
“oh iya Fan.. gimana lamaran kerja yang kamu kirim kemarin, sudah dapat jawaban??” tanya Nenekku sambil menyomot ubi rebus yang di bawanya dari rumah.
“belum Nek..” jawabku singkat dan tak percaya diri.
“sabar Fan.. nanti kalau udah rejeki kamu, kamu bakalan dapat kerja” timpal Nenek yang memahami perasaanku, seraya mengusap lembut punggung tanganku.
“em.. ngomong ngomong gimana sama Jepri, Dia udah dapat kerja belum?” lanjut Nenekku yang berusaha mengalihkan perasaan sedihku yang belum mendapat kerja.
Oh iya pembaca sekalian, aku memiliki satu teman dekat bisa dikatakan ia adalah sahabatku yang sedari kecil sampai sekarang menjadi teman bermain sekaligus seangkatan di sekolah yang sama denganku, sebut saja namanya Jepriantoro yang suka memanggilku silep, begitu juga denganku yang suka memanggilnya gembul karna ia gendut alias gemoy.
“kalau Jepri sih setelah lulusan kemarin udah langsung kerja Nek, Dia kan ikut Pak Win(tukang bangunan sekaligus tetanggaku) jadi keneknya.. sebenarnya kalau Pak Win masih butuh tenaga aku pun mau juga Nek, ikut kerja sambil nunggu panggilan kerja dari lamaran yang sudah aku kirim.. tapi sayangnya Pak Win cuma butuh saja..” jawabku dengan nada lesu.
“sabar Fan, seperti yang Nenek bilang tadi.. kalau udah rejeki kamu, kamu juga bakalan dapat kerja kok.. lagi pula Nenek nggak nuntut kamu harus dapat kerja, kamu udah rajin bantuin Nenek di sawah seperti ini saja Nenek sudah bersyukur sekali Fan.. yang penting bagi Nenek, kamu nggak jadi pemalas.. dah buruan lanjutin makan ubinya..” ucap Nenekku yang memahami perasaanku yang belum mendapat kerja sekaligus berusaha menenangkanku.
“oh iya Fan Nenek sampai lupa mau bilang sama kamu, kemarin sore Intan nyariin kamu, kamu udah ketemu sama Dia?..” seru Nenek setelah beberapa saat kami terdiam menikmati ubi rebus.
“nggak Nek, aku nggak ketemu sama Mbak Intan.. emangnya ada apa kok tumben Mbak Intan nyariin aku?” sahutku dengan penuh rasa penasaran.
“kemarin Intan nanya soal kamu, udah dapat kerja apa belum.. kalau kamu belum dapat kerja, kebetulan di tempat kerja Intan lagi butuhin satu orang buat kerja di bagian gudang.. kemarin Dia bilang gitu sama Nenek.. ”lanjut Nenek memberitahu tujuan Intan mencariku.
Mendengar perkataan Nenekku yang tiba tiba mengatakan tujuan Intan mencariku, seketika otak nakalku pun mengambang diatas awan, membayangkan semua yang ada pada diri Intan.
Pembaca sekalian mengenai Intan, Intan adalah tetanggaku yang cukup populer dan menjadi idola pemuda di kampungku.
Intan Nuraini yang di sapa akrab Intan memiliki wajah yang cantik dan imut, memiliki perawakan yang bisa di sebut botol yakul dan berusia 25 tahub. tapi selain memiliki wajah cantik dan imut serta postur botol yakul, ia memiliki bemper depan yang besar menonjol dan juga bemper belakang yang menantang, serta orangnya ramah.. oleh sebab itu lah ia menjadi idola sekaligus imajinasi para pemuda di kampung atau desa tempat tinggalku.
“gimana, kamu tertarik nggak ikut kerja sama Intan?? Itung itung sambil nunggu kamu dapat panggilan dari lamaran kerja yang udah kamu kirim.. kalau kamu tertarik, buruan kamu temuin Intan dan bilang kalau kamu mau ikut kerja, mumpung hari ini Dia lagi libur kerja..” ucap Nenek ku yang seketika membuyarkan imajinasiku tentang Intan.
“wengggghh...!!!” tak mendapat sahutan dariku yang sedang asik membayangkan Intan, daun telingaku pun menjadi sasaran capit kepiting Nenekku.
“aduh aduh sakit Nek. Kenapa Nenek menjewer telingaku???..” keluhku yang mendadak merasa kesakitan pada daun telinga kiriku sebab jeweran Nenek.
“ gimana Nenek nggak jewer telinga kamu, la wong kamu aja di ajak ngomong nggak nyaut malah asik ngelamun kaya gitu..” semprot Nenekku dengan nada yang terdengar kesal karna aku tampak asik sendiri dengan lamunanku.
“i i iya Nek, maaf .. memangnya Nenek barusan bilang apa?? Bukannya Nenek barusan cuma bilang kalau Mbak Intan nyariin aku karna mau nawarin kerja? ” kilahku yang sebenarnya aku masih mendengar perkataan Nenek setelahnya meski tidak jelas karna aku sedang melamun.
“tuh kan.! Kamu nggak fokus Nenek bilang apa setelahnya..!” kesal Nenekku lagi.
“emang setelahnya Nenek bilang apalagi..???” sahutku dengan ekspresi tanpa bersalah.
“heuh...!!” Nenekku mendengus kesal.
“tadi Nenek tanya... kamu tertarik nggak ikut kerja sama Intan?? Itung itung sambil nunggu kamu dapat panggilan dari lamaran kerja yang udah kamu kirim..!!!” kesal Nenekku dengan nada tinggi.
“ iya Nek aku mau..” jawabku sambil cengengesan.
“ya udah..!! Kalau kamu mau ikut kerja sama Intan, buruan kamu temuin Dia...” teriak Nenekku yabg seketika membuat telingaku berdenging.
“i i iya Nek.. aku pergi sekarang” balasku yang langsung lari terbirit birit.
Para pembaca sekalian, diawal cerita ini mungkin terasa kurang menarik ceritanya.. tapi nanti setelah bab selanjutnya, penulis yakin kalau pembaca semua akan berminat untuk membaca cerita selanjutnya.... Terim kasih dan selamat membaca..
Daftar bab
10 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








